Petualangan Itu Bernama Pernikahan, Hubungan, Keseharian

Balon Carl Fredricksen tak hanya lima. Tak terhingga. Dan balon-balon aneka warna itu mencerabut rumah kayu Carl dari tanah, mengangkatnya ke udara pada suatu pagi yang cerah. Penduduk kota yang sempat melihatnya tak ayal menganga. Tentu mereka tak menduga petualangan yang menanti rumah dan balon-balon itu.

Ini petualangan kesepuluh Pixar. Setelah petualangan segerombolan mainan dalam dua film yang sama-sama menggemaskan, adaptasi “Seven Samurai” dalam dunia serangga, para monster yang menakut-nakuti karena peduli, ayah ikan menyeberangi Lautan Teduh untuk mencari anaknya, keluarga superhero yang kembali unjuk kekuatan super mereka, mobil balap yang menyadari dirinya bukan sebuah pulau, si tikus imut juru masak piawai, dan robot masa depan yang menemukan cinta, kini balon-balon membubungkan Pixar kian tinggi di langit perfilman.

Untuk pertama kalinya Pixar menokohkan manusia-manusia riil. Dan, di tengah budaya pop yang memuja-muja kemudaan dan kemolekan, mereka menawarkan protagonis yang alih-alih: duda 78 tahun berwajah mbesengut dan bocah 8 tahun gigih pantang mundur. “Up” disutradarai Pete Docter, yang sebelumnya menggarap "Monsters, Inc.," ikut menulis skenario "Toy Story" dan “WALL-E”, juga sempat ikut menyutradarai "WALL-E" sebelum mencurahkan perhatian pada film ini. Kita ada di tangan seorang cempiang.


“Up” dibuka dengan kisah cinta yang meluluhkan hati. Carl kecil ternganga menyaksikan film tentang Charles Muntz, petualang yang bertekad tak akan balik dari Amerika Selatan sebelum mendapatkan bukti hidup hewan raksasa temuannya. Dengan balon bertulisan Spirit of Adventure, Carl membayangkan dirinyalah penjelajah gagah berani itu. Bertemulah ia dengan Ellie, gadis berimpian liar serupa. Persahabatan masa kanak ini berlanjut dengan pernikahan yang dilukiskan dalam rangkaian adegan elok tanpa dialog. Sekali lagi, elok---dan sangat membumi. Bersama-sama mereka membangun impian untuk mengikuti jejak Muntz ke Paradise Fall, dan badai kehidupan mengikisnya pelan-pelan. Dari Ellie yang tak bisa hamil sampai tabungan keluarga yang tak kunjung penuh karena terus dikuras untuk berbagai keperluan: ban bocor, perbaikan rumah yang tertimpa pohon, biaya pengobatan (duh, jadi ingat tabungan keluarga beta). Dua puluh menit pembukaan yang manis-getir.

Sampai, yah, sampai Ellie mendahului Carl. Dan, Carl (suara Edward Asner) mengerut, menyendiri di rumah kenangan mereka, emoh bergaul, memilih terus berbicara dengan Ellie yang sudah tiada. Keras kepala, ia bersikukuh abai terhadap perubahan dan perkembangan di sekitarnya. Sampai Russell (Jordan Nagai), seorang bocah yang juga keras kepala, menyusupkan kakinya menahan pintu rumah Carl. Sampai sebuah kecelakaan memaksanya mengangkat rumah seisinya dengan balon-balon, digelantungi seorang penumpang gelap: siapa lagi kalau bukan Russell.

Dan, selanjutnya adalah petualangan yang menggabungkan ketakjuban ”The Wizard of Oz”, kegilaan Indiana Jones, dan keharuan ”It’s a Wonderful Life”. Yang terjadi sewaktu rumah balon itu berada di tengah cumulonimbus jauh lebih mengerikan dari ketika rumah Dorothy terpusing di tengah angin puyuh. Ketika keduanya pertama kali melihat Paradise Fall dari kejauhan, ini momen “We’re not in Kansas anymore” yang membuat kita menahan napas, seperti ketika Indy menemukan posisi tabut perjanjian, seperti ketika Lucy ternganga menyaksikan Narnia, seperti ketika Wall-E terpesona menatap liukan elok Eve. Penjelajahan di negeri yang terhilang ditelan zaman tentu tak lengkap tanpa adanya mahkluk unik, dan kita dipertemukan dengan Snipe (khayalan Carl yang jadi kenyataan), burung purba persilangan antara burung unta dan kakaktua warna-warni yang lengket pada Russell gara-gara cokelat. Lalu, kejar-kejaran dengan gerombolan anjing yang tak kalah seru dari balap kereta tambang di Temple of Doom. Lalu, tampaknya terinspirasi “Laputa: Castle in the Sky”-nya Hayao Miyazaki, sebuah balon udara raksasa yang kelihatan biasa-biasa saja dari luar, namun interiornya amat luar biasa: menampung ruang makan mewah, museum megah, dan loteng yang cukup untuk hanggar pesawat tempur. Dan, akhirnya, Charles Muntz (Christopher Plummer), jagoan yang diidolakan Carl dan Ellie ini ternyata hasil persilangan antara The Wizard of Oz dan The Wicked Witch of the West.


Di tengah petualangan dua protagonis berbeda generasi yang hiruk-pikuk itu, dalam tata warna yang semeriah aneka balon namun juga seliar lembah hutan tropis, membubuhkan refleksi memikat tentang petualangan hidup. Pertarungan antara Carl dan Charles tak lain pertarungan soal bagaimana mengatasi kekecewaan. Charles dikecewakan dunia, penemuannya yang menggemparkan dianggap kebohongan belaka, memencilkan diri di pojok dunia, bergaul hanya dengan anjing-anjing, berusaha keras mengontrol segala sesuatu, bersiap-siap mendepak pantat dunia dengan pembuktian dirinya. Carl dikecewakan kehidupan. Impiannya bersama Ellie pupus sepenggal jalan. Ketika ia terhenyak di kursi kenangan mengasihani diri, sebuah ketukan di pintu menawarinya kesempatan baru. Maukah ia menyambut uluran hubungan baru itu? Maukah ia menjajal bertualang lagi, lengkap dengan potensi terluka dan kemungkinan dikecewakan?

Tersusup pula pertanyaan tentang kebahagiaan. Di manakah kita menempatkan kebahagiaan? Dalam puncak sukses, atau dalam keasyikan perjalanan jatuh-bangun setapak demi setapak menuju pencapaian impian?

Seperti Dorothy Gale mendapati bahwa “There is no place like home,” seperti George Bailey tersadar bahwa dirinya orang paling kaya di Bedford Falls, Carl Fredricksen akhirnya menemukan apa sejatinya “Stuff I’m going to do.” Bahwa petualangan sesungguhnya itu bukan up there, melainkan right here---dalam pernikahannya, dalam kesehariannya, dan kini ditemukannya dalam persahabatannya dengan si kecil Russell. Apa yang dilakukan Indiana Jones---memadukan keedanan petualangan dan kehangatan keluarga---dalam empat film, dikemas “Up” dalam satu film yang padat dan memikat.

Oh. Film yang indah. Film yang menghangatkan hati. ***