Sunday, June 16, 2013

Naskah Buruk Ini seperti Kasut Tuhan Yesus

Ketika pertama kali membuka berkas naskah itu, saya nyaris memaki.

Ini seperti kelakuan banyak penulis dalam taraf yang lebih parah, pikir saya. Naskah masih bopeng-bopeng sudah dikirim ke penerbit (dalam kasus ini: panitia ulang tahun sebuah gereja, yang meminta warga untuk menuliskan kesan mereka tentang gereja tersebut). Entah terlalu pe-de entah terlalu menyepelekan kerja penulisan ulang, sulit dibedakan. Pikir mereka, biar nanti editor saja yang memperbaikinya. Namun, bisa jadi nanti mereka mencak-mencak ketika, setelah naskah terbit, mereka pangling pada tulisan sendiri yang sudah dipermak habis oleh editor. Beuh!

Dan, secara penampilan saja, naskah ini sungguh mengerikan.

Bayangkan! Seluruh tulisan tercetak dalam huruf tebal. Tulisan sepanjang satu seperempat halaman itu hanya terdiri atas judul, satu paragraf panjang, dan nama penulis. Kalimat-kalimatnya banyak yang rancu dan melingkar-lingkar. Lalu, salah ketiknya... minta ampun! Coba, muncul kata-kata yartu, sukatela, penyampalan, seialu, mentap, tina2, memneri, dan sederet makhluk lain yang belum sempat dimasukkan ke dalam kamus. Sebagian, dengan memperhatikan konteksnya, cukup mudah ditebak kata yang dimaksudkan. Yang lain mesti diterka dengan mengerutkan kening. Tina2, misalnya, perlu beberapa waktu bagi saya untuk mengungkapkan misterinya. Ternyata oh ternyata: tiba-tiba!

Seandainya si penulis ada di depan hidung saya, bakal saya bentak dan saya suruh dia mengetik ulang naskah tersebut. Enak betul menyuruh orang memoles naskah acakadut begitu! Sayangnya, saya menerima naskah itu dari panitia penerbitan buku ulang tahun jemaat yang dikejar-kejar tenggat waktu. Mau tidak mau saya ketiban sampur untuk merias si itik buruk rupa itu sampai--semoga--menjadi angsa nan elok rupawan.

Saya menghela napas. Mengumpulkan kesabaran. Memikirkan siasat. Semoga tongkat sihir penyuntingan saya masih berfungsi dengan baik.

Langkah pertama yang paling mudah tampaknya adalah memecah dulu paragraf panjang itu menjadi paragraf-paragraf pendek. Saya baca naskah itu. Setiap kali saya memperkirakan si penulis beralih topik, saya mengetuk tombol enter, membentuk paragraf baru.

Paragraf satu...

Paragraf dua...

Paragraf tiga...

Paragraf delapan... hei, apa ini?

Penulis bercerita bahwa suatu saat ia mengalami gangguan penglihatan. Akibatnya, mata kanannya tidak berfungsi lagi. Mata kirinya, menurut perkiraan dokter, dengan ia mengenakan kacamata, paling-paling hanya sanggup melihat sejauh dua meter. Syukurlah, oleh kemurahan Tuhan, ia masih dapat melihat dengan cukup baik dari jarak lebih dari dua meter.

Oh.

Hati saya mencelos.

Ternyata.

Inilah penyebabnya.

Kenapa naskah ini penampilan awalnya begitu elok.

Bayangan itu tiba-tiba menyergap benak saya. Saya membayangkan si penulis berkonsentrasi penuh di depan komputernya. Saya membayangkan ia bersikeras menolak dibantu orang lain. Saya membayangkan ia telanjur menekan tombol bold, dan tidak tahu—atau tidak berhasil menemukan—tombol untuk mematikannya. Saya membayangkan ia nunak-nunuk mengetuk tuts demi tuts, dan kerap kepleset menutul tombol sebelahnya. Saya membayangkan....

Gumpalan kedongkolan di hati saya sudah kocar-kacir ke segala penjuru angin.

Yang terpampang di layar komputer saya ini curahan hati seseorang yang enggan ditelikung keadaan. Sesulit apa pun kondisinya, ia tak mau dihentikan. Ia hendak mengungkapkan rasa syukur atas rahmat Tuhan dan atas dukungan komunitas gerejanya. Ia mau berkarya. Ia rindu terus melayani. Ia...

Seandainya si penulis ada di depan mata saya, bakal saya peluk dia. Erat-erat.

Saya jadi merasa seperti Yohanes Pembaptis disuruh melepaskan kasut Tuhan Yesus. ***

Wednesday, April 24, 2013

Mendebarkan... dan Keren!

MISTERI PERAWAN KUBUR (Abdullah Harahap, Paradoks, 2010, 318 h.)

Waktu remaja dulu, aku enggan menyentuh novel-novel Abdullah Harahap (AH). Selain rada ngeri dengan genre horor yang ia usung, kemasan novelnya juga memberi kesan kacangan, sekadar mencari sensasi, plus konon bertabur bumbu adegan seks yang aduhai.

Namun, saat beberapa novel AH diterbitkan ulang oleh Paradoks, yang merupakan imprint Gramedia Pustaka Utama, dan disunting oleh Eka Kurniawan, aku jadi tergelitik. Dan, baru pagi ini aku menyelesaikan salah satunya: Misteri Perawan Kubur (MPK).

Nyatanya, aku salah besar. Horor? Memang iya. Bumbu seks? Ada, wong memang labelnya 'novel dewasa'. Namun, sungguh keliru kalau mengira AH membesutnya secara asal-asalnya. Sebaliknya, cerita mencekam ini justru tersaji secara amat elok dan elegan. (Ehem, keterampilan menulisnya jelas menang kelas dari AH yang satunya lagi itu.)

Bab "Satu" langsung merenggut kita ke alam misteri: pembinasaan atas seorang perempuan pendendam yang menjadi sumber bencana di sebuah desa di kaki Gunung Galunggung. Ini bab bisa dianggap sebagai sebuah cerpen tersendiri, utuh, dengan plot terbuka, membekaskan aura horor yang amat kuat.

Bab itu memang dimaksudkan sebagai bab akhir cerbung yang digarap tokoh kita, Ramandita, wartawan di Jakarta. Editornya tidak puas dengan ending yang menggantung itu, namun Ramandita keras kepala. Yang tidak dia duga, perempuan yang mati dalam kisah fiksinya itu melahirkan anak gadis, yang kemudian bangkit dari kubur, lalu mendatanginya untuk meminta pertolongan. Awalnya, Ramandita menganggapnya gadis murahan biasa... sampai si gadis, yang kemudian dikenal sebagai si Nona, ini menebar teror menggiriskan.

MPK membelitkan genre horor dengan genre detektif plus sedikit sentuhan fiksi ilmiah menjelang akhir kisah. AH menuturkannya dengan telaten, termasuk mengajak kita menelusuri gerak pikir dan gelombang perasaan para tokohnya, berkelindan dengan alur misteri yang mendebarkan. Sampai akhirnya kita disuguhi klimaks yang surealis: menulis sebagai sebuah upaya pengusiran roh jahat. Lalu, kisah ditutup dengan pelintiran plot yang menyentak.

Baru kutahu kisah horor karya penulis Indonesia bisa sekeren ini.

24.04.2013

Tuesday, April 23, 2013

Rembulan Purnama

siapakah yang menggonggong saat purnama?
rembulan?
dan serigala hanya memantulkannya
kepada sabana yang sunyi

jogja, 2013

Monday, April 15, 2013

The Power of Tanggap Ing Sasmita



FINDING SRIMULAT (Charles Ghozali, Indonesia, 2013)

Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha! Sumprit! Ini film gilak! Sudah lama aku tidak tertawa--dan menangis!--seperti ini di bioskop! Kereeeeen!

"Finding Srimulat" bukan film yang mengandalkan jelujuran cerita yang sebab-musababnya rapi jali. Dengan bangunan cerita yang sederhana (Adi, seorang pemuda penggemar Srimulat, mengajak kelompok ini untuk manggung lagi), dan malah ada yang menyebutnya wagu, toh kita dibawa berayun-ayun dari nyengir, tertawa, dan, ganjilnya, menangis juga. Ini sebuah film yang mengajak kita mengenal lebih dekat Srimulat, kelompok lawak legenderis negeri ini. Selain memberi kita kesempatan ikut-ikutan nonton Srimulat di balik dan di atas panggung, ada juga adegan musikal "Lenggang Puspita" di Stasiun Balapan yang jika di-YouTube-kan bisa-bisa menggilas Gangnam Style!

Ya, entah kenapa, di tengah berbagai adegan yang mengundang tawa itu, seperti ada tangis di arus bawahnya. Bukan tangis meratap memelas. Lebih tepatnya, tangis haru. Haru menyaksikan kegigihan dalam mengarungi nasib yang tidak selalu ramah. Kisah Gogon paling mewakili hal ini. Sebelum dia ngomong, baru melihat jambulnya, kita sudah ketawa. Ya, kita tertawa, namun kemudian kita disodori kegetiran hidup keluarga satu ini. Gogon dan Susi, istrinya, sering bertengkar akibat kesulitan ekonomi. Pertengkaran yang malah membuat kita, lagi-lagi, ketawa. Lalu Gogon ketemu dua pengemis. Mereka bisa mengumpulkan 300-400 ribu per hari, sedangkan Gogon hanya mendapatkan 120 ribu seminggu. "Aku pelawak, bukan pengemis!" katanya. Lalu Gogon ketemu dengan Mamiek, Tessy, dan Adi (Reza Rahadian) yang menjemputnya untuk mewujudkan rencana manggung lagi. Lalu anak Gogon menyusul, meminta oleh-oleh kalau bapaknya pulang nanti. Dan, kita terharu saat Gogon memeluk anaknya, sengguk-sengguk berharap rencana kali ini sukses.

Impian Gogon--juga impian Srimulat--lalu jadi wakil impian rakyat negeri ini. Rakyat yang tulus dan tangguh. Rakyat yang rindu untuk meraih sukses, namun dengan jalan yang bener dan pener. Ketika kesulitan merintang, tidak lalu menempuh jalan pintas. Ketika ada tawaran menggiurkan, tidak lantas kemaruk merenggutnya.

Aku biasanya sebel dengan ceramah kesuksesan ala motivator mengawang-awang itu. Namun, cerita sukses ala Srimulat ini entah kenapa terasa dekat, membumi, menohok. Ia tidak berbicara soal "Asal kamu bisa memimpikannya, kamu pasti bisa meraihnya!" Ia tidak berbicara tentang perjuangan yang individualistis dan egois. Sebaliknya, sukses diraih lewat gotong royong, lewat keguyuban sebuah keluarga besar yang bersedia bahu-membahu, ringan sama dijinjing berat sama dipikul.

Dalam konteks ini, solusi atas masalah pentas Srimulat di Jakarta itu, menurutku, sangat cemerlang. Mungkin ada yang akan menyebutnya penyelesaian yang gampangan atau mendadak dangdut. Menurutku, tidak. Ini bukan penyelesaian yang tiba-tiba saja jatuh dari langit. Sebaliknya, ini penyelesaian yang sangat nJawani. Ini penyelesaian yang berangkat dari kepekaan batin, yang terbit dari keeratan tali kekeluargaan tadi. Penyelesaian yang lahir karena "tanggap ing sasmita".

Jelasnya, saat di Solo, tampaknya sebagian anggota Srimulat, khususnya Djujuk, sudah menangkap gelagat adanya sesuatu yang tidak beres dalam diri Adi. Itu terwakili oleh celetukan Mamiek. Lalu, saat ngobrol dengan Djujuk, Adi tidak menjawab telepon dari istrinya, dan Djujuk menebaknya dengan tepat. Maka, saat Djujuk mengiyakan ajakan Adi untuk pentas di Jakarta, tampaknya ia tidak pasrah bongkokan begitu saja, melainkan sudah pasang kuda-kuda, siap-siap menghadapi kemungkinan buruk. Karena itu, ketika kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi, ia sudah siap menawarkan jalan keluar. Itulah "the power of tanggap ing sasmita".

Maka, adegan puncak yang mirip-mirip dengan Moulin Rouge itu (hahahaha!) sungguh ngakak dan menyegarkan.

Jadi, setengah seperempat bintang untuk film yang berpesan moral "Hidup itu cuma mampir cengengesan" ini! ***

15.04.2013


Tuesday, February 19, 2013

Surat Tirza untuk Ibu, tentang Hamster Kesayangannya

Jumat (15/2), kami sekeeluarga mengantar Tirza (10 tahun) mengikuti lomba menulis surat, mengungkapkan rasa sayang pada orangtua, di Wowfest 2013, Yogyakarta. Kukatakan padanya, yang penting bukan mencari kemenangan, melainkan mengasah dan mempertajam kecakapan menulisnya. Ia hanya perlu bertanding dengan dirinya sendiri, memperbaiki dan meningkatkan kualitas kinerjanya. Kemenangan itu bonus. Ia tampak bersemangat. Di luar lomba menulis, kami menikmati beberapa acara lain di ajang itu.  Saat pengumuman pemenang pada Minggu (17/2) malam, syukurlah, Tirza menjadi juara 2. Berikut ini suratnya:



Ibu tersayang,
Ibu sudah baik sekali, memberikan seekor hamster kecil yang lucu. Imut lagi.
Karena Ibu sudah berbaik hati sekali, memberikan seekor hamster kecil yang lucu, karena aku sudah lama menginginkan seekor atau dua ekor hamster kecil yang lucu, aku mau menjaga hamster-hamster itu. Karena mereka mahal dan perawatannya susah, aku akan berusaha untuk menjaga mereka sebaik mungkin.
Aku mau merawat hamster-hamster itu, karena aku mau membalas kebaikan ibu. Ibu sudah baik sekali mau memberikan hamster, padahal aku alergi bulu hewan. Sudah lama sekali aku menginginkan hewan itu sejak pertama kali melihatnya. Ibu sudah berjerih payah untuk membelikan hamster-hamster untukku. Tapi walaupun kandangnya tidak terlalu bagus, dan peralatannya juga, aku sudah puas. Ibu sangat, sangat baik memberikan seekor hamster.
Sekian dulu, Bu. Aku sudah senang Ibu membelikannya.
Salam sayang,
Ruth Tirza A.

Tuesday, February 5, 2013

Kemiskinan, Hukum, dan Anugerah dalam Les Misérables


Istriku, meski sudah kubujuk-bujuk, tidak mau menonton film ini. Kenapa? "Sedih pasti."

Dan, benar, ini film sedih. Dan mengerang dengan penuh kepedihan. Alih-alih dialog, film ini mempersilakan para aktor menyanyikan isi hatinya dengan sepenuh perasaan. Lirik lagunya berupa bait-bait puisi yang mencoba menyarikan pesan novel adiluhung Victor Hugo yang menjadi sumbernya. Alih-alih bentangan lanskap dan adegan-adegan kolosal, film ini memilih lebih banyak menampilkan close up demi close up pemainnya, yang membuat penonton ikut merasakan deru napas mereka. Menyesakkan dada.

"Les Misérables" garapan Tom Hooper (Inggris, 2012) ini sukses dalam dua level: sebagai komentar sosial dan sebagai tamsil rohani.

Sebagai komentar sosial, ia menggambarkan bahwa "Selama masih ada pengutukan sosial, dengan alasan hukum dan adat, yang saat berhadapan dengan peradaban secara artifisial menciptakan neraka di mua bumi dan merumitkan takdir ilahiah dengan ketidakabadian manusia; selama tiga masalah zaman kita tak terpecahkan--degradasi manusia karena kemiskinan, kehancuran perempuan karena kelaparan, dan pengerdilan masa kanak-kanak karena kegelapan fisik dan spiritual; selama ketercekikan sosial masih mungkin terjadi di daerah-daerah tertentu, selama ketakpedulian dan penderitaan tetap bercokol di muka bumi, [film] semacam ini masih selalu ada gunanya."*

Di neraka itu kita menyaksikan Jean Valjean--si jelata yang mencuri sekerat roti untuk membunuh rasa lapar anak saudarinya, dan dipenjarakan sebagai budak kapal selama 20 tahun, dan dilepaskan dengan masa percobaan yang menjadikannya sampah masyarakat, tak memberinya kesempatan untuk memperbaiki nasib. (Halo, Mbak Anggie dan Bu Hartati?) Dan, ketika ia melanggar masa percobaan itu, hukum gigih menguntitnya sampai tubir kematian.

Di neraka itu kita menyimak nyanyian ironis Javert. Ia berdendang bahwa cara untuk menyenangkan hati Tuhan adalah bekerja dengan jujur dan memberi upah secara adil, padahal ia justru mengabdi pada rezim yang membikin "neraka di muka bumi" yang menindas kesempatan untuk bekerja secara jujur dan memperoleh upah secara adil.

Lalu, kita menyaksikan sosok-sosok yang tercekik oleh pengutukan sosial yang keji itu. Fantine, buruh pabrik yang oleh kawan-kawannya sendiri dijerumuskan ke dalam pelacuran. Cosette, bocah manis yang diperbudak oleh sepasang suami-istri pemeras.

Lalu, di jalanan Paris yang kumuh dan bergolak, kita berjumpa dengan para pelengkap penderita lainnya. Gavroche, bocah jalanan yang patriotik. Enjolras, wakil kaum muda yang menyala dengan visi akan masyarakat yang lebih baik. Éponine, permata cemerlang yang tersembul dari tumpukan sampah. Mereka tergilas sebagai tumbal revolusi. Mereka mati. Mati. Mati. Mati. Untuk memperjuangkan mimpi yang tak mereka nikmati. Atau, baru mereka nikmati di dunia lain. Itu bukan utopia. Menurut iman kristiani yang melumuri kisah ini, itu surga. Dan selanjutnya, di pundak orang-orang seperti Marius dan Cosette, yang mereguk cinta setelah revolusi mereda, terpikul tugas untuk menghadirkan surga itu di bumi.

Dalam sosok-sosok itulah, kita menyaksikan kepahlawanan yang mengharukan. "Banyak tindakan hebat telah dilakukan di dalam perjuangan-perjuangan kecil kehidupan. Ada keberanian yang kukuh meskipun tak terlihat, untuk mempertahankan diri dalam kegelapan melawan serbuan kemiskinan dan kebejatan moral. Inilah kemuliaan dan kemenangan batin yang tidak terlihat oleh siapa pun, tidak berbalas kemasyhuran, tidak ada lambaian tangan penghormatan atas kemenangan. Kehidupan, kemalangan, keterasingan, penolakan, kemiskinan, adalah medan perang yang memiliki pahlawan-pahlawan tersendiri. Para pahlawan yang tak dikenal ini kadang justru lebih hebat daripada para pahlawan yang termasyhur."*

***

Sebagai tamsil rohani (yang tetap berkelindan erat dengan isu-isu sosial), ia menggambarkan pergulatan sengit antara hukum dan anugerah. Javert mewakili hukum dan budak hukum; Uskup Digne dan Valjean mewakili wajah anugerah.

Hukum mereduksi manusia menjadi angka. Hukum memvonis: sekali narapidana senantiasa narapidana. Perubahan hidup dan pengakuan bersalah pun tak mampu melunakkan tuntutan hukum. Hukum begitu haus akan keadilan sampai, jika perlu, ia mencekik kehidupan. Dan, sebagai budak hukum, Javert tidak bisa tidur tenang sebelum tuntutan hukum dipuaskan. 

Anugerah membukakan pintu penginapan ketika kamu kedingingan di luar (gambaran anugerah sebagai rumah perlindungan ini juga muncul dalam adegan di biara). Anugerah adalah api pediangan yang menghangatkan. Anugerah adalah roti yang menguatkan. Anugerah adalah ranjang tempat rehat dari penderitaan dan pelanggaran. Anugerah menyapamu sebagai "saudara". Ketika disalahgunakan, anugerah mengampunimu bahkan sebelum kamu meminta ampun. Dan, memberi kepadamu secara berlimpah-limpah bahkan ketika kamu kedapatan mencuri. "Di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah."

Valejan, anak yang dilahirkan kembali oleh anugerah, berubah dan mendatangkan perubahan. Ia memberikan hidup pada Kota Montreuil-sur-Mer, pada Fantine, pada orang malang yang secara keliru dituduh sebagai Valjean, pada Cosette, pada Marius... dan pada Javert! Pada yang terakhir, pada si budak hukum ini, anugerah malah membuatnya disorientasi. Limbung kehilangan kompas. Ia tak siap menerima pengampunan dan pembebasan tanpa syarat. Ia tak bisa. Ia malu. Merasa ditelanjangi. Dan ia memilih lebih baik terjun dari tubir jembatan, meluncur ke air deras nun di bawah sana.

Pertarungan antara hukum dan anugerah tergelar mencekam dalam kasus Fantine, dalam sebuah peristiwa yang nyaris memutarbalikkan Yohanes 8. Dalam perjumpaan dengan si pezinah, Yesus memilih untuk melepaskan orang yang bersalah dan memberinya kesempatan hidup baru. Javert nyaris menjebloskan ke dalam penjara orang yang tak berdaya seandainya Valjean tak turun tangan. Begitulah. Hukum menyerobot sumber pendapatanmu, mencukur rambutmu, mencabut gigimu, dan menggagahi selangkanganmu. Anugerah memelukmu, merawatmu, memberimu tempat tidur agar kamu bisa mati secara bermartabat--sebagai manusia. ***

04.02.2012

P.S. Film ini bagus dan populer, namun menurutku belum mencapai taraf "klasik". Dan, ia akan merebut simpati para voter Oscar. Film ini bakal menang, mengulang peristiwa saat "Oliver!" (juga film musikal, dan diangkat dari novel terkenal juga, "Oliver Twist" karya Charles Dickens) mendepak "2001: A Space Odyssey", yang nantinya malah jadi film klasik. 

*: Kutipan novel dari Victor Hugo, Les Misérables, a.b. Anton Kurnia (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2006).

Thursday, January 24, 2013

Bencana Tsunami Menggulung Emosi


Belum sampai setengah jam, mataku sudah memanas menyaksikan Maria dan anak sulungnya, Lucas, berpanggil-panggilan saat melihat satu sama lain tersapu arus deras tsunami yang menggulung mereka kian menjauh dari pantai. Di satu titik ketika arus agak mereda, barulah mereka berhasil saling menggapai, berpelukan, tak mau lagi kehilangan satu sama lain. Namun, mereka tak menemukan Henry, suami dan ayah tercinta, serta dua adik Lucas, Thomas dan Simon.

Maria luka parah di bagian dada dan kaki, sedangkan Lucas hanya tergores ringan di sana-sini. Ketika keduanya hendak menyelamatkan diri dengan memanjat sebuah pohon tinggi besar, mereka mendengar suara seorang anak kecil meminta tolong. Maria bersiap mencarinya, namun Lucas mencegahnya karena menganggap hal itu terlalu berisiko.

"Bagaimana seandainya anak itu Thomas atau Simon?" kata Maria.

"Thomas dan Simon sudah mati!" kata Lucas.

Maria mendekap Lucas. "Sekalipun begitu, kita akan berusaha menolong semampu kita."

The Impossibe (J.A. Bayona, Spanyol, 2012) menjadi film yang sangat kuat dan mencekam dengan berfokus pada kisah sebuah keluarga. Keluarga Bennet tengah menikmati liburan akhir tahun 2004 di resor elok di Khao Lak, Thailand, ketika tsunami dahsyat memporak-porandakan segalanya. Kegembiraan keluarga itu menjadi kisah pencarian satu sama lain dalam sebuah drama yang menyayat hati.

Tim desain produksi dengan cermat menghidupkan kembali terpaan tsunami yang meluluhlantakkan wilayah yang diterjangnya, kerusakan yang terjadi sesudahnya, serta suasana rumah sakit dan posko pengungsian yang hiruk-pikuk dan pedih. Penonton serasa dicemplungkan langsung ke dalam peristiwa itu dan mengalaminya melalui sudut pandang orang pertama. Menggetarkan.

Penampilan Naomi Watts sebagai Maria dan Tom Holland sebagai Lucas amat menawan (untuk syuting adegan air selama lima minggu, mereka harus terus-menerus kungkum di tangki besar). Ewan McGregor sukses mewakili kegalauan Henry. Pemeran Thomas dan Simon, meskipun hanya sebentar tersorot kamera, juga bersinar.

Film ini berhasil menahan diri dalam dialognya: irit, ringkas, padat--tanpa tergelincir berceloteh filosofis atau nyinyir menjejalkan petuah keagamaan. Dalam konteks sebuah musibah yang masif, keiritan dialog itu jadi meninggalkan gema yang ngungun dan panjang. Panggilan bersahut-sahutan antara "Ibu!" dan "Lucas!" dalam adegan awal itu, misalnya, mengandung muatan emosi yang cukup untuk mencabik-cabik hati.

Krisis dapat mencuatkan kekerdilan jiwa, namun mampu pula membangkitkan keluhuran budi. The Impossible, film yang diangkat dari kisah nyata ini, memilih menyoroti sisi-sisi yang bersinar itu. Dan, bukan melalui tindakan kepahlawanan yang hebat-hebat, namun melalui adegan-adegan kecil yang menyentuh hati.

Ketika Maria, Lucas, dan Daniel, anak kecil yang mereka tolong, berada di atas pohon, Daniel menepuk-nepuk kepala Maria, lalu mengelus-elus tangannya.

Ketika mereka ditolong penduduk setempat, kamera berganti-ganti menyoroti close up wajah Maria yang setengah sadar dan wajah kakek penolong yang berkomat-kamit dalam bahasa lokal. Aku jadi teringat perkataan seseorang bahwa dalam wajah sesama, kita dapat menemukan wajah Allah.

Di rumah sakit, sementara dirinya terbaring lemah di ranjang, Maria menyuruh Lucas melakukan apa saja untuk menolong penyintas lain. Apa yang Lukas lakukan? Membantu menemukan sanak kerabat yang terpisah. Dari nama-nama yang diberikan kepada Lucas, sekilas kita menangkap betapa bencana ini bukan menimpa si putih atau si cokelat, melainkan menerpa umat manusia (identitas keluarga Bennet pun disamarkan). Menyaksikan Lucas bergerak gesit di tengah suasana serbadarurat itu, aku berbisik dalam hati, "Lucas is my little hero."

Henry, di tempat lain, mencoba meminjam telepon genggam untuk menghubungi ayahnya di rumah. Pemilik telepon, dengan alasan baterenya sudah mau habis dan masih banyak keperluan mendesak, menolak membantu. Nantinya ada penyintas lain yang, setelah mendengar kisah Henry, tanpa diminta menyerahkan telepon genggamnya. Saat menelepon, ucapan terbata-bata Henry meledak jadi lolongan kepedihan.

Ada pula kata-kata sederhana untuk mengatasi ketakutan menjelang tidur--"Pejamkanlah matamu dan pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan"--diucapkan oleh tiga tokoh dengan nuansa makna yang berbeda.

Sebuah drama keluarga di tengah bencana, film ini sungguh menggulung emosi. ***