Sunday, March 1, 2015

Film yang Lemah Lembut


 Of Gods and Men (Xavier Beauvois, Prancis, 2010)

Ada film-film berlabel "Kristen" yang justru membuatku jengah. Film-film dengan kualitas produksi buruk, plot bolong-bolong, akting dan dialognya kaku--namun, karena dianggap menyampaikan cerita atau pesan Alkitabiah, lantas diarak dan dielu-elukan gereja dan orang Kristen sebagai film "wajib tonton". Film-film itu membuatku berjengit, memperlakukan iman secara gampangan--kalau tidak seperti para motivator ya seperti tukang sulap. Aku akan malu kalau sampai temanku yang non-Kristen menontonnya, dan memandangnya sebagai perwakilan iman kristiani. Dan, jujur, aku meringis senang kalau film semacam itu terkapar di box office. (Enggak usah menyebut judul ya. Kalian tahulah model film yang kubicarakan ini.)

Lalu, sesekali muncul film yang sebenarnya tidak bersikeras melabeli dirinya sebagai "film Kristen", namun malah menampilkan iman kristiani secara elok dan cemerlang. Film yang kualitas produksinya kuat, plot, akting, dan dialognya juga kuat. Film yang kuat sebagai film, dan mengangkat iman sebagai subyeknya secara elegan, bukan menjadi semacam propaganda atau ceramah agama. Film yang mengundangku untuk menimbang kembali dari sudut lain, merenungkan, menantang, dan sekaligus memperkaya keimananku. Film yang dengan senang hati--dengan haru dan bangga--akan kurekomendasikan pada kawan non-Kristen yang berniat belajar tentang iman kristiani.

Ya, film seperti "Of Gods and Men" ini. Film yang diangkat dari kisah nyata biarawan Trappis di biara Tibhirine di Aljazair, bekas jajahan Prancis.

Biara ini telah sekian lama bertumbuh bersama, bahkan menopang, komunitas tempat mereka berada, yang warganya mayoritas Muslim. Mereka menyediakan pengobatan--dan sesekali sepatu--bagi warga, dan juga sejumlah bantuan administrasi. Mereka berkebun. Mereka beternak lebah madu dan menjual madunya di pasar setempat. Mereka menghadiri upacara khitanan. Mereka menjadi tempat curhat bagi warga. Seorang warga menggambarkannya demikian, "Kalianlah cabang itu. Kami ini burung-burungnya. Kalau kalian pergi, kami akan kehilangan pijakan." Terdengar seperti persilangan antara seruan Nabi Yeremia tentang mengusahakan kesejahteraan komunitas tempat kita berada dan perumpamaan Yesus tentang biji sesawi: "Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Mereka berada di sana, seperti dikatakan seorang biarawan, "untuk menjadi saudara bagi semua orang".

Lalu, di tengah ketenteraman itu, muncullah teror itu. Mulanya di tempat yang jauh. Seorang perempuan ditikam dan dilemparkan dari bus karena tidak berhijab. Seorang guru dibunuh karena mengajarkan bahwa jatuh cinta itu normal. Warga asing ditembaki atau digorok lehernya. Dan, teror itu, tinggal menunggu waktu saja, bakal merangsek ke desa itu, ke biara itu.

Pemerintah menawarkan perlindungan oleh militer atau mendesak para biarawan itu pergi. Mereka bersikeras mengambil sikap sendiri. Apakah pergi? Pergi ke mana? Toh mereka sudah mempersembahkan hidup bagi misi ini. Atau tinggal? Di satu sisi, mereka merasa misi belum rampung. Di sisi lain, bukan hanya keselamatan mereka yang terancam, ketenteraman hidup warga juga. Militer pun sempat mencurigai mereka melindungi para teroris karena sempat menolong teroris yang terluka--tergambar dalam adegan apik pertemuan antara helikopter militer dan menara kapel biara. Jadi, bagaimana sebaiknya mereka bersikap? Ini tidak patut saya utarakan di sini; sebaiknya kawan-kawan yang berminat menonton menyimaknya sendiri.

Aku hanya ingin menambahkan: setelah sekian lama menonton berbagai film, baru kali ini aku menyebut sebuah film sebagai "lemah lembut". Adegan demi adegan mengalir dengan tenang, tidak terkesan tergesa-gesa, komposisi gambar meneduhkan, kamera seolah mengajak kita mengamati--bahkan menyentuh--wajah-wajah yang muncul, dan dialog-dialog diucapkan dengan telaten, seolah memberi kita waktu meresapi maknanya (simak, misalnya, percakapan tentang cinta antara Luc dan seorang gadis desa, atau dialog tentang kemartiran antara Christian dan Christophe).

Adegan yang menjadi puncak kelemahlembutan itu adalah adegan anggur dan musik. Para biarawan mengisi gelas dengan anggur, mengangkatnya, mencecapnya. Tersenyum, mulut terbuka, tertawa tanpa suara, tercenung, terdiam, tertegun, bertatapan, mata berkaca-kaca. Sepanjang adegan itu, petilan musik dari balet Swan Lake mengiringi di latar. Sebuah adegan yang sublim. Sampai kemudian... teror itu menggedor pintu biara!

Oya, kekerasan yang kusebutkan tadi kebanyakan hanya disampaikan melalui dialog. Namun, saat kamera benar-benar memotret kekerasan yang terjadi--atau akibatnya--aku mendapatkan kesan, kamera bukan terutama bermaksud mengguncangkan perasaan kita, namun justru mengundang kita untuk memandang peristiwa itu dengan penuh belas kasihan--pada para pelaku! ***

Bagi teman-teman yang berminat menggali lebih jauh tentang film ini, aku merekomendasikan tautan berikut ini:

Ulasan Steven D. Greydanus

Ulasan Jeffrey Overstreet

Artikel Steven D. Greydanus

Artikel Brian Zahnd tentang Christian de Chergé

Saturday, February 7, 2015

Jodhaa Akbar: Ketika Cinta Mewarnai Kehidupan Berbangsa


Jodhaa Akbar (Ashutosh Gowariker, India, 2008)

Bagi yang tengah termehek-mehek pada Jalal namun tidak telaten mengikuti kisahnya hari demi hari di televisi, inilah penggantinya. Bagiku, film ini memupus kejengkelan pada PK.

Oke, kita ngomong PK (2014) sebentar. Film ini melontarkan dua isu, dan kemudian menjawabnya secara cerewet atau malah mengelakkannya sama sekali. Anehnya, pertanyaan itu justru terjawab oleh film lain. Pertanyaan pertama: kesenjangan antara Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan yang kita ciptakan sehingga menimbulkan fenomena satu Tuhan tapi banyak agama. Pertanyaan ini terjawab secara lumayan asyik dalam separuh bagian pertama Life of Pi. Pertanyaan kedua: isu pernikahan beda agama, yang diselesaikan PK melalui keajaiban. Nah, Jodhaa Akbar menjawabnya secara gamblang melalui kisah putri Hindu (Jodhaa) yang dipinang raja Muslim (Jalaluddin Mohammad).

Dan, betapa sebuah jawaban yang gemilang! Kisah abad ke-16 ini tergarap secara elok, menampilkan kecemerlangan film Bollywood papan atas, sekaligus jawaban yang tak gegagah atas pertanyaan genting tadi: pernikahan menjadi sebuah masa pertunangan--dan, ahem, foreplay--panjang menuju penyatuan dua tubuh (upacara pernikahan berlangsung pada menit-menit ke-50, dan kedua pasangan itu baru memadu kasih sebagai suami-istri pada menit-menit ke-170!). Betapa panjang masa-masa pengujian, pengenalan, penjajakan, penghormatan atas perbedaan keyakinan yang mesti mereka lewati sebelum menemukan kecocokan dan keintiman. Belum lagi munculnya kesalahpahaman nyaris fatal, namun kemudian melahirkan penyesalan dan penyelarasan karakter, dan hati yang dimenangkan.

Film ini bisa jadi pilihan untuk merayakan Hari Valentine. Untuk menepiskan gambaran bahwa perayaan hari kasih sayang itu berfokus pada permen cokelat berbonus kondom. Untuk memperlihatkan bahwa kasih sayang nyatanya bisa menyentuh ranah-ranah kehidupan yang luas.

Dalam Jodhaa Akbar, kasih sayang itu menyentuh dan mewarnai kebijakan berbangsa dan bernegara. Bagi pejabat yang suka blusukan, ada contoh yang relevan di sini. Bukan blusukan dengan dibuntuti media, melainkan dengan menyamar sehingga sanggup menangkap denyut jantung dan suara hati rakyat yang sesungguhnya, dan, yang terutama, pada akhirnya melahirkan keputusan politik yang menjunjung kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, Jodhaa Akbar adalah kisah sepanjang tiga setengah jam yang amat memikat. Kisah percintaan berpadu dengan peperangan dan intrik keluarga kerajaan dan, seperti kebiasaan Bollywood, dibumbui dengan tarian dan nyanyian. Ah, desain produksinya bikin ternganga-nganga. Kalau film Indonesia berbiaya 25 miliar saja tersengal-sengal untuk menampilkan kesan kolosal, film ini secara leluasa memanjakan penonton dengan tata warna, komposisi gambar, dan koreografi yang memukau. Lihat saja tarian darwis saat pernikahan dan pesta rakyat setelah Jalal mengumumkan pembebasan pajak itu! Adegan-adegan perangnya dahsyat. Dan, ada satu adegan yang belum pernah kujumpai di film lain: penjinakan gajah liar. Ya, film ini sukses menjinakkan isu yang "liar" dengan elegan. ***

Tuesday, January 20, 2015

10 Mitos tentang Roh Kudus

Salah satu tanda paling jelas yang menunjukkan bahwa orang percaya tidak betul-betul memahami apa yang terjadi di kayu salib adalah ia takut akan Roh Kudus dan karya-Nya. Ia memandang Roh Kudus sebagai Penginsaf Dosa dan Polisi meskipun Yesus menyebut Dia Penghibur dan Penolong. Cara pandang mereka terbentuk oleh tradisi perjanjian lama, bukan oleh kebenaran perjanjian baru.

Berikut ini 10 mitos tentang Pribadi Roh Kudus.

Mitos 1: Roh Kudus mencatat dosa-dosa saya.
Kebenaran 1:  Roh Kudus tidak lagi mengingat-ingat dosa kita (Ibr. 10:17).
Roh Kudus bukannya pelupa, tetapi kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang. Di kayu salib, keadilan sudah ditegakkan dan semua dosa kita sudah diampuni (Kol. 2:13). Mengampuni secara harfiah berarti menyuruh pergi. Dosa Anda telah dibuang sejauh timur dari barat (Mzm. 103:12). Allah telah memperdamaikan dunia dengan dirinya dan tidak lagi memperhitungkan pelanggaran mereka (2 Kor. 5:19). Dalam perjanjian lama, orang diingatkan akan dosanya (Ibr. 10:3); dalam perjanjian baru, dosa tidak lagi diingat-ingat (Ibr. 8:12).

Mitos 2: Roh Kudus menginsyafkan saya akan dosa saya.
Kebenaran 2: Roh Kudus menginsyafkan kita akan kebenaran kita (Yoh. 16:10).
Bagaimana mungkin Dia menginsyafkan Anda akan sesuatu yang secara sengaja justru telah Dia lupakan? Yesus telah menghapuskan dosa dengan mengurbankan diri-Nya (Ibr. 9:26). Dosa Anda bukan lagi masalah. Pertanyaan utamanya, apakah Anda yakin akan anugerah Allah. Sebagai ungkapan kasih dan rahmat-Nya, Roh Kudus menginsyafkan dunia akan dosa ketidakpercayaan pada Yesus. Namun, Dia “menginsyafkan” atau lebih tepat, menyakinkan, orang percaya akan kebenaran mereka (Yoh. 16:8-10).

Mitos 3: Roh Kudus memimpin saya untuk mengakui dosa saya.
Kebenaran 3: Roh Kudus memimpin kita untuk mengakui bahwa Yesus itu Tuhan (1 Kor. 12:3)!
Roh Kudus tidak akan pernah mengalihkan perhatian kita dari Yesus. Pelayanan-Nya selalu menjadikan kita sadar-akan-Yesus, bukannya sadar-akan-diri-sendiri (Yoh. 16:14). Secara khusus, Roh Kudus akan memimpin kita untuk mengenali Yesus sebagai Tuhan, yang berarti segala sesuatu milik kita—termasuk masalah dan dosa kita—menjadi milik-Nya. Kita tidak lagi berhak atas dosa-dosa kita. Semua itu bukan lagi milik kita karena Dia sudah menebus dosa kita dengan darah-Nya. Masih juga berpikir tentang dosa? Pandanglah diri kita sudah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm. 6:11).

Mitos 4: Roh Kudus mengawasi kalau-kalau saya tergelincir dan gagal menyelesaikan pertandingan iman.
Kebenaran 4: Roh Kudus secara pribadi menjadi keselamatan dan pusaka rohani kita (Ef. 1:13-14).
Ketika kita diselamatkan, kita ditandai sebagai milik kepunyaan Allah (2 Kor. 1:22) dan dimeteraikan dengan Roh Kudus menjelang hari penebusan (Ef. 4:30). Roh Kudus tidak mencari-cari kesalahan kita, melainkan membangkitkan pengharapan (Rm. 15:13). Pengharapan yang ada pada-Nya itu sauh yang aman dan teguh bagi jiwa kita (Ibr. 6:19). Apa bagian yang harus kita lakukan? Percaya kepada-Nya!

Mitos 5: Roh Kudus menyatakan penghukuman Allah.
Kebenaran 5: Roh Kudus menyatakan kasih Allah (Rm. 5:5).
“... kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm. 5:5). “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yoh. 4:18). Jika Anda takut akan penghukuman Allah, izinkan saya memperkenalkan diri Anda pada Roh Kudus.

Mitos 6: Roh Kudus menggugah kita untuk takut kepada Allah yang kudus dan jauh dari kita.
Kebenaran 6: Roh Kudus membantu kita mengenal dan mendekat kepada Allah, Bapa kita (Ef. 1:17, Gal. 4:6). “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, ‘Ya Abba, ya Bapa!’” (Rm. 8:15). Wow! Amat sangat baik, bukan?!

Mitos 7: Roh Kudus hidup entah di mana di luar sana, mungkin di balik rasi bintang Alpha Centauri.
Kebenaran 7: Roh Kudus tinggal di dalam diri kita (1 Kor. 6:19; 2 Tim. 1:14, Rm. 8:11).
Dalam perjanjian lama, Allah tinggal di dalam bait-Nya. Di dalam perjanjian baru, kita adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19). Di mana Dia tinggal? Di dalam diri Anda dan saya! Seperti dikatakan Ralph Harris, Anda adalah “bait yang sakral dan dapat bergerak tempat Allah berdiam”.

Mitos 8: Roh Kudus datang dan pergi. Kita perlu berseru-seru agar Dia datang.
Kebenaran 8: Roh Kudus tinggal, berdiam, menyertai kita dan ada di dalam diri kita (Yoh. 14:17, 1 Yoh. 3:24, Rm. 8:11).
Di perjanjian lama, Roh Kudus hinggap pada orang tertentu selama waktu tertentu. Namun dalam perjanjian baru Dia tinggal bersama dengan kita dan berdiam di dalam diri kita (2 Tim. 1:14). Jika Anda sudah menerima Roh Kudus, tetaplah bersukacita, karena Dia tidak beralih ke mana-mana. Dia berjanji tidak pernah meninggalkan kita atau membiarkan kita seorang diri (Ibr. 13:5).

Mitos 9: Roh Kudus itu sulit “didapatlan”.
Kebenaran 9: Roh Kudus adalah Pemberian, diutus oleh Yesus dan dikaruniakan secara cuma-cuma oleh Bapa (Yoh. 16:7, Luk. 11:13, Kis. 10:45).
Menurut Galatia 3:14, Yesus menebus kita agar kita menerima berkat yang dijanjikan kepada Abraham, yaitu janji akan Roh Kudus. Apakah Anda percaya bahwa Yesus sudah menebus Anda? Berarti Anda berhak menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu. Siapa yang tidak berhak menerima Dia? Dunia yang belum diselematkan, “sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yoh. 14:17). Perhatikan perkataan Petrus kepada orang-orang yang mendengarkan Injil pada hari Pentakosta: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis. 2:38). Roh Kudus tidak membatasi diri-Nya untuk orang-orang pilihan tertentu. Percayalah kepada Yesus dan Anda pasti, pasti, pasti menerima Pemberian yang dijanjikan itu! Percayailah itu!

Mitos 10: Untuk menerima Roh Kudus Anda harus berpuasa, berdoa, mengikuti kelas pengajaran, memperbaiki kelakukan, hidup kudus...
Kebenaran 10: Roh Kudus diterima dengan iman (Gal. 3:14).
Apakah Anda berpuasa dan berdoa untuk menerima Yesus? Rasanya tidak. Anda menerima Dia dengan iman. Persis seperti itu jugalah Anda menerima Roh Kudus. Bagaimana kita menerima Roh Kudus yang dijanjikan? Dengan iman! (Gal. 3:14)! “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk. 11:13). Di sini Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang yang meminta. Jangan dengarkan orang yang mengatakan bahwa Anda harus melakukan hal-hal tertentu terlebih dahulu untuk memperoleh apa yang dikaruniakan Allah secara cuma-cuma. Yesus sudah melakukan semuanya itu. “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 16:24). *** (Paul Ellis)

Sunday, January 18, 2015

Dua Jalur Hukuman Mati



Minggu, 17 Januari 2015, dilaksankan hukuman mati terhadap enam terpidana kasus narkoba. Lima eksekusi dilakukan di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah; satu lainnya di Gunung Kendil, Boyolali, Jawa Tengah.

Membicarakan hukuman mati, saya menemukan kegagapan ini: lebih gampang menghadapi argumentasi ketimbang menghadapi sebuah kesaksian hidup. Menjelang dan sesudah eksekusi atas Nyonya Astini, terpidana mati kasus mutilasi pada 2005, saya membaca empat artikel opini – tiga kontra dan satu pro terhadap hukuman mati. Dan saya mendapati diri saya tidak terlalu peduli pada nasib Nyonya Astini, namun lebih asyik mencermati pro-kontra itu sendiri: mengangguk sepakat terhadap pendapat yang sejalan dengan konsep saya, mengerutkan kening saat membaca pendapat yang saya anggap tidak sahih. Selebihnya, pandangan saya terhadap hukuman mati tidak banyak berubah.

Namun, bagaimana menepiskan sebuah pengalaman?

Berbeda dengan teori yang dingin, lain dengan ceramah yang instruktif, sebuah kisah cenderung mampu menerobos lebih jauh: alih-alih menantang pendapat kita, ia mengetuk hati nurani kita. Ia tidak memperhadapkan kita dengan setumpuk dalil, ia memperhadapkan kita dengan sosok-sosok manusia. Terlebih bila kisah itu dituturkan secara jujur, kita pun tersadar bahwa kita tidak diminta untuk cepat-cepat berpendapat. Kita diminta untuk merenung. Diminta untuk mengendapkan segala argumentasi. Dan semoga kemudian tersusun pandangan yang lebih jernih, lebih arif.

Seorang Suster dan Seorang Terpidana Mati

Kisah ini dituturkan oleh Suster Helen Prejean dalam sebuah film menyedot garapan sutradara Tim Robbins, Dead Man Walking. Tentu Anda telah menduga, film itu beranjak dari kisah nyata.

Suster Helen Prejean (diperankan secara menawan oleh Susan Sarandon) seorang biarawati yang mengabdi di sebuah kawasan miskin di pusat kota Louisiana. Suatu hari ia menerima surat dari seorang terpidana mati di Penjara Angola, New Orlean, memintanya berkunjung. Dan ia pun berkunjung – barangkali tanpa menyadari bahwa kunjungan itu akan merupakan permulaan dari sebuah ziarah iman dan belas kasihan yang mengubah jalan hidupnya.

Si terpidana, bernama Matthew Poncelet (dimainkan tak kalah bagus oleh Sean Penn), didakwa, bersama seorang pria lain, terlibat dalam pemerkosaan dan pembunuhan atas dua remaja. Seperti Suster Helen, kita pertama kali melihatnya dari balik jeruji antara pengunjung dan terpidana, sehingga wajahnya terkesan seperti kepingan-kepingan jigsaw. Seseorang menyebut penampilannya sebagai paduan antara Elvis dan Mephistopheles. Bila berpapasan dengannya di jalan, kemungkinan besar kita akan memilih mengindarinya. Dan pria itu meminta Suster Helen menolongnya mengajukan permohonan pembebasan.

Dari situ, Suster Helen menelusuri jalan yang penuh dengan kerumitan, pertentangan dan juga kebenaran-kebenaran pelik. Tidak ada jawaban gampangan untuk isu yang kontroversial dan kompleks ini.

Kehebatan film ini terletak pada keberhasilan sutradara dalam memberi ruang bagi pihak-pihak yang berlawanan untuk menumpahkan kegusaran dan kepedihannya masing-masing. Saya bisa meraba pandangan sutradara terhadap hukuman mati, namun ia tidak mencekokkannya kepada penonton, melainkan tetap memberikan kelapangan untuk menimbang-nimbang.

Ia tidak berusaha melunakkan gambaran Matthew, atau membela tindakannya, agar mengundang simpati kita. Namun, dengan menggambarkan kondisi keluarganya yang miskin dan latar belakangnya, paling tidak kita diajak untuk memahami potensi kebiadaban yang mungkin lahir dari setiap orang – dari suatu perbuatan yang semula hanya seperti keisengan. Ia juga menunjukkan potensi pembalasan dendam, tanpa membikin gambaran konyol tentang keluarga korban sekadar sebagai penuntut yang haus darah. Hanya orang-orang berhati beku yang tak akan tergugah oleh kepiluan mereka. Masing-masing pihak tampil sebagai manusia-manusia lumrah, yang kini mesti bergumul menanggapi sebuah tragedi pelik yang menimpa mereka.

Suster Helen, yang mesti berjungkat-jungkit di antara kedua belah pihak, dipuji Roger Ebert sebagai salah satu dari sedikit sosok yang benar-benar saleh yang pernah disaksikannya dalam sebuah film. Dalam suatu kesempatan biarawati ini mengatakan, “Saya hanya berusaha mengikuti teladan Yesus, yang mengatakan bahwa setiap orang itu lebih berharga daripada tindakannya yang terburuk.”

Kekristenan mengajarkan bahwa semua dosa bisa diampuni, dan bahwa tidak ada pendosa yang terlalu bejat sampai tidak mungkin lagi terjangkau oleh kasih Tuhan. Suster Helen mempercayainya, dengan segenap hati. Namun, ia tidak mendesakkan solusi keagamaan atau hukum-hukum rohani kepada Matthew. Ia hanya mendorong Matthew untuk menyambut kematiannya dalam kedaaan berdamai dengan dirinya dan dengan kejahatannya. Ia mengundang Matthew untuk menghamburkan diri ke dalam rengkuhan rahmat Tuhan.

Jalur Hukum

Setelah “diguncangkan” oleh Dead Man Walking, saya kian menyadari kompleksitas hukuman mati. Film ini memang tidak mengubah pandangan dasar saya terhadap hukuman mati. Namun, seperti tertera di atas, ziarah Suster Helen telah menolong saya mengendapkan pandangan tersebut. Dengan demikian, saya bisa memandang lebih jernih dan memahami argumentasi pihak-pihak yang menentang hukuman mati.

Dalam ulasannya atas film ini, James Berardinelli melontarkan pertanyaan-pertanyaan menggugah. Apakah Matthew akan dieksekusi karena ia terlalu miskin untuk membayar pengacara yang piawai? Apakah ada perbedaan moral antara pembunuhan oleh Negara dan pembunuhan oleh individu? Mestikah keadilan dilandasi oleh prinsip “mata ganti mata” atau prinsip "berilah juga kepadanya pipi kirimu"?

Jawaban atas pertanyaan pertama: Bisa jadi. Sistem hukum buatan manusia bagaimanapun rentan dan rawan terhadap penyelewengan dan penyalahgunaan. Para praktisi hukum dan mafia pengadilan akan lebih canggih memaparkannya. Yang jelas, argumentasi ini bukanlah dalih yang sahih untuk menentang hukuman mati. Argumentasi ini lebih merupakan seruan bagi reformasi sistem hukum, agar benar-benar mencerminkan keadilan. (Sanggahan ini juga dapat dialamatkan bagi argumentasi ketidakmanusiawian pelaksanaan hukuman mati.)

Pertanyaan kedua dan ketiga, menurut saya, berkaitan. Matthew Poncelet sempat mengakui bahwa pembunuhan itu salah, entah pelakunya orang per orang seperti dirinya, entah pelakunya negara. Saya berbeda pendapat. Prinsip "berilah juga kepadanya pipi kirimu" adalah petunjuk bagi orang per orang, anjuran untuk tidak main hakim sendiri, mengambil alih peran dan tugas negara.

Negara, sebaliknya, berwenang dan bertanggung jawab menegakkan hukum dan keadilan. Hukum adalah bahasa yang sepatutnya tegas, dingin, tanpa kompromi. Hukum bergerak menurut prinsip “mata ganti mata” (lex talionis). Tujuan hukum adalah penghukuman yang seadil-adilnya terhadap orang-orang mengancam atau melanggar kemaslahatan bersama. Dalam tataran ini, hukuman mati tetap perlu diberi ruang.

Mereka yang menentang hukuman mati antara lain menunjukkan ketidakefektifan hukuman mati sebagai bentuk penjeraan. Argumentasi ini sebenarnya lumayan susah dibuktikan karena faktor-faktor yang memicu terjadinya kejahatan bisa sangat kompleks, bukan sekadar ada atau tidaknya ancaman hukuman mati. Penyair Hyman Barshay melukiskannya demikian, “Hukuman mati adalah suatu peringatan, seperti mercusuar yang memancarkan sinarnya ke laut lepas. Kita mendengar kabar-kabar tentang kapal yang karam, namun kita tidak mendengar kabar tentang kapal-kapal yang berhasil dituntun dengan selamat oleh mercusuar itu. Kita tidak memiliki bukti tentang jumlah kapal yang diselamatkannya, namun toh kita tidak meruntuhkan mercusuar itu.”

Kalaupun klaim ketidakefektifan itu memang terbukti, tujuan utama hukuman mati memang bukan penjeraan, melainkan penghukuman. Hukuman mati sebagai penghukuman kerap dianggap bertabrakan dengan prinsip penghormatan atas kesucian hidup (sanctity of life). Namun, bila ditilik dari sudut lain, justru karena penghormatan atas kesucian hidup inilah, justru karena manusia adalah sosok yang rasional, bermartabat dan bermoral, hukuman mati perlu ditegakkan. Ganjil, kalau kita begitu membela kehidupan si pelaku sampai mengabaikan kehidupan si korban yang telah dilenyapkan secara tidak manusiawi. Kita patut meminta pertanggungjawaban si pelaku atas pilihan moralnya. Bila ia memilih melakukan kejahatan kapital (capital offense), hukuman mati (capital punishment) adalah satu-satunya retribusi yang setimpal.

Jalur Rahmat

Telah disebut di atas, individu berada dalam tataran moral yang berbeda dengan negara. Orang per orang dipanggil untuk tidak menghidupkan atmosfir pembalasan dendam dan sistem main hakim sendiri. Bila hendak menuntut keadilan, mereka diminta menempuhnya melalui koridor hukum yang ada. Karenanya, reformasi sistem hukum nasional menuntut adanya penghukuman yang adil, tegas dan tanpa kompromi terhadap para pelaku kejahatan, sebagai sebentuk perlindungan terhadap warga yang tidak bersalah.

Namun, negara juga bisa memfasilitasi bila warga berniat menempuh jalur lain, jalur yang bergerak menurut prinsip "berilah juga kepadanya pipi kirimu" tadi. Kita bisa menyebutnya sebagai jalur rahmat dan pengampunan. Negara hanya perlu memfasilitasinya, tidak menuangkannya dalam pasal-pasal perundang-undangan yang bersifat mengikat, karena alternatif ini hanya bisa diambil berdasarkan semangat cinta kasih dan kesadaran hati nurani masing-masing individu (keluarga korban).

Jalur ini pernah ditempuh secara efektif oleh bangsa Afrika Selatan atas prakarsa Nelson Mandela. Seperti kita ketahui, Mandela adalah presiden pertama Afrika Selatan yang terpilih melalui pemilu demokratis tahun 1994. Negeri itu sebelumnya koyak-moyak oleh apartheid, dan ia sendiri mesti meringkuk di penjara selama 27 tahun akibat politik rasial itu. Kini ia bertekad untuk membangun Afrika Selatan yang baru. Ia mengawalinya dengan cara yang amat khas: ia meminta sipir penjaranya ikut naik ke panggung pada saat pelantikannya.

Selama memimpin negeri itu, ia antara lain membentuk Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC), dengan ketua Uskup Agung Desmond Tutu. Mandela berusaha mengelakkan pola balas dendam yang dilihatnya di sekian banyak negara, yang terjadi sewaktu ras atau suku yang semula tertindas mengambil alih pemerintahan.

Selama dua setengah tahun berikutnya, penduduk Afrika Selatan menyimak berbagai laporan kekejaman melalui pemeriksaan TRC. Peraturannya sederhana: bila seorang polisi atau perwira kulit putih secara sukarela menemui pendakwanya, mengakui kejahatannya, dan mengakui sepenuhnya kesalahannya, ia tidak akan diadili dan dihukum untuk kejahatan tersebut. Penganut garis keras mencela pendekatan ini dan menganggapnya tidak adil karena melepaskan si penjahat begitu saja. Namun, Mandela bersikukuh bahwa negeri itu jauh lebih memerlukan kesembuhan daripada keadilan.

Sebuah kisah mengharukan dituturkan Philip Yancey dalam buku Rumours of Another World (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003). Pada sebuah pemeriksaan, seorang polisi bernama van der Broek mengakui perilaku kejinya. Ia dan beberapa perwira lain menembak seorang anak laki-laki delapan tahun dan membakar tubuh anak itu seperti sate untuk menghilangkan bukti. Delapan tahun kemudian van de Broek kembali ke rumah yang sama dan menangkap ayah si anak. Isterinya dipaksa menyaksikan para polisi mengikat suaminya pada tumpukan kayu, mengguyurkan bensin ke tubuhnya, dan menyalakannya.

Ruang pemeriksaan menjadi hening saat seorang perempuan lansia, yang telah kehilangan anak dan kemudian suaminya, diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. "Apa yang Anda inginkan dari Tn. van de Broek?" tanya hakim. Ibu itu menjawab, ia ingin van der Broek pergi ke tempat mereka dulu membakar tubuh suaminya dan mengumpulkan abunya, agar ia dapat melakukan pemakaman yang layak. Dengan kepala tertunduk, polisi itu mengangguk.

Kemudian ibu itu mengajukan permintaan tambahan, "Tn. van der Broek telah mengambil seluruh keluarga saya, dan saya masih memiliki banyak kasih yang ingin saya bagikan. Dua kali sebulan, saya ingin dia datang ke kampung saya dan menghabiskan waktu satu hari bersama saya, agar saya dapat menjadi ibu baginya. Dan saya ingin Tn. van der Broek tahu bahwa ia telah diampuni oleh Tuhan, dan bahwa saya juga mengampuninya. Saya ingin memeluknya, sehingga ia dapat mengetahui bahwa pengampunan saya ini sungguh-sungguh."

Secara spontan, beberapa orang di ruang itu mulai menyanyikan Amazing Grace saat perempuan lansia itu melangkah menuju tempat saksi, namun van der Broek tidak mendengarkan nyanyian itu. Ia terjatuh tak sadarkan diri.

Nelson Mandela menyadari bahwa sewaktu kejahatan terjadi, hanya satu tanggapan yang dapat mengalahkannya. Pembalasan dendam hanya akan melanggengkan kejahatan itu. Keadilan hanya akan menghukumnya. Kejahatan hanya akan dikalahkan oleh kebaikan bila pihak yang disakiti bersedia menyerapnya, mengampuninya, dan menolak untuk membiarkannya menyebar lebih jauh.

Jadi, dalam wacana hukuman mati, terbentang dua jalur alternatif: jalur hukum atau jalur rahmat. Keduanya, meminjam kata-kata Chairil Anwar, “harus dicatet, keduanya dapat tempat”. ***

Saturday, January 17, 2015

PK: Pernyataan Besar, Jawaban Konyol

 
PK (Rajkumar Hirani, India, 2014)

Peristiwa pertama: Alien berwujud manusia (nantinya dinamai PK) turun ke Rajasthan dalam keadaan telanjang untuk riset. Namun, orang pertama yang ditemuinya menjambret bandul kalungnya, padahal bandul itulah alat penghubungnya dengan pesawat luar angkasa yang mengangkutnya. Ia berusaha mendapatkan kembali bandul itu, dan pencarian ini membawanya ke Delhi. Kelakuannya yang aneh membuat orang menganggapnya mabuk (dalam bahasa Hindi: pee-kay, PK), dan mereka mengatakan, hanya Tuhan yang dapat menolongnya. Ia berusaha mencari Tuhan itu, dan kebingungan menemukan keragaman agama dan aneka tradisi menyembah Tuhan di kota itu.

Peristiwa kedua: Di Belgia, Jaggu, reporter televisi, jatuh cinta pada Sarfaraz. Orangtuanya di Delhi menentang keras hubungan itu karena Sarfaraz orang Pakistan dan Muslim. Jaggu nekad mengajak Sarfaraz menikah, namun pria itu membatalkan rencana pada hari-H. Patah hati, Jaggu kembali ke Delhi, dan bekerja di televisi lokal. Suatu hari ia bertemu dengan PK, dan tertarik untuk mengangkat kisah pencariannya ke layar kaca.

Dalam pelatihan menulis novel yang pernah saya ikuti, salah satu teknik yang diajarkan adalah belajar membikin cerita berdasarkan dua peristiwa yang tampaknya tidak kait-mengait (misalnya, evakuasi pesawat jatuh dan polisi yang tinggal di kandang sapi). Tugas penulis adalah mereka-reka cerita yang menjalin kedua peristiwa itu sehingga menjadi narasi yang masuk akal. Dalam fiksi--dan film cerita tentulah termasuk fiksi--kemasukakalan adalah kunci. Kisah di dunia nyata sering sulit dinalar, namun kisah dalam fiksi harus memiliki pijakan logika yang kuat.

Nah, apakah film "PK" berhasil menjalin kedua peristiwa di atas--alien kehilangan bandul dan gadis patah hati--secara masuk akal?

Adegan pembuka, yang menggambarkan kedatangan si alien sampai bandulnya hilang, sudah langsung menimbulkan tanda tanya, namun kita dapat memberi ruang permakluman, semoga seiring berjalannya cerita, ada penjelasan yang logis. Adegan-adegan di Belgia terjalin mulus, dan menjanjikan film ini akan menjadi sebuah komedi-romantis yang manis. Saya menontonnya sambil nyengir tersenyum-senyum sampai... ya, sampai Jaggu bertemu dengan PK, dan PK menjelaskan bagaimana ia berusaha beradaptasi dengan kehidupan dan budaya di bumi. Alih-alih terus tersenyum, saya mulai mengerutkan kening. Dan, makin lama saya makin susah tersenyum, dan malah mulai mules. Bukannya memaparkan cerita yang bikin manggut-manggut, film ini malah bikin garuk-garuk kepala. Logika internalnya hancur lebur.

Oke. Kita mulai dengan ketelanjangan si alien. Nantinya PK menjelaskan bahwa orang-orang di planetnya hidup seperti burung, tanpa busana. Baiklah. Namun, sebuah peradaban yang belum sempat memikirkan penutup tubuh, nyatanya sudah mampu membikin pesawat canggih yang bisa mengangkut penumpang antargalaksi. Baiklah. Jelas pola pikir makhluk planet PK berbeda jauh dari manusia.

Lalu, bandul itu. Alat sepenting itu cuma dikalungkan begitu saja di leher, untuk kemudian dengan mudahnya dijambret? Baiklah. Kalau bandul tidak dijambret, bagaimana PK akan mulai bertualang mencari Tuhan?

Lalu, cara PK bertahan hidup. Pada mulanya, ia mencuri baju dan dompet dari orang yang sedang asyik-masyuk di "mobil goyang". Satu-dua kali bolehlah. Tapi, dari hari ke hari ia terus sukses menemukan "mobil goyang" di tempat yang kira-kira sama? Ahai!

Lalu, cara PK berkomunikasi. Mulanya ia hanya mengamati dan meniru-niru cara hidup orang bumi. Kemudian, ternyata ia mampu mengunduh kemampuan berbahasa dan memori seseorang dengan memegang tangan orang itu--dalam hal ini, seorang pelacur yang ia genggam tangannya selama enam jam. Begitu selesai, ia langsung bisa berbicara seperti orang dewasa.

Namun, tampaknya ia baru mampu berbahasa secara denotatif, belum memahami makna konotatif. Ia belum memahami konteks budaya yang melatari bahasa. Ketika mendapat penjelasan bahwa perempuan yang mengenakan sari adalah janda yang berduka karena baru kehilangan suami, ia menyimpulkan bahwa setiap perempuan yang mengenakan pakaian putih pasti tengah berduka kehilangan suami. Padahal, ada perempuan yang justru mengenakan gaun putih karena hendak menikah. Gegar budaya rusa-masuk-kampung semacam ini yang terus digulirkan, tentunya dengan maksud memancing tawa dan sekaligus mengundang kita memikirkan ulang cara pandang kita selama ini. Namun, alih-alih mencerahkan, modus itu lama-kelamaan jadi terasa memualkan.

"PK" mencoba mengangkat pernyataan besar: bahwa Tuhan itu ada dua, yaitu Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan yang kita ciptakan. Nah, Tuhan hasil ciptaan manusia inilah yang membikin kita terhubung pada "nomor yang salah": menghadapi berbagai masalah hidup dan tidak menemukan jawaban yang riil, hidup dalam ketakutan karena dimanipulasi oleh orang-orang yang mendaku dirinya utusan Tuhan, dan terjebak dalam konflik antarmanusia dan antaragama. Sebuah gagasan yang luhur, dan bahan satir yang sebenarnya amat menggigit. Namun, film bukan cuma soal gagasan, melainkan terutama soal bagaimana gagasan itu diterjemahkan sebagai cerita yang runtut dan--sekali lagi--masuk akal. Di sinilah, "PK" rontok.

Alien telanjang mungkin dimaksudkan sebagai wakil kepolosan seorang pengamat netral, yang kemudian mempertanyakan hal-hal yang selama ini sudah kita terima tanpa banyak cing-cong. Dan, betapa cerewetnya film ini! Sampai ia bukan lagi berupa rangkaian kisah, melainkan rangkaian pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin dimaksudkan untuk mewakili kepolosan anak-anak, namun jatuhnya malah jadi pertanyaan yang kekanak-kanakan. Pertanyaan bukan untuk menemukan pencerahan, melainkan pertanyaan demi pertanyaan itu sendiri. Bukan pertanyaan yang muncul dari pergumulan hidup dan penderitaan (ataukah kehilangan bandul itu mesti kita maknai sebagai simbol penderitaan?), melainkan pertanyaan yang terasa artifisial, dibuat-buat. Pertanyaan yang terasa lepas dari konteks budaya dan kehidupan manusia.

Kalau kita menyembah Tuhan yang sama, kenapa kita menyembahnya dengan cara yang berbeda-beda, bahkan amat bertentangan? Seandainya pertanyaan itu dilontarkan, lalu diuraikan dalam jelujuran kisah, ah betapa eloknya. Namun, di sini pertanyaan itu terus-menerus diulang dan dicecarkan dengan intensitas yang semakin meninggi--melalui pingpong debat dengan seorang pemuka agama, Tapasvi, yang meramalkan bubarnya hubungan Jaggu dan Sarfaraz serta memiliki bandul PK, yang diakuinya sebagai pemberian Tuhan ketika ia bermeditasi di Himalaya--tanpa ruang yang memadai untuk merenungkannya.

Atau, kita diminta merenungkannya melalui ilustrasi yang banal. Contohlah tentang bagaimana orang beribadah karena tergerak oleh ketakutan. Dan, PK cukup menunjukkannya dengan memasang batu sesembahan, yang orang segera antre berdoa di situ, bahkan sampai ada yang tersungkur ke tanah, lalu membandingkannya dengan upaya tukang teh mencari pelanggan? Konyol!

Kedatangan alien mungkin juga dimaksudkan sebagai gambaran campur tangan ilahi. Sebuah interupsi untuk mengajak kita berpikir ulang tentang kepercayaan kita selama ini. Tetapi juga, untuk menjawab sebuah pertanyaan yang tak kalah urgen: hubungan sepasang kekasih beda agama. Ya, film ini memilih cara supranatural untuk menyelesaikan konflik itu. Sebuah penyelesaian yang sangat tidak membumi, tidak riil, namun teramat melodramatis dan mengawang-awang. Sebuah jawaban yang melipir terlalu jauh dari topik, malah cenderung mengelakkan persoalan, tidak mengundang diskusi, dan menawarkan solusi yang artifisial dan gampangan. Kalau Tuhan sudah "berbicara" secara definitif seperti itu, apa lagi yang perlu dipersoalkan? Tuhan versi PK menjadi Tuhan yang esa dan yang benar.

Alhasil, film ini memberikan "nomor yang salah" untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Film ini benar-benar PK, mabuk. ***

Tuesday, January 6, 2015

Menikmati Tuhan di Alam Terbuka



Ketika anak-anak saya masih balita, hampir setiap pagi mereka mengajak berjalan-jalan. Selain mengoceh cerewet mengomentari macam-macam, mereka juga suka menyapa bunga-bunga, kupu-kupu yang melintas, atau berbicara dengan burung di sangkar milik tetangga. Dasar anak-anak, pikir saya. Memangnya ini negeri dongeng tempat binatang dan pohon-pohon bisa berbicara? Toh kadang-kadang saya ikut nimbrung juga.

Ketika membaca buku Richard J. Foster, Celebration of Discipline, saya tercenung. “Berbicara” kepada bunga dan burung ternyata termasuk kebiasaan yang perlu dikembangkan oleh orang Kristen. Praktik ini merupakan salah satu bentuk studi: pembelajaran dari “buku-buku” nonverbal.

Menurut Foster, aneka makhluk dan alam ciptaan Tuhan ini dapat berbicara dan mengajarkan sesuatu kepada kita kalau kita bersedia membuka telinga. St. Francis dari Asisi, misalnya, konon pernah menjinakkan serigala dan suka berkhotbah kepada burung-burung! Dan bukankah sejumlah ayat dalam Alkitab juga mendorong kita untuk menarik pelajaran dari perilaku makhluk-makhluk tertentu?

Dalam Sacred Pathways, Gary Thomas memaparkan sembilan temperamen rohani—ia menyebutnya “jalan suci”—yang menggambarkan cara kita berhubungan dengan Tuhan. Salah satunya adalah kaum naturalis, yaitu mereka yang cenderung mengekspresikan kasih kepada Tuhan di alam terbuka.

Gary Thomas menulis, “Kaum naturalis  lebih senang meninggalkan gedung apa pun, betapapun indah atau bersahajanya, dan memilih berdoa kepada Tuhan di tepi sungai. Tinggalkan buku-buku, lupakan hiruk-pikuk unjuk rasa—biarkan saja mereka berjalan melintasi hutan, pegunungan, atau padang rumput terbuka.

“Orang-orang kristiani ini percaya bahwa alam secara jelas mengumandangkan “Tuhan itu ada!” Mereka mungkin belajar lebih banyak melalui mengamati koloni semut atau memandang danau yang tenang daripada melalui membaca buku atau mendengarkan khotbah, meskipun mereka mungkin mendapatkan kepuasan melalui membaca perumpamaan Yesus yang berlatar alam atau perikop-perikop terpilih dari mazmur.”

Bagaimana kita menikmati hadirat Tuhan di alam terbuka? Gary Thomas mengutip langkah-langkah “pembelajaran” yang disarankan oleh Santo Bonaventura, biarawan Fransiskan mula-mula.

“Pertama, renungkanlah keagungan alam ciptaan—pengunungan, langit, dan samudera—yang secara jelas menggambarkan kekuasaan, hikmat, dan kebaikan tak tepermanai dari Allah Trinitas.

“Selanjutnya, lihatlah keragaman alam ciptaan—sebuah hutan menyimpan kehidupan tumbuhan dan binatang yang tidak cukup untuk Anda selidiki seumur hidup dan menunjukkan kepada kita betapa Tuhan itu mampu melakukan sekian banyak hal sekaligus. Mereka yang bertanya-tanya bagaimana Tuhan dapat mendengarkan sekian banyak doa yang diucapkan secara serentak tampaknya sudah terlalu lama meninggalkan hutan.

“Akhirnya, periksalah keindahan alam semesta—lihatlah keindahan bebatuan dan bentuknya, keindahan warna dan nuansanya, keindahan elemen tertentu (misalnya pohon), dan keindahan seluruh komposisi (misalnya hutan). Keindahan Tuhan tidak dapat diungkapkan melalui satu bentuk belaka, namun begitu luas dan tak terbatas sehingga dapat memenuhi seluruh dunia dengan keajaiban.”

Gary Thomas menambahkan, “Alam luar juga berbicara tentang kelimpahan Tuhan. Kita sudah banyak berbicara tentang hutan, tetapi berdirilah dengan bertelanjang kaki di padang pasir atau pantai dan cobalah untuk menebak berapa banyak butir pasir yang ada di bawah kaki Anda atau yang ada dalam pandangan Anda atau yang ada di seluruh padang pasir dan pantai di seluruh dunia. Kita melayani Tuhan yang berkelimpahan, yang rahmat dan kasih-Nya tiada berkesudahan.”

Wawasan itu mencelikkan mata saya. Ternyata, perilaku anak-anak saya tadi bukan sekadar kebiasaan anak kecil, melainkan suatu kemewahan yang patut saya rebut kembali. Yah, di tengah kesibukan kerja, tidak jarang saya jumpalitan dalam meluangkan waktu untuk mengamati dan merenungkan alam dan kehidupan – untuk kemudian bersyukur kepada Sang Pemberi Hidup. Jadi, kalau besok Anda melihat saya ngobrol dengan pohon tanjung, jangan salah sangka! ***

Friday, December 12, 2014

Dua Pangeran, Banyak Perempuan


PRINCE OF EGYPT
Sutradara: Brenda Chapman, Simon Wells, dan Steve Hickner
Pengisi Suara: Val Kilmer, Ralph Fiennes, Michelle Pfeiffer, Sandra Bullock
98 menit, AS, 1998

Mengapa Ramses, Firaun Mesir, mengeraskan hatinya dan menolak untuk tunduk pada perintah Allah, agar membiarkan umat Israel pergi? The Prince of Egypt menawarkan sebuah "teori" menarik.

Saat masih pangeran, Ramses dibesarkan bersama-sama dengan Musa, bayi Ibrani yang diselamatkan dan diangkat anak oleh Ratu Mesir, ibu Ramses. Mereka berdua bertumbuh sebagai pemuda yang sembrono. Namun, karena Ramses adalah calon pewaris tahta, raja menegurnya secara lebih keras. Bila sikap semacam itu dibiarkan, ia akan menjadi mata rantai yang lemah dalam dinasti penguasa Mesir. Bukannya mengubah sikap, ia malah marah.

Ketika ia sudah menjadi firaun dan Musa mendatanginya, Ramses melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan mata rantai yang lemah. Ia justru akan membuktikan kalau ia bisa bersikap lebih kejam daripada ayahnya. Karena itulah ia secara mentah-mentah menolak perintah Tuhan.

Keleluasaan tafsir semacam itu menjadikan film animasi satu ini menarik untuk dicermati. Kisahnya bukan hanya mengulang-ulang apa yang sering dituturkan di Sekolah Minggu atau dalam khotbah, namun menawarkan kesegaran pembacaan.

Film ini juga menampilkan sederet perempuan berkarakter kuat. Mulai dari Yocheved, ibu Musa, yang mencari akal untuk menyelamatkan putranya dari pembunuhan massal oleh perintah Seti I, firaun saat itu. Lalu, Tuya, Ratu Mesir yang menyelamatkan Musa. Bahwa ia dapat membesarkan Musa di istana, hal ini menyiratkan bahwa ia memiliki pengaruh yang tidak kecil.

Miriam, kakak Musa, berperan besar. Selain mendampingi keranjang berisi bayi Musa yang mengalir di sepanjang sungai Nil, ia juga sudah mencoba mengingatkan Musa—ketika adiknya itu sudah menjadi pangeran—akan asal-usulnya. Saat Musa kembali ke Mesir menyampaikan pesan dari Tuhan, Miriam jadi orang pertama yang mendukungnya. Ia menyakinkan Harun dan orang Israel untuk memercayai Musa.

Tzipporah, perempuan Midian yang kemudian menjadi istri Musa, menyeruak jadi sosok yang menonjol. Semula ia diculik dan hendak dijadikan gundik Ramses, namun lalu diserahkan pada Musa, yang memilih membebaskannya. Nantinya ia menjadi istri Musa saat Musa melarikan diri ke Midian dan, ketika Musa diutus Tuhan, ia sigap sebagai pendamping utama.

Sungguh menarik bahwa kaum perempuan, dalam konteks era yang masih diskriminatif kala itu, diberi ruang yang lapang. Bukan sekadar sebagai kanca wingking (pengikut di belakang yang serba patuh), melainkan sebagai pengambil keputusan penting dan penasihat yang diperhitungkan pertimbangannya.

Di luar itu, film ini menyuguhkan animasi yang digarap serius. Amat elok dan megah. Penonton dapat terpukau menyaksikan adegan kolosal orang Israel mendirikan piramida. Atau, animasi bergaya gambar hiroglif untuk memperlihatkan penglihatan Musa akan kekejaman yang berlangsung di Israel. Atau, rangkaian tulah yang ditampilkan begitu mencekam dan menegakkan bulu roma. Dan, puncaknya, adegan terbelahnya Laut Teberau yang amat menawan: sempat-sempatnya animator menampilkan ikan paus layaknya di akuarium raksasa, lengkap dengan ekspresi kagum bangsa Israel saat menjalaninya. Saat air laut kembali menutup, berkecipak, lalu mereda tenang—ah, kita ikut menghela napas lega.

Lagu-lagunya juga menawan. “When You Believe” terasa lirih meneguhkan, ada pun “Deliver Us” menghentak-menggugat.

Alhasil, Prince of Egypt sukses sebagai film yang bukan hanya memanjakan mata dan telinga, melainkan juga menawarkan pembacaan yang segar atas kisah pembebasan bangsa Israel. ***