Saturday, April 25, 2015

Novel Kriminal sebagai Komentar Sosial

Akmal Nasery Basral, Ilusi Imperia dan Rahasia Imperia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014).

Kisah kriminal atau detektif mengandung keunikan tersendiri. Di situ pengarang merancang suatu tindak kejahatan, menebar petunjuk tentang motivasi dan modus operandi si tersangka pelaku, sekaligus mengecoh pembaca ke arah tersangka lain, sebelum akhirnya membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin pelik kasus, semakin sulit ditebak, semakin mengasyikkan kisah itu. Ilusi Imperia (II) dan Rahasia Imperia (RI), dua novel Akmal Nasery Basral (ANB) yang menurut rencana akan digenapi sebagai trilogi ini, menawarkan jelujuran kisah semacam itu.

Ini tawaran yang lumayan menyegarkan. Sejauh ingatan saya, genre ini tidak banyak disentuh penulis Indonesia. Waktu kecil ada Dwianto Setiawan dan Djoko Lelono yang menuliskan kisah detektif bagi anak-anak, mengimbangi kisah detektif terjemahan. Saat remaja saya bertemu dengan Imung, detektif rekaan Arswendo Atmowiloto. Lalu, S. Mara Gd. dan V. Lestari menggulirkan kisah-kisah kriminal. Belakangan saya menemukan kisah kriminal supranatural dalam novel Abdullah Harahap (AH) yang diterbitkan ulang. Novel ANB ini menambah koleksi kisah kriminal Indonesia yang masih langka itu.

Mirip dengan AH, ANB tidak menghadirkan sosok detektif untuk membongkar kasus kriminal yang terjadi. AH dapat memakai penulis, polisi, atau menceritakannya dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu. ANB menampilkan sosok Wikan Larasati, yang baru saja lulus kuliah secara cemerlang dan mulai bekerja sebagai reporter majalah berita.

Dalam II, Wikan meliput kasus pembunuhan Rangga Tohjaya, pengacara kondang yang meroket namanya setelah meloloskan Melanie Capricia (MC), diva pop, dan suaminya, Marendra, dari tuduhan plagiarisme. Rangga juga keponakan seorang jenderal purnawirawan, yang menurut desas-desus memiliki hubungan lancung dengan MC.

Dalam RI, menyambung kisah II, giliran MC dan Adel, manajernya, yang tewas terbunuh dalam waktu berdekatan di Mannheim, Jerman, dan di Zurich, Swiss. Wikan, yang terakhir bertemu dengan mereka, harus berurusan dengan polisi setempat, dan kemudian menelusuri kasus ini, yang ternyata melibatkan Mafia Albania dan gerakan Neo-Nazi.

Seberapa mengasyikkan kisah Wikan ini?
  
Gangguan Penceritaan
Baik II (380 halaman) maupun RI (431 halaman) enak dibaca sebagai novel, menawarkan kasus yang kompleks dan pelik, serta menampilkan tokoh-tokoh yang beragam dan kuat karakternya. Di satu sisi, kisahnya menguak saling-silang dunia jurnalisme, dunia hiburan, hukum (kehidupan pengacara), politik, dan permafiaan; di sisi lain, kita diajak melanglang buana dari Indonesia ke Jerman, Swiss, dan Turki. Ini memperlihatkan ketekunan ANB dalam melakukan riset, keluasan wawasannya, dan kelihaiannya merangkai alur cerita.

Namun, sebagai drama kriminal, yang butuh kegesitan bercerita untuk terus membetot perhatian pembaca, menyedotnya dari satu ketegangan ke ketegangan berikutnya, kisahnya terkesan agak tersendat. Ini terjadi karena ANB kerap menerangjelaskan berbagai hal di seputar kasus. Tentu saja tidak sedikit keterangan yang relevan dengan cerita, namun beberapa di antaranya terasa sebagai tempelan dan, sebaliknya, ada perkembangan cukup penting yang malah tidak disajikan bagi pembaca. Pembaca lalu seperti pelancong yang tiap sebentar diajak berhenti oleh pemandu, diberi informasi tentang obyek kunjungan. Keasyikan bertamasya kadang memudarkan ketegangan petualangan.

II sudah pernah diterbitkan sebagai Imperia (2005). Saya sudah membacanya, namun tidak mengoleksinya, sehingga tidak dapat membandingkannya secara langsung. Yang masih teringat, Imperia sempat melantur membahas scam Nigeria, yang memang marak saat itu. Dalam edisi ini, telah dilakukan penyuntingan ulang, dan cerita terasa bergerak lebih gesit. Namun, masih muncul, misalnya, pembahasan soal VRML, yang terasa tidak berkaitan kuat dengan alur cerita. Sebaliknya, pergeseran hubungan MC dan Marendra—dari dua sejoli mabuk kepayang, namun kemudian MC menjadi diva dan istri yang dominan, sedangkan Marendra menjadi suami yang pengalah dan ayah penyayang anak—tidak tergambar dengan baik.

Juga, yang lumayan mengecewakan, kemampuan istimewa Wikan dalam extra sensory perception (ESP) tidak tereksplorasi. Wikan hanya menunjukkanya—secara iseng?—dalam rapat redaksi pertama yang diikutinya sehingga menarik perhatian rekan yang memahami kemampuan itu. Rekan inilah yang mendukung diutusnya Wikan pergi ke Jerman untuk mewawancarai MC lebih lanjut. Dalam RI, Wikan sempat menggunakan kemampuan itu dua kali untuk merekonstruksi saat-saat menjelang ajal MC dan Adel. Toh keterangan tentang itu kemudian ia peroleh lebih detail dari dokter yang menangani mayat keduanya.

II dimulai dengan ledakan: paparan langsung pembunuhan Rangga Tohjaya. RI juga dibuka dengan pembunuhan, namun efek ledakannya kurang dahsyat karena pembunuhan itu muncul sebagai berita, bukan diceritakan langsung dari TKP. Selebihnya, secara keseluruhan, RI bergerak secara lebih sigap daripada II. Sudah semakin berkurang tempelannya meskipun di beberapa bagian masih terasa kesan tamasyanya, yang mengalihkan perhatian pembaca dari kegentingan kasus.

Cara Pemecahan Kasus
Tentang pemecahan kasus, saya tertarik membandingkannya dengan metode Hercule Poirot. Dalam novel Agatha Christie ini, biasanya kita disuguhi pola yang sama: ada mayat, Poirot hadir sebagai detektif yang menyelidiki perkara, mewancarai deretan tersangka, menyingkapkan karakter masing-masing, mempersilakan kita menebak siapa yang paling berpotensi sebagai pelaku. Klimaksnya, Poirot menganalisis kasus itu, menunjukkan siapa si pelaku, lengkap dengan motivasi dan modus operandi-nya. Kalau kita beruntung, tebakan kita cocok dengan analisis Poirot. Saya termasuk yang jarang beruntung.


Dalam novel ANB, kita tidak bertemu dengan sosok detektif. Kita berjumpa dengan Wikan Larasati, wartawan yang mengejar narasumber, yang kebetulan terlibat dalam kriminalitas. Dalam II, pembaca diajak menilik cerita dari perspektif sejumlah tokoh; dalam RI, kita mengintil gerak-gerik dan pemikiran Wikan.

Saat Poirot menganalisis kasus, ia berdiri sebagai pihak yang superior, dan para tersangka seperti domba kelu yang menunggu disembelih. Sebagai petugas resmi yang didukung pihak kepolisian, ia relatif dapat membeberkan analisisnya dengan tenang, sedangkan para tersangka—dan pembaca—tegang menyimaknya.

Posisi Wikan yang bukan detektif tak ayal memaksa penulis memikirkan metode lain untuk membongkar kasus. Dalam II, Wikan mendapatkan durian runtuh. Ia berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat: ketika si pelaku sudah pada puncak amarahnya, seperti gunung api yang lama tertidur tiba-tiba meletus, membeberkan sendiri motivasi dan modus operandi tindakan kriminalnya. Yang menyisakan pertanyaan: Apakah ketika pelaku meraup rezeki nomplok, ia sudah berencana menggunakan uang itu untuk mengupah pembunuh bayaran, yang terjadi enam tahun kemudian? Selebihnya, pengakuan yang sungguh mengejutkan, namun sekaligus terasa antiklimaks karena bukan protagonis kita yang membongkar kasus itu.

Dalam RI, saya tidak mempertanyakan kemampuan analisis Wikan. Namun, saya ragu dengan caranya membeberkan analisis itu: sebagai pihak inferior, dalam kondisi yang begitu genting dan dapat berakibat fatal baginya, dikelilingi para tersangka yang bermusuhan, siap menerkam dan menangkis penjelasannya—atau malah menghabisi nyawanya—dan ia sanggup memaparkan rangkaian kasus itu dengan jernih dan lancar. Ini sebuah “lompatan kuantum” bagi seorang Wikan yang bahkan beberapa menit sebelumnya masih grogi duduk berdekatan dengan dan dipersalahkan oleh atasannya.

Komentar Sosial
Di luar itu, novel ini menarik sebagai komentar sosial. Ada komentar yang terang-terangan, seperti ketika Wikan, dalam II, membandingkan antara kondisi kereta api di Swiss dan KRL Bogor-Jakarta. Namun, yang tak kalah menggelitik adalah komentar yang terselubung, mengundang kita untuk menebak-nebak dalam tataran yang lain.

Novel ini menggoda kita, mengundang kita membayangkan apa kiranya yang terjadi di balik kehidupan para seleb, politikus, dan dinamika media massa. Kemungkinan-kemungkinan muram di balik tampilan yang serba gemebyar. Kemungkinan-kemungkinan yang tak terungkap atau disembunyikan dari publik, namun sebenarnya terbayangkan. Dan ANB, yang cukup lama bertekun sebagai jurnalis, seakan sedang memberikan bocoran tentang keadaan yang sebenarnya—namun sekaligus menyelubunginya lagi sebagai fiksi.

Membaca MC, misalnya, kita mungkin ternganga, benarkah ada seleb yang hidup segemerlap ini. Namun, kita akan berhenti heran kalau mau sedikit memasang telinga menyimak kisah mereka dalam infotainment yang banal itu. Seorang seleb, misalnya, menyebut sederhana adalah memberi istri hadiah ulang tahun berupa mobil seharga dua miliar. Atau, bagi seleb lain, sederhana adalah mengajak ibunda berlibur ke Korea.

Kedua novel ini, terutama RI, menyoroti betapa hidup ini sering tidak seperti yang terlihat. Omongan salah satu tokoh, Stefan, tentang hidup dalam dunia majemuk, menarik untuk digarisbawahi: “Sekarang terangkan kepadaku, Wikan, jika sebagian besar orang di sekelilingmu, mungkin dirimu sendiri, mempunyai dua dunia berbeda yang dijalani, bahkan tiga sampai empat kehidupan atau lebih, bagaimana menyebut sesuatu sebagai ‘normal’ sementara yang lainnya ‘abnormal’?” Motif ini terpampang gamblang dalam “Epilog” II dan menjadi warna latar yang kuat sepanjang RI. Sosok Imperia—pelacur yang sukses menaklukkan Raja Sigismund (otoritas politik) dan Paus Martinus V (otoritas agama) sekaligus dalam genggaman kedua tangannya—terasa pas mewakili kehidupan ganda itu.

“Bocoran” lain yang tak kalah menarik: Tentang bagaimana kekuatan militer membekingi—dan sekaligus menyetir—media masa. Di situ ada wartawan senior sebuah media besar, yang berkawan dekat dengan seorang jenderal purnawirawan, dan bersama-sama ternyata menjadi agen komplotan global. Pembaca yang gemar mengikuti isu dan gonjang-ganjing dunia sastra satu dekade belakangan ini barangkali akan mengulum senyum, menebak-nebak siapa kiranya yang dijadikan acuan bagi tokoh itu. Apakah ini sebentuk strategi lain dari “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara”? ***

Friday, April 10, 2015

Obat dan Kesembuhan

Ketika memberikan resep kepada pasien, dokter secara tersirat berkata, “Kalau Anda minum obat ini, Anda akan sembuh!” Sebagai pasien, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan bergumam, “Aku harus berusaha sembuh! Aku harus mendisiplinkan diri untuk sembuh! Aku harus menerapkan langkah-langkah menuju kesembuhan! Aku harus berjaga-jaga, aku tidak boleh lengah, aku tidak boleh lemah! Aku harus sembuh!” Tampaknya hanya orang kurang waras yang berpikir seperti itu. Kebanyakan kita tentu cukup pintar untuk paham bahwa yang perlu kita lakukan tidak lain adalah minum obat menurut aturan. Ya, tentu saja dibarengi hal-hal yang mendukung penyembuhan: diet makan yang tepat, latihan fisik yang patut, istirahat yang cukup. Dengan memenuhi kondisi itu, kita tinggal berharap proses kesembuhan akan berlangsung sebaik mungkin. Begitu, bukan?

Di dalam firman Tuhan, terutama di Perjanjian Baru, banyak perintah atau pernyataan yang berpola seperti nasihat dokter tadi. Berikut ini beberapa contohnya:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

“Tinggallah di dalam Aku, maka kamu akan berbuah.”

“Maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan.”

“Allah sangat baik kepada kita. Itu sebabnya saya minta dengan sangat supaya kalian mempersembahkan dirimu sebagai suatu kurban hidup... Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah.”

Dalam teori, tentu kita sepakat bahwa, dalam pernyataan-pernyataan di atas, bagian yang merupakan “obat” (sebab) adalah: “mengasihi Aku”, “tinggal di dalam Aku”, “kemurahan Allah”, “Allah sangat baik kepada kita”, dan “Allah membuat pribadimu menjadi baru”; adapun bagian yang merupakan “kesembuhan” (akibat/hasil) tidak lain adalah “menuruti segala perintah-Ku”, “berbuah”, “pertobatan”, “mempersembahkan diri sebagai suatu kurban yang hidup”, dan “berubah”. Sepakat?

Namun, coba kita perhatikan, dalam praktek, bagaimana kita memperlakukan pernyataan-pernyataan tadi? Seberapa sering kita berusaha keras untuk menuruti segala perintah Tuhan untuk memperlihatkan bahwa kita mengasihi Dia? Seberapa keras kita berusaha berbuah (dalam gereja tertentu, hal ini berarti menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus) untuk membuktikan bahwa kita tinggal di dalam Dia? Seberapa tekun kita mengerahkan kekuatan, berdoa dan berpuasa, untuk bertobat, agar kita mengalami kemurahan Allah? Seberapa gigih kita mempersembahkan diri sebagai suatu kurban hidup, berusaha menjaga kesucian hidup, agar Allah berkenan dan bersikap baik kepada kita? Seberapa gencar kita berusaha berubah, berusaha memperbarui pola pikir (pembaruan pikiran), agar kita menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik?

Ah, tanpa sadar, kita bersikap seperti pasien yang kurang waras tadi! Kita menjungkirbalikkan pernyataan-pernyataan tersebut. Kita minum “kesembuhan” dan berharap mendapatkan “obat”. Kita berusaha mengerjakan “hasil”, dan menunggu munculnya “penyebab”. Tidak heran kalau banyak orang kerohaniannya kusut masai!

Yang perlu kita lakukan adalah minum “obat”. Kalau kita minum “obat” dengan benar, “kesembuhan” tidak perlu diusahakan, “penyembuhan” akan berlangsung dengan sendirinya, dan, pada waktunya, kita akan memetik “hasil”-nya. Begitulah proses yang sewajarnya. Jangan dibalik-balik.

Dalam kerohanian, tadi sudah kita sepakati, “obat”-nya adalah ini: “mengasihi Aku”, “tinggal di dalam Aku”, “kemurahan Allah”, “Allah sangat baik kepada kita”, dan “Allah membuat pribadimu menjadi baru”. Berarti inilah kebenaran yang perlu kita “minum” secara teratur. Inilah kebenaran yang perlu kita renungkan sering-sering. Inilah kebenaran yang selayaknya menjadi fokus hidup kita sehari-hari. Inilah kebenaran yang perlu kita resapkan sampai ke sumsum tulang.

Bila kita memenuhi kondisi di atas, “kesembuhan”—yaitu  “menuruti segala perintah-Ku”, “berbuah”, “pertobatan”, “mempersembahkan diri sebagai suatu kurban yang hidup”, dan “berubah”—berangsur akan terungkap dalam kehidupan kita. Begitulah prosesnya. Bukan kebalikannya.

Mungkin ada yang nyeletuk, “Tuh, ada lho kita harus mengasihi Tuhan. Berarti itu usaha kita ‘kan? Kita harus berusaha mengasihi Tuhan ‘kan? Membuktikan kasih kita kepada Tuhan dengan menaati segala perintah-Nya ‘kan?”

Sabar sedikit, Adikku yang legalistik dan keras kepala! Jika dibaca dalam konteksnya (Yohanes 14), pernyataan “mengasihi Aku” tersebut mengacu pada percaya kepada Yesus dan kepada Bapa, percaya pada karya keselamatan dan penebusan-Nya. Dan, jangan lupa, kasih tidak pernah bersumber dari diri kita. Sebaliknya, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Dengan begitu, “mengasihi Aku” bisa dibaca sebagai percaya pada kasih-Nya, berpegang teguh pada kasih-Nya, jatuh cinta mabuk kepayang pada kasih-Nya yang begitu besar. Apakah kita bisa berusaha untuk jatuh cinta? Jadi, “mengasihi Aku” bukanlah soal usaha kita, melainkan soal percaya, soal menerima, menyambut, dan merayakan kasih-Nya.

“Mengasihi Aku” lalu sejajar dengan “tinggal di dalam Aku”. Frasa ini dapat berarti “menjadikan Kristus sebagai rumah (home, tempat kediaman, tempat kesukaan, ruang tempat kita leluasa menjadi diri sendiri) selama-lamanya.”

Nah, pertanyaannya sekarang, seberapa teratur kita minum “obat” itu? Serapa sering kita merenungkan kasih Tuhan, merefleksikan Kristus sebagai tempat kesukaan kita? Seberapa banyak kita berfokus pada kemurahan Allah, kebaikan-Nya, dan anugerah hidup baru-Nya dalam keseharian kita? “Kasih itu tangguh menghadapi bahaya dan maut. Kegairahan tertawa menghadapi gertakan neraka. Api cinta pantang mundur, dan menyapu habis segala sesuatu yang merintanginya. Air bah tak mampu menenggelamkannya, hujan badai tak mampu memadamkannya. Kasih tidak dapat dibeli, tidak dapat pula dijual—kasih tidak akan ditemukan di pasar mana pun”—apakah kita membiarkan kebenaran tentang kasih-Nya yang tak kunjung padam ini meresap sampai ke sumsum tulang?

Mungkin ada lagi yang nyeletuk, “Lalu itu, faktor-faktor pendukung kesembuhan itu—diet, latihan fisik, istirahat—bukankah itu mengacu pada usaha-usaha kita? Bukankah itu jerih payah kita, agar anugerah Tuhan di dalam hidup kita tidak menjadi sia-sia?”

Sebentar, sebentar. Dirimu hendak menjaga anugerah Tuhan dengan kekuatanmu sendiri, dengan kesalehanmu sendiri? Ahai! Jadi, kekuatanmu, kesalehanmu, jerih payah usahamu itu lebih kuat, lebih perkasa, dari anugerah Tuhan ya? Ahai!

Baiklah. Agar tidak salah paham, mari kita cermati faktor-faktor pendukung tadi, dan melihat padanannya secara rohani.

Diet. Ini dapat mengacu pada kemampuan mengenali ajaran sehat. Apakah ajaran itu berfokus pada pembenaran melalui usaha dan amal ibadah manusia (legalisme) atau pada pembenaran melalui karya Kristus yang sempurna (anugerah)? Apakah berbicara tentang anugerah hidup baru atau perbaikan tingkah laku? Apakah mengajarkan kita untuk mengusahakan keselamatan dengan amal perbuatan (working for our salvation) atau merayakan dan mengerjakan keselamatan yang sudah dianugerahkan (working out our salvation)? Apakah ajaran itu mendorong kitan hidup dalam kemerdekaan yang menghancurkan kemerdekaan (Roma 6:16, The Message) atau dalam kemerdekaan yang menjadikan kita leluasa untuk mengasihi dan melayani sesama? Nah, bagaimana kita dapat mengenali ajaran sehat seperti itu? Dengan kemampuan sendiri? Silakan coba sendiri kalau bisa. Firman Tuhan mengarahkan kita untuk bersandar pada bimbingan Roh Kudus, yang akan menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran.

Latihan fisik. Ini bisa berbicara tentang latihan beribadah atau melatih otot iman. Ibadah dan iman kita perlu berfokus ke arah yang benar: pada Siapa yang kita percayai. Ya, iman berfokus pada Yesus Kristus, yang tidak lain tidak bukan adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Iman bukan tentang mengklaim apa yang kita anggap sebagai janji Tuhan (kekayaan, kesuksesan, terobosan hidup, jodoh, dan sebagainya), menggumulinya, dan terus setia menantikannya sampai hal itu terwujud. Sebaliknya, iman adalah menyadari bahwa Kristus adalah “ya dan amin” bagi segenap janji Allah. Iman bukan perjalanan menuju Ruang Mahakudus; sebaliknya, iman adalah bergerak di dalam Ruang Mahakudus: di dalam Kristus kita hidup, kita ada, kita bergerak! Iman bukan mengandalkan betapa eratnya kita berpegang pada Tuhan; sebaliknya, iman merasa aman menyadari betapa eratnya Tuhan memegang kita. Martyn Lloyd-Jones mengatakan, “Kita dapat mengungkapkannya demikian: orang yang beriman adalah orang yang tidak lagi memandang pada dirinya sendiri dan tidak lagi mengandalkan dirinya sendiri. Ia tidak lagi melihat pada kondisinya yang dahulu. Ia tidak melihat pada kondisinya saat ini. Ia bahkan tidak melihat pada bagaimana kiranya kondisinya kelak sebagai hasil dari jerih payahnya memperbaiki diri sendiri. Ia memandang sepenuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya yang sempurna, dan mengandalkan hal itu sepenuhnya. Ia berhenti berkata, ‘Ah ya, dulu aku biasa melakukan dosa-dosa yang parah, namun aku sudah melakukan ini dan itu.’ Ia berhenti berkata seperti itu. Jika ia terus berkata-kata seperti itu, ia belum memahami apa itu iman. Iman berbicara dengan cara yang lain sama sekali dan orang itu akan berkata, ‘Ya, aku telah berbuat dosa secara mengerikan, namun aku tahu bahwa aku adalah anak Allah karena aku tidak mengandalkan kebenaranku sendiri; kebenaranku ada di dalam Yesus Kristus dan Allah sudah memperhitungkan hal itu sebagai kebenaranku.’”

Istirahat. Benarkah kita suka beristirahat (rest)? Kebanyakan orang gelisah (restless), menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, seakan-akan identitas dirinya ditentukan oleh aktivitas itu. Yesus Kristus mengundang kita untuk keluar dari kegelisahan semacam ini. Maukah kita menyambut undangan-Nya yang lembut ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Berusahalah untuk masuk ke dalam perhentian itu”? Beristirahat di dalam Kristus berarti puas akan Dia, menyadari bahwa identitas kita ditentukan semata-mata oleh kasih-Nya. Seperti dikatakan Brennan Manning, “Definisikan dirimu sendiri secara radikal sebagai orang yang dikasihi oleh Tuhan. Itulah identitas diri yang sejati. Identitas lainnya hanyalah ilusi.”

Tentu saja, masih ada faktor pendukung lain yang belum tercakup dalam perbandingan tadi. Ini sekadar ilustrasi. Yang jelas, faktor pendukung itu—apa pun bentuknya—pastilah bukan sesuatu yang kita sanggup mengupayakannya sendiri; faktor pendukung itu tidak pernah berasal dari bawah, dari kemampuan dan daya upaya manusia, melainkan merupakan pemberian dari atas. Merupakan anugerah. Ya, anugerah-Nya cukup, lengkap, komplet, bahkan berlimpah, dan sempurna dalam menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup yang saleh.

Kalau kita batuk, mungkin perlu waktu seminggu untuk sembuh kembali. Adapun proses kesembuhan ini—dari pola pikir legalistik menuju pemahaman penuh akan anugerah-Nya—memakan waktu sepanjang hayat, bahkan mungkin sepanjang kekekalan. Dan, kecepatan proses itu dalam diri tiap-tiap orang percaya berbeda-beda. Kita juga masih dapat jatuh bangun. Kita masih dapat gagal di sana-sini. Jadi, tak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tidak usah saling menggigit dan saling menelan. Sebaliknya, kita perlu belajar bersabar satu sama lain. Yang kuat menanggung yang lemah. Saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik. Dan, yang terutama, tidak berusaha mengejar kesembuhan dengan mengupayakan kesembuhan itu dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan secara tak putus-putus minum obat anugerah-Nya, sambil secara tak sudah-sudah mendaraskan puji syukur, “Terima kasih! Terima kasih!” ***

Sunday, March 29, 2015

Pemimpin yang dari Tuhan

Karya: Pawel Kuczynski, Polandia

"Kita telah mendapatkan pemimpin yang dipilih Tuhan! Kita telah mendapatkan pemimpin yang dipilih Tuhan! Negeri kita menyambut era yang baru, pengharapan yang baru!" begitu diserukan sebagai orang yang tokoh idolanya, sang kandidat idaman, terpilih dalam pemilu yang berlangsung lumayan dramatis tahun lalu.

Sepanjang masa kampanye, suara hamba Tuhan yang menggembalakan rakyat terbelah dua. Ada hamba Tuhan A yang mengklaim bahwa kandidat X yang direstui untuk memimpin bangsa ini dalam periode ini--kalau rakyat salah pilih, bakal tertunda lagi perbaikan nasib bangsa besar ini. Sebaliknya, hamba Tuhan B menyatakan dalam sebuah KKR bahwa ia memperoleh penglihatan, kandidat B-lah yang akan diangkat Tuhan memimpin bangsa ini, dan umat didorong mendukungnya. Jadi, karena ada dua kandidat, maka ada dua Tuhan--atau dua suara Tuhan (kalau jumlah kandidat bertambah, jumlah Tuhan atau suara-Nya bertambah juga. Tenang, Tuhan tidak pernah kehabisan stok suara). Manakah suara Tuhan yang benar?

Kepastian tentang suara Tuhan atau bukan ini tidak dapat ditentukan di awal, tetapi belakangan, setelah yang disuarakan terjadi. Pada zaman dahulu, nabi yang secara konsisten menyampaikan suara Tuhan secara akurat, ia akan dihormati sebagai nabi Allah. Sebaliknya, yang nubuatannya ngawur dan melenceng, ia akan mendapatkan hadiah dilempari batu. Sekarang? Hamba Tuhan yang tebakannya (ya, tebakan, jangan sok gagah menyebutnya sebagai nubuatan) benar, tak usah membusungkan dada--sangat boleh jadi, dalam kasus-kasus lain, tebakannya keliru. Hamba Tuhan yang tebakannya kali ini keliru, bolehlah malu-malu dan mengaku salah, sambil belajar untuk kelak menebak arah zaman dengan lebih cermat lagi.

Kembali ke soal pemimpin dari Tuhan, apakah pemimpin yang terpilih dalam pemilu serta-merta adalah pemimpin yang dari Tuhan? Kalau belajar dari peralihan bangsa Israel dari teokrasi menjadi monarki, tampaknya tidak. Bangsa Israel memilih raja pertama yang tidak berkenan di hati Tuhan. Ditarik ke dalam konteks yang lebih luas, Tuhan dalam kedaulatan-Nya mempersilakan bangsa-bangsa memilih pemimpinnya masing-masing. Dan, suara rakyat belum tentu--bahkan sering berlawanan dengan--suara Tuhan.

Dengan begitu, mempersoalkan apakah seorang pemimpin dipilih Tuhan atau tidak, itu soal yang kurang relevan. Pertanyaan yang lebih perlu dilontarkan: Apakah sang pemimpin tersebut, dalam konteks kehendak bebas manusia, memilih untuk mengikuti jalan Tuhan? Nah, itu tentu bukan soal yang bisa dijawab melalui kemenangan di bilik suara, melainkan mesti dilihat dari kebijakan-kebijakan yang diambil pemimpin tersebut sepanjang masa pemerintahannya.

Jalan Tuhan mana yang bisa dijadikan tolok ukur? Apakah dari kemajuan perekonomian? Dari kecanggihan pencapaian teknologi? Dari ketangguhan militernya?

Brian Zahnd, dalam buku "A Farewell to Mars", menawarkan perspektif yang menarik disimak tentang penghakiman atas bangsa-bangsa berdasarkan Matius 25:31-46. Perumpamaan ini dibuka demikian: "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya" (ay. 31). Hal ini menegaskan kedudukan Yesus Kristus--setelah kematian dan kebangkitan-Nya beberapa waktu kemudian--sebagai pemegang segala otoritas di surga dan di bumi, sebagai Raja atas segala bangsa. Dia memerintah dan menghakimi bangsa-bangsa menurut tolok ukur keadilan-Nya. Apakah itu? Perlakuan mereka terhadap "saudara-Ku yang paling hina", yaitu rakyat miskin, orang sakit, kaum imigran, dan para narapidana.

Berangkat dari gagasan itu, kita bisa melihat, sebenarnya ada tolok ukur yang relatif gamblang untuk menilai apakah pemerintahan atau kepemimpinan suatu bangsa itu berada di jalan Tuhan atau menyimpang dari jalan-Nya. Kita dapat menyebutnya "Tes Kambing dan Domba" atau "Tes Empat Keberpihakan". Ya, keberpihakan terhadap rakyat miskin, terhadap orang sakit, terhadap kaum imigran, dan terhadap para narapidana. Saya akan mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan (atau pernyataan) sehubungan dengan masing-masing poin sebagai tawaran awal tolok ukur penilaian.

Keberpihakan Terhadap Rakyat Miskin
Apakah kebijakan pemerintah mendukung dan memfasilitasi pengentasan orang miskin? Apakah mereka diberi ruang untuk lepas dari jerat kemiskinan, bangkit mandiri dan meraih kesejahteraan hidup, atau terus dijadikan keset pembangunan, dikuya-kuya dan ditindas? Apakah mereka diberi kesempatan meraih pendidikan umum atau keterampilan seluas-luasnya, bukannya patah di tengah jalan karena kesulitan biaya?

Apakah diusahakan ketersediaan bahan pangan dan sandang dengan harga terjangkau dan stabil serta kualitas memadai? Apakah tersedia perumahan layak untuk rakyat dengan fasilitas umum yang patut, dan harganya tidak dibiarkan terus digoreng oleh para tengkulak? Apakah para petani dilindungi, bukannya lahannya diserobot untuk dijadikan perumahan, pabrik, perkantoran, hotel, atau mal? Apakah para buruh digaji secara layak, atau mereka diperah seperti budak untuk menghasilkan makanan, pakaian, dan aneka produk mewah penopang gaya hidup golongan kaya?

Keberpihakan Terhadap Orang Sakit
Apakah layanan kesehatan di negeri ini bergerak dalam prinsip welas asih yang dicontohkan oleh orang Samaria yang baik itu, dalam semangat berkorban untuk menolong mereka yang tertimpa kemalangan? Apakah layanan kesehatan bukan hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi bergerak secara intensif untuk mendidik dan memfasilitasi rakyat untuk hidup sehat? Ataukah, lembaga kesehatan bergerak menjadi raksasa bisnis yang angker, bergerak menurut prinsip "ana rega ana rupa", yang sama saja dengan menutup kesempatan bagi warga miskin untuk mendapatkan layanan yang layak saat mereka sakit alias "orang miskin dilarang sakit"?

Pemerintah sudah menyediakan BPJS, misalnya, namun pengelolaannya terkesan semrawut. Bagaimana sikap pemerintah terhadap pasien yang telanjur meninggal dunia karena gagal mendapatkan perawatan gara-gara tidak paham mengikuti prosedur BPJS? Lalu, dana BPJS tahun lalu diklaim defisit. Penyelesaiannya khas pedagang: iuran BPJS dinaikkan. Kalau defisit terjadi karena rakyat yang menggunakan BPJS membludak dan terlayani dengan baik, syukurlah. Namun, kalau defisit terjadi karena tikus-tikus birokrat pengelola BPJS menggemukkan diri mereka, betapa celaka kita berada di tangan rezim perampok.

Keberpihakan Terhadap Kaum Imigran
Kaum imigran atau orang asing bukan sekadar warga negara lain yang berkunjung, tinggal, atau bekerja di sini. Kalau itu, terutama terhadap imigran bule, pemerintah sudah memperlakukan dengan penuh hormat, memberikan gaji jauh lebih tinggi dari UMR buruh dalam negeri, dan menyematkan sebutan khusus bagi mereka: ekspatriat.

Kaum imigran dapat mengacu pula pada mereka yang berbeda etnis, berbeda kepercayaan, berbeda pilihan politik, kelompok minoritas. Atau, malah dibalik: warga Indonesia yang terpaksa mengembara ke negeri asing untuk memperoleh matapencaharian (TKI). Nah, bagaimana keberpihakan pemerintah terhadap mereka-mereka ini? Ketika mereka dianiaya di negeri jiran? Ketika hak beribadah mereka dibatasi? Ketika hak berserikat dan berdiskusi mereka diberangus? Ketika kelompok garis keras menindas dan menganiaya mereka?

Keberpihakan Terhadap Para Narapidana
Secara sempit, ini bisa berarti perlakuan yang manusiawi terhadap para tahanan, bahwa mereka berada di penjara dalam proses untuk dimasyarakatkan kembali. Namun, dalam arti luas, ini berarti penegakan hukum dan keadilan. Bahwa semua warga betul-betul setara di hadapan hukum. Bahwa hukum tidak tumpul ke atas, tetapi tajam ke bawah. Bahwa hukum tidak bersikap bengis terhadap rakyat kecil dan miskin, namun lembek saat berhadapan dengan pemilik modal dan kuasa. Bahwa hukum tidak bertaburan dengan pasal karet yang bisa dimanfaatkan oleh pemilik modal dan kuasa untuk memukul siapa saja yang tidak berkenan di hati mereka. Bahwa hukum tidak sering terpeleset menghukum dan memenjarakan orang yang tidak bersalah, dan malah membiarkan melenggang bebas orang yang bersalah. Dan seterusnya.

Yah. Sejauh ini, itu ide-ide yang berseliweran dalam pikiranku dan bisa kucatat. Jadi, bagaimana? Bagaimana dengan pemerintahan baru yang baru berjalan lima bulan ini? Apakah pemimpin idola kita menunjukkan bahwa ia bergerak selaras dengan denyut hati Tuhan, memperlihatkan keberpihakan yang kuat terhadap rakyat miskin, terhadap orang sakit, terhadap kaum imigran, dan terhadap para narapidana? Kalau iya, mari kita dukung dia dengan segenap hati dan segenap daya. Kalau tidak, mari kita kritik dia, mari kita jewer dia agar bertobat. Dan, kalau dia keras kepala, mari kita lawan tanpa kekerasan, dan mari kita cegah keberlanjutan pemerintahannya dalam pemilu yang akan datang.

Sunday, March 1, 2015

Film yang Lemah Lembut


 Of Gods and Men (Xavier Beauvois, Prancis, 2010)

Ada film-film berlabel "Kristen" yang justru membuatku jengah. Film-film dengan kualitas produksi buruk, plot bolong-bolong, akting dan dialognya kaku--namun, karena dianggap menyampaikan cerita atau pesan Alkitabiah, lantas diarak dan dielu-elukan gereja dan orang Kristen sebagai film "wajib tonton". Film-film itu membuatku berjengit, memperlakukan iman secara gampangan--kalau tidak seperti para motivator ya seperti tukang sulap. Aku akan malu kalau sampai temanku yang non-Kristen menontonnya, dan memandangnya sebagai perwakilan iman kristiani. Dan, jujur, aku meringis senang kalau film semacam itu terkapar di box office. (Enggak usah menyebut judul ya. Kalian tahulah model film yang kubicarakan ini.)

Lalu, sesekali muncul film yang sebenarnya tidak bersikeras melabeli dirinya sebagai "film Kristen", namun malah menampilkan iman kristiani secara elok dan cemerlang. Film yang kualitas produksinya kuat, plot, akting, dan dialognya juga kuat. Film yang kuat sebagai film, dan mengangkat iman sebagai subyeknya secara elegan, bukan menjadi semacam propaganda atau ceramah agama. Film yang mengundangku untuk menimbang kembali dari sudut lain, merenungkan, menantang, dan sekaligus memperkaya keimananku. Film yang dengan senang hati--dengan haru dan bangga--akan kurekomendasikan pada kawan non-Kristen yang berniat belajar tentang iman kristiani.

Ya, film seperti "Of Gods and Men" ini. Film yang diangkat dari kisah nyata biarawan Trappis di biara Tibhirine di Aljazair, bekas jajahan Prancis.

Biara ini telah sekian lama bertumbuh bersama, bahkan menopang, komunitas tempat mereka berada, yang warganya mayoritas Muslim. Mereka menyediakan pengobatan--dan sesekali sepatu--bagi warga, dan juga sejumlah bantuan administrasi. Mereka berkebun. Mereka beternak lebah madu dan menjual madunya di pasar setempat. Mereka menghadiri upacara khitanan. Mereka menjadi tempat curhat bagi warga. Seorang warga menggambarkannya demikian, "Kalianlah cabang itu. Kami ini burung-burungnya. Kalau kalian pergi, kami akan kehilangan pijakan." Terdengar seperti persilangan antara seruan Nabi Yeremia tentang mengusahakan kesejahteraan komunitas tempat kita berada dan perumpamaan Yesus tentang biji sesawi: "Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Mereka berada di sana, seperti dikatakan seorang biarawan, "untuk menjadi saudara bagi semua orang".

Lalu, di tengah ketenteraman itu, muncullah teror itu. Mulanya di tempat yang jauh. Seorang perempuan ditikam dan dilemparkan dari bus karena tidak berhijab. Seorang guru dibunuh karena mengajarkan bahwa jatuh cinta itu normal. Warga asing ditembaki atau digorok lehernya. Dan, teror itu, tinggal menunggu waktu saja, bakal merangsek ke desa itu, ke biara itu.

Pemerintah menawarkan perlindungan oleh militer atau mendesak para biarawan itu pergi. Mereka bersikeras mengambil sikap sendiri. Apakah pergi? Pergi ke mana? Toh mereka sudah mempersembahkan hidup bagi misi ini. Atau tinggal? Di satu sisi, mereka merasa misi belum rampung. Di sisi lain, bukan hanya keselamatan mereka yang terancam, ketenteraman hidup warga juga. Militer pun sempat mencurigai mereka melindungi para teroris karena sempat menolong teroris yang terluka--tergambar dalam adegan apik pertemuan antara helikopter militer dan menara kapel biara. Jadi, bagaimana sebaiknya mereka bersikap? Ini tidak patut saya utarakan di sini; sebaiknya kawan-kawan yang berminat menonton menyimaknya sendiri.

Aku hanya ingin menambahkan: setelah sekian lama menonton berbagai film, baru kali ini aku menyebut sebuah film sebagai "lemah lembut". Adegan demi adegan mengalir dengan tenang, tidak terkesan tergesa-gesa, komposisi gambar meneduhkan, kamera seolah mengajak kita mengamati--bahkan menyentuh--wajah-wajah yang muncul, dan dialog-dialog diucapkan dengan telaten, seolah memberi kita waktu meresapi maknanya (simak, misalnya, percakapan tentang cinta antara Luc dan seorang gadis desa, atau dialog tentang kemartiran antara Christian dan Christophe).

Adegan yang menjadi puncak kelemahlembutan itu adalah adegan anggur dan musik. Para biarawan mengisi gelas dengan anggur, mengangkatnya, mencecapnya. Tersenyum, mulut terbuka, tertawa tanpa suara, tercenung, terdiam, tertegun, bertatapan, mata berkaca-kaca. Sepanjang adegan itu, petilan musik dari balet Swan Lake mengiringi di latar. Sebuah adegan yang sublim. Sampai kemudian... teror itu menggedor pintu biara!

Oya, kekerasan yang kusebutkan tadi kebanyakan hanya disampaikan melalui dialog. Namun, saat kamera benar-benar memotret kekerasan yang terjadi--atau akibatnya--aku mendapatkan kesan, kamera bukan terutama bermaksud mengguncangkan perasaan kita, namun justru mengundang kita untuk memandang peristiwa itu dengan penuh belas kasihan--pada para pelaku! ***

Bagi teman-teman yang berminat menggali lebih jauh tentang film ini, aku merekomendasikan tautan berikut ini:

Ulasan Steven D. Greydanus

Ulasan Jeffrey Overstreet

Artikel Steven D. Greydanus

Artikel Brian Zahnd tentang Christian de Chergé

Saturday, February 7, 2015

Jodhaa Akbar: Ketika Cinta Mewarnai Kehidupan Berbangsa


Jodhaa Akbar (Ashutosh Gowariker, India, 2008)

Bagi yang tengah termehek-mehek pada Jalal namun tidak telaten mengikuti kisahnya hari demi hari di televisi, inilah penggantinya. Bagiku, film ini memupus kejengkelan pada PK.

Oke, kita ngomong PK (2014) sebentar. Film ini melontarkan dua isu, dan kemudian menjawabnya secara cerewet atau malah mengelakkannya sama sekali. Anehnya, pertanyaan itu justru terjawab oleh film lain. Pertanyaan pertama: kesenjangan antara Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan yang kita ciptakan sehingga menimbulkan fenomena satu Tuhan tapi banyak agama. Pertanyaan ini terjawab secara lumayan asyik dalam separuh bagian pertama Life of Pi. Pertanyaan kedua: isu pernikahan beda agama, yang diselesaikan PK melalui keajaiban. Nah, Jodhaa Akbar menjawabnya secara gamblang melalui kisah putri Hindu (Jodhaa) yang dipinang raja Muslim (Jalaluddin Mohammad).

Dan, betapa sebuah jawaban yang gemilang! Kisah abad ke-16 ini tergarap secara elok, menampilkan kecemerlangan film Bollywood papan atas, sekaligus jawaban yang tak gegagah atas pertanyaan genting tadi: pernikahan menjadi sebuah masa pertunangan--dan, ahem, foreplay--panjang menuju penyatuan dua tubuh (upacara pernikahan berlangsung pada menit-menit ke-50, dan kedua pasangan itu baru memadu kasih sebagai suami-istri pada menit-menit ke-170!). Betapa panjang masa-masa pengujian, pengenalan, penjajakan, penghormatan atas perbedaan keyakinan yang mesti mereka lewati sebelum menemukan kecocokan dan keintiman. Belum lagi munculnya kesalahpahaman nyaris fatal, namun kemudian melahirkan penyesalan dan penyelarasan karakter, dan hati yang dimenangkan.

Film ini bisa jadi pilihan untuk merayakan Hari Valentine. Untuk menepiskan gambaran bahwa perayaan hari kasih sayang itu berfokus pada permen cokelat berbonus kondom. Untuk memperlihatkan bahwa kasih sayang nyatanya bisa menyentuh ranah-ranah kehidupan yang luas.

Dalam Jodhaa Akbar, kasih sayang itu menyentuh dan mewarnai kebijakan berbangsa dan bernegara. Bagi pejabat yang suka blusukan, ada contoh yang relevan di sini. Bukan blusukan dengan dibuntuti media, melainkan dengan menyamar sehingga sanggup menangkap denyut jantung dan suara hati rakyat yang sesungguhnya, dan, yang terutama, pada akhirnya melahirkan keputusan politik yang menjunjung kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, Jodhaa Akbar adalah kisah sepanjang tiga setengah jam yang amat memikat. Kisah percintaan berpadu dengan peperangan dan intrik keluarga kerajaan dan, seperti kebiasaan Bollywood, dibumbui dengan tarian dan nyanyian. Ah, desain produksinya bikin ternganga-nganga. Kalau film Indonesia berbiaya 25 miliar saja tersengal-sengal untuk menampilkan kesan kolosal, film ini secara leluasa memanjakan penonton dengan tata warna, komposisi gambar, dan koreografi yang memukau. Lihat saja tarian darwis saat pernikahan dan pesta rakyat setelah Jalal mengumumkan pembebasan pajak itu! Adegan-adegan perangnya dahsyat. Dan, ada satu adegan yang belum pernah kujumpai di film lain: penjinakan gajah liar. Ya, film ini sukses menjinakkan isu yang "liar" dengan elegan. ***

Tuesday, January 20, 2015

10 Mitos tentang Roh Kudus

Salah satu tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa orang percaya tidak betul-betul memahami apa yang terjadi di kayu salib adalah ia takut akan Roh Kudus dan karya-Nya. Ia memandang Roh Kudus sebagai Penginsaf Dosa dan Polisi meskipun Yesus menyebut Dia Penghibur dan Penolong. Cara pandang mereka terbentuk oleh tradisi perjanjian lama, bukan oleh kebenaran perjanjian baru.

Berikut ini 10 mitos tentang Pribadi Roh Kudus.

Mitos 1: Roh Kudus mencatat dosa-dosa saya.
Kebenaran 1:  Roh Kudus tidak lagi mengingat-ingat dosa kita (Ibr. 10:17).
Roh Kudus bukannya pelupa, tetapi kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang. Di kayu salib, keadilan sudah ditegakkan dan semua dosa kita sudah diampuni (Kol. 2:13). Mengampuni secara harfiah berarti menyuruh pergi. Dosa Anda telah dibuang sejauh timur dari barat (Mzm. 103:12). Allah telah memperdamaikan dunia dengan dirinya dan tidak lagi memperhitungkan pelanggaran mereka (2 Kor. 5:19). Dalam perjanjian lama, orang diingatkan akan dosanya (Ibr. 10:3); dalam perjanjian baru, dosa tidak lagi diingat-ingat (Ibr. 8:12).

Mitos 2: Roh Kudus menginsyafkan saya akan dosa saya.
Kebenaran 2: Roh Kudus menginsyafkan kita akan kebenaran kita (Yoh. 16:10).
Bagaimana mungkin Dia menginsyafkan Anda akan sesuatu yang secara sengaja justru telah Dia lupakan? Yesus telah menghapuskan dosa dengan mengurbankan diri-Nya (Ibr. 9:26). Dosa Anda bukan lagi masalah. Pertanyaan utamanya, apakah Anda yakin akan anugerah Allah. Sebagai ungkapan kasih dan rahmat-Nya, Roh Kudus menginsyafkan dunia akan dosa ketidakpercayaan pada Yesus. Namun, Dia “menginsyafkan” atau lebih tepat, menyakinkan, orang percaya akan kebenaran mereka (Yoh. 16:8-10).

Mitos 3: Roh Kudus memimpin saya untuk mengakui dosa saya.
Kebenaran 3: Roh Kudus memimpin kita untuk mengakui bahwa Yesus itu Tuhan (1 Kor. 12:3)!
Roh Kudus tidak akan pernah mengalihkan perhatian kita dari Yesus. Pelayanan-Nya selalu menjadikan kita sadar-akan-Yesus, bukannya sadar-akan-diri-sendiri (Yoh. 16:14). Secara khusus, Roh Kudus akan memimpin kita untuk mengenali Yesus sebagai Tuhan, yang berarti segala sesuatu milik kita—termasuk masalah dan dosa kita—menjadi milik-Nya. Kita tidak lagi berhak atas dosa-dosa kita. Semua itu bukan lagi milik kita karena Dia sudah menebus dosa kita dengan darah-Nya. Masih juga berpikir tentang dosa? Pandanglah diri kita sudah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm. 6:11).

Mitos 4: Roh Kudus mengawasi kalau-kalau saya tergelincir dan gagal menyelesaikan pertandingan iman.
Kebenaran 4: Roh Kudus secara pribadi menjadi keselamatan dan pusaka rohani kita (Ef. 1:13-14).
Ketika kita diselamatkan, kita ditandai sebagai milik kepunyaan Allah (2 Kor. 1:22) dan dimeteraikan dengan Roh Kudus menjelang hari penebusan (Ef. 4:30). Roh Kudus tidak mencari-cari kesalahan kita, melainkan membangkitkan pengharapan (Rm. 15:13). Pengharapan yang ada pada-Nya itu sauh yang aman dan teguh bagi jiwa kita (Ibr. 6:19). Apa bagian yang harus kita lakukan? Percaya kepada-Nya!

Mitos 5: Roh Kudus menyatakan penghukuman Allah.
Kebenaran 5: Roh Kudus menyatakan kasih Allah (Rm. 5:5).
“... kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm. 5:5). “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yoh. 4:18). Jika Anda takut akan penghukuman Allah, izinkan saya memperkenalkan diri Anda pada Roh Kudus.

Mitos 6: Roh Kudus menggugah kita untuk takut kepada Allah yang kudus dan jauh dari kita.
Kebenaran 6: Roh Kudus membantu kita mengenal dan mendekat kepada Allah, Bapa kita (Ef. 1:17, Gal. 4:6). “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Rm. 8:15). Wow! Amat sangat baik, bukan?!

Mitos 7: Roh Kudus hidup entah di mana di luar sana, mungkin di balik rasi bintang Alpha Centauri.
Kebenaran 7: Roh Kudus tinggal di dalam diri kita (1 Kor. 6:19; 2 Tim. 1:14, Rm. 8:11).
Dalam perjanjian lama, Allah tinggal di dalam bait-Nya. Di dalam perjanjian baru, kita adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19). Di mana Dia tinggal? Di dalam diri Anda dan saya! Seperti dikatakan Ralph Harris, Anda adalah “bait yang sakral dan dapat bergerak tempat Allah berdiam”.

Mitos 8: Roh Kudus datang dan pergi. Kita perlu berseru-seru agar Dia datang.
Kebenaran 8: Roh Kudus tinggal, berdiam, menyertai kita dan ada di dalam diri kita (Yoh. 14:17, 1 Yoh. 3:24, Rm. 8:11).
Di perjanjian lama, Roh Kudus hinggap pada orang tertentu selama waktu tertentu. Namun dalam perjanjian baru Dia tinggal bersama dengan kita dan berdiam di dalam diri kita (2 Tim. 1:14). Jika Anda sudah menerima Roh Kudus, tetaplah bersukacita, karena Dia tidak beralih ke mana-mana. Dia berjanji tidak pernah meninggalkan kita atau membiarkan kita seorang diri (Ibr. 13:5).

Mitos 9: Roh Kudus itu sulit “didapatlan”.
Kebenaran 9: Roh Kudus adalah Pemberian, diutus oleh Yesus dan dikaruniakan secara cuma-cuma oleh Bapa (Yoh. 16:7, Luk. 11:13, Kis. 10:45).
Menurut Galatia 3:14, Yesus menebus kita agar kita menerima berkat yang dijanjikan kepada Abraham, yaitu janji akan Roh Kudus. Apakah Anda percaya bahwa Yesus sudah menebus Anda? Berarti Anda berhak menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu. Siapa yang tidak berhak menerima Dia? Dunia yang belum diselematkan, “sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yoh. 14:17). Perhatikan perkataan Petrus kepada orang-orang yang mendengarkan Injil pada hari Pentakosta: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis. 2:38). Roh Kudus tidak membatasi diri-Nya untuk orang-orang pilihan tertentu. Percayalah kepada Yesus dan Anda pasti, pasti, pasti menerima Pemberian yang dijanjikan itu! Percayailah itu!

Mitos 10: Untuk menerima Roh Kudus Anda harus berpuasa, berdoa, mengikuti kelas pengajaran, memperbaiki kelakukan, hidup kudus...
Kebenaran 10: Roh Kudus diterima dengan iman (Gal. 3:14).
Apakah Anda berpuasa dan berdoa untuk menerima Yesus? Rasanya tidak. Anda menerima Dia dengan iman. Persis seperti itu jugalah Anda menerima Roh Kudus. Bagaimana kita menerima Roh Kudus yang dijanjikan? Dengan iman! (Gal. 3:14)! “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk. 11:13). Di sini Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang yang meminta. Jangan dengarkan orang yang mengatakan bahwa Anda harus melakukan hal-hal tertentu terlebih dahulu untuk memperoleh apa yang dikaruniakan Allah secara cuma-cuma. Yesus sudah melakukan semuanya itu. “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 16:24). *** (Paul Ellis)

Sunday, January 18, 2015

Dua Jalur Hukuman Mati



Minggu, 17 Januari 2015, dilaksankan hukuman mati terhadap enam terpidana kasus narkoba. Lima eksekusi dilakukan di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah; satu lainnya di Gunung Kendil, Boyolali, Jawa Tengah.

Membicarakan hukuman mati, saya menemukan kegagapan ini: lebih gampang menghadapi argumentasi ketimbang menghadapi sebuah kesaksian hidup. Menjelang dan sesudah eksekusi atas Nyonya Astini, terpidana mati kasus mutilasi pada 2005, saya membaca empat artikel opini – tiga kontra dan satu pro terhadap hukuman mati. Dan saya mendapati diri saya tidak terlalu peduli pada nasib Nyonya Astini, namun lebih asyik mencermati pro-kontra itu sendiri: mengangguk sepakat terhadap pendapat yang sejalan dengan konsep saya, mengerutkan kening saat membaca pendapat yang saya anggap tidak sahih. Selebihnya, pandangan saya terhadap hukuman mati tidak banyak berubah.

Namun, bagaimana menepiskan sebuah pengalaman?

Berbeda dengan teori yang dingin, lain dengan ceramah yang instruktif, sebuah kisah cenderung mampu menerobos lebih jauh: alih-alih menantang pendapat kita, ia mengetuk hati nurani kita. Ia tidak memperhadapkan kita dengan setumpuk dalil, ia memperhadapkan kita dengan sosok-sosok manusia. Terlebih bila kisah itu dituturkan secara jujur, kita pun tersadar bahwa kita tidak diminta untuk cepat-cepat berpendapat. Kita diminta untuk merenung. Diminta untuk mengendapkan segala argumentasi. Dan semoga kemudian tersusun pandangan yang lebih jernih, lebih arif.

Seorang Suster dan Seorang Terpidana Mati

Kisah ini dituturkan oleh Suster Helen Prejean dalam sebuah film menyedot garapan sutradara Tim Robbins, Dead Man Walking. Tentu Anda telah menduga, film itu beranjak dari kisah nyata.

Suster Helen Prejean (diperankan secara menawan oleh Susan Sarandon) seorang biarawati yang mengabdi di sebuah kawasan miskin di pusat kota Louisiana. Suatu hari ia menerima surat dari seorang terpidana mati di Penjara Angola, New Orlean, memintanya berkunjung. Dan ia pun berkunjung – barangkali tanpa menyadari bahwa kunjungan itu akan merupakan permulaan dari sebuah ziarah iman dan belas kasihan yang mengubah jalan hidupnya.

Si terpidana, bernama Matthew Poncelet (dimainkan tak kalah bagus oleh Sean Penn), didakwa, bersama seorang pria lain, terlibat dalam pemerkosaan dan pembunuhan atas dua remaja. Seperti Suster Helen, kita pertama kali melihatnya dari balik jeruji antara pengunjung dan terpidana, sehingga wajahnya terkesan seperti kepingan-kepingan jigsaw. Seseorang menyebut penampilannya sebagai paduan antara Elvis dan Mephistopheles. Bila berpapasan dengannya di jalan, kemungkinan besar kita akan memilih mengindarinya. Dan pria itu meminta Suster Helen menolongnya mengajukan permohonan pembebasan.

Dari situ, Suster Helen menelusuri jalan yang penuh dengan kerumitan, pertentangan dan juga kebenaran-kebenaran pelik. Tidak ada jawaban gampangan untuk isu yang kontroversial dan kompleks ini.

Kehebatan film ini terletak pada keberhasilan sutradara dalam memberi ruang bagi pihak-pihak yang berlawanan untuk menumpahkan kegusaran dan kepedihannya masing-masing. Saya bisa meraba pandangan sutradara terhadap hukuman mati, namun ia tidak mencekokkannya kepada penonton, melainkan tetap memberikan kelapangan untuk menimbang-nimbang.

Ia tidak berusaha melunakkan gambaran Matthew, atau membela tindakannya, agar mengundang simpati kita. Namun, dengan menggambarkan kondisi keluarganya yang miskin dan latar belakangnya, paling tidak kita diajak untuk memahami potensi kebiadaban yang mungkin lahir dari setiap orang – dari suatu perbuatan yang semula hanya seperti keisengan. Ia juga menunjukkan potensi pembalasan dendam, tanpa membikin gambaran konyol tentang keluarga korban sekadar sebagai penuntut yang haus darah. Hanya orang-orang berhati beku yang tak akan tergugah oleh kepiluan mereka. Masing-masing pihak tampil sebagai manusia-manusia lumrah, yang kini mesti bergumul menanggapi sebuah tragedi pelik yang menimpa mereka.

Suster Helen, yang mesti berjungkat-jungkit di antara kedua belah pihak, dipuji Roger Ebert sebagai salah satu dari sedikit sosok yang benar-benar saleh yang pernah disaksikannya dalam sebuah film. Dalam suatu kesempatan biarawati ini mengatakan, “Saya hanya berusaha mengikuti teladan Yesus, yang mengatakan bahwa setiap orang itu lebih berharga daripada tindakannya yang terburuk.”

Kekristenan mengajarkan bahwa semua dosa bisa diampuni, dan bahwa tidak ada pendosa yang terlalu bejat sampai tidak mungkin lagi terjangkau oleh kasih Tuhan. Suster Helen mempercayainya, dengan segenap hati. Namun, ia tidak mendesakkan solusi keagamaan atau hukum-hukum rohani kepada Matthew. Ia hanya mendorong Matthew untuk menyambut kematiannya dalam kedaaan berdamai dengan dirinya dan dengan kejahatannya. Ia mengundang Matthew untuk menghamburkan diri ke dalam rengkuhan rahmat Tuhan.

Jalur Hukum

Setelah “diguncangkan” oleh Dead Man Walking, saya kian menyadari kompleksitas hukuman mati. Film ini memang tidak mengubah pandangan dasar saya terhadap hukuman mati. Namun, seperti tertera di atas, ziarah Suster Helen telah menolong saya mengendapkan pandangan tersebut. Dengan demikian, saya bisa memandang lebih jernih dan memahami argumentasi pihak-pihak yang menentang hukuman mati.

Dalam ulasannya atas film ini, James Berardinelli melontarkan pertanyaan-pertanyaan menggugah. Apakah Matthew akan dieksekusi karena ia terlalu miskin untuk membayar pengacara yang piawai? Apakah ada perbedaan moral antara pembunuhan oleh Negara dan pembunuhan oleh individu? Mestikah keadilan dilandasi oleh prinsip “mata ganti mata” atau prinsip "berilah juga kepadanya pipi kirimu"?

Jawaban atas pertanyaan pertama: Bisa jadi. Sistem hukum buatan manusia bagaimanapun rentan dan rawan terhadap penyelewengan dan penyalahgunaan. Para praktisi hukum dan mafia pengadilan akan lebih canggih memaparkannya. Yang jelas, argumentasi ini bukanlah dalih yang sahih untuk menentang hukuman mati. Argumentasi ini lebih merupakan seruan bagi reformasi sistem hukum, agar benar-benar mencerminkan keadilan. (Sanggahan ini juga dapat dialamatkan bagi argumentasi ketidakmanusiawian pelaksanaan hukuman mati.)

Pertanyaan kedua dan ketiga, menurut saya, berkaitan. Matthew Poncelet sempat mengakui bahwa pembunuhan itu salah, entah pelakunya orang per orang seperti dirinya, entah pelakunya negara. Saya berbeda pendapat. Prinsip "berilah juga kepadanya pipi kirimu" adalah petunjuk bagi orang per orang, anjuran untuk tidak main hakim sendiri, mengambil alih peran dan tugas negara.

Negara, sebaliknya, berwenang dan bertanggung jawab menegakkan hukum dan keadilan. Hukum adalah bahasa yang sepatutnya tegas, dingin, tanpa kompromi. Hukum bergerak menurut prinsip “mata ganti mata” (lex talionis). Tujuan hukum adalah penghukuman yang seadil-adilnya terhadap orang-orang mengancam atau melanggar kemaslahatan bersama. Dalam tataran ini, hukuman mati tetap perlu diberi ruang.

Mereka yang menentang hukuman mati antara lain menunjukkan ketidakefektifan hukuman mati sebagai bentuk penjeraan. Argumentasi ini sebenarnya lumayan susah dibuktikan karena faktor-faktor yang memicu terjadinya kejahatan bisa sangat kompleks, bukan sekadar ada atau tidaknya ancaman hukuman mati. Penyair Hyman Barshay melukiskannya demikian, “Hukuman mati adalah suatu peringatan, seperti mercusuar yang memancarkan sinarnya ke laut lepas. Kita mendengar kabar-kabar tentang kapal yang karam, namun kita tidak mendengar kabar tentang kapal-kapal yang berhasil dituntun dengan selamat oleh mercusuar itu. Kita tidak memiliki bukti tentang jumlah kapal yang diselamatkannya, namun toh kita tidak meruntuhkan mercusuar itu.”

Kalaupun klaim ketidakefektifan itu memang terbukti, tujuan utama hukuman mati memang bukan penjeraan, melainkan penghukuman. Hukuman mati sebagai penghukuman kerap dianggap bertabrakan dengan prinsip penghormatan atas kesucian hidup (sanctity of life). Namun, bila ditilik dari sudut lain, justru karena penghormatan atas kesucian hidup inilah, justru karena manusia adalah sosok yang rasional, bermartabat dan bermoral, hukuman mati perlu ditegakkan. Ganjil, kalau kita begitu membela kehidupan si pelaku sampai mengabaikan kehidupan si korban yang telah dilenyapkan secara tidak manusiawi. Kita patut meminta pertanggungjawaban si pelaku atas pilihan moralnya. Bila ia memilih melakukan kejahatan kapital (capital offense), hukuman mati (capital punishment) adalah satu-satunya retribusi yang setimpal.

Jalur Rahmat

Telah disebut di atas, individu berada dalam tataran moral yang berbeda dengan negara. Orang per orang dipanggil untuk tidak menghidupkan atmosfir pembalasan dendam dan sistem main hakim sendiri. Bila hendak menuntut keadilan, mereka diminta menempuhnya melalui koridor hukum yang ada. Karenanya, reformasi sistem hukum nasional menuntut adanya penghukuman yang adil, tegas dan tanpa kompromi terhadap para pelaku kejahatan, sebagai sebentuk perlindungan terhadap warga yang tidak bersalah.

Namun, negara juga bisa memfasilitasi bila warga berniat menempuh jalur lain, jalur yang bergerak menurut prinsip "berilah juga kepadanya pipi kirimu" tadi. Kita bisa menyebutnya sebagai jalur rahmat dan pengampunan. Negara hanya perlu memfasilitasinya, tidak menuangkannya dalam pasal-pasal perundang-undangan yang bersifat mengikat, karena alternatif ini hanya bisa diambil berdasarkan semangat cinta kasih dan kesadaran hati nurani masing-masing individu (keluarga korban).

Jalur ini pernah ditempuh secara efektif oleh bangsa Afrika Selatan atas prakarsa Nelson Mandela. Seperti kita ketahui, Mandela adalah presiden pertama Afrika Selatan yang terpilih melalui pemilu demokratis tahun 1994. Negeri itu sebelumnya koyak-moyak oleh apartheid, dan ia sendiri mesti meringkuk di penjara selama 27 tahun akibat politik rasial itu. Kini ia bertekad untuk membangun Afrika Selatan yang baru. Ia mengawalinya dengan cara yang amat khas: ia meminta sipir penjaranya ikut naik ke panggung pada saat pelantikannya.

Selama memimpin negeri itu, ia antara lain membentuk Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC), dengan ketua Uskup Agung Desmond Tutu. Mandela berusaha mengelakkan pola balas dendam yang dilihatnya di sekian banyak negara, yang terjadi sewaktu ras atau suku yang semula tertindas mengambil alih pemerintahan.

Selama dua setengah tahun berikutnya, penduduk Afrika Selatan menyimak berbagai laporan kekejaman melalui pemeriksaan TRC. Peraturannya sederhana: bila seorang polisi atau perwira kulit putih secara sukarela menemui pendakwanya, mengakui kejahatannya, dan mengakui sepenuhnya kesalahannya, ia tidak akan diadili dan dihukum untuk kejahatan tersebut. Penganut garis keras mencela pendekatan ini dan menganggapnya tidak adil karena melepaskan si penjahat begitu saja. Namun, Mandela bersikukuh bahwa negeri itu jauh lebih memerlukan kesembuhan daripada keadilan.

Sebuah kisah mengharukan dituturkan Philip Yancey dalam buku Rumours of Another World (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003). Pada sebuah pemeriksaan, seorang polisi bernama van der Broek mengakui perilaku kejinya. Ia dan beberapa perwira lain menembak seorang anak laki-laki delapan tahun dan membakar tubuh anak itu seperti sate untuk menghilangkan bukti. Delapan tahun kemudian van de Broek kembali ke rumah yang sama dan menangkap ayah si anak. Isterinya dipaksa menyaksikan para polisi mengikat suaminya pada tumpukan kayu, mengguyurkan bensin ke tubuhnya, dan menyalakannya.

Ruang pemeriksaan menjadi hening saat seorang perempuan lansia, yang telah kehilangan anak dan kemudian suaminya, diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. "Apa yang Anda inginkan dari Tn. van de Broek?" tanya hakim. Ibu itu menjawab, ia ingin van der Broek pergi ke tempat mereka dulu membakar tubuh suaminya dan mengumpulkan abunya, agar ia dapat melakukan pemakaman yang layak. Dengan kepala tertunduk, polisi itu mengangguk.

Kemudian ibu itu mengajukan permintaan tambahan, "Tn. van der Broek telah mengambil seluruh keluarga saya, dan saya masih memiliki banyak kasih yang ingin saya bagikan. Dua kali sebulan, saya ingin dia datang ke kampung saya dan menghabiskan waktu satu hari bersama saya, agar saya dapat menjadi ibu baginya. Dan saya ingin Tn. van der Broek tahu bahwa ia telah diampuni oleh Tuhan, dan bahwa saya juga mengampuninya. Saya ingin memeluknya, sehingga ia dapat mengetahui bahwa pengampunan saya ini sungguh-sungguh."

Secara spontan, beberapa orang di ruang itu mulai menyanyikan Amazing Grace saat perempuan lansia itu melangkah menuju tempat saksi, namun van der Broek tidak mendengarkan nyanyian itu. Ia terjatuh tak sadarkan diri.

Nelson Mandela menyadari bahwa sewaktu kejahatan terjadi, hanya satu tanggapan yang dapat mengalahkannya. Pembalasan dendam hanya akan melanggengkan kejahatan itu. Keadilan hanya akan menghukumnya. Kejahatan hanya akan dikalahkan oleh kebaikan bila pihak yang disakiti bersedia menyerapnya, mengampuninya, dan menolak untuk membiarkannya menyebar lebih jauh.

Jadi, dalam wacana hukuman mati, terbentang dua jalur alternatif: jalur hukum atau jalur rahmat. Keduanya, meminjam kata-kata Chairil Anwar, “harus dicatet, keduanya dapat tempat”. ***