Skip to main content

Posts

Featured

Jantera Musim

nasi brongkos pojok alun-alun, sesederhana itu: menjaga kangen. kepasrahan pada persimpangan jalan, memandangi nasib, mengalir dari siti hinggil sampai panggung krapyak, sampai segara kidul. kelelakian, sebagai bagiannya, adalah wacana untuk berjalan di atas kegelisahan lidah-lidah gelombang, dan tak kulihat wajahmu. angin menghamburkan kartu nama, serpih-serpih daun beringin, sobekan koran berita, bursa dan karcis kereta. kelas dua: album-album yang gaduh–setiap kali ketakutan, carilah wajahku. kelas satu: berpautlah, aku di perahumu, tak perlu lagi kau takut. pada kiriman kartu pos ulang tahun tertulis: sepasang gajah jadi tontonan, belalainya saling memagut.
kubaca kembali, seberangkat dari tugu, refreinmu yang lembut:  "o, let me live in the glory of your grace"*  tidak juga melenyap, di gereja itu, membekas di daun musim yang lunak.
sekaten belum lewat, udara masih dingin dan garing. bertuntunan di vredeburg ditatapi grafis-grafis, lukisan, patung, jejak kaki, celoteh …

Latest Posts

Karl Barth: Membubuhkan Tanda Tanya Terhadap Kebenaran

Petualangan Edan Kapten Jack

Ayam Panggang Laura dan Sepatu Bally Bung Hatta

DPS: Guidance

Kaus Kaki Wol

Taurat vs Anugerah

Kairos

Ravi Zacharias: Berjuang di Arena Apologetika

Simbol yang Bingung

Orang Kaya di Kolam Renang

Pengakuan Seorang Youtuber Kurang Niat

Pakai Otak

Apakah Kita Mendengarkan Injil?

Tiba di Persimpangan yang Bernama Kota: Jakarta