Bapa yang Mengejar


Oleh Kenneth E. Baile


Allah telah membayar harga yang sangat mahal untuk menebus dosa manusia. Dua jenis tanggapan manusia terhadap penebusan ini antara terlihat pada sikap anak bungsu dan anak sulung dalam perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15.

Tunggu dulu. Perumpamaan anak yang hilang berbicara tentang penebusan? Bukankah perumpamaan itu memaparkan pertobatan orang yang berdosa dan sukacita Allah atas pertobatan tersebut? Di situ Allah digambarkan sebagai bapa yang maha pengasih dan maha pengampun. Namun, dalam hal apa perumpamaan itu memperlihatkan bahwa Allah telah membayar harga yang mahal untuk menebus dosa kita?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu terlebih dahulu memahami bahwa perumpamaan anak yang hilang seharusnya dilihat sebagai bagian ketiga dari trilogi dalam Lukas 15. Orang-orang Farisi menantang Yesus: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Menurut Talmud Babilonia, para rabi tidak boleh makan bersama-sama dengan 'am-ha'arets (rakyat jelata) yang tidak memelihara hukum Taurat setepat-tepatnya. Lukas mencatat: "Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini [tunggal] kepada mereka [orang-orang Farisi]." Yang muncul kemudian adalah tiga perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan dua anak yang hilang (Anak yang Pemboros).

Lukas memahami bahwa ketiganya adalah bagian-bagian dari sebuah perumpamaan tunggal. Gembala membayar harga untuk mencari dan menemukan domba yang hilang. Perempuan itu bertindak serupa untuk menemukan dirhamnya. Dalam kedua kisah ini, sangat jelas bahwa Yesuslah gembala dan perempuan yang baik itu. Muncul pertanyaan untuk kisah ketiga: Apakah Ia juga bapa yang baik? Dan apakah kisah ketiga sejajar dengan dua kisah pertama, dengan memperlihatkan sang bapa membayar harga yang mahal untuk menemukan dan memulihkan anak-(anak)-nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, yang mencakup bahasan yang lebih luas tentang penebusan dan inkarnasi, setidaknya ada 14 aspek perumpamaan itu yang perlu dicermati sesuai dengan konteksnya.

1. Permintaan. Si anak bungsu meminta warisannya sewaktu ayahnya masih hidup dan sehat. Dalam budaya Timur Tengah, ini berarti, "Bapa, aku ingin sekali kau segera mati!" Kalau bapa itu menuruti tradisi Timur Tengah, ia akan menampar wajah anak itu dan mengusirnya ke luar rumah. Dalam budaya mana pun permintaan semacam itu sungguh-sungguh kurang ajar. Anak bungsu itu bukanlah sekadar anak muda yang "pergi ke kota besar untuk mencari kemashyuran dan kesuksesan." Sebaliknya, anak ini mengajukan permintaan yang tidak masuk akal, khususnya dalam budaya Timur Tengah. Sang bapa sepatutnya menolak permintaan itu – kalau ia seorang bapa biasa dari Timur Tengah. Pada kenyataannya, ia bukan bapa biasa, dan ini membawa kita ke poin kedua.

2. Pemberian bapa. Sang bapa memberikan kebebasan kepada anak bungsu itu untuk memiliki dan menjual bagian tanah warisannya. Lima kali sang bapa tidak bertindak sebagaimana seharusnya seorang bapa di Timur Tengah. Ini tindakan yang pertama. Warisan itu sangat besar. Mereka keluarga kaya yang memiliki sekawanan lembu dan kambing. Mereka juga memiliki pelayan. Di rumah itu ada aula yang cukup besar untuk menampung orang berpesta menghabiskan satu lembu tambun sepanjang malam. Pemusik dan penari profesional mengiringi pesta itu. Bapa itu juga terhormat di tengah masyarakat, sehingga mereka mau menanggapi undangannya. Menyerahkan warisan adalah persoalah serius yang sepatutnya hanya dilakukan bila sang bapa sudah mendekati ajal.

Lebih jauh lagi, si anak bungsu "menjual seluruh bagiannya itu". Dengan penjualan ini, pembagian warisan yang menghebohkan ini pun diketahui oleh umum, dan keluarga itu pun dipermalukan di depan seluruh masyarakat. Hukum Yahudi abad pertama memungkinkan pembagian warisan (kalau sang bapa bersedia melakukannya), namun tidak mengizinkan sang anak menjual bagiannya sampai setelah ayahnya meninggal.

Ini tindakan kedua sang bapa yang "tidak normal": bukan hanya memberikan warisan, namun juga hak untuk menjualnya, padahal ia tahu bahwa hak ini akan mempermalukan seluruh keluarga di mata masyarakat. Jadi, dari bagian pembukaan perumpamaan ini, jelas bahwa Yesus tidak menggunakan seorang bapa Timur Tengah sebagai model untuk Allah. Yesus sengaja menciptakan figur bapa yang sama sekali tak terduga. Tidak ada manusia yang memadai untuk dijadikan sebagai model Allah. Dengan menyadari hal ini, Yesus mengangkat figur bapa melampaui keterbatasan manusiawi dan membentuknya kembali guna menjadikannya sebagai model untuk Allah.

3. Penjualan yang tergesa-gesa. Anak itu menjual bagiannya secepat mungkin ("Beberapa hari kemudian"). Ia terdesak. Kemarahan di desa itu memuncak terhadapnya karena ia telah mempermalukan ayahnya dan seluruh keluarga besarnya dengan menjual sebagian besar tanah pertanian keluarga ketika ayahnya yang sehat masih menggarapnya. Ia harus menyelesaikan penjualan dan meninggalkan desa itu secepat mungkin. Seperti dikatakan tadi, hukum Yahudi tidak mengizinkan penjualan semacam itu. Anak bungsu itu tidak peduli.

4. Upacara qetsatsah. Dari Talmud Yerusalem diketahui bahwa bangsa Yahudi pada zaman Yesus memiliki metode untuk menghukum anak yang menjual warisan keluarga kepada bangsa asing. Metode itu dikenal sebagai "upacara qetsatsah." Pelanggar adab bermasyarakat ini akan menghadapi upacara qetsatsah kalau ia berani kembali ke rumahnya. Upacaranya sederhana saja. Penduduk desa akan membawa guci tanah liat besar, memenuhinya dengan kacang dan jagung yang gosong terbakar, dan memecahkannya di depan orang yang bersalah itu. Sambil melakukannya, orang-orang akan berteriak, "Si Anu terbuang dari kerabatnya." Sejak saat itu, penduduk desa tidak akan mempedulikan sama sekali si anak sesat itu. Tidak seorang pun boleh berhubungan dengan pelanggar adat ini. Karena itu, saat pergi ke luar kota, anak bungsu itu tahu bahwa ia tidak boleh kehilangan uangnya di antara bangsa asing. Namun, justru itulah yang terjadi padanya. Di negeri yang jauh ia tinggal di antara bangsa asing. Mereka punya babi!

5. Hidup berfoya-foya. Beberapa versi terjemahan menggambarkan kehidupan anak bungsu ini sebagai "liar" atau "tidak bermoral". Sebenarnya, kata sifat bahasa Yunani dalam frase ini tidak menunjukkan imoralitas. Yesus tidak menceritakan bagaimana anak ini menggunakan uangnya. Hanya dikatakan bahwa anak ini menghambur-hamburkan uangnya dalam waktu singkat. Pada akhir cerita si anak sulung menuduh adiknya memboroskan uangnya bersama-sama dengan pelacur-pelacur. Namun ia baru saja pulang dari ladang dan tidak tahu apa-apa. Jelas ia hanya ingin membesar-besarkan kesalahan adiknya.

6. Mencari pekerjaan. Waktu uangnya habis, anak bungsu itu sewajarnya pulang. Namun, ia telah melanggar peraturan. Ia tahu upacara qetsatsah akan menyambutnya kalau ia pulang ke desa. Karena itu entah bagaimana ia mati-matian berusaha mendapatkan kembali uangnya. Untuk itu ia perlu bekerja. Dua kali ia berusaha mendapatkan pekerjaan. Upaya pertama adalah memberi makan babi di negeri yang jauh. Yang kedua adalah "rencana permainan" yang diungkapkannya pada malam kepulangannya. Kedua rencana ini harus diperhatikan dengan saksama.

Rencana pertama, menjadi penjaga babi, tidak berhasil. Ditegaskan bahwa "tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya." Perumpamaan ini tidak mengandung kata-kata yang tidak berguna. Setiap frasa secara cermat disusun untuk menunjukkan arti yang setepat-tepatnya. Sebagai penjaga babi, anak itu diberi makan, namun tidak diberi upah. Orang Yahudi abad pertama yang membaca kisah ini tahu bahwa anak itu harus mendapatkan kembali uang yang telah dihamburkannya untuk menghindari upacara qetsatsah.

Setelah gagal dengan upaya pertama, ia berencana membuang dadunya untuk terakhir kali – ia akan pulang, mendapatkan pelatihan kerja, dan memperoleh penghasilan. Untuk mendapatkan pelatihan itu, ia memerlukan dukungan ayahnya. Namun, bagaimana ia dapat menyakinkan ayahnya untuk mempercayainya satu kali lagi?

7. Rencana yang egois. Mungkin kesalahan yang paling parah dalam menafsirkan perumpamaan ini adalah pengertian akan frasa, "Ia menyadari keadaannya." Sekian lama frasa ini ditafsirkan sebagai "ia bertobat." Penafsiran seperti ini menumpulkan ketajaman kisah ini serta menghancurkan kesatuan pasal ini. Gembala yang baik harus pergi ke padang gurun untuk menemukan dombanya. Ia tidak kembali ke desa dan menunggu domba itu pulang dan mengembik di pintu kandang. Perempuan itu juga harus menyalakan lampu dan mencari dengan tekun untuk menemukan dirhamnya yang hilang. Ia tidak tenang-tenang melanjutkan pekerjaan rumahnya dan berharap dirham itu akan meloncat sendiri dari suatu lubang di lantai dan mendarat di meja dapurnya.

Secara singkat, dua kisah pertama sejajar dengan pandangan Agustinus. Domba dan dirham itu harus diselamatkan. Namun bila anak bungsu itu berhasil pulang dengan upayanya sendiri, maka kisah ketiga sejajar dengan ajaran Pelagius atau paling tidak semi-Pelagius. Pelagius mengajarkan bahwa orang tidak terpengaruh oleh dosa asal atau kehendak yang bobrok dan dengan usaha sendiri, tanpa anugerah Allah, dapat bertindak untuk mendapatkan keselamatan.

Dalam kisah pertama, domba yang hilang adalah lambang pertobatan, dan pertobatan diperlihatkan di situ sebagai "kesediaan untuk menerima dirinya ditemukan." Kisah kedua meneguhkan definisi tersebut. Namun bila anak bungsu itu benar-benar bertobat di negeri yang jauh dan bergumul untuk pulang dengan kekuatannya sendiri, berarti Yesus membuat pernyataan yang berlawanan. Kalau kita mengikuti penafsiran tradisional bahwa anak itu bertobat, kisah ketiga ini bertentangan dengan dua kisah sebelumnya. Entah Yesus kebingungan secara teologis atau pertobatan itu memang konsep yang elastis, yang bisa ditafsirkan baik menurut pandangan Agustinus maupun Pelagius. Sayangnya, kedua pilihan tersebut sulit untuk diterima. Adakah alternatif lain?

Dengan menceritakan perumpamaan Gembala yang Baik, Yesus mengingatkan kita pada Mazmur 23, yang juga menceritakan domba yang hilang dan gembala yang baik. Frasa kuncinya muncul di ayat 3, yang biasanya diterjemahkan, "Ia menyegarkan (memulihkan) jiwaku." Pernyataan ini akan berarti: Sebelumnya aku murung atau tertindas, dan Tuhan menyegarkan atau memulihkan kembali semangatku. Pemahaman semacam itu memang merupakan salah satu maksud si pemazmur. Namun, dalam bahasa Ibrani frasa itu berbunyi "yashubib nefshi," yang secara hurufiah berarti, "Ia membawaku kembali," atau "Ia membuat aku bertobat." Jadi, jelaslah, si pemazmur tersesat, dan Allah, sebagai gembala yang baik, membawanya kembali ke jalan yang benar.

Kalau ucapan si anak bungsu itu dibaca dengan latar belakang ini, muncullah suatu arti baru. Pemazmur percaya Allah membawanya kembali (ke Allah) dan menyebabkan dia bertobat. Sebaliknya, anak bungsu itu akan menyelesaikan sendiri masalahnya – ia mengandalkan dirinya sendiri. Kata kerja kembali tidak muncul di sini! Sejumlah versi bahasa Arab menampilkan terjemahan yang menarik: "Ia mendapatkan akal," atau "Ia berpikir-pikir sendiri." Tidak satu pun yang menunjukkan bahwa anak itu bertobat di negeri yang jauh. Ah – namun, bagaimana dengan "pengakuan"-nya?

Pengakuan yang disiapkannya berbunyi, "Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap engkau," dan pengakuan ini (dapat dimaklumi) biasanya dianggap memperlihatkan pertobatan yang sungguh-sungguh. Namun, orang-orang yang mengelilingi Yesus saat itu adalah orang-orang Farisi yang kenal betul isi Kitab Suci. Mereka tahu pengakuan itu dikutip dari pernyataan Firaun ketika ia berusaha memanipulasi Musa agar menjauhkan tulah. Setelah tulah kesembilan, Firaun akhirnya mau menemui Musa, dan ketika Musa muncul, Firaun mengucapkan pengakuan serupa. Setiap orang tahu kalau Firaun tidak bertobat. Ia hanya berusaha membujuk Musa agar menuruti kehendaknya.

Anak bungsu itu juga mengupayakan hal yang sama. Berharap dapat melunakkan hati ayahnya, anak itu berencana menawarkan jalan keluar bagi pengucilan mereka terhadapnya: pelatihan kerja. Ia akan bekerja sebagai tukang upahan, sehingga dapat menabung. Ia tidak akan tinggal di rumah untuk sementara. Namun, setelah uang yang habis itu dapat dilunasi, ia akan dapat membicarakan rekonsiliasi. Setelah gagal mendapatkan kerja upahan di negeri yang jauh, ia akan berusaha mendapatkan dukungan ayahnya untuk dapat bekerja di dekat-dekat situ. Ia juga akan dapat menyelamatkan dirinya dari tuntutan hukum. Tidak perlu anugerah. Ia dapat mengupayakan jalan keluarnya – begitulah menurutnya! Namun, apakah uang yang habis itu merupakan masalah yang sesungguhnya?

Dalam solilokui (percakapan dengan diri sendiri)-nya di negeri yang jauh, si anak bungsu mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Karena ingin makan, ia mengatakan, "Aku di sini mati kelaparan." Ia mengira kalau ia dapat mengumpulkan kembali uang yang sudah habis itu, segala sesuatunya akan beres. Sementara itu, ia akan dapat makan, dan begitu uang itu terkumpul, penduduk desa akan menerimanya kembali. Ia tidak mempertimbangkan hati bapanya yang hancur dan penderitaan karena kasih yang ditolak yang selama ini ditanggung bapanya. Sewaktu berbicara sendiri di negeri yang jauh itu, ia sama sekali tidak menunjukkan sikap malu atau menyesal. Kalau ia seorang hamba yang berdiri di hadapan majikannya, rencana semacam itu mungkin memadai. Namun sebagai anak yang berhadapan dengan bapa yang pengasih dan penuh belas kasihan, solusi yang dibayangkannya jauh dari memadai.

8. Titik balik. Anak bungsu itu menguatkan nyalinya untuk kembali ke desa dalam keadaan memalukan. Ia teringat pada upacara qetsatsah dan menguatkan dirinya untuk menanggung aib itu. Pembicaraan menyakitkan dengan bapanya juga tidak akan semudah yang dibayangkannya. Satu-satunya pengharapannya adalah bahwa "pengakuannya yang merendah" akan menyentuh hati bapanya dan ia akan mendapatkan dukungan ayahnya untuk pelatihan yang diperlukannya guna menjadi pekerja upahan. Anak itu seharusnya pulang dengan membawa hadiah yang berlimpah bagi keluarganya. Sebaliknya, bukan saja ia pulang dengan tangan kosong, ia kembali dalam keadaan gagal setelah mempermalukan keluarga dan seluruh desa dengan kepergiannya. Jalan kembali yang menyakitkan ini ditanggungnya karena satu alasan: dia lapar.

Namun, bagaimana dengan bapanya? Bapanya tahu anaknya akan gagal. Ia menunggu hari demi hari, memandang ke arah jalan desa yang ramai di kejauhan, tempat anaknya dulu pergi dengan penuh kesombongan dan harapan yang muluk-muluk. Bapanya sadar sepenuhnya bagaimana anaknya akan disambut oleh penduduk desa kalau ia pulang dalam keadaan gagal. Jadi, bapa itu pun menyiapkan suatu rencana: untuk menjangkau anaknya sebelum anak itu mencapai desa. Sang bapa tahu kalau ia berhasil melakukan rekonsiliasi dengan anaknya di muka umum, tidak seorang pun di desa itu akan memperlakukan anaknya dengan buruk. Tidak ada yang akan berani menyarankan agar upacara qetsatsah dijalankan.

Bapanya melihatnya "Ketika ia masih jauh." Jarak yang jauh ini lebih mengacu pada jarak rohani daripada jarak jasmani. Bila anak itu berpikir ia dapat mengumpulkan uang dan dengan itu memecahkan masalah hubungan mereka, ia benar-benar sangat jauh! Istilah yang digunakan berasal dari Yesaya 57:19, di mana Allah meneguhkan damai sejahtera bagi mereka yang "jauh" dan bagi mereka yang "dekat". Itulah yang direncanakan oleh bapa ini. Melalui tindakan yang luar biasa dan dramatis, ia akan menawarkan damai sejahtera kepada anaknya yang masih jauh dan kemudian berkonsentrasi untuk menawarkan damai sejahtera kepadanya anaknya yang dekat (anak sulung).

Demikianlah, untuk yang ketiga kalinya, bapa ini melanggar "kenormalan" seorang bapa Timur Tengah. Dengan mengangkat dan memegang ujung jubahnya, ia berlari untuk menyambut anaknya yang telah menjadi penjaga babi. Ia sudah merangkul dan memeluk anak itu sebelum mendengarkan pernyataan anaknya! Bapa ini tidak menunjukkan kasihnya sebagai tanggapan atas pengakuan anaknya. Sebaliknya, oleh belas kasihan ia mengosongkan dirinya, mengambil rupa seorang hamba, dan lari untuk berdamai dengan anaknya yang terasing. Penduduk Timur Tengah yang berpegang pada tradisi tidak akan berlari-lari di muka umum dengan mengenakan jubah panjang. Hal semacam itu amat sangat memalukan. Bapa ini berlari. Anaknya benar-benar kaget. Dengan kewalahan, ia hanya dapat mengucapkan bagian pertama pengakuan yang disiapkannya, yang sekarang mengandung arti baru. Ia menyatakan bahwa dirinya telah berdosa dan tidak layak disebut sebagai anak. Ia mengakui (dengan menghapuskan frasa ketiga) bahwa ia tidak memiliki ide yang cemerlang untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia tidak lagi "memanipulasi" bapanya untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Bapa itu tidak "menginterupsi" anak bungsungnya. Sebaliknya, si anak bungsu itu berubah pikiran, dan dengan pertobatan yang sungguh-sungguh, menerima untuk ditemukan.

9. Bapa itu bertindak seperti seorang ibu. Dalam perumpamaan ini, seorang bapa Timur Tengah seharusnya duduk jauh di dalam rumah, menunggu pesan tentang apa yang ingin dikatakan si anak sesat itu. Ibulah yang dapat lari sepanjang jalan dan menghujani anak itu dengan ciuman.

Kita tahu Allah adalah roh dan karena itu Ia bukan laki-laki ataupun perempuan. Namun Allah juga seorang pribadi, dan Allah itu esa. Para nabi menyebut Allah sebagai "Bapa" dan kadang-kadang menggambarkan bapa itu dalam istilah feminin. Istilah ini meneguhkan kepribadian dan kesatuan Allah bagi semua orang percaya, laki-laki dan perempuan. Dalam Perjanjian Lama, Allah sudah digambarkan sebagai bapa yang juga bertindak dengan kelembutan kasih seorang ibu (Ul. 32:18; Mzm. 131; Yes 42: 14, 66:13). Gulungan Kitab Laut Mati menggambarkan Allah dengan citraan serupa. Lebih dari 200 kali Yesus menyebut Allah sebagai "Bapa", dan dalam Injil Yohanes, kita mendapati bahwa orang percaya harus "diperanakkan dari Allah." Dalam I Yohanes, orang percaya "lahir dari Allah". Dalam Perjanjian Baru, Allah "melahirkan" sama seperti dalam Perjanjian Lama (Ul. 32:18). Dalam perumpamaan ini juga, sang bapa muncul di jalan, menunjukkan kelembutan kasih seorang ibu.

10. Kristologi. Saat ayah itu turun dan keluar untuk berdamai dengan anaknya, ia menjadi simbol Allah di dalam Kristus. "Bapa", simbol untuk Allah, dengan sangat halus dan tidak kentara berubah menjadi simbol untuk Yesus. Peralihan serupa juga berlangsung dalam kisah Gembala yang Baik. Tiga kali dalam Perjanjian Lama, Allah digambarkan sebagai gembala yang baik yang mencari dombanya yang tersesat (Mzm. 23:3; Yer. 23:1-8; Yeh. 34). Yesus menceritakan kembali kisah klasik itu dan memperkenalkan diri-Nya sebagai pahlawan dalam cerita itu. Orang-orang Farisi mengeluh, "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Yesus menjawab dengan cerita ini, yang sama saja dengan mengatakan, "Memang, Aku makan bersama-sama dengan orang berdosa. Bahkan lebih buruk daripada yang kaubayangkan! Aku bukan hanya makan bersama-sama dengan mereka, Aku juga lari sepanjang jalan, menghujani mereka dengan ciuman, dan menyeret mereka masuk agar Aku dapat makan bersama-sama dengan mereka!" Yesus jelas-jelas sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Pada akhir kisah ini, sang bapa melakukan apa yang Yesus lakukan.

Seorang sarjana Siria terkenal di Baghdad pada abad kesebelas, Abdallah Ibn al-Tayyib, mengenali bapa dalam kasih yang memberi diri dengan berlari di jalan itu sebagai simbol bagi Yesus. Sarjana Perjanjian Baru yang luar biasa, Joachim Jeremias, juga menunjukkan hal yang sama pada abad ini. Saya menyebutnya sebagai "Kristologi hermeneutikal", artinya Yesus mengambil simbol yang dikenal untuk Allah dan dengan sangat halus dan tidak kentara mengubahnya menjadi simbol untuk diri-Nya sendiri.

11. Arti pesta. Pesta dalam perumpamaan ini ditafsirkan tiga kali. Pertama oleh bapa; kedua oleh anak kecil di halaman; dan ketiga oleh anak sulung. Dua tafsiran pertama saling mendukung. Tafsiran ketiga bertentangan tajam dengan dua tafsiran pertama. Pembaca saat ini biasanya hanya teringat pada tafsiran ketiga. Ketiga tafsiran itu harus dicermati semuanya.

Setelah pendamaian berlangsung, bapa itu memerintahkan diadakan pesta. Ia berkata, "Marilah kita makan dan bersukacita. Sebab [inilah alasannya] anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." Bapa itu tidak mengatakan, "Ia telah hilang dan pulang kembali." Sebaliknya, kita membaca, "Ia telah hilang dan didapat kembali." Jadi, siapa yang mendapatkan atau menemukannya kembali? Sang bapa! Di mana dia menemukannya? Di ambang desa! Jadi, menurut persepsi bapanya, anak bungsu itu masih hilang dan mati ketika berada di ambang desa. Sama seperti gembala harus pergi dan membayar harga untuk menemukan dombanya, dan perempuan itu harus mencari dengan tekun untuk menemukan dirhamnya, demikianlah bapa ini turun dan keluar membayar harga untuk memperlihatkan kasih yang tak terduga demi menemukan dan membangkitkan kembali anaknya. Pesta itu untuk merayakan keberhasilannya menemukan dan membangkitkan anaknya.

Nah, sekarang tafsiran si anak kecil. Si anak sulung baru datang dari ladang dan ketika mendengar suara musik ia memanggil seorang pais. Kata ini dapat berarti tiga hal. Yang pertama "anak", yang tidak sesuai dengan konteks cerita. Yang kedua "hamba", yang juga tidak cocok, karena semua hamba sibuk di dalam rumah melayani perjamuan makan itu. Pilihan ketiga adalah "anak kecil". Terjemahan Siria Timur Tengah dan Arab selalu menggunakan alternatif ketiga ini. Saat anak sulung itu mendekati rumah keluarganya di tengah desa, ia akan bertemu sekumpulan anak kecil yang belum cukup umur untuk ikut duduk di meja perjamuan. Mereka berada di luar, menari-nari mengikuti suara musik dan menikmati suasana dengan cara mereka sendiri yang serba riuh-rendah. Anak sulung itu bertanya apa yang terjadi dan anak kecil itu menjawab (dalam terjemahan bebas), "Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena (sekarang muncul tafsiran kedua) ia (bapanya) menerimanya (anak bungsu itu) kembali dengan damai!"
Kata yang diterjemahkan "damai" ini bahasa Yunaninya adalah hugaino. Artinya, "dalam keadaan sehat," dan merupakan asal kata "higiene." Namun dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta), kata bahasa Yunani ini muncul 14 kali, dan semuanya untuk menerjemahkan kata bahasa Ibrani shalom atau damai sejahtera. Bila orang Yahudi abad pertama menggunakan kata hugaino, ia secara mental menerjemahkan kata bahasa Ibrani shalom, yang memang mencakup "kesehatan", namun artinya jauh lebih luas daripada itu.

Saya yakin Yesus menggunakan kata shalom dalam cerita ini. Intinya adalah, perjamuan itu diadakan untuk merayakan keberhasilan bapa dalam menciptakan pendamaian – shalom – dan masyarakat telah datang untuk berpartisipasi dalam perayaan itu. Alih-alih upacara qetsatsah yang menyatakan penolakan, mereka turut bersukacita atas pemulihan yang diperoleh bapa itu dengan harga yang sangat mahal. Jadi, anak kecil ini meneguhkan tafsiran bapa tadi. Bagi keduanya, perjamuan itu adalah perayaan atas keberhasilan usaha bapa dalam mendamaikan anaknya.

Bahasa yang digunakan anak kecil itu, "Ia menerima-nya..." (dan berencana untuk makan bersama-sama dengan dia), mengingatkan para pendengar akan keluhan orang Farisi, "Ia [Yesus] menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Ucapan anak kecil ini meneguhkan bahwa bapa itu memang telah berubah menjadi simbol untuk Yesus. Yesus menerima orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Dalam perumpamaan ini, bapa itu bertindak persis sama.

Masih ada lagi tafsiran anak sulung yang perlu dipertimbangkan, yang disampaikannya setelah bapanya berusaha mendamaikan anak ini dengan dirinya. Ia berkata, "Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia!" Pernyataan ini bertentangan sama sekali dengan apa yang baru saja dikatakan anak kecil itu kepadanya. Ini juga bertentangan dengan pernyataan bapa itu sendiri mengenai tujuan perjamuan tersebut. Dengan demikian, para pendengar pun diperhadapan pada pilihan. Apakah pesta itu untuk menghormati si anak bungsu atau untuk menghormati sang bapa? Apakah itu untuk merayakan keberhasilan upaya si anak bungsu untuk pulang ke rumah (dengan kekuatannya sendiri), ataukah untuk merayakan keberhasilan upaya bapa yang mahal harganya untuk menciptakan damai sejahtera? Adakah para tamu akan memberikan selamat kepada si anak sulung atau kepada bapa?

Sangat disayangkan bahwa kebanyakan pembaca modern tidak memperhatikan adanya kontras atau menyadari adanya pilihan yang harus diambil itu. Perjamuan itu merupakan bayangan dari Perjamuan Kudus. Tentulah kita mengetahui bahwa Yesus adalah pahlawan dalam perjamuan kudus tersebut dan bukan orang-orang berdosa yang menjadi pusat perhatian. Sikap membenarkan diri pada si anak sulung itu merupakan kacamata bias yang dipakainya untuk melihat dunia ini. Ia hanya tahu bahwa adiknya telah kehabisan uang dan bahwa ia telah didamaikan dengan ayahnya tanpa terlebih dahulu membayar kembali uang tersebut. Secara singkat, anugerah telah ditawarkan dan diterima, bukannya si pendosa berhasil memenuhi tuntutan hukum.

Tafsiran si anak sulung ini mewakili pandangan banyak orang, dulu dan sekarang. Namun, pandangan bapa tentang perjamuan (yang didukung oleh ucapan anak kecil) itulah yang ada dalam pikiran Yesus. Bagi banyak orang, anugerah bukan hanya menakjubkan – anugerah itu juga mustahil untuk dipercaya! Bagaimana mungkin hal semacam itu benar-benar terjadi? Bagaimanapun, kau hanya akan mendapatkan sesuai dengan yang kaubayarkan, bukan?

12. Kemarahan anak sulung. Kalau perjamuan itu hanya merayakan keberhasilan si anak bungsu yang pulang dengan selamat, anak sulung itu akan langsung masuk ke aula. Itu berarti posisi anak bungsu itu dalam keluarga belum lagi ditentukan. Anak sulung itu akan berusaha keras agar sudut pandangnya ikut dipertimbangkan saat keluarga membicarakan persoalan tersebut. Tentu saja, mereka semua (di muka umum) senang anak bungsu itu pulang dalam keadaan sehat. Akan sangat kurang ajar kalau orang tidak bersukacita atas kedatangan anak sulung itu dalam keadaan sehat. Namun, anak kecil itu memberitahukan kepada si anak sulung bahwa semua persoalan itu sudah beres! Bapanya telah mendamaikan anak bungsu itu – dan tanpa si bungsu membayar tebusan untuk dosanya! Karena itulah si sulung marah. Ia sangat marah sampai ia secara radikal memutuskan hubungannya dengan bapanya.

Seorang anak yang hadir namun tidak mau terlibat dalam perjamuan semacam itu merupakan penghinaan di muka umum yang tak terkatakan bagi bapanya. Kira-kira bandingannya adalah kalau seorang anak adu mulut dengan ayahnya di depan umum di tengah perjamuan kawin yang dihadiri oleh keluarga besar. Adu mulut bisa saja terjadi – namun tidak di depan umum di tengah perjamuan semacam itu. Penolakan anak sulung terhadap pendamaian bapanya dengan si bungsu membuatnya memutuskan hubungan dengan sang ayah yang menerima pendamaian itu.

13. Tanggapan bapa. Untuk keempat kalinya, sang bapa bertindak melampaui apa yang akan dilakukan oleh bapa Timur Tengah biasa. Untuk kedua kalinya pada hari yang sama, ia bersedia menawarkan kasih yang tak terduga dan sangat mahal harganya. Hanya kali ini kasih itu ditujukan kepada orang yang menaati hukum, bukannya kepada seorang pelanggar hukum. Anugerah yang menakjubkan itu berlaku sama untuk kedua anak tersebut. Menurut tradisi, sang bapa seharusnya melanjutkan perjamuan tersebut dan mengabaikan penghinaan di muka umum tadi. Ia dapat menghadapi anak sulung itu kemudian. Namun tidak! Di tengah penghinaan di muka umum yang menyakitkan, sang bapa turun dan keluar untuk mendapatkan kembali satu lagi domba/dirham/anaknya yang hilang.

14. Tanggapan si sulung. Anak bungsu "menerima" untuk ditemukan. Ia terpukau oleh kasih yang sangat mahal harganya, yang ditawarkan secara cuma-cuma kepadanya. Sebaliknya, si anak sulung tampak tidak terkesan. Dengan tak kenal belas kasihan ia justru menyerang bapa dan adiknya di muka umum. Sang bapa sudah sepatutnya meledak marah dan memerintahkan orang menangani penghinaan di muka umum ini. Namun, untuk kelima kalinya, kebiasaan bapa Timur Tengah dilampauinya. Ia bukan bapa yang biasa-biasa saja. Ia adalah simbol dari Allah. Seperti yang ditulis Henri Nouwen sehubungan dengan perumpamaan ini, "Ini menggambarkan Allah, yang kebaikan, kasih, pengampunan, kepedulian, sukacita dan belas kasihan-Nya sama sekali tidak terbatas. Yesus menampilkan kemurahan hati Allah dengan menggunakan gambaran yang tersedia dalam budaya-Nya, sambil terus menerus mengubahnya."

Kalau anak sulung itu menerima kasih yang sekarang ditawarkan kepadanya, ia wajib memperlakukan adiknya dengan kasih dan penerimaan yang sama sebagaimana bapanya menyambut penjaga babi itu. Anak sulung itu perlu "diubah menjadi serupa dengan gambar" bapanya yang penuh belas kasihan, yang mendatangi dua jenis pendosa dalam rupa seorang hamba, menawarkan kasih yang sangat mahal harganya, kasih yang dinyatakan bukan berdasarkan kelayakan kita untuk menerimanya. Bersediakah dia? Kita tidak diberi tahu. Pada titik ini, bola ada di lapangan kita, dan kita sendirilah yang harus mengambil keputusan.

Kenneth E. Baile, "The Pursuing Father", diakses 20 Juli 2002.