Tuesday, February 14, 2012

Tidak Bisa Mengasihi Istri

“Hai suami, kasihilah isterimu.” Sebuah perintah yang jelas. Terang benderang. Gampang diingat. Tetapi ketika dibawa ke tataran praktis, nyatanya kebanyakan suami gagap. Bagaiman aku mengasihi istriku?

Ya, bagaimana? Apakah kita mencontoh para tokoh Alkitab? Seperti Adam, yang manut saja ketika diajak berbuat dosa oleh istrinya? Seperti Ayub, yang dimaki istrinya karena beriman? Seperti Abraham, yang tidak apa-apa seandainya istrinya diambil pria lain asalkan dirinya selamat? Seperti Ishak, yang bersitegang dengan istrinya dan masing-masing menyayangi anak yang berbeda? Seperti Daud, yang membunuh untuk mendapatkan istri kesekian? Seperti Salomo, yang begitu mencintai istri-istrinya sampai ikut-ikutan menyembah ilah mereka? Seperti Hosea, yang mendapatkan mandat untuk memperistri seorang pelacur? Seperti Yusuf, yang bisa menerima kondisi istrinya setelah mendapatkan mimpi? Membingungkan! Tampaknya tidak ada satu pun yang memenuhi kriteria.

Untunglah, perintah tadi tidak berhenti sampai di situ. Perintah itu juga memberikan petunjuk tentang kasih seperti apa yang diperlukan suami untuk mengasihi istrinya. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.”

Mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat. Waduh! Petunjuknya memang makin jelas, tetapi pelaksanaannya malah makin bikin gagap. Mengasihi seperti Kristus? Bagaimana aku sanggup? Tetapi, baiklah, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Seolah-olah sudah memahami maksud perintah itu, kita pun mulai membulatkan hati untuk mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat. Kita berusaha dengan kekuatan sendiri. Kita berusaha dengan keras. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Sampai suatu waktu kita membentur tembok kegagalan. Kecewa tentu saja. Tetapi kita bukan orang yang gampang menyerah, bukan? Kita pun mencoba lagi. Makin keras. Makin sungguh-sungguh. Maka, ketika kita membentur tembok lagi, akibatnya bisa diduga: makin parah. Mungkin kita masih punya cukup semangat untuk mencoba lagi, namun bisa jadi kita patah. Kita menyerah. Angkat tangan. Ah, bagaimanapun kita ini ‘kan manusia. Tidak ada yang sempurna, bukan?

Anda menyerah? Bagus. Lo, kok bagus? Coba cermati sekali lagi perintah itu. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.” Lalu, jawablah pertanyaan ini: Apakah kasih seperti Kristus itu sesuatu yang harus kita upayakan dengan kekuatan sendiri? Apakah Anda setuju bahwa jawabannya “tidak”?

Berbahagialah—karena jawabannya memang tidak. Max Lucado dalam A Love Worth Giving mengingatkan, “Kasih yang menyelamatkan pernikahan tidak ada di dalam diri kita…. Kita memerlukan pertolongan dari sumber di luar kita. Sebuah transfusi. Akankah kita mengasihi seperti Allah mengasihi? Kalau begitu, kita mulai dengan menerima kasih Allah.”

Kasih Kristus tidak dimaksudkan untuk dicontoh dan dicoba sendiri di rumah—seolah-olah Dia adalah sesosok pribadi di luar sana dan kita tinggal mengamat-amati dan mencoba meniru gerak-gerik-Nya. Bukan begitu. Sebaliknya, Kristus hendak berdiam di dalam diri kita dan bersekutu dengan kita. Dia mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati kita, memenuhinya secara berlimpah-limpah dengan kasih yang tidak berkesudahan. Dia mau kita menerima kasih-Nya, menyambutnya, menikmatinya, merayakannya, sehingga kemudian kasih itu mengalir kepada orang-orang di sekeliling kita—bagi para suami, pertama dan pertama kepada istri masing-masing. Begitulah cara kerja-Nya (lihat Roma 5:5; 1 Yohanes 4:9-10).

Bagaimana kita mengalami transfusi kasih ini? Salah satu cara praktisnya, cobalah membaca satu atau kisah Alkitab yang memaparkan kasih Allah. Hapalkanlah. Renungkanlah. Percayailah kebenarannya. Biarlah firman itu memenuhi pikiran dan hati kita. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk mengingatnya kembali di tengah kesibukan sehari-hari dan memunculkan ide untuk mengasihi istri kita. Ketika kita terpancing untuk marah pada istri, cobalah mengingat kesabaran Tuhan pada kita, dan alirkan kesabaran itu pada istri kita. Ketika istri kita memerlukan penghiburan, ingatlah bagaimana Tuhan menghibur kita, dan kuatkan istri kita dengan penghiburan yang kita terima dari-Nya. Begitulah kita belajar mengasihi seperti Kristus mengasihi. ***

Tuesday, February 7, 2012

Tawaran Menggiurkan

Bacaan Alkitab: Daniel 1
Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (Daniel 1:8)


Daniel masih remaja ketika diperhadapkan pada sebuah keputusan penting. Ia ditawari mengikuti pelatihan untuk sebuah posisi yang penting dan amat menjanjikan. Sebagai bagian dari kelompok elit yang bertugas melayani raja, pasti ia akan mendapatkan fasilitas istimewa.

Namun, Daniel sadar, untuk meraih kesempatan menggiurkan itu ia harus mengkompromikan hubungannya dengan Tuhan. Ia mesti melanggar perintah Tuhan. Nah, akankah ia mengikuti sistem yang ada, atau ia mengambil risiko untuk mengikuti jalan Tuhan apapun yang terjadi? Nas kali ini menunjukkan pilihannya.

Rupanya Daniel cukup cerdas untuk melihat jauh ke depan dan menyadari apa yang sungguh-sungguh penting. Ia sadar bahwa pada akhirnya, saat kehidupannya berakhir, yang penting bukanlah apa yang dipikirkan teman-teman, orang-orang di sekitarnya atau bahkan rajanya, tentang dirinya. Penilaian mereka tidak akan berarti lagi. Ia tahu bahwa yang terpenting adalah apa yang dipikirkan oleh Penciptanya tentang dirinya. Jadi, ia memilih untuk menahan hasratnya akan kedudukan, dan memastikan bahwa ia memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan.

Dalam taraf yang berbeda-beda, kita masing-masing pernah menghadapi pilihan serupa: menyenangkan manusia atau menyenangkan Tuhan. Marilah kita belajar dari Daniel, dan mengambil keputusan bukan berdasarkan kepentingan-kepentingan sementara, melainkan berdasarkan perspektif Tuhan yang kekal.


Relung Renung: 
Pengendalian diri adalah obat yang terbaik karena mampu mencegah, memelihara, dan menyembuhkan.—C.H. Spurgeon

Monday, February 6, 2012

Lidah Membatalkan Warisan

Bacaan Alkitab: Amsal 18:14-24
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21)


Seorang pria lanjut usia mengalami gangguan pendengaran selama beberapa hari. Keluarganya berulang-ulang mendesaknya untuk mengenakan alat bantu dengar. Akhirnya, ia bersedia. Ia pergi ke dokter, dan telinganya dipasangi alat yang memulihkan dapat pendengarannya 100 persen.

Sebulan kemudian ia memeriksakan diri lagi ke dokter itu. Dokter itu menyambutnya dengan senyum lebar. “Pendengaran Bapak sudah pulih sepenuhnya. Keluarga Bapak pasti sangat senang karena Bapak dapat mendengar lagi.”

Pria itu menjawab, “Oh, saya belum memberi tahu keluarga saya. Saya hanya duduk-duduk dan menguping percakapan mereka. Saya sudah mengubah surat wasiat saya sebanyak tiga kali!”

Moral cerita di atas: Hati-hati dengan lidah Anda; keseleo lidah bisa membuat Anda kehilangan warisan! Cukup telak, namun firman Tuhan bahkan lebih tegas lagi: perkataan yang terlontar dari lidah kita bisa menentukan hidup-mati kita.

Lidah yang tak bertulang ini memang kerap lepas kendali. Di tengah budaya ngerumpi dan ngrasani, tak jarang kita meluncurkan kata-kata yang baru kita sesali kemudian. Kata-kata yang tak mungkin kita jilat kembali.

Tidaklah mengherankan kalau firman Tuhan berulang-ulang mengingatkan kita akan perkara mengekang lidah. Kemampuan untuk mengekang lidah bahkan dinyatakan sebagai tolok ukur integritas dan moralitas seseorang. Orang yang mampu menguasai lidahnya, berarti ia juga mampu menguasai dirinya. Jadi, jagalah lidah Anda, atau lidah itu akan mencelakakan Anda!


Relung Renung: 
Menguasai lidah berarti menetapkan terlebih dahulu standar bagi perkataan 
sebelum muncul peluang untuk melakukan kesalahan.

Sunday, February 5, 2012

Kita Bukan Mesin

Bacaan Alkitab: Keluaran 20:8-11
Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan. (Keluaran 20:10 a)


“Belajar Nggak Berhenti, Main Jalan Terus.” Begitu sesumbar iklan sebuah produk minuman penambah tenaga. Sesumbar yang terlalu berbusa dan tidak masuk akal, sehebat apa pun produk itu.

Tuhan merancang tubuh kita dengan kebutuhan untuk beristirahat secara teratur. Tubuh kita memiliki daya tahan dan daya regang sampai pada tingkat tertentu, namun bukannya tanpa batas, seperti dijanjikan iklan di atas. Secara berkala kita perlu beristirahat – untuk pemulihan dan penyegaran kembali, secara jasmani, mental, dan rohani. Singkatnya, tubuh kita bukan mesin.

Masalahnya, ada orang yang merasa kekurangan waktu gara-gara terlalu sibuk. Mereka ingin, kalau mungkin, sehari itu sepanjang 30 atau 48 jam sehingga mereka bisa menuntaskan aneka proyek dan aktivitas mereka. Dua jam beribadah pada hari Minggu pun sudah dianggap sebagai gangguan. Mereka baru berhenti kalau sakit. Sebaliknya, ada orang yang pemalas, mereka terlalu banyak beristirahat sehingga tidak produktif. Keduanya sama-sama tidak sehat.

Menurut prinsip Sabat, kita perlu menyisihkan satu hari setiap minggu dan mendedikasikan seluruh hari itu kepada Allah. Sabat menjadi kesempatan istimewa untuk beristirahat, berekreasi, meremajakan kembali kondisi mental, memperbarui kerohanian, dan menjangkau sesama.

Sebuah prinsip yang semestinya mendatangkan kelegaan dan sukacita, bukannya malah menjadi beban. Sebuah kesempatan yang semestinya benar-benar kita nikmati, bukannya kita singkiri. Ya kan?


Relung Renung: 
Beristirahatlah secukupnya untuk menjaga kebugaran sebelum engkau diistirahatkan oleh sakit-penyakit.

Saturday, February 4, 2012

Barang Baru

Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 17:10-21
Adapun orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru. (Kisah Para Rasul 17:21)


Anda sempat terkena demam Facebook? Melalui situs jaringan sosial ini, kita dapat saling berbagi informasi dan aktivitas dengan teman-teman kita melalui komentar, tulisan, foto, atau video. Para pengguna Facebook rata-rata rajin memperbarui informasi mereka sehingga setiap kali menilik situs ini biasanya ada saja kabar yang baru. Unsur kebaruan ini berdaya pikat kuat sampai membuat sebagian orang ketagihan.

Seandainya penduduk Atena hidup pada zaman ini, kemungkinan besar mereka keranjingan Facebook. Mereka pun haus akan kebaruan dan senang bergunjing. Mereka tertarik pada ajaran Paulus bukan karena menganggapnya sebagai ajaran yang baik, melainkan sebagai “barang baru” yang asyik untuk dipergunjingkan—sampai mereka bosan, dan menemukan barang baru yang lain lagi.

Gaya hidup orang Atena itu nyatanya terus membuntuti kita sampai sekarang, termasuk dalam cara pemahaman Alkitab. Kita menyukai dan menginginkan topik khotbah atau ajaran yang baru. Kita juga sudah merasa puas dengan mendengarkan dan membicarakan firman Tuhan. Akibatnya, kita bisa tahu banyak hal seputar firman Tuhan, tetapi hanya secara dangkal.

Untuk menghindari sindroma orang Atena ini, kita dapat mengikuti jejak orang Berea (ayat 11). Mereka tidak begitu saja terpukau pada suatu ajaran baru, tetapi meneliti apakah hal itu benar-benar baik dan selaras dengan firman Tuhan. Kita juga bukan hanya menjadikan firman Tuhan sebagai bahan pembicaraan, melainkan menghayati dan mengamalkannya dalam keseharian. Dengan demikian, pemahaman kita akan semakin kuat dan mendalam.


Relung Renung: 
Jarak antara kedangkalan dan kedalaman pemahaman hanya dapat dijembatani dengan ketekunan untuk belajar.

Friday, February 3, 2012

Iklan Keramahan

Bacaan Alkitab: Amsal 15:25-33
Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang. (Amsal 15:30)


Reynold, kawan saya yang berbisnis handphone, memiliki pengalaman menarik dengan salah satu pelanggannya. Pertama kali datang ke toko, orang itu hanya meminta informasi dengan bertanya seputar handphone dan pernik-perniknya. Reynold meladeninya sampai lebih dari satu jam, dan kemudian orang itu meninggalkan toko tanpa membeli apa-apa.

Orang itu muncul lagi keesokan harinya. Kali ini ia membawa seorang teman, dan mereka melakukan pembelian dalam jumlah yang lumayan. Rupanya ia terkesan oleh keramahan pelayanan Reynold sebelumnya.

Keramahan memang ‘iklan’ yang ampuh. Orang Tionghoa, yang terkenal mumpuni dalam bisnis itu, mempunyai pepatah, “Orang yang tidak bisa tersenyum, sebaiknya tidak usah membuka toko.” Adapun penulis Amsal menegaskan bahwa keramahan itu juga mengandung nilai pengobatan. Dengan kata lain, keramahan itu, meminjam kalimat sebuah iklan, bikin hidup lebih hidup. Keramahan mengubah keadaan secara positif seperti matahari yang bersinar lagi setelah hari mendung.

Namun, tidak jarang orang menganggap keramahan sebagai kepribadian atau pembawaan. Ada orang-orang tertentu yang kita anggap memang sudah dari sono-nya ramah. Padahal, Alkitab menyiratkan bahwa keramahan adalah salah satu karakter. Setiap orang berkesempatan untuk mengupayakan, melatih, dan mengembangkan kualitas watak ini. Orang yang berpembawaan pendiam, misalnya, toh tak mesti identik dengan judes. Ia bisa belajar untuk murah senyum dan melayani orang lain dengan ramah. Ya ‘kan?


Relung Renung: 
Keramahan itu seperti senyuman: lengkungan yang mampu meluruskan banyak perkara.

Thursday, February 2, 2012

Bukit Itu Bernama Doa

Bacaan Alkitab: Mazmur 65
Engkau yang mendengarkan doa. (Mazmur 65:3a)


Mungkin Anda cukup akrab dengan lagu ini: I go to the hill/ When my heart is lonely/ I know I will hear/ What I’ve heard before/ My heart will be blessed/ With the sound of music/ And I’ll sing once more (Aku pergi ke bukit/ Ketika hatiku kesepian/ Kutahu akan kudengar/ Suara yang telah akrab di telingaku/ Hatiku akan diberkati oleh suara musik/ Dan aku pun akan bernyanyi sekali lagi).

Lagu itu didendangkan oleh Julie Andrews dalam film The Sound of Music. Ia berlari riang melintasi padang rumput hijau di sebuah perbukitan. Udara segar pegunungan, gemericik air sungai dan kicau burung benar-benar paduan tepat untuk mengusir kepenatan dan kegundahan. Di bukit itu, hatinya bernyanyi kembali.

Sebenarnya kita semua juga memiliki bukit semacam itu. Bukit itu bernama doa. Pada saat Anda letih oleh beban kehidupan, naiklah ke bukit doa.

Curahkanlah isi hati Anda di hadapan Tuhan, dan nantikanlah Dia berbicara kepada Anda. Mungkin Anda dapat membaca ayat atau perikop tertentu dari Alkitab, dan mempersilakan Roh Kudus berbicara melaluinya. Anda akan mendengar suara-Nya yang akrab menyambut Anda, menghangatkan hati Anda. Hati Anda akan diberkati oleh suara Tuhan, suara yang menguatkan dan menghiburkan, serta memberikan bimbingan. Dengan demikian, Anda akan disegarkan dan dipulihkan.


Relung Renung: 
Kita dirancang untuk bersekutu dengan Allah dan, tanpa persekutuan itu, kita menanggung kehampaan yang menyakitkan.—John White