Wednesday, August 19, 2015

Bapa yang Mengejar


Oleh Kenneth E. Baile


Allah telah membayar harga yang sangat mahal untuk menebus dosa manusia. Dua jenis tanggapan manusia terhadap penebusan ini antara terlihat pada sikap anak bungsu dan anak sulung dalam perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15.

Tunggu dulu. Perumpamaan anak yang hilang berbicara tentang penebusan? Bukankah perumpamaan itu memaparkan pertobatan orang yang berdosa dan sukacita Allah atas pertobatan tersebut? Di situ Allah digambarkan sebagai bapa yang maha pengasih dan maha pengampun. Namun, dalam hal apa perumpamaan itu memperlihatkan bahwa Allah telah membayar harga yang mahal untuk menebus dosa kita?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu terlebih dahulu memahami bahwa perumpamaan anak yang hilang seharusnya dilihat sebagai bagian ketiga dari trilogi dalam Lukas 15. Orang-orang Farisi menantang Yesus: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Menurut Talmud Babilonia, para rabi tidak boleh makan bersama-sama dengan 'am-ha'arets (rakyat jelata) yang tidak memelihara hukum Taurat setepat-tepatnya. Lukas mencatat: "Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini [tunggal] kepada mereka [orang-orang Farisi]." Yang muncul kemudian adalah tiga perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan dua anak yang hilang (Anak yang Pemboros).

Lukas memahami bahwa ketiganya adalah bagian-bagian dari sebuah perumpamaan tunggal. Gembala membayar harga untuk mencari dan menemukan domba yang hilang. Perempuan itu bertindak serupa untuk menemukan dirhamnya. Dalam kedua kisah ini, sangat jelas bahwa Yesuslah gembala dan perempuan yang baik itu. Muncul pertanyaan untuk kisah ketiga: Apakah Ia juga bapa yang baik? Dan apakah kisah ketiga sejajar dengan dua kisah pertama, dengan memperlihatkan sang bapa membayar harga yang mahal untuk menemukan dan memulihkan anak-(anak)-nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, yang mencakup bahasan yang lebih luas tentang penebusan dan inkarnasi, setidaknya ada 14 aspek perumpamaan itu yang perlu dicermati sesuai dengan konteksnya.

1. Permintaan. Si anak bungsu meminta warisannya sewaktu ayahnya masih hidup dan sehat. Dalam budaya Timur Tengah, ini berarti, "Bapa, aku ingin sekali kau segera mati!" Kalau bapa itu menuruti tradisi Timur Tengah, ia akan menampar wajah anak itu dan mengusirnya ke luar rumah. Dalam budaya mana pun permintaan semacam itu sungguh-sungguh kurang ajar. Anak bungsu itu bukanlah sekadar anak muda yang "pergi ke kota besar untuk mencari kemashyuran dan kesuksesan." Sebaliknya, anak ini mengajukan permintaan yang tidak masuk akal, khususnya dalam budaya Timur Tengah. Sang bapa sepatutnya menolak permintaan itu – kalau ia seorang bapa biasa dari Timur Tengah. Pada kenyataannya, ia bukan bapa biasa, dan ini membawa kita ke poin kedua.

2. Pemberian bapa. Sang bapa memberikan kebebasan kepada anak bungsu itu untuk memiliki dan menjual bagian tanah warisannya. Lima kali sang bapa tidak bertindak sebagaimana seharusnya seorang bapa di Timur Tengah. Ini tindakan yang pertama. Warisan itu sangat besar. Mereka keluarga kaya yang memiliki sekawanan lembu dan kambing. Mereka juga memiliki pelayan. Di rumah itu ada aula yang cukup besar untuk menampung orang berpesta menghabiskan satu lembu tambun sepanjang malam. Pemusik dan penari profesional mengiringi pesta itu. Bapa itu juga terhormat di tengah masyarakat, sehingga mereka mau menanggapi undangannya. Menyerahkan warisan adalah persoalah serius yang sepatutnya hanya dilakukan bila sang bapa sudah mendekati ajal.

Lebih jauh lagi, si anak bungsu "menjual seluruh bagiannya itu". Dengan penjualan ini, pembagian warisan yang menghebohkan ini pun diketahui oleh umum, dan keluarga itu pun dipermalukan di depan seluruh masyarakat. Hukum Yahudi abad pertama memungkinkan pembagian warisan (kalau sang bapa bersedia melakukannya), namun tidak mengizinkan sang anak menjual bagiannya sampai setelah ayahnya meninggal.

Ini tindakan kedua sang bapa yang "tidak normal": bukan hanya memberikan warisan, namun juga hak untuk menjualnya, padahal ia tahu bahwa hak ini akan mempermalukan seluruh keluarga di mata masyarakat. Jadi, dari bagian pembukaan perumpamaan ini, jelas bahwa Yesus tidak menggunakan seorang bapa Timur Tengah sebagai model untuk Allah. Yesus sengaja menciptakan figur bapa yang sama sekali tak terduga. Tidak ada manusia yang memadai untuk dijadikan sebagai model Allah. Dengan menyadari hal ini, Yesus mengangkat figur bapa melampaui keterbatasan manusiawi dan membentuknya kembali guna menjadikannya sebagai model untuk Allah.

3. Penjualan yang tergesa-gesa. Anak itu menjual bagiannya secepat mungkin ("Beberapa hari kemudian"). Ia terdesak. Kemarahan di desa itu memuncak terhadapnya karena ia telah mempermalukan ayahnya dan seluruh keluarga besarnya dengan menjual sebagian besar tanah pertanian keluarga ketika ayahnya yang sehat masih menggarapnya. Ia harus menyelesaikan penjualan dan meninggalkan desa itu secepat mungkin. Seperti dikatakan tadi, hukum Yahudi tidak mengizinkan penjualan semacam itu. Anak bungsu itu tidak peduli.

4. Upacara qetsatsah. Dari Talmud Yerusalem diketahui bahwa bangsa Yahudi pada zaman Yesus memiliki metode untuk menghukum anak yang menjual warisan keluarga kepada bangsa asing. Metode itu dikenal sebagai "upacara qetsatsah." Pelanggar adab bermasyarakat ini akan menghadapi upacara qetsatsah kalau ia berani kembali ke rumahnya. Upacaranya sederhana saja. Penduduk desa akan membawa guci tanah liat besar, memenuhinya dengan kacang dan jagung yang gosong terbakar, dan memecahkannya di depan orang yang bersalah itu. Sambil melakukannya, orang-orang akan berteriak, "Si Anu terbuang dari kerabatnya." Sejak saat itu, penduduk desa tidak akan mempedulikan sama sekali si anak sesat itu. Tidak seorang pun boleh berhubungan dengan pelanggar adat ini. Karena itu, saat pergi ke luar kota, anak bungsu itu tahu bahwa ia tidak boleh kehilangan uangnya di antara bangsa asing. Namun, justru itulah yang terjadi padanya. Di negeri yang jauh ia tinggal di antara bangsa asing. Mereka punya babi!

5. Hidup berfoya-foya. Beberapa versi terjemahan menggambarkan kehidupan anak bungsu ini sebagai "liar" atau "tidak bermoral". Sebenarnya, kata sifat bahasa Yunani dalam frase ini tidak menunjukkan imoralitas. Yesus tidak menceritakan bagaimana anak ini menggunakan uangnya. Hanya dikatakan bahwa anak ini menghambur-hamburkan uangnya dalam waktu singkat. Pada akhir cerita si anak sulung menuduh adiknya memboroskan uangnya bersama-sama dengan pelacur-pelacur. Namun ia baru saja pulang dari ladang dan tidak tahu apa-apa. Jelas ia hanya ingin membesar-besarkan kesalahan adiknya.

6. Mencari pekerjaan. Waktu uangnya habis, anak bungsu itu sewajarnya pulang. Namun, ia telah melanggar peraturan. Ia tahu upacara qetsatsah akan menyambutnya kalau ia pulang ke desa. Karena itu entah bagaimana ia mati-matian berusaha mendapatkan kembali uangnya. Untuk itu ia perlu bekerja. Dua kali ia berusaha mendapatkan pekerjaan. Upaya pertama adalah memberi makan babi di negeri yang jauh. Yang kedua adalah "rencana permainan" yang diungkapkannya pada malam kepulangannya. Kedua rencana ini harus diperhatikan dengan saksama.

Rencana pertama, menjadi penjaga babi, tidak berhasil. Ditegaskan bahwa "tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya." Perumpamaan ini tidak mengandung kata-kata yang tidak berguna. Setiap frasa secara cermat disusun untuk menunjukkan arti yang setepat-tepatnya. Sebagai penjaga babi, anak itu diberi makan, namun tidak diberi upah. Orang Yahudi abad pertama yang membaca kisah ini tahu bahwa anak itu harus mendapatkan kembali uang yang telah dihamburkannya untuk menghindari upacara qetsatsah.

Setelah gagal dengan upaya pertama, ia berencana membuang dadunya untuk terakhir kali – ia akan pulang, mendapatkan pelatihan kerja, dan memperoleh penghasilan. Untuk mendapatkan pelatihan itu, ia memerlukan dukungan ayahnya. Namun, bagaimana ia dapat menyakinkan ayahnya untuk mempercayainya satu kali lagi?

7. Rencana yang egois. Mungkin kesalahan yang paling parah dalam menafsirkan perumpamaan ini adalah pengertian akan frasa, "Ia menyadari keadaannya." Sekian lama frasa ini ditafsirkan sebagai "ia bertobat." Penafsiran seperti ini menumpulkan ketajaman kisah ini serta menghancurkan kesatuan pasal ini. Gembala yang baik harus pergi ke padang gurun untuk menemukan dombanya. Ia tidak kembali ke desa dan menunggu domba itu pulang dan mengembik di pintu kandang. Perempuan itu juga harus menyalakan lampu dan mencari dengan tekun untuk menemukan dirhamnya yang hilang. Ia tidak tenang-tenang melanjutkan pekerjaan rumahnya dan berharap dirham itu akan meloncat sendiri dari suatu lubang di lantai dan mendarat di meja dapurnya.

Secara singkat, dua kisah pertama sejajar dengan pandangan Agustinus. Domba dan dirham itu harus diselamatkan. Namun bila anak bungsu itu berhasil pulang dengan upayanya sendiri, maka kisah ketiga sejajar dengan ajaran Pelagius atau paling tidak semi-Pelagius. Pelagius mengajarkan bahwa orang tidak terpengaruh oleh dosa asal atau kehendak yang bobrok dan dengan usaha sendiri, tanpa anugerah Allah, dapat bertindak untuk mendapatkan keselamatan.

Dalam kisah pertama, domba yang hilang adalah lambang pertobatan, dan pertobatan diperlihatkan di situ sebagai "kesediaan untuk menerima dirinya ditemukan." Kisah kedua meneguhkan definisi tersebut. Namun bila anak bungsu itu benar-benar bertobat di negeri yang jauh dan bergumul untuk pulang dengan kekuatannya sendiri, berarti Yesus membuat pernyataan yang berlawanan. Kalau kita mengikuti penafsiran tradisional bahwa anak itu bertobat, kisah ketiga ini bertentangan dengan dua kisah sebelumnya. Entah Yesus kebingungan secara teologis atau pertobatan itu memang konsep yang elastis, yang bisa ditafsirkan baik menurut pandangan Agustinus maupun Pelagius. Sayangnya, kedua pilihan tersebut sulit untuk diterima. Adakah alternatif lain?

Dengan menceritakan perumpamaan Gembala yang Baik, Yesus mengingatkan kita pada Mazmur 23, yang juga menceritakan domba yang hilang dan gembala yang baik. Frasa kuncinya muncul di ayat 3, yang biasanya diterjemahkan, "Ia menyegarkan (memulihkan) jiwaku." Pernyataan ini akan berarti: Sebelumnya aku murung atau tertindas, dan Tuhan menyegarkan atau memulihkan kembali semangatku. Pemahaman semacam itu memang merupakan salah satu maksud si pemazmur. Namun, dalam bahasa Ibrani frasa itu berbunyi "yashubib nefshi," yang secara hurufiah berarti, "Ia membawaku kembali," atau "Ia membuat aku bertobat." Jadi, jelaslah, si pemazmur tersesat, dan Allah, sebagai gembala yang baik, membawanya kembali ke jalan yang benar.

Kalau ucapan si anak bungsu itu dibaca dengan latar belakang ini, muncullah suatu arti baru. Pemazmur percaya Allah membawanya kembali (ke Allah) dan menyebabkan dia bertobat. Sebaliknya, anak bungsu itu akan menyelesaikan sendiri masalahnya – ia mengandalkan dirinya sendiri. Kata kerja kembali tidak muncul di sini! Sejumlah versi bahasa Arab menampilkan terjemahan yang menarik: "Ia mendapatkan akal," atau "Ia berpikir-pikir sendiri." Tidak satu pun yang menunjukkan bahwa anak itu bertobat di negeri yang jauh. Ah – namun, bagaimana dengan "pengakuan"-nya?

Pengakuan yang disiapkannya berbunyi, "Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap engkau," dan pengakuan ini (dapat dimaklumi) biasanya dianggap memperlihatkan pertobatan yang sungguh-sungguh. Namun, orang-orang yang mengelilingi Yesus saat itu adalah orang-orang Farisi yang kenal betul isi Kitab Suci. Mereka tahu pengakuan itu dikutip dari pernyataan Firaun ketika ia berusaha memanipulasi Musa agar menjauhkan tulah. Setelah tulah kesembilan, Firaun akhirnya mau menemui Musa, dan ketika Musa muncul, Firaun mengucapkan pengakuan serupa. Setiap orang tahu kalau Firaun tidak bertobat. Ia hanya berusaha membujuk Musa agar menuruti kehendaknya.

Anak bungsu itu juga mengupayakan hal yang sama. Berharap dapat melunakkan hati ayahnya, anak itu berencana menawarkan jalan keluar bagi pengucilan mereka terhadapnya: pelatihan kerja. Ia akan bekerja sebagai tukang upahan, sehingga dapat menabung. Ia tidak akan tinggal di rumah untuk sementara. Namun, setelah uang yang habis itu dapat dilunasi, ia akan dapat membicarakan rekonsiliasi. Setelah gagal mendapatkan kerja upahan di negeri yang jauh, ia akan berusaha mendapatkan dukungan ayahnya untuk dapat bekerja di dekat-dekat situ. Ia juga akan dapat menyelamatkan dirinya dari tuntutan hukum. Tidak perlu anugerah. Ia dapat mengupayakan jalan keluarnya – begitulah menurutnya! Namun, apakah uang yang habis itu merupakan masalah yang sesungguhnya?

Dalam solilokui (percakapan dengan diri sendiri)-nya di negeri yang jauh, si anak bungsu mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Karena ingin makan, ia mengatakan, "Aku di sini mati kelaparan." Ia mengira kalau ia dapat mengumpulkan kembali uang yang sudah habis itu, segala sesuatunya akan beres. Sementara itu, ia akan dapat makan, dan begitu uang itu terkumpul, penduduk desa akan menerimanya kembali. Ia tidak mempertimbangkan hati bapanya yang hancur dan penderitaan karena kasih yang ditolak yang selama ini ditanggung bapanya. Sewaktu berbicara sendiri di negeri yang jauh itu, ia sama sekali tidak menunjukkan sikap malu atau menyesal. Kalau ia seorang hamba yang berdiri di hadapan majikannya, rencana semacam itu mungkin memadai. Namun sebagai anak yang berhadapan dengan bapa yang pengasih dan penuh belas kasihan, solusi yang dibayangkannya jauh dari memadai.

8. Titik balik. Anak bungsu itu menguatkan nyalinya untuk kembali ke desa dalam keadaan memalukan. Ia teringat pada upacara qetsatsah dan menguatkan dirinya untuk menanggung aib itu. Pembicaraan menyakitkan dengan bapanya juga tidak akan semudah yang dibayangkannya. Satu-satunya pengharapannya adalah bahwa "pengakuannya yang merendah" akan menyentuh hati bapanya dan ia akan mendapatkan dukungan ayahnya untuk pelatihan yang diperlukannya guna menjadi pekerja upahan. Anak itu seharusnya pulang dengan membawa hadiah yang berlimpah bagi keluarganya. Sebaliknya, bukan saja ia pulang dengan tangan kosong, ia kembali dalam keadaan gagal setelah mempermalukan keluarga dan seluruh desa dengan kepergiannya. Jalan kembali yang menyakitkan ini ditanggungnya karena satu alasan: dia lapar.

Namun, bagaimana dengan bapanya? Bapanya tahu anaknya akan gagal. Ia menunggu hari demi hari, memandang ke arah jalan desa yang ramai di kejauhan, tempat anaknya dulu pergi dengan penuh kesombongan dan harapan yang muluk-muluk. Bapanya sadar sepenuhnya bagaimana anaknya akan disambut oleh penduduk desa kalau ia pulang dalam keadaan gagal. Jadi, bapa itu pun menyiapkan suatu rencana: untuk menjangkau anaknya sebelum anak itu mencapai desa. Sang bapa tahu kalau ia berhasil melakukan rekonsiliasi dengan anaknya di muka umum, tidak seorang pun di desa itu akan memperlakukan anaknya dengan buruk. Tidak ada yang akan berani menyarankan agar upacara qetsatsah dijalankan.

Bapanya melihatnya "Ketika ia masih jauh." Jarak yang jauh ini lebih mengacu pada jarak rohani daripada jarak jasmani. Bila anak itu berpikir ia dapat mengumpulkan uang dan dengan itu memecahkan masalah hubungan mereka, ia benar-benar sangat jauh! Istilah yang digunakan berasal dari Yesaya 57:19, di mana Allah meneguhkan damai sejahtera bagi mereka yang "jauh" dan bagi mereka yang "dekat". Itulah yang direncanakan oleh bapa ini. Melalui tindakan yang luar biasa dan dramatis, ia akan menawarkan damai sejahtera kepada anaknya yang masih jauh dan kemudian berkonsentrasi untuk menawarkan damai sejahtera kepadanya anaknya yang dekat (anak sulung).

Demikianlah, untuk yang ketiga kalinya, bapa ini melanggar "kenormalan" seorang bapa Timur Tengah. Dengan mengangkat dan memegang ujung jubahnya, ia berlari untuk menyambut anaknya yang telah menjadi penjaga babi. Ia sudah merangkul dan memeluk anak itu sebelum mendengarkan pernyataan anaknya! Bapa ini tidak menunjukkan kasihnya sebagai tanggapan atas pengakuan anaknya. Sebaliknya, oleh belas kasihan ia mengosongkan dirinya, mengambil rupa seorang hamba, dan lari untuk berdamai dengan anaknya yang terasing. Penduduk Timur Tengah yang berpegang pada tradisi tidak akan berlari-lari di muka umum dengan mengenakan jubah panjang. Hal semacam itu amat sangat memalukan. Bapa ini berlari. Anaknya benar-benar kaget. Dengan kewalahan, ia hanya dapat mengucapkan bagian pertama pengakuan yang disiapkannya, yang sekarang mengandung arti baru. Ia menyatakan bahwa dirinya telah berdosa dan tidak layak disebut sebagai anak. Ia mengakui (dengan menghapuskan frasa ketiga) bahwa ia tidak memiliki ide yang cemerlang untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia tidak lagi "memanipulasi" bapanya untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Bapa itu tidak "menginterupsi" anak bungsungnya. Sebaliknya, si anak bungsu itu berubah pikiran, dan dengan pertobatan yang sungguh-sungguh, menerima untuk ditemukan.

9. Bapa itu bertindak seperti seorang ibu. Dalam perumpamaan ini, seorang bapa Timur Tengah seharusnya duduk jauh di dalam rumah, menunggu pesan tentang apa yang ingin dikatakan si anak sesat itu. Ibulah yang dapat lari sepanjang jalan dan menghujani anak itu dengan ciuman.

Kita tahu Allah adalah roh dan karena itu Ia bukan laki-laki ataupun perempuan. Namun Allah juga seorang pribadi, dan Allah itu esa. Para nabi menyebut Allah sebagai "Bapa" dan kadang-kadang menggambarkan bapa itu dalam istilah feminin. Istilah ini meneguhkan kepribadian dan kesatuan Allah bagi semua orang percaya, laki-laki dan perempuan. Dalam Perjanjian Lama, Allah sudah digambarkan sebagai bapa yang juga bertindak dengan kelembutan kasih seorang ibu (Ul. 32:18; Mzm. 131; Yes 42: 14, 66:13). Gulungan Kitab Laut Mati menggambarkan Allah dengan citraan serupa. Lebih dari 200 kali Yesus menyebut Allah sebagai "Bapa", dan dalam Injil Yohanes, kita mendapati bahwa orang percaya harus "diperanakkan dari Allah." Dalam I Yohanes, orang percaya "lahir dari Allah". Dalam Perjanjian Baru, Allah "melahirkan" sama seperti dalam Perjanjian Lama (Ul. 32:18). Dalam perumpamaan ini juga, sang bapa muncul di jalan, menunjukkan kelembutan kasih seorang ibu.

10. Kristologi. Saat ayah itu turun dan keluar untuk berdamai dengan anaknya, ia menjadi simbol Allah di dalam Kristus. "Bapa", simbol untuk Allah, dengan sangat halus dan tidak kentara berubah menjadi simbol untuk Yesus. Peralihan serupa juga berlangsung dalam kisah Gembala yang Baik. Tiga kali dalam Perjanjian Lama, Allah digambarkan sebagai gembala yang baik yang mencari dombanya yang tersesat (Mzm. 23:3; Yer. 23:1-8; Yeh. 34). Yesus menceritakan kembali kisah klasik itu dan memperkenalkan diri-Nya sebagai pahlawan dalam cerita itu. Orang-orang Farisi mengeluh, "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Yesus menjawab dengan cerita ini, yang sama saja dengan mengatakan, "Memang, Aku makan bersama-sama dengan orang berdosa. Bahkan lebih buruk daripada yang kaubayangkan! Aku bukan hanya makan bersama-sama dengan mereka, Aku juga lari sepanjang jalan, menghujani mereka dengan ciuman, dan menyeret mereka masuk agar Aku dapat makan bersama-sama dengan mereka!" Yesus jelas-jelas sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Pada akhir kisah ini, sang bapa melakukan apa yang Yesus lakukan.

Seorang sarjana Siria terkenal di Baghdad pada abad kesebelas, Abdallah Ibn al-Tayyib, mengenali bapa dalam kasih yang memberi diri dengan berlari di jalan itu sebagai simbol bagi Yesus. Sarjana Perjanjian Baru yang luar biasa, Joachim Jeremias, juga menunjukkan hal yang sama pada abad ini. Saya menyebutnya sebagai "Kristologi hermeneutikal", artinya Yesus mengambil simbol yang dikenal untuk Allah dan dengan sangat halus dan tidak kentara mengubahnya menjadi simbol untuk diri-Nya sendiri.

11. Arti pesta. Pesta dalam perumpamaan ini ditafsirkan tiga kali. Pertama oleh bapa; kedua oleh anak kecil di halaman; dan ketiga oleh anak sulung. Dua tafsiran pertama saling mendukung. Tafsiran ketiga bertentangan tajam dengan dua tafsiran pertama. Pembaca saat ini biasanya hanya teringat pada tafsiran ketiga. Ketiga tafsiran itu harus dicermati semuanya.

Setelah pendamaian berlangsung, bapa itu memerintahkan diadakan pesta. Ia berkata, "Marilah kita makan dan bersukacita. Sebab [inilah alasannya] anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." Bapa itu tidak mengatakan, "Ia telah hilang dan pulang kembali." Sebaliknya, kita membaca, "Ia telah hilang dan didapat kembali." Jadi, siapa yang mendapatkan atau menemukannya kembali? Sang bapa! Di mana dia menemukannya? Di ambang desa! Jadi, menurut persepsi bapanya, anak bungsu itu masih hilang dan mati ketika berada di ambang desa. Sama seperti gembala harus pergi dan membayar harga untuk menemukan dombanya, dan perempuan itu harus mencari dengan tekun untuk menemukan dirhamnya, demikianlah bapa ini turun dan keluar membayar harga untuk memperlihatkan kasih yang tak terduga demi menemukan dan membangkitkan kembali anaknya. Pesta itu untuk merayakan keberhasilannya menemukan dan membangkitkan anaknya.

Nah, sekarang tafsiran si anak kecil. Si anak sulung baru datang dari ladang dan ketika mendengar suara musik ia memanggil seorang pais. Kata ini dapat berarti tiga hal. Yang pertama "anak", yang tidak sesuai dengan konteks cerita. Yang kedua "hamba", yang juga tidak cocok, karena semua hamba sibuk di dalam rumah melayani perjamuan makan itu. Pilihan ketiga adalah "anak kecil". Terjemahan Siria Timur Tengah dan Arab selalu menggunakan alternatif ketiga ini. Saat anak sulung itu mendekati rumah keluarganya di tengah desa, ia akan bertemu sekumpulan anak kecil yang belum cukup umur untuk ikut duduk di meja perjamuan. Mereka berada di luar, menari-nari mengikuti suara musik dan menikmati suasana dengan cara mereka sendiri yang serba riuh-rendah. Anak sulung itu bertanya apa yang terjadi dan anak kecil itu menjawab (dalam terjemahan bebas), "Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena (sekarang muncul tafsiran kedua) ia (bapanya) menerimanya (anak bungsu itu) kembali dengan damai!"
Kata yang diterjemahkan "damai" ini bahasa Yunaninya adalah hugaino. Artinya, "dalam keadaan sehat," dan merupakan asal kata "higiene." Namun dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta), kata bahasa Yunani ini muncul 14 kali, dan semuanya untuk menerjemahkan kata bahasa Ibrani shalom atau damai sejahtera. Bila orang Yahudi abad pertama menggunakan kata hugaino, ia secara mental menerjemahkan kata bahasa Ibrani shalom, yang memang mencakup "kesehatan", namun artinya jauh lebih luas daripada itu.

Saya yakin Yesus menggunakan kata shalom dalam cerita ini. Intinya adalah, perjamuan itu diadakan untuk merayakan keberhasilan bapa dalam menciptakan pendamaian – shalom – dan masyarakat telah datang untuk berpartisipasi dalam perayaan itu. Alih-alih upacara qetsatsah yang menyatakan penolakan, mereka turut bersukacita atas pemulihan yang diperoleh bapa itu dengan harga yang sangat mahal. Jadi, anak kecil ini meneguhkan tafsiran bapa tadi. Bagi keduanya, perjamuan itu adalah perayaan atas keberhasilan usaha bapa dalam mendamaikan anaknya.

Bahasa yang digunakan anak kecil itu, "Ia menerima-nya..." (dan berencana untuk makan bersama-sama dengan dia), mengingatkan para pendengar akan keluhan orang Farisi, "Ia [Yesus] menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Ucapan anak kecil ini meneguhkan bahwa bapa itu memang telah berubah menjadi simbol untuk Yesus. Yesus menerima orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Dalam perumpamaan ini, bapa itu bertindak persis sama.

Masih ada lagi tafsiran anak sulung yang perlu dipertimbangkan, yang disampaikannya setelah bapanya berusaha mendamaikan anak ini dengan dirinya. Ia berkata, "Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia!" Pernyataan ini bertentangan sama sekali dengan apa yang baru saja dikatakan anak kecil itu kepadanya. Ini juga bertentangan dengan pernyataan bapa itu sendiri mengenai tujuan perjamuan tersebut. Dengan demikian, para pendengar pun diperhadapan pada pilihan. Apakah pesta itu untuk menghormati si anak bungsu atau untuk menghormati sang bapa? Apakah itu untuk merayakan keberhasilan upaya si anak bungsu untuk pulang ke rumah (dengan kekuatannya sendiri), ataukah untuk merayakan keberhasilan upaya bapa yang mahal harganya untuk menciptakan damai sejahtera? Adakah para tamu akan memberikan selamat kepada si anak sulung atau kepada bapa?

Sangat disayangkan bahwa kebanyakan pembaca modern tidak memperhatikan adanya kontras atau menyadari adanya pilihan yang harus diambil itu. Perjamuan itu merupakan bayangan dari Perjamuan Kudus. Tentulah kita mengetahui bahwa Yesus adalah pahlawan dalam perjamuan kudus tersebut dan bukan orang-orang berdosa yang menjadi pusat perhatian. Sikap membenarkan diri pada si anak sulung itu merupakan kacamata bias yang dipakainya untuk melihat dunia ini. Ia hanya tahu bahwa adiknya telah kehabisan uang dan bahwa ia telah didamaikan dengan ayahnya tanpa terlebih dahulu membayar kembali uang tersebut. Secara singkat, anugerah telah ditawarkan dan diterima, bukannya si pendosa berhasil memenuhi tuntutan hukum.

Tafsiran si anak sulung ini mewakili pandangan banyak orang, dulu dan sekarang. Namun, pandangan bapa tentang perjamuan (yang didukung oleh ucapan anak kecil) itulah yang ada dalam pikiran Yesus. Bagi banyak orang, anugerah bukan hanya menakjubkan – anugerah itu juga mustahil untuk dipercaya! Bagaimana mungkin hal semacam itu benar-benar terjadi? Bagaimanapun, kau hanya akan mendapatkan sesuai dengan yang kaubayarkan, bukan?

12. Kemarahan anak sulung. Kalau perjamuan itu hanya merayakan keberhasilan si anak bungsu yang pulang dengan selamat, anak sulung itu akan langsung masuk ke aula. Itu berarti posisi anak bungsu itu dalam keluarga belum lagi ditentukan. Anak sulung itu akan berusaha keras agar sudut pandangnya ikut dipertimbangkan saat keluarga membicarakan persoalan tersebut. Tentu saja, mereka semua (di muka umum) senang anak bungsu itu pulang dalam keadaan sehat. Akan sangat kurang ajar kalau orang tidak bersukacita atas kedatangan anak sulung itu dalam keadaan sehat. Namun, anak kecil itu memberitahukan kepada si anak sulung bahwa semua persoalan itu sudah beres! Bapanya telah mendamaikan anak bungsu itu – dan tanpa si bungsu membayar tebusan untuk dosanya! Karena itulah si sulung marah. Ia sangat marah sampai ia secara radikal memutuskan hubungannya dengan bapanya.

Seorang anak yang hadir namun tidak mau terlibat dalam perjamuan semacam itu merupakan penghinaan di muka umum yang tak terkatakan bagi bapanya. Kira-kira bandingannya adalah kalau seorang anak adu mulut dengan ayahnya di depan umum di tengah perjamuan kawin yang dihadiri oleh keluarga besar. Adu mulut bisa saja terjadi – namun tidak di depan umum di tengah perjamuan semacam itu. Penolakan anak sulung terhadap pendamaian bapanya dengan si bungsu membuatnya memutuskan hubungan dengan sang ayah yang menerima pendamaian itu.

13. Tanggapan bapa. Untuk keempat kalinya, sang bapa bertindak melampaui apa yang akan dilakukan oleh bapa Timur Tengah biasa. Untuk kedua kalinya pada hari yang sama, ia bersedia menawarkan kasih yang tak terduga dan sangat mahal harganya. Hanya kali ini kasih itu ditujukan kepada orang yang menaati hukum, bukannya kepada seorang pelanggar hukum. Anugerah yang menakjubkan itu berlaku sama untuk kedua anak tersebut. Menurut tradisi, sang bapa seharusnya melanjutkan perjamuan tersebut dan mengabaikan penghinaan di muka umum tadi. Ia dapat menghadapi anak sulung itu kemudian. Namun tidak! Di tengah penghinaan di muka umum yang menyakitkan, sang bapa turun dan keluar untuk mendapatkan kembali satu lagi domba/dirham/anaknya yang hilang.

14. Tanggapan si sulung. Anak bungsu "menerima" untuk ditemukan. Ia terpukau oleh kasih yang sangat mahal harganya, yang ditawarkan secara cuma-cuma kepadanya. Sebaliknya, si anak sulung tampak tidak terkesan. Dengan tak kenal belas kasihan ia justru menyerang bapa dan adiknya di muka umum. Sang bapa sudah sepatutnya meledak marah dan memerintahkan orang menangani penghinaan di muka umum ini. Namun, untuk kelima kalinya, kebiasaan bapa Timur Tengah dilampauinya. Ia bukan bapa yang biasa-biasa saja. Ia adalah simbol dari Allah. Seperti yang ditulis Henri Nouwen sehubungan dengan perumpamaan ini, "Ini menggambarkan Allah, yang kebaikan, kasih, pengampunan, kepedulian, sukacita dan belas kasihan-Nya sama sekali tidak terbatas. Yesus menampilkan kemurahan hati Allah dengan menggunakan gambaran yang tersedia dalam budaya-Nya, sambil terus menerus mengubahnya."

Kalau anak sulung itu menerima kasih yang sekarang ditawarkan kepadanya, ia wajib memperlakukan adiknya dengan kasih dan penerimaan yang sama sebagaimana bapanya menyambut penjaga babi itu. Anak sulung itu perlu "diubah menjadi serupa dengan gambar" bapanya yang penuh belas kasihan, yang mendatangi dua jenis pendosa dalam rupa seorang hamba, menawarkan kasih yang sangat mahal harganya, kasih yang dinyatakan bukan berdasarkan kelayakan kita untuk menerimanya. Bersediakah dia? Kita tidak diberi tahu. Pada titik ini, bola ada di lapangan kita, dan kita sendirilah yang harus mengambil keputusan.

Kenneth E. Baile, "The Pursuing Father", diakses 20 Juli 2002.

Saturday, April 25, 2015

Novel Kriminal sebagai Komentar Sosial

Akmal Nasery Basral, Ilusi Imperia dan Rahasia Imperia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014).

Kisah kriminal atau detektif mengandung keunikan tersendiri. Di situ pengarang merancang suatu tindak kejahatan, menebar petunjuk tentang motivasi dan modus operandi si tersangka pelaku, sekaligus mengecoh pembaca ke arah tersangka lain, sebelum akhirnya membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin pelik kasus, semakin sulit ditebak, semakin mengasyikkan kisah itu. Ilusi Imperia (II) dan Rahasia Imperia (RI), dua novel Akmal Nasery Basral (ANB) yang menurut rencana akan digenapi sebagai trilogi ini, menawarkan jelujuran kisah semacam itu.

Ini tawaran yang lumayan menyegarkan. Sejauh ingatan saya, genre ini tidak banyak disentuh penulis Indonesia. Waktu kecil ada Dwianto Setiawan dan Djoko Lelono yang menuliskan kisah detektif bagi anak-anak, mengimbangi kisah detektif terjemahan. Saat remaja saya bertemu dengan Imung, detektif rekaan Arswendo Atmowiloto. Lalu, S. Mara Gd. dan V. Lestari menggulirkan kisah-kisah kriminal. Belakangan saya menemukan kisah kriminal supranatural dalam novel Abdullah Harahap (AH) yang diterbitkan ulang. Novel ANB ini menambah koleksi kisah kriminal Indonesia yang masih langka itu.

Mirip dengan AH, ANB tidak menghadirkan sosok detektif untuk membongkar kasus kriminal yang terjadi. AH dapat memakai penulis, polisi, atau menceritakannya dengan sudut pandang orang ketiga serbatahu. ANB menampilkan sosok Wikan Larasati, yang baru saja lulus kuliah secara cemerlang dan mulai bekerja sebagai reporter majalah berita.

Dalam II, Wikan meliput kasus pembunuhan Rangga Tohjaya, pengacara kondang yang meroket namanya setelah meloloskan Melanie Capricia (MC), diva pop, dan suaminya, Marendra, dari tuduhan plagiarisme. Rangga juga keponakan seorang jenderal purnawirawan, yang menurut desas-desus memiliki hubungan lancung dengan MC.

Dalam RI, menyambung kisah II, giliran MC dan Adel, manajernya, yang tewas terbunuh dalam waktu berdekatan di Mannheim, Jerman, dan di Zurich, Swiss. Wikan, yang terakhir bertemu dengan mereka, harus berurusan dengan polisi setempat, dan kemudian menelusuri kasus ini, yang ternyata melibatkan Mafia Albania dan gerakan Neo-Nazi.

Seberapa mengasyikkan kisah Wikan ini?
  
Gangguan Penceritaan
Baik II (380 halaman) maupun RI (431 halaman) enak dibaca sebagai novel, menawarkan kasus yang kompleks dan pelik, serta menampilkan tokoh-tokoh yang beragam dan kuat karakternya. Di satu sisi, kisahnya menguak saling-silang dunia jurnalisme, dunia hiburan, hukum (kehidupan pengacara), politik, dan permafiaan; di sisi lain, kita diajak melanglang buana dari Indonesia ke Jerman, Swiss, dan Turki. Ini memperlihatkan ketekunan ANB dalam melakukan riset, keluasan wawasannya, dan kelihaiannya merangkai alur cerita.

Namun, sebagai drama kriminal, yang butuh kegesitan bercerita untuk terus membetot perhatian pembaca, menyedotnya dari satu ketegangan ke ketegangan berikutnya, kisahnya terkesan agak tersendat. Ini terjadi karena ANB kerap menerangjelaskan berbagai hal di seputar kasus. Tentu saja tidak sedikit keterangan yang relevan dengan cerita, namun beberapa di antaranya terasa sebagai tempelan dan, sebaliknya, ada perkembangan cukup penting yang malah tidak disajikan bagi pembaca. Pembaca lalu seperti pelancong yang tiap sebentar diajak berhenti oleh pemandu, diberi informasi tentang obyek kunjungan. Keasyikan bertamasya kadang memudarkan ketegangan petualangan.

II sudah pernah diterbitkan sebagai Imperia (2005). Saya sudah membacanya, namun tidak mengoleksinya, sehingga tidak dapat membandingkannya secara langsung. Yang masih teringat, Imperia sempat melantur membahas scam Nigeria, yang memang marak saat itu. Dalam edisi ini, telah dilakukan penyuntingan ulang, dan cerita terasa bergerak lebih gesit. Namun, masih muncul, misalnya, pembahasan soal VRML, yang terasa tidak berkaitan kuat dengan alur cerita. Sebaliknya, pergeseran hubungan MC dan Marendra—dari dua sejoli mabuk kepayang, namun kemudian MC menjadi diva dan istri yang dominan, sedangkan Marendra menjadi suami yang pengalah dan ayah penyayang anak—tidak tergambar dengan baik.

Juga, yang lumayan mengecewakan, kemampuan istimewa Wikan dalam extra sensory perception (ESP) tidak tereksplorasi. Wikan hanya menunjukkanya—secara iseng?—dalam rapat redaksi pertama yang diikutinya sehingga menarik perhatian rekan yang memahami kemampuan itu. Rekan inilah yang mendukung diutusnya Wikan pergi ke Jerman untuk mewawancarai MC lebih lanjut. Dalam RI, Wikan sempat menggunakan kemampuan itu dua kali untuk merekonstruksi saat-saat menjelang ajal MC dan Adel. Toh keterangan tentang itu kemudian ia peroleh lebih detail dari dokter yang menangani mayat keduanya.

II dimulai dengan ledakan: paparan langsung pembunuhan Rangga Tohjaya. RI juga dibuka dengan pembunuhan, namun efek ledakannya kurang dahsyat karena pembunuhan itu muncul sebagai berita, bukan diceritakan langsung dari TKP. Selebihnya, secara keseluruhan, RI bergerak secara lebih sigap daripada II. Sudah semakin berkurang tempelannya meskipun di beberapa bagian masih terasa kesan tamasyanya, yang mengalihkan perhatian pembaca dari kegentingan kasus.

Cara Pemecahan Kasus
Tentang pemecahan kasus, saya tertarik membandingkannya dengan metode Hercule Poirot. Dalam novel Agatha Christie ini, biasanya kita disuguhi pola yang sama: ada mayat, Poirot hadir sebagai detektif yang menyelidiki perkara, mewancarai deretan tersangka, menyingkapkan karakter masing-masing, mempersilakan kita menebak siapa yang paling berpotensi sebagai pelaku. Klimaksnya, Poirot menganalisis kasus itu, menunjukkan siapa si pelaku, lengkap dengan motivasi dan modus operandi-nya. Kalau kita beruntung, tebakan kita cocok dengan analisis Poirot. Saya termasuk yang jarang beruntung.


Dalam novel ANB, kita tidak bertemu dengan sosok detektif. Kita berjumpa dengan Wikan Larasati, wartawan yang mengejar narasumber, yang kebetulan terlibat dalam kriminalitas. Dalam II, pembaca diajak menilik cerita dari perspektif sejumlah tokoh; dalam RI, kita mengintil gerak-gerik dan pemikiran Wikan.

Saat Poirot menganalisis kasus, ia berdiri sebagai pihak yang superior, dan para tersangka seperti domba kelu yang menunggu disembelih. Sebagai petugas resmi yang didukung pihak kepolisian, ia relatif dapat membeberkan analisisnya dengan tenang, sedangkan para tersangka—dan pembaca—tegang menyimaknya.

Posisi Wikan yang bukan detektif tak ayal memaksa penulis memikirkan metode lain untuk membongkar kasus. Dalam II, Wikan mendapatkan durian runtuh. Ia berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat: ketika si pelaku sudah pada puncak amarahnya, seperti gunung api yang lama tertidur tiba-tiba meletus, membeberkan sendiri motivasi dan modus operandi tindakan kriminalnya. Yang menyisakan pertanyaan: Apakah ketika pelaku meraup rezeki nomplok, ia sudah berencana menggunakan uang itu untuk mengupah pembunuh bayaran, yang terjadi enam tahun kemudian? Selebihnya, pengakuan yang sungguh mengejutkan, namun sekaligus terasa antiklimaks karena bukan protagonis kita yang membongkar kasus itu.

Dalam RI, saya tidak mempertanyakan kemampuan analisis Wikan. Namun, saya ragu dengan caranya membeberkan analisis itu: sebagai pihak inferior, dalam kondisi yang begitu genting dan dapat berakibat fatal baginya, dikelilingi para tersangka yang bermusuhan, siap menerkam dan menangkis penjelasannya—atau malah menghabisi nyawanya—dan ia sanggup memaparkan rangkaian kasus itu dengan jernih dan lancar. Ini sebuah “lompatan kuantum” bagi seorang Wikan yang bahkan beberapa menit sebelumnya masih grogi duduk berdekatan dengan dan dipersalahkan oleh atasannya.

Komentar Sosial
Di luar itu, novel ini menarik sebagai komentar sosial. Ada komentar yang terang-terangan, seperti ketika Wikan, dalam II, membandingkan antara kondisi kereta api di Swiss dan KRL Bogor-Jakarta. Namun, yang tak kalah menggelitik adalah komentar yang terselubung, mengundang kita untuk menebak-nebak dalam tataran yang lain.

Novel ini menggoda kita, mengundang kita membayangkan apa kiranya yang terjadi di balik kehidupan para seleb, politikus, dan dinamika media massa. Kemungkinan-kemungkinan muram di balik tampilan yang serba gemebyar. Kemungkinan-kemungkinan yang tak terungkap atau disembunyikan dari publik, namun sebenarnya terbayangkan. Dan ANB, yang cukup lama bertekun sebagai jurnalis, seakan sedang memberikan bocoran tentang keadaan yang sebenarnya—namun sekaligus menyelubunginya lagi sebagai fiksi.

Membaca MC, misalnya, kita mungkin ternganga, benarkah ada seleb yang hidup segemerlap ini. Namun, kita akan berhenti heran kalau mau sedikit memasang telinga menyimak kisah mereka dalam infotainment yang banal itu. Seorang seleb, misalnya, menyebut sederhana adalah memberi istri hadiah ulang tahun berupa mobil seharga dua miliar. Atau, bagi seleb lain, sederhana adalah mengajak ibunda berlibur ke Korea.

Kedua novel ini, terutama RI, menyoroti betapa hidup ini sering tidak seperti yang terlihat. Omongan salah satu tokoh, Stefan, tentang hidup dalam dunia majemuk, menarik untuk digarisbawahi: “Sekarang terangkan kepadaku, Wikan, jika sebagian besar orang di sekelilingmu, mungkin dirimu sendiri, mempunyai dua dunia berbeda yang dijalani, bahkan tiga sampai empat kehidupan atau lebih, bagaimana menyebut sesuatu sebagai ‘normal’ sementara yang lainnya ‘abnormal’?” Motif ini terpampang gamblang dalam “Epilog” II dan menjadi warna latar yang kuat sepanjang RI. Sosok Imperia—pelacur yang sukses menaklukkan Raja Sigismund (otoritas politik) dan Paus Martinus V (otoritas agama) sekaligus dalam genggaman kedua tangannya—terasa pas mewakili kehidupan ganda itu.

“Bocoran” lain yang tak kalah menarik: Tentang bagaimana kekuatan militer membekingi—dan sekaligus menyetir—media masa. Di situ ada wartawan senior sebuah media besar, yang berkawan dekat dengan seorang jenderal purnawirawan, dan bersama-sama ternyata menjadi agen komplotan global. Pembaca yang gemar mengikuti isu dan gonjang-ganjing dunia sastra satu dekade belakangan ini barangkali akan mengulum senyum, menebak-nebak siapa kiranya yang dijadikan acuan bagi tokoh itu. Apakah ini sebentuk strategi lain dari “ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara”? ***

Friday, April 10, 2015

Obat dan Kesembuhan

Ketika memberikan resep kepada pasien, dokter secara tersirat berkata, “Kalau Anda minum obat ini, Anda akan sembuh!” Sebagai pasien, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan bergumam, “Aku harus berusaha sembuh! Aku harus mendisiplinkan diri untuk sembuh! Aku harus menerapkan langkah-langkah menuju kesembuhan! Aku harus berjaga-jaga, aku tidak boleh lengah, aku tidak boleh lemah! Aku harus sembuh!” Tampaknya hanya orang kurang waras yang berpikir seperti itu. Kebanyakan kita tentu cukup pintar untuk paham bahwa yang perlu kita lakukan tidak lain adalah minum obat menurut aturan. Ya, tentu saja dibarengi hal-hal yang mendukung penyembuhan: diet makan yang tepat, latihan fisik yang patut, istirahat yang cukup. Dengan memenuhi kondisi itu, kita tinggal berharap proses kesembuhan akan berlangsung sebaik mungkin. Begitu, bukan?

Di dalam firman Tuhan, terutama di Perjanjian Baru, banyak perintah atau pernyataan yang berpola seperti nasihat dokter tadi. Berikut ini beberapa contohnya:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

“Tinggallah di dalam Aku, maka kamu akan berbuah.”

“Maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan.”

“Allah sangat baik kepada kita. Itu sebabnya saya minta dengan sangat supaya kalian mempersembahkan dirimu sebagai suatu kurban hidup... Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru, supaya kalian berubah.”

Dalam teori, tentu kita sepakat bahwa, dalam pernyataan-pernyataan di atas, bagian yang merupakan “obat” (sebab) adalah: “mengasihi Aku”, “tinggal di dalam Aku”, “kemurahan Allah”, “Allah sangat baik kepada kita”, dan “Allah membuat pribadimu menjadi baru”; adapun bagian yang merupakan “kesembuhan” (akibat/hasil) tidak lain adalah “menuruti segala perintah-Ku”, “berbuah”, “pertobatan”, “mempersembahkan diri sebagai suatu kurban yang hidup”, dan “berubah”. Sepakat?

Namun, coba kita perhatikan, dalam praktek, bagaimana kita memperlakukan pernyataan-pernyataan tadi? Seberapa sering kita berusaha keras untuk menuruti segala perintah Tuhan untuk memperlihatkan bahwa kita mengasihi Dia? Seberapa keras kita berusaha berbuah (dalam gereja tertentu, hal ini berarti menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus) untuk membuktikan bahwa kita tinggal di dalam Dia? Seberapa tekun kita mengerahkan kekuatan, berdoa dan berpuasa, untuk bertobat, agar kita mengalami kemurahan Allah? Seberapa gigih kita mempersembahkan diri sebagai suatu kurban hidup, berusaha menjaga kesucian hidup, agar Allah berkenan dan bersikap baik kepada kita? Seberapa gencar kita berusaha berubah, berusaha memperbarui pola pikir (pembaruan pikiran), agar kita menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik?

Ah, tanpa sadar, kita bersikap seperti pasien yang kurang waras tadi! Kita menjungkirbalikkan pernyataan-pernyataan tersebut. Kita minum “kesembuhan” dan berharap mendapatkan “obat”. Kita berusaha mengerjakan “hasil”, dan menunggu munculnya “penyebab”. Tidak heran kalau banyak orang kerohaniannya kusut masai!

Yang perlu kita lakukan adalah minum “obat”. Kalau kita minum “obat” dengan benar, “kesembuhan” tidak perlu diusahakan, “penyembuhan” akan berlangsung dengan sendirinya, dan, pada waktunya, kita akan memetik “hasil”-nya. Begitulah proses yang sewajarnya. Jangan dibalik-balik.

Dalam kerohanian, tadi sudah kita sepakati, “obat”-nya adalah ini: “mengasihi Aku”, “tinggal di dalam Aku”, “kemurahan Allah”, “Allah sangat baik kepada kita”, dan “Allah membuat pribadimu menjadi baru”. Berarti inilah kebenaran yang perlu kita “minum” secara teratur. Inilah kebenaran yang perlu kita renungkan sering-sering. Inilah kebenaran yang selayaknya menjadi fokus hidup kita sehari-hari. Inilah kebenaran yang perlu kita resapkan sampai ke sumsum tulang.

Bila kita memenuhi kondisi di atas, “kesembuhan”—yaitu  “menuruti segala perintah-Ku”, “berbuah”, “pertobatan”, “mempersembahkan diri sebagai suatu kurban yang hidup”, dan “berubah”—berangsur akan terungkap dalam kehidupan kita. Begitulah prosesnya. Bukan kebalikannya.

Mungkin ada yang nyeletuk, “Tuh, ada lho kita harus mengasihi Tuhan. Berarti itu usaha kita ‘kan? Kita harus berusaha mengasihi Tuhan ‘kan? Membuktikan kasih kita kepada Tuhan dengan menaati segala perintah-Nya ‘kan?”

Sabar sedikit, Adikku yang legalistik dan keras kepala! Jika dibaca dalam konteksnya (Yohanes 14), pernyataan “mengasihi Aku” tersebut mengacu pada percaya kepada Yesus dan kepada Bapa, percaya pada karya keselamatan dan penebusan-Nya. Dan, jangan lupa, kasih tidak pernah bersumber dari diri kita. Sebaliknya, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Dengan begitu, “mengasihi Aku” bisa dibaca sebagai percaya pada kasih-Nya, berpegang teguh pada kasih-Nya, jatuh cinta mabuk kepayang pada kasih-Nya yang begitu besar. Apakah kita bisa berusaha untuk jatuh cinta? Jadi, “mengasihi Aku” bukanlah soal usaha kita, melainkan soal percaya, soal menerima, menyambut, dan merayakan kasih-Nya.

“Mengasihi Aku” lalu sejajar dengan “tinggal di dalam Aku”. Frasa ini dapat berarti “menjadikan Kristus sebagai rumah (home, tempat kediaman, tempat kesukaan, ruang tempat kita leluasa menjadi diri sendiri) selama-lamanya.”

Nah, pertanyaannya sekarang, seberapa teratur kita minum “obat” itu? Serapa sering kita merenungkan kasih Tuhan, merefleksikan Kristus sebagai tempat kesukaan kita? Seberapa banyak kita berfokus pada kemurahan Allah, kebaikan-Nya, dan anugerah hidup baru-Nya dalam keseharian kita? “Kasih itu tangguh menghadapi bahaya dan maut. Kegairahan tertawa menghadapi gertakan neraka. Api cinta pantang mundur, dan menyapu habis segala sesuatu yang merintanginya. Air bah tak mampu menenggelamkannya, hujan badai tak mampu memadamkannya. Kasih tidak dapat dibeli, tidak dapat pula dijual—kasih tidak akan ditemukan di pasar mana pun”—apakah kita membiarkan kebenaran tentang kasih-Nya yang tak kunjung padam ini meresap sampai ke sumsum tulang?

Mungkin ada lagi yang nyeletuk, “Lalu itu, faktor-faktor pendukung kesembuhan itu—diet, latihan fisik, istirahat—bukankah itu mengacu pada usaha-usaha kita? Bukankah itu jerih payah kita, agar anugerah Tuhan di dalam hidup kita tidak menjadi sia-sia?”

Sebentar, sebentar. Dirimu hendak menjaga anugerah Tuhan dengan kekuatanmu sendiri, dengan kesalehanmu sendiri? Ahai! Jadi, kekuatanmu, kesalehanmu, jerih payah usahamu itu lebih kuat, lebih perkasa, dari anugerah Tuhan ya? Ahai!

Baiklah. Agar tidak salah paham, mari kita cermati faktor-faktor pendukung tadi, dan melihat padanannya secara rohani.

Diet. Ini dapat mengacu pada kemampuan mengenali ajaran sehat. Apakah ajaran itu berfokus pada pembenaran melalui usaha dan amal ibadah manusia (legalisme) atau pada pembenaran melalui karya Kristus yang sempurna (anugerah)? Apakah berbicara tentang anugerah hidup baru atau perbaikan tingkah laku? Apakah mengajarkan kita untuk mengusahakan keselamatan dengan amal perbuatan (working for our salvation) atau merayakan dan mengerjakan keselamatan yang sudah dianugerahkan (working out our salvation)? Apakah ajaran itu mendorong kitan hidup dalam kemerdekaan yang menghancurkan kemerdekaan (Roma 6:16, The Message) atau dalam kemerdekaan yang menjadikan kita leluasa untuk mengasihi dan melayani sesama? Nah, bagaimana kita dapat mengenali ajaran sehat seperti itu? Dengan kemampuan sendiri? Silakan coba sendiri kalau bisa. Firman Tuhan mengarahkan kita untuk bersandar pada bimbingan Roh Kudus, yang akan menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran.

Latihan fisik. Ini bisa berbicara tentang latihan beribadah atau melatih otot iman. Ibadah dan iman kita perlu berfokus ke arah yang benar: pada Siapa yang kita percayai. Ya, iman berfokus pada Yesus Kristus, yang tidak lain tidak bukan adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Iman bukan tentang mengklaim apa yang kita anggap sebagai janji Tuhan (kekayaan, kesuksesan, terobosan hidup, jodoh, dan sebagainya), menggumulinya, dan terus setia menantikannya sampai hal itu terwujud. Sebaliknya, iman adalah menyadari bahwa Kristus adalah “ya dan amin” bagi segenap janji Allah. Iman bukan perjalanan menuju Ruang Mahakudus; sebaliknya, iman adalah bergerak di dalam Ruang Mahakudus: di dalam Kristus kita hidup, kita ada, kita bergerak! Iman bukan mengandalkan betapa eratnya kita berpegang pada Tuhan; sebaliknya, iman merasa aman menyadari betapa eratnya Tuhan memegang kita. Martyn Lloyd-Jones mengatakan, “Kita dapat mengungkapkannya demikian: orang yang beriman adalah orang yang tidak lagi memandang pada dirinya sendiri dan tidak lagi mengandalkan dirinya sendiri. Ia tidak lagi melihat pada kondisinya yang dahulu. Ia tidak melihat pada kondisinya saat ini. Ia bahkan tidak melihat pada bagaimana kiranya kondisinya kelak sebagai hasil dari jerih payahnya memperbaiki diri sendiri. Ia memandang sepenuhnya kepada Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya yang sempurna, dan mengandalkan hal itu sepenuhnya. Ia berhenti berkata, ‘Ah ya, dulu aku biasa melakukan dosa-dosa yang parah, namun aku sudah melakukan ini dan itu.’ Ia berhenti berkata seperti itu. Jika ia terus berkata-kata seperti itu, ia belum memahami apa itu iman. Iman berbicara dengan cara yang lain sama sekali dan orang itu akan berkata, ‘Ya, aku telah berbuat dosa secara mengerikan, namun aku tahu bahwa aku adalah anak Allah karena aku tidak mengandalkan kebenaranku sendiri; kebenaranku ada di dalam Yesus Kristus dan Allah sudah memperhitungkan hal itu sebagai kebenaranku.’”

Istirahat. Benarkah kita suka beristirahat (rest)? Kebanyakan orang gelisah (restless), menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, seakan-akan identitas dirinya ditentukan oleh aktivitas itu. Yesus Kristus mengundang kita untuk keluar dari kegelisahan semacam ini. Maukah kita menyambut undangan-Nya yang lembut ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Berusahalah untuk masuk ke dalam perhentian itu”? Beristirahat di dalam Kristus berarti puas akan Dia, menyadari bahwa identitas kita ditentukan semata-mata oleh kasih-Nya. Seperti dikatakan Brennan Manning, “Definisikan dirimu sendiri secara radikal sebagai orang yang dikasihi oleh Tuhan. Itulah identitas diri yang sejati. Identitas lainnya hanyalah ilusi.”

Tentu saja, masih ada faktor pendukung lain yang belum tercakup dalam perbandingan tadi. Ini sekadar ilustrasi. Yang jelas, faktor pendukung itu—apa pun bentuknya—pastilah bukan sesuatu yang kita sanggup mengupayakannya sendiri; faktor pendukung itu tidak pernah berasal dari bawah, dari kemampuan dan daya upaya manusia, melainkan merupakan pemberian dari atas. Merupakan anugerah. Ya, anugerah-Nya cukup, lengkap, komplet, bahkan berlimpah, dan sempurna dalam menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup yang saleh.

Kalau kita batuk, mungkin perlu waktu seminggu untuk sembuh kembali. Adapun proses kesembuhan ini—dari pola pikir legalistik menuju pemahaman penuh akan anugerah-Nya—memakan waktu sepanjang hayat, bahkan mungkin sepanjang kekekalan. Dan, kecepatan proses itu dalam diri tiap-tiap orang percaya berbeda-beda. Kita juga masih dapat jatuh bangun. Kita masih dapat gagal di sana-sini. Jadi, tak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tidak usah saling menggigit dan saling menelan. Sebaliknya, kita perlu belajar bersabar satu sama lain. Yang kuat menanggung yang lemah. Saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik. Dan, yang terutama, tidak berusaha mengejar kesembuhan dengan mengupayakan kesembuhan itu dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan secara tak putus-putus minum obat anugerah-Nya, sambil secara tak sudah-sudah mendaraskan puji syukur, “Terima kasih! Terima kasih!” ***

Sunday, March 29, 2015

Pemimpin yang dari Tuhan

Karya: Pawel Kuczynski, Polandia

"Kita telah mendapatkan pemimpin yang dipilih Tuhan! Kita telah mendapatkan pemimpin yang dipilih Tuhan! Negeri kita menyambut era yang baru, pengharapan yang baru!" begitu diserukan sebagai orang yang tokoh idolanya, sang kandidat idaman, terpilih dalam pemilu yang berlangsung lumayan dramatis tahun lalu.

Sepanjang masa kampanye, suara hamba Tuhan yang menggembalakan rakyat terbelah dua. Ada hamba Tuhan A yang mengklaim bahwa kandidat X yang direstui untuk memimpin bangsa ini dalam periode ini--kalau rakyat salah pilih, bakal tertunda lagi perbaikan nasib bangsa besar ini. Sebaliknya, hamba Tuhan B menyatakan dalam sebuah KKR bahwa ia memperoleh penglihatan, kandidat B-lah yang akan diangkat Tuhan memimpin bangsa ini, dan umat didorong mendukungnya. Jadi, karena ada dua kandidat, maka ada dua Tuhan--atau dua suara Tuhan (kalau jumlah kandidat bertambah, jumlah Tuhan atau suara-Nya bertambah juga. Tenang, Tuhan tidak pernah kehabisan stok suara). Manakah suara Tuhan yang benar?

Kepastian tentang suara Tuhan atau bukan ini tidak dapat ditentukan di awal, tetapi belakangan, setelah yang disuarakan terjadi. Pada zaman dahulu, nabi yang secara konsisten menyampaikan suara Tuhan secara akurat, ia akan dihormati sebagai nabi Allah. Sebaliknya, yang nubuatannya ngawur dan melenceng, ia akan mendapatkan hadiah dilempari batu. Sekarang? Hamba Tuhan yang tebakannya (ya, tebakan, jangan sok gagah menyebutnya sebagai nubuatan) benar, tak usah membusungkan dada--sangat boleh jadi, dalam kasus-kasus lain, tebakannya keliru. Hamba Tuhan yang tebakannya kali ini keliru, bolehlah malu-malu dan mengaku salah, sambil belajar untuk kelak menebak arah zaman dengan lebih cermat lagi.

Kembali ke soal pemimpin dari Tuhan, apakah pemimpin yang terpilih dalam pemilu serta-merta adalah pemimpin yang dari Tuhan? Kalau belajar dari peralihan bangsa Israel dari teokrasi menjadi monarki, tampaknya tidak. Bangsa Israel memilih raja pertama yang tidak berkenan di hati Tuhan. Ditarik ke dalam konteks yang lebih luas, Tuhan dalam kedaulatan-Nya mempersilakan bangsa-bangsa memilih pemimpinnya masing-masing. Dan, suara rakyat belum tentu--bahkan sering berlawanan dengan--suara Tuhan.

Dengan begitu, mempersoalkan apakah seorang pemimpin dipilih Tuhan atau tidak, itu soal yang kurang relevan. Pertanyaan yang lebih perlu dilontarkan: Apakah sang pemimpin tersebut, dalam konteks kehendak bebas manusia, memilih untuk mengikuti jalan Tuhan? Nah, itu tentu bukan soal yang bisa dijawab melalui kemenangan di bilik suara, melainkan mesti dilihat dari kebijakan-kebijakan yang diambil pemimpin tersebut sepanjang masa pemerintahannya.

Jalan Tuhan mana yang bisa dijadikan tolok ukur? Apakah dari kemajuan perekonomian? Dari kecanggihan pencapaian teknologi? Dari ketangguhan militernya?

Brian Zahnd, dalam buku "A Farewell to Mars", menawarkan perspektif yang menarik disimak tentang penghakiman atas bangsa-bangsa berdasarkan Matius 25:31-46. Perumpamaan ini dibuka demikian: "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya" (ay. 31). Hal ini menegaskan kedudukan Yesus Kristus--setelah kematian dan kebangkitan-Nya beberapa waktu kemudian--sebagai pemegang segala otoritas di surga dan di bumi, sebagai Raja atas segala bangsa. Dia memerintah dan menghakimi bangsa-bangsa menurut tolok ukur keadilan-Nya. Apakah itu? Perlakuan mereka terhadap "saudara-Ku yang paling hina", yaitu rakyat miskin, orang sakit, kaum imigran, dan para narapidana.

Berangkat dari gagasan itu, kita bisa melihat, sebenarnya ada tolok ukur yang relatif gamblang untuk menilai apakah pemerintahan atau kepemimpinan suatu bangsa itu berada di jalan Tuhan atau menyimpang dari jalan-Nya. Kita dapat menyebutnya "Tes Kambing dan Domba" atau "Tes Empat Keberpihakan". Ya, keberpihakan terhadap rakyat miskin, terhadap orang sakit, terhadap kaum imigran, dan terhadap para narapidana. Saya akan mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan (atau pernyataan) sehubungan dengan masing-masing poin sebagai tawaran awal tolok ukur penilaian.

Keberpihakan Terhadap Rakyat Miskin
Apakah kebijakan pemerintah mendukung dan memfasilitasi pengentasan orang miskin? Apakah mereka diberi ruang untuk lepas dari jerat kemiskinan, bangkit mandiri dan meraih kesejahteraan hidup, atau terus dijadikan keset pembangunan, dikuya-kuya dan ditindas? Apakah mereka diberi kesempatan meraih pendidikan umum atau keterampilan seluas-luasnya, bukannya patah di tengah jalan karena kesulitan biaya?

Apakah diusahakan ketersediaan bahan pangan dan sandang dengan harga terjangkau dan stabil serta kualitas memadai? Apakah tersedia perumahan layak untuk rakyat dengan fasilitas umum yang patut, dan harganya tidak dibiarkan terus digoreng oleh para tengkulak? Apakah para petani dilindungi, bukannya lahannya diserobot untuk dijadikan perumahan, pabrik, perkantoran, hotel, atau mal? Apakah para buruh digaji secara layak, atau mereka diperah seperti budak untuk menghasilkan makanan, pakaian, dan aneka produk mewah penopang gaya hidup golongan kaya?

Keberpihakan Terhadap Orang Sakit
Apakah layanan kesehatan di negeri ini bergerak dalam prinsip welas asih yang dicontohkan oleh orang Samaria yang baik itu, dalam semangat berkorban untuk menolong mereka yang tertimpa kemalangan? Apakah layanan kesehatan bukan hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi bergerak secara intensif untuk mendidik dan memfasilitasi rakyat untuk hidup sehat? Ataukah, lembaga kesehatan bergerak menjadi raksasa bisnis yang angker, bergerak menurut prinsip "ana rega ana rupa", yang sama saja dengan menutup kesempatan bagi warga miskin untuk mendapatkan layanan yang layak saat mereka sakit alias "orang miskin dilarang sakit"?

Pemerintah sudah menyediakan BPJS, misalnya, namun pengelolaannya terkesan semrawut. Bagaimana sikap pemerintah terhadap pasien yang telanjur meninggal dunia karena gagal mendapatkan perawatan gara-gara tidak paham mengikuti prosedur BPJS? Lalu, dana BPJS tahun lalu diklaim defisit. Penyelesaiannya khas pedagang: iuran BPJS dinaikkan. Kalau defisit terjadi karena rakyat yang menggunakan BPJS membludak dan terlayani dengan baik, syukurlah. Namun, kalau defisit terjadi karena tikus-tikus birokrat pengelola BPJS menggemukkan diri mereka, betapa celaka kita berada di tangan rezim perampok.

Keberpihakan Terhadap Kaum Imigran
Kaum imigran atau orang asing bukan sekadar warga negara lain yang berkunjung, tinggal, atau bekerja di sini. Kalau itu, terutama terhadap imigran bule, pemerintah sudah memperlakukan dengan penuh hormat, memberikan gaji jauh lebih tinggi dari UMR buruh dalam negeri, dan menyematkan sebutan khusus bagi mereka: ekspatriat.

Kaum imigran dapat mengacu pula pada mereka yang berbeda etnis, berbeda kepercayaan, berbeda pilihan politik, kelompok minoritas. Atau, malah dibalik: warga Indonesia yang terpaksa mengembara ke negeri asing untuk memperoleh matapencaharian (TKI). Nah, bagaimana keberpihakan pemerintah terhadap mereka-mereka ini? Ketika mereka dianiaya di negeri jiran? Ketika hak beribadah mereka dibatasi? Ketika hak berserikat dan berdiskusi mereka diberangus? Ketika kelompok garis keras menindas dan menganiaya mereka?

Keberpihakan Terhadap Para Narapidana
Secara sempit, ini bisa berarti perlakuan yang manusiawi terhadap para tahanan, bahwa mereka berada di penjara dalam proses untuk dimasyarakatkan kembali. Namun, dalam arti luas, ini berarti penegakan hukum dan keadilan. Bahwa semua warga betul-betul setara di hadapan hukum. Bahwa hukum tidak tumpul ke atas, tetapi tajam ke bawah. Bahwa hukum tidak bersikap bengis terhadap rakyat kecil dan miskin, namun lembek saat berhadapan dengan pemilik modal dan kuasa. Bahwa hukum tidak bertaburan dengan pasal karet yang bisa dimanfaatkan oleh pemilik modal dan kuasa untuk memukul siapa saja yang tidak berkenan di hati mereka. Bahwa hukum tidak sering terpeleset menghukum dan memenjarakan orang yang tidak bersalah, dan malah membiarkan melenggang bebas orang yang bersalah. Dan seterusnya.

Yah. Sejauh ini, itu ide-ide yang berseliweran dalam pikiranku dan bisa kucatat. Jadi, bagaimana? Bagaimana dengan pemerintahan baru yang baru berjalan lima bulan ini? Apakah pemimpin idola kita menunjukkan bahwa ia bergerak selaras dengan denyut hati Tuhan, memperlihatkan keberpihakan yang kuat terhadap rakyat miskin, terhadap orang sakit, terhadap kaum imigran, dan terhadap para narapidana? Kalau iya, mari kita dukung dia dengan segenap hati dan segenap daya. Kalau tidak, mari kita kritik dia, mari kita jewer dia agar bertobat. Dan, kalau dia keras kepala, mari kita lawan tanpa kekerasan, dan mari kita cegah keberlanjutan pemerintahannya dalam pemilu yang akan datang.

Sunday, March 1, 2015

Film yang Lemah Lembut


 Of Gods and Men (Xavier Beauvois, Prancis, 2010)

Ada film-film berlabel "Kristen" yang justru membuatku jengah. Film-film dengan kualitas produksi buruk, plot bolong-bolong, akting dan dialognya kaku--namun, karena dianggap menyampaikan cerita atau pesan Alkitabiah, lantas diarak dan dielu-elukan gereja dan orang Kristen sebagai film "wajib tonton". Film-film itu membuatku berjengit, memperlakukan iman secara gampangan--kalau tidak seperti para motivator ya seperti tukang sulap. Aku akan malu kalau sampai temanku yang non-Kristen menontonnya, dan memandangnya sebagai perwakilan iman kristiani. Dan, jujur, aku meringis senang kalau film semacam itu terkapar di box office. (Enggak usah menyebut judul ya. Kalian tahulah model film yang kubicarakan ini.)

Lalu, sesekali muncul film yang sebenarnya tidak bersikeras melabeli dirinya sebagai "film Kristen", namun malah menampilkan iman kristiani secara elok dan cemerlang. Film yang kualitas produksinya kuat, plot, akting, dan dialognya juga kuat. Film yang kuat sebagai film, dan mengangkat iman sebagai subyeknya secara elegan, bukan menjadi semacam propaganda atau ceramah agama. Film yang mengundangku untuk menimbang kembali dari sudut lain, merenungkan, menantang, dan sekaligus memperkaya keimananku. Film yang dengan senang hati--dengan haru dan bangga--akan kurekomendasikan pada kawan non-Kristen yang berniat belajar tentang iman kristiani.

Ya, film seperti "Of Gods and Men" ini. Film yang diangkat dari kisah nyata biarawan Trappis di biara Tibhirine di Aljazair, bekas jajahan Prancis.

Biara ini telah sekian lama bertumbuh bersama, bahkan menopang, komunitas tempat mereka berada, yang warganya mayoritas Muslim. Mereka menyediakan pengobatan--dan sesekali sepatu--bagi warga, dan juga sejumlah bantuan administrasi. Mereka berkebun. Mereka beternak lebah madu dan menjual madunya di pasar setempat. Mereka menghadiri upacara khitanan. Mereka menjadi tempat curhat bagi warga. Seorang warga menggambarkannya demikian, "Kalianlah cabang itu. Kami ini burung-burungnya. Kalau kalian pergi, kami akan kehilangan pijakan." Terdengar seperti persilangan antara seruan Nabi Yeremia tentang mengusahakan kesejahteraan komunitas tempat kita berada dan perumpamaan Yesus tentang biji sesawi: "Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Mereka berada di sana, seperti dikatakan seorang biarawan, "untuk menjadi saudara bagi semua orang".

Lalu, di tengah ketenteraman itu, muncullah teror itu. Mulanya di tempat yang jauh. Seorang perempuan ditikam dan dilemparkan dari bus karena tidak berhijab. Seorang guru dibunuh karena mengajarkan bahwa jatuh cinta itu normal. Warga asing ditembaki atau digorok lehernya. Dan, teror itu, tinggal menunggu waktu saja, bakal merangsek ke desa itu, ke biara itu.

Pemerintah menawarkan perlindungan oleh militer atau mendesak para biarawan itu pergi. Mereka bersikeras mengambil sikap sendiri. Apakah pergi? Pergi ke mana? Toh mereka sudah mempersembahkan hidup bagi misi ini. Atau tinggal? Di satu sisi, mereka merasa misi belum rampung. Di sisi lain, bukan hanya keselamatan mereka yang terancam, ketenteraman hidup warga juga. Militer pun sempat mencurigai mereka melindungi para teroris karena sempat menolong teroris yang terluka--tergambar dalam adegan apik pertemuan antara helikopter militer dan menara kapel biara. Jadi, bagaimana sebaiknya mereka bersikap? Ini tidak patut saya utarakan di sini; sebaiknya kawan-kawan yang berminat menonton menyimaknya sendiri.

Aku hanya ingin menambahkan: setelah sekian lama menonton berbagai film, baru kali ini aku menyebut sebuah film sebagai "lemah lembut". Adegan demi adegan mengalir dengan tenang, tidak terkesan tergesa-gesa, komposisi gambar meneduhkan, kamera seolah mengajak kita mengamati--bahkan menyentuh--wajah-wajah yang muncul, dan dialog-dialog diucapkan dengan telaten, seolah memberi kita waktu meresapi maknanya (simak, misalnya, percakapan tentang cinta antara Luc dan seorang gadis desa, atau dialog tentang kemartiran antara Christian dan Christophe).

Adegan yang menjadi puncak kelemahlembutan itu adalah adegan anggur dan musik. Para biarawan mengisi gelas dengan anggur, mengangkatnya, mencecapnya. Tersenyum, mulut terbuka, tertawa tanpa suara, tercenung, terdiam, tertegun, bertatapan, mata berkaca-kaca. Sepanjang adegan itu, petilan musik dari balet Swan Lake mengiringi di latar. Sebuah adegan yang sublim. Sampai kemudian... teror itu menggedor pintu biara!

Oya, kekerasan yang kusebutkan tadi kebanyakan hanya disampaikan melalui dialog. Namun, saat kamera benar-benar memotret kekerasan yang terjadi--atau akibatnya--aku mendapatkan kesan, kamera bukan terutama bermaksud mengguncangkan perasaan kita, namun justru mengundang kita untuk memandang peristiwa itu dengan penuh belas kasihan--pada para pelaku! ***

Bagi teman-teman yang berminat menggali lebih jauh tentang film ini, aku merekomendasikan tautan berikut ini:

Ulasan Steven D. Greydanus

Ulasan Jeffrey Overstreet

Artikel Steven D. Greydanus

Artikel Brian Zahnd tentang Christian de Chergé

Saturday, February 7, 2015

Jodhaa Akbar: Ketika Cinta Mewarnai Kehidupan Berbangsa


Jodhaa Akbar (Ashutosh Gowariker, India, 2008)

Bagi yang tengah termehek-mehek pada Jalal namun tidak telaten mengikuti kisahnya hari demi hari di televisi, inilah penggantinya. Bagiku, film ini memupus kejengkelan pada PK.

Oke, kita ngomong PK (2014) sebentar. Film ini melontarkan dua isu, dan kemudian menjawabnya secara cerewet atau malah mengelakkannya sama sekali. Anehnya, pertanyaan itu justru terjawab oleh film lain. Pertanyaan pertama: kesenjangan antara Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan yang kita ciptakan sehingga menimbulkan fenomena satu Tuhan tapi banyak agama. Pertanyaan ini terjawab secara lumayan asyik dalam separuh bagian pertama Life of Pi. Pertanyaan kedua: isu pernikahan beda agama, yang diselesaikan PK melalui keajaiban. Nah, Jodhaa Akbar menjawabnya secara gamblang melalui kisah putri Hindu (Jodhaa) yang dipinang raja Muslim (Jalaluddin Mohammad).

Dan, betapa sebuah jawaban yang gemilang! Kisah abad ke-16 ini tergarap secara elok, menampilkan kecemerlangan film Bollywood papan atas, sekaligus jawaban yang tak gegagah atas pertanyaan genting tadi: pernikahan menjadi sebuah masa pertunangan--dan, ahem, foreplay--panjang menuju penyatuan dua tubuh (upacara pernikahan berlangsung pada menit-menit ke-50, dan kedua pasangan itu baru memadu kasih sebagai suami-istri pada menit-menit ke-170!). Betapa panjang masa-masa pengujian, pengenalan, penjajakan, penghormatan atas perbedaan keyakinan yang mesti mereka lewati sebelum menemukan kecocokan dan keintiman. Belum lagi munculnya kesalahpahaman nyaris fatal, namun kemudian melahirkan penyesalan dan penyelarasan karakter, dan hati yang dimenangkan.

Film ini bisa jadi pilihan untuk merayakan Hari Valentine. Untuk menepiskan gambaran bahwa perayaan hari kasih sayang itu berfokus pada permen cokelat berbonus kondom. Untuk memperlihatkan bahwa kasih sayang nyatanya bisa menyentuh ranah-ranah kehidupan yang luas.

Dalam Jodhaa Akbar, kasih sayang itu menyentuh dan mewarnai kebijakan berbangsa dan bernegara. Bagi pejabat yang suka blusukan, ada contoh yang relevan di sini. Bukan blusukan dengan dibuntuti media, melainkan dengan menyamar sehingga sanggup menangkap denyut jantung dan suara hati rakyat yang sesungguhnya, dan, yang terutama, pada akhirnya melahirkan keputusan politik yang menjunjung kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, Jodhaa Akbar adalah kisah sepanjang tiga setengah jam yang amat memikat. Kisah percintaan berpadu dengan peperangan dan intrik keluarga kerajaan dan, seperti kebiasaan Bollywood, dibumbui dengan tarian dan nyanyian. Ah, desain produksinya bikin ternganga-nganga. Kalau film Indonesia berbiaya 25 miliar saja tersengal-sengal untuk menampilkan kesan kolosal, film ini secara leluasa memanjakan penonton dengan tata warna, komposisi gambar, dan koreografi yang memukau. Lihat saja tarian darwis saat pernikahan dan pesta rakyat setelah Jalal mengumumkan pembebasan pajak itu! Adegan-adegan perangnya dahsyat. Dan, ada satu adegan yang belum pernah kujumpai di film lain: penjinakan gajah liar. Ya, film ini sukses menjinakkan isu yang "liar" dengan elegan. ***

Tuesday, January 20, 2015

10 Mitos tentang Roh Kudus

Salah satu tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa orang percaya tidak betul-betul memahami apa yang terjadi di kayu salib adalah ia takut akan Roh Kudus dan karya-Nya. Ia memandang Roh Kudus sebagai Penginsaf Dosa dan Polisi meskipun Yesus menyebut Dia Penghibur dan Penolong. Cara pandang mereka terbentuk oleh tradisi perjanjian lama, bukan oleh kebenaran perjanjian baru.

Berikut ini 10 mitos tentang Pribadi Roh Kudus.

Mitos 1: Roh Kudus mencatat dosa-dosa saya.
Kebenaran 1:  Roh Kudus tidak lagi mengingat-ingat dosa kita (Ibr. 10:17).
Roh Kudus bukannya pelupa, tetapi kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang. Di kayu salib, keadilan sudah ditegakkan dan semua dosa kita sudah diampuni (Kol. 2:13). Mengampuni secara harfiah berarti menyuruh pergi. Dosa Anda telah dibuang sejauh timur dari barat (Mzm. 103:12). Allah telah memperdamaikan dunia dengan dirinya dan tidak lagi memperhitungkan pelanggaran mereka (2 Kor. 5:19). Dalam perjanjian lama, orang diingatkan akan dosanya (Ibr. 10:3); dalam perjanjian baru, dosa tidak lagi diingat-ingat (Ibr. 8:12).

Mitos 2: Roh Kudus menginsyafkan saya akan dosa saya.
Kebenaran 2: Roh Kudus menginsyafkan kita akan kebenaran kita (Yoh. 16:10).
Bagaimana mungkin Dia menginsyafkan Anda akan sesuatu yang secara sengaja justru telah Dia lupakan? Yesus telah menghapuskan dosa dengan mengurbankan diri-Nya (Ibr. 9:26). Dosa Anda bukan lagi masalah. Pertanyaan utamanya, apakah Anda yakin akan anugerah Allah. Sebagai ungkapan kasih dan rahmat-Nya, Roh Kudus menginsyafkan dunia akan dosa ketidakpercayaan pada Yesus. Namun, Dia “menginsyafkan” atau lebih tepat, menyakinkan, orang percaya akan kebenaran mereka (Yoh. 16:8-10).

Mitos 3: Roh Kudus memimpin saya untuk mengakui dosa saya.
Kebenaran 3: Roh Kudus memimpin kita untuk mengakui bahwa Yesus itu Tuhan (1 Kor. 12:3)!
Roh Kudus tidak akan pernah mengalihkan perhatian kita dari Yesus. Pelayanan-Nya selalu menjadikan kita sadar-akan-Yesus, bukannya sadar-akan-diri-sendiri (Yoh. 16:14). Secara khusus, Roh Kudus akan memimpin kita untuk mengenali Yesus sebagai Tuhan, yang berarti segala sesuatu milik kita—termasuk masalah dan dosa kita—menjadi milik-Nya. Kita tidak lagi berhak atas dosa-dosa kita. Semua itu bukan lagi milik kita karena Dia sudah menebus dosa kita dengan darah-Nya. Masih juga berpikir tentang dosa? Pandanglah diri kita sudah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm. 6:11).

Mitos 4: Roh Kudus mengawasi kalau-kalau saya tergelincir dan gagal menyelesaikan pertandingan iman.
Kebenaran 4: Roh Kudus secara pribadi menjadi keselamatan dan pusaka rohani kita (Ef. 1:13-14).
Ketika kita diselamatkan, kita ditandai sebagai milik kepunyaan Allah (2 Kor. 1:22) dan dimeteraikan dengan Roh Kudus menjelang hari penebusan (Ef. 4:30). Roh Kudus tidak mencari-cari kesalahan kita, melainkan membangkitkan pengharapan (Rm. 15:13). Pengharapan yang ada pada-Nya itu sauh yang aman dan teguh bagi jiwa kita (Ibr. 6:19). Apa bagian yang harus kita lakukan? Percaya kepada-Nya!

Mitos 5: Roh Kudus menyatakan penghukuman Allah.
Kebenaran 5: Roh Kudus menyatakan kasih Allah (Rm. 5:5).
“... kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm. 5:5). “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yoh. 4:18). Jika Anda takut akan penghukuman Allah, izinkan saya memperkenalkan diri Anda pada Roh Kudus.

Mitos 6: Roh Kudus menggugah kita untuk takut kepada Allah yang kudus dan jauh dari kita.
Kebenaran 6: Roh Kudus membantu kita mengenal dan mendekat kepada Allah, Bapa kita (Ef. 1:17, Gal. 4:6). “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Rm. 8:15). Wow! Amat sangat baik, bukan?!

Mitos 7: Roh Kudus hidup entah di mana di luar sana, mungkin di balik rasi bintang Alpha Centauri.
Kebenaran 7: Roh Kudus tinggal di dalam diri kita (1 Kor. 6:19; 2 Tim. 1:14, Rm. 8:11).
Dalam perjanjian lama, Allah tinggal di dalam bait-Nya. Di dalam perjanjian baru, kita adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19). Di mana Dia tinggal? Di dalam diri Anda dan saya! Seperti dikatakan Ralph Harris, Anda adalah “bait yang sakral dan dapat bergerak tempat Allah berdiam”.

Mitos 8: Roh Kudus datang dan pergi. Kita perlu berseru-seru agar Dia datang.
Kebenaran 8: Roh Kudus tinggal, berdiam, menyertai kita dan ada di dalam diri kita (Yoh. 14:17, 1 Yoh. 3:24, Rm. 8:11).
Di perjanjian lama, Roh Kudus hinggap pada orang tertentu selama waktu tertentu. Namun dalam perjanjian baru Dia tinggal bersama dengan kita dan berdiam di dalam diri kita (2 Tim. 1:14). Jika Anda sudah menerima Roh Kudus, tetaplah bersukacita, karena Dia tidak beralih ke mana-mana. Dia berjanji tidak pernah meninggalkan kita atau membiarkan kita seorang diri (Ibr. 13:5).

Mitos 9: Roh Kudus itu sulit “didapatlan”.
Kebenaran 9: Roh Kudus adalah Pemberian, diutus oleh Yesus dan dikaruniakan secara cuma-cuma oleh Bapa (Yoh. 16:7, Luk. 11:13, Kis. 10:45).
Menurut Galatia 3:14, Yesus menebus kita agar kita menerima berkat yang dijanjikan kepada Abraham, yaitu janji akan Roh Kudus. Apakah Anda percaya bahwa Yesus sudah menebus Anda? Berarti Anda berhak menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu. Siapa yang tidak berhak menerima Dia? Dunia yang belum diselematkan, “sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yoh. 14:17). Perhatikan perkataan Petrus kepada orang-orang yang mendengarkan Injil pada hari Pentakosta: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis. 2:38). Roh Kudus tidak membatasi diri-Nya untuk orang-orang pilihan tertentu. Percayalah kepada Yesus dan Anda pasti, pasti, pasti menerima Pemberian yang dijanjikan itu! Percayailah itu!

Mitos 10: Untuk menerima Roh Kudus Anda harus berpuasa, berdoa, mengikuti kelas pengajaran, memperbaiki kelakukan, hidup kudus...
Kebenaran 10: Roh Kudus diterima dengan iman (Gal. 3:14).
Apakah Anda berpuasa dan berdoa untuk menerima Yesus? Rasanya tidak. Anda menerima Dia dengan iman. Persis seperti itu jugalah Anda menerima Roh Kudus. Bagaimana kita menerima Roh Kudus yang dijanjikan? Dengan iman! (Gal. 3:14)! “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk. 11:13). Di sini Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang yang meminta. Jangan dengarkan orang yang mengatakan bahwa Anda harus melakukan hal-hal tertentu terlebih dahulu untuk memperoleh apa yang dikaruniakan Allah secara cuma-cuma. Yesus sudah melakukan semuanya itu. “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 16:24). *** (Paul Ellis)