Thursday, February 27, 2014

Kecemerlangan The Lego Movie



THE LEGO MOVIE (Christopher Miller & Phil Lord, AS, 2014)

Ketika pertama kali tahu akan munculnya film Lego, aku hanya mengangkat bahu. Lesra dan Tirza sudah sering mengunduh film-film pendek Lego dari Youtube, mereka senang menontonnya dan cekikikan. Tapi, ya sudah begitu saja, aku hanya sekilas ikut meliriknya dan tidak paham betul apa yang membuat mereka cekikikan. Memang kalau kemudian dibikin film panjang untuk diputar di bioskop, apa istimewanya? Paling jadi semacam iklan produk versi panjang. Begitu pikirku awalnya.

Namun, seminggu menjelang tanggal rilis, komentar dan celoteh orang yang sudah menontonnya dan berkicau di internet memperlihatkan antusiasme yang menular. Ulasan bagus demi ulasan bagus menyusul bermunculan (saat ini terkumpul skor 82 di Metacritic untuk film ini). Jadi penasaran aku. Seistimewa itukah "The Lego Movie"?

Akhirnya, minggu ini si film mendarat di Jogja dan kemarin sore, tentu saja bareng Lesra dan Tirza, aku meluangkan waktu menontonnya. Apakah "The Lego Movie" memuaskan rasa penasaranku?

Jawaban singkat: Ini film cemerlang!

Memadukan jelujuran kisah "Star Wars" original dan "The Truman Show", plus berbagai referensi lain yang akan tertangkap tergantung keluasan peta nonton kita masing-masing, film ini bergerak lincah dengan plot cerdas dan tak terduga. Komedi, aksi, kepahlawan, perlawanan terhadap tiran, sentuhan kisah cinta--teraduk melalui keping-keping Lego yang begitu ciamik, membuat kita melongo dan ternganga dan terbahak dan bahagia dan ikut mendendangkan lagu temanya.

Tentang apakah film ini? Pertarungan. Bukan pertarungan hitam-putih antara kebaikan dan kejahatan, tetapi pertarungan pelik antara sejumlah pilihan hidup. Hahahaha, filosofis banget ya. Mosok film anak-anak sesublim itu? Sok ndakik-ndakik. Tapi, begitulah. Aku ingin meringkas film ini sebagai zig-zag pertarungan antara:

Keseragaman vs keragaman;
Keboyakan rutinitas vs Ketakterdugaan perayaan hidup;
Kepatuhan beku pada Instruksi vs Kemerdekaan dan kegairahan berkreasi dan berinovasi;
Keamanan dan kenyamanan semu vs Petualangan hidup yang penuh risiko;
Keegoisan individualisme vs Kekuatan kerja sama dan kesalingtergantungan;
Keterkungkungan dalam tembok "Kita vs Mereka" vs Keterbukaan dan kegotongroyongan lintas batas;
Kepemimpinan yang membelenggu dan melumpuhkan vs Kepemimpinan yang memerdekakan dan menghidupkan potensi tiap orang;
dan seterusnya (ehem, lama-lama jadi kedengaran seperti "Hukum Taurat vs Kasih Karunia" ya? Hahahaha).

Di satu sisi, film ini semacam "petunjuk kreatif bermain Lego", namun, di sisi lain, kita yang berhikmat (ehem!), dapat membacanya sebagai "petunjuk kreatif menjalani hidup". Tentang bagaimana kita menjadi istimewa justru karena kita tidak istimewa.

Oya, kalau ada yang perlu dikeluhkan: film ini bergerak begitu gesit, padahal pernik-pernik detailnya begitu cantik dan legit; akibatnya, kita kekurangan waktu untuk mencermati dan mengaguminya.

Selebihnya, yeah... everything is awesome!

26.02.2014

Thursday, January 9, 2014

Cinta dan Kebebasan

Nasihat kepemimpinan dari Rama kepada Barata:

"Barata, hadapilah tugasmu. Peganglah tampuk pimpinan Ayodya sampai tiga belas tahun kemudian, ketika aku sudah selesai dengan masa pembuanganku. Tapi sebelumnya, camkanlah kata-kataku agar engkau dapat menjadi raja bijaksana," kata Rama dengan penuh wibawa. Dan Barata menurutinya. Maka meluncurlah dari mulut Rama, kata-kata bagaikan mutiara, wejangan dari seorang raja.

"Siapakah junjunganmu, hai Barata, selain dia yang menciptakan jagad raya seisinya ini? la sudah turun dari takhtanya di kerajaan langit, berdiam di hatimu dan mengenali sudut-sudut hatimu. Bagai fajar yang dingin ia menyapamu, dengarkanlah Barata, apa yang dikehendakinya bagi seorang raja."

"Barata, dunia ini bergerak menurut hukum ilahi. Dan ketahuilah bahwa hukum ilahi itu adalah cinta. Bahkan matahari, bulan, bintang, dan bumi pun takkan dapat menyembunyikan diri dari hukum ilahi itu. Maka matahari selalu bersinar, bulan senantiasa terang, bintang tak habis-habisnya gemilang, dan bumi sendiri selalu segar, meski mereka enggan dengan kejahatan mahkluk-mahkluknya. Mereka digerakkan oleh cinta, meski dunia ini ditindih dengan kepedihan karena permusuhan.”

"Lihatlah Barata, cinta itu bagaikan samudra kapas, keputih-putihan, yang takkan kabur bertebaran karena dosa-dosa manusia. Seperti purnama sidhi ia berkeliling mengitari jagad. Dunia haus akan dia, Barata. Maka curahkanlah dia ke hati hati para rakyatmu. Apa artinya memerintah kerajaan dengan cinta?”

"Artinya, kau harus memerintah dengan kebebasan. Tiada cinta, Barata, bila tiada kebebasan. Namun sadarlah, Adikku. Bahwa pada hakekatnya kebebasan itu tidak dapat diperintah atau dikuasai. Kebebasan itu bagaikan pohon yang bertumbuh dengan sendirinya, bila ada alam yang menyuburkannya. Maka janganlah kamu bermegah diri jika kau dihormati sebagai raja, sebab ini bukanlah tanda bahwa kamu telah berhasil menguasai mereka, melainkan bahwa rakyatmu sendirilah yang telah berhasil mengatur dirinya sesuai dengan kebebasannya sehingga mereka rela mendudukkanmu sebagai raja.”

"Barata, apakah satu-satunya milik rakyat yang paling berharga dan bernilai, kalau bukan kebebasannya. Kalau mereka mengangkatmu menjadi raja, berarti mereka rela menyerahkan sebagian dari milik mereka satu-satunya itu. Janganlah kau sia-siakan pemberian rakyatmu itu, hargailah dan hormatilah. Dengan demikian tugasmu sebagai raja bukan pertama-tama untuk memerintah, melainkan untuk menyuburkan hidup mereka sebagai manusia, yakni manusia yang berkembang kebebasannya."

"Jangan kau khawatir, Barata, bahwa kebebasan akan menimbulkan huru-hara. Sebab di dunia ini kebebasan pada hakekatnya adalah kerinduan akan kesempurnaan. Kesempurnaan itu mengandalkan manusia yang mampu memperkembangkan dirinya dan ini hanya bisa dijalankan bila manusia di dunia ini bebas. Maka Barata, janganlah kau berprasangka bahwa rakyatmu sedang melakukan kejahatan bila mereka mengadakan huru-hara, sebaliknya jernihkanlah pikiranmu terlebih dahulu akan kemungkinan bahwa huru-hara itu mungkin disebabkan oleh benih-benih kebaikan dan kebebasan yang seharusnya tumbuh tapi terhalang oleh kesempitan dunia.”

“Maka perhatikanlah pula Barata, bahwa pertama-tama bukan hukum yang mengatur negeri, melainkan cinta yang memungkinkan kebebasan itu berkembang. Hukum itu semata-mata mengatur perjalanan manusia seperti nasib yang sudah dipastikan, sedangkan cinta memberi manusia kebebasan untuk meraih kesempurnaannya. Hukum itu adalah suatu ketimpalan, mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Sedangkan cinta itu lebih daripada hukum. Cinta itu adalah kemurahan hati, yang selalu siap memaafkan.”

"Barata, bagaimana kamu dapat memerintah kerajaan secara demikian? Ingatlah bahwa pertama-tama kau sebenarnya harus memerintah dan menjadi raja bagi dirimu sendiri, sebelum kau memerintah dan menjadi raja bagi rakyatmu. Artinya, kau harus menguasai segala nafsumu, kamu harus menjadi bebas sendiri, tanpa keinginan untuk memaksakan apa pun.  Dengan kebebasanmu yang tak terikat pada kehendak dan kemauanmu yang kaku, kau akan terbuka untuk mendengarkan rakyatmu. Bila kau sendiri telah bebas, saat itulah kau sungguh dapat mencintai rakyatmu. Ingatlah pula Barata, sering terjadi seorang raja menyamakan keinginannya dengan keinginan rakyatnya. Tidakkah banyak raja yang suka perang, lalu memaklumkan perang itu sebagai keputusan rakyatnya. Hati-hatilah Barata terhadap keinginanmu sendiri."

"Barata, hari sudah hampir petang. Pulanglah ke Ayodya, dan jadikanlah Ayodya kerajaan cinta. Di mana tiada permusuhan dan percekcokan, dan kedamaian selalu menjadi awan-awannya. Tugasmu berat, Barata, seperti berlayar di samudra dengan perahu kecil. Namun itulah yang harus kau buat bagi rakyat Ayodya. Selamat jalan, Adikku," kata Rama menutup semua wejangannya. Ketika mengucapkan semuanya tadi, Rama bagaikan Wisnu yang menurunkan kebijaksanaannya. Barata mendengarkan semua itu dengan hati yang terbuka.

Sumber: Sindhunata, Anak Bajang Menggiring Angin, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007, h. 95-97.

Sunday, December 29, 2013

Awalnya Episodik, Klimaksnya Bedebah



THE GRAVEYARD BOOK/Cerita dari Pemakaman (Neil Gaiman, Gramedia Pustaka Utama, 2013, a.b. Lulu Wijaya)

Ketika membelinya beberapa bulan lalu, aku langsung membacanya, namun segera patah semangat di halaman-halaman awal karena terjemahannya terasa kurang sedap. Teronggoklah buku itu di rak.

Liburan kemarin, Lesra membawanya sebagai bekal. Aku membawa buku lain, tapi iseng membaca buku ini ketika Lesra sedang meletakkannya. Eh, otakku kali ini seperti gerbang yang membuka, mempersilakan Neil Gaiman berceloteh tentang Nobody Owens, bocah biasa yang tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Premis yang edan!

Bab-bab awalnya terkesan episodik dan tidak bertautan, memperkenalkan dunia ganjil yang dihuni Bod (nama panggilan bocah itu), mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun, dengan diselingi berbagai petualangan heboh, dengan latar sebuah pengalaman keji yang mengantarnya berada di pemakaman itu.

Meski plot seakan tidak bergerak, kisah Bod sungguh mengundangku untuk membalik halaman demi halaman. Dan ketika kisah mencapai klimaks, episode-episode yang tadinya tampak lepas-lepas itu kini jalin-menjalin mendukung penyelesaian konflik. Bedebah betul cara Gaiman menyihir pembaca.

Kisah anak bertahan hidup ini tak ayal mengingatkan pada Harry Potter--dan kisah ini agak mirip kisah bocah penyihir itu diringkus dalam satu buku. Namun, Neil mengaku berutang besar pada The Jungle Book karya Rudyard Kipling, yang berkisah tentang Mowgli, bocah yang dibesarkan di hutan oleh beruang.

Buku seperti ini membuatku berterima kasih atas keliaran imajinasi, dan keliatan si pengarang dalam menundukkan dan membekuknya menjadi dongeng yang elok.

29.12.2013

Wednesday, December 11, 2013

Jemaat Mula-Mula Merayakan Natal

Mengapa orang Kristen merayakan hari Natal? Adakah dasarnya dalam Kitab Suci?


Ada. Dalam 2 Timotius 2:8, misalnya, tertulis, "Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku." Bandingkan pula dengan Roma 1:2-4.

Kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus adalah fakta historis yang terkandung dalam Injil, berita gembira tentang anugerah dan rahmat Allah untuk mendatangkan damai di bumi. Kata "ingatlah" (mnemoneuo) menandakan bahwa peristiwa-peristiwa itu layak diingat, diberitakan, dan dirayakan oleh seluruh orang percaya.

Mengabaikan Natal, dengan demikian, sama saja dengan merusak keutuhan Injil. 

Namun, benarkah Natal jatuh pada tanggal 25 Desember? Apakah jemaat mula-mula merayakan Natal, atau perayaan Natal baru ditetapkan bapa-bapa Gereja sekian abad kemudian, dengan mengadopsi hari raya Saturnalia, hari pemujaan dewa matahari?


Tanggal persis kelahiran Yesus Kristus memang tidak disebutkan dalam Alkitab. Namun, ada sejumlah petunjuk yang dapat diikuti. Kitab Lukas mencatat beberapa momen penting:

#1. saat giliran Zakharia melakukan tugas keimaman, malaikat Gabriel memberitahukan tentang Yohanes;
#2. enam bulan kemudian, malaikat Gabriel menemui Maria di Nazaret;
#3. Yesus lahir pada saat Kaisar Agustus mengadakan sensus.

Peristiwa #1 ada catatannya dalam kalender ibadah Ibrani. Peristiwa #3 ada catatannya dalam sejarah sekuler. Lukas juga memberikan beberapa gambaran yang bisa digunakan untuk menelusuri dan memperkirakan waktu kelahiran-Nya.

Selain itu, jangan lupa, Maria juga menjadi anggota jemaat mula-mula. Saya membayangkan ia belum terlalu pikun untuk mengingat dan menceritakan kembali kapan dan bagaimana ia menerima lawatan malaikat Gabriel, mengunjungi Elisabet, dan kemudian melahirkan bayi Yesus di Betlehem. Tidak sulit bagi jemaat mula-mula untuk menentukan "hari ulang tahun" Yesus Kristus.

Menurut Didascalia atau Konstitusi Rasuli, salah satu dokumen peninggalan gereja mula-mula, gereja purba ternyata memang telah memiliki tradisi merayakan kelahiran Yesus (Natal). Mereka merayakannya setiap tanggal 25 Tebeth (kalender Ibrani).

Tanggal itulah yang dijadikan patokan waktu perayaan Natal. Ketika dikonversi ke dalam kalender Julian, jatuhnya pada 6 atau 7 Januari. Inilah perayaan Natal dalam tradisi Gereja Timur sampai sekarang.

Pada 1582, Paus Gregorius dari Roma memodifikasi kalender Julian menjadi kalender Gregorian. Dalam sistem ini, perayaan Natal jatuh pada tanggal 25 Desember. Inilah tanggal yang digunakan Gereja Barat sampai sekarang.

Begitulah. Tradisi merayakan Natal pada tanggal 25 Desember bukanlah Kristenisasi atas suatu perayaan pagan, melainkan hasil konversi dari kalender Ibrani ke kalender Gregorian. ***

Acuan:

Kegembiraan Bermain dan Kelenturan Berimajinasi



GAZEBO (Senoaji Julius, Indonesia, 2013)

Apakah perpustakaan itu? Ruang sunyi-tenang berisi buku-buku berderet rapi, silakan dibaca dan ditelisik, namun mohon jangan berisik? Gazebo menawarkan ini: perpustakaan adalah ruang bermain dan ruang berimajinasi yang asyik dan menggelitik.

Gazebo mengingatkan saya pada Idiot Box, salah satu episode cemerlang dalam animasi berseri Spongebob Squarepants. Dalam Idiot Box, pertentangan berlangsung antara orang yang kaya imajinasi dan yang miskin imajinasi. Dalam Gazebo, tidak terjadi pertentangan, namun terpapar dua macam imajinasi: imajinasi berdasarkan apa yang kita pahami dan imajinasi berdasarkan apa yang belum kita ketahui. Kesamaannya: kedua film ini terasa segar dan mengundang kita tertawa lepas.

Menontonya, saya juga teringat kembali pada kebiasaan bermain dengan anak-anak waktu mereka masih kecil: menggunakan barang apa saja untuk dimainkan sebagai apa saja. Guling, misalnya, bisa menjadi dinosaurus, kereta api, kuda, ular naga, pentungan. Nah, tokoh-tokoh dalam film pendek ini pun memanfaatkan buku dan benda-benda di sekitar mereka secara kreatif. Dengan piawai Gazebo menggarisbawahi dua persoalan penting dalam hidup anak-anak: kegembiraan bermain dan kelenturan berimajinasi.

Dua topik itu--permainan dan imajinasi--sudah tersirat sejak kredit pembuka yang ditampilkan dalam bentuk wayang kertas, dan kemudian diperkuat oleh teknik penataan adegan dan pengaturan ruangan. Gazebo dapat disebut sebagai film satu adegan satu ruangan, dan dari situ melemparkan kita ke dalam imajinasi tanpa batas. Satu ruang perpustakaan yang terdiri atas beberapa bagian didayagunakan untuk meliuk-belokkan kisah secara tak terduga, persis seperti lenturnya imajinasi. Coba bayangkan: dari Selat Malaka kita dibawa ke Samudera Pasifik (dengan bumbu soundtrack yang nyerempet-nyerempet The Pirates of the Caribbean), mendarat di Benua Amerika bertemu para Indian, lalu kembali ke Sumatera, sebelum tiba-tiba kita diseret ke dalam suasana horor!

Bisalah dikatakan, film kelima Sanggar Cantrik ini film yang paling nyempal, paling lain dari film-film sebelumnya. Gazebo berhasil bercerita tanpa menggurui. Ada sosok guru hadir, namun ia hanya menjadi bingkai pembuka dan penutup, tidak dipaksa menjadi corong penyampai pesan moral. Dalam konteks ini, Gazebo menutup diri secara jitu: tidak menjejali penonton dengan penjelasan, melainkan menyajikan pertanyaan, yang memungkinkan imajinasi itu terus menjalar. ***

Catatan: Pada 7 Desember 2013, Gazebo meraih penghargaan khusus dewan juri dalam FFI 2013 di Semarang.

08.12.2013

Saturday, October 5, 2013

Melayang Tanpa Bobot di Ruang Angkasa


GRAVITY (Alfonso CuarĂ³n, AS/Inggris, 2013)

Kala menonton film-film berlatar ruang angkasa--2001: A Space Odissey, Apollo 13, Wall-E--ada pertanyaan yang berdengung di ulu perutku: Bagaimana seandainya si astronot ucul dari pesawat, terlempar ke ruang tanpa gravitasi, melayang-layang tanpa bobot, menunggu ajal atau penyelamatan? Jawabannya muncul dengan kehadiran Gravity.

Dan betapa spektakuler jawaban itu! Dalam adegan awal sepanjang 13 menit yang melayang anggun bagaikan balet ruang angkasa, doktor biomedis Ryan Stone (Sandra Bullock) melakukan riset di pesawat ulang-alik Explorer didampingi astronot kawakan Matt Kowalski (George Clooney) berlatar bulatan Bumi yang hijau-biru elok. Hanya bisa ternganga kagum melihatnya.

Lalu, datanglah kabar buruk itu: ada satelit rusak dan puing-puingnya yang beterbangan akan melintasi jalur mereka dalam kecepatan tinggi. Dan tercerai-berailah seluruh awak Explorer, dan Ryan terlempar jauh ke angkasa yang mendadak tampak kelam, melayang-layang tanpa bobot, menunggu ajal atau penyelamatan...

Kisahnya sederhana saja, tentang perjuangan bertahan hidup. Saat tubir kematian sudah begitu dekat, orang mendadak tergeragap mencoba memaknai kehidupan, percakapan lalu menyerempet pada religiusitas. Tapi, film ini tidak njelimet dengan filosofi, dan menyajikannya sebagai percakapan ringan antarsahabat yang menyemangati satu sama lain untuk merayakan kehidupan. Latarnyalah--ruang angkasa tanpa gravitasi--yang menimbulkan efek campur aduk: kagum, tertekun, tercekam, merinding.

Film ini utamanya memang tontonan visual yang menakjubkan. Ini salah satu pengalaman 3D terbaik di layar lebar, membawa kita ke dunia luas-megah yang sekaligus menggentarkan, sekelas dengan Avatar dan Life of Pi. Jika menontonnya di layar kaca atau monitor laptop atau gadget, kita bakal kehilangan efek terlingkupi yang membikin kita merasa kerdil.

Sandra Bullock, meski kebanyakan hanya ditampilkan wajahnya, sukses menampilkan emosi yang berlapis-lapis, mulai dari ketakjuban hingga kengerian. Kita kadang-kadang berada di dalam helmnya melihat ke luar, turut merasakan kecemasan dan kepanikannya.

Di ruang angkasa, kita bukan lagi warga suatu negara, kita menjadi warga dunia, warga umat manusia. Kita ikut tertegun saat Ryan menyimak suara-suara dari bumi--guk-guk anjing, musik, tawa, percakapan dalam bahasa asing--dan air matanya menitik--ah, di sini air mata tidak menitik, tetapi melayang sebagai bola air bening berpendar-pendar.

Aku paling suka adegan saat Ryan masuk ke pesawat, melepas pakaian astronotnya, melayang, meringkuk seperti janin--siap dilahirkan kembali. Sublim!

04.09.2013

Thursday, September 19, 2013

Titi Menaklukkan Jakarta



STREET BALLAD: A Jakarta Story (Daniel Ziv, Indonesia, 2013)

Penghasilannya rata-rata 400 ribu sebulan. Seratus ribu untuk suami yang sedang menganggur: uang rokok dan beli pakan ikan hias peliharaan. Seratus ribu untuk uang jajan dan keperluan harian anak. Dua ratus ribu dikirim ke Jawa, membantu orangtua yang sakit-sakitan dan biaya sekolah anak yang tinggal di desa.

Itu penghasilan seorang pengamen yang beroperasi di seputaran Blok M, Jakarta. Namanya Titi Juwariyah. Wajahnya persilangan antara Tri Utami dan Euis Darliah. Suaranya kadang mengingatkan pada Jane Sahilatua kadang mirip dengan Ita Purnamasari.

Kisah hidupnya direkam Daniel Ziv dalam film dokumenter bertajuk "Street Ballad: A Jakarta Story". Pengambilan gambar memakan waktu 4 tahunan. Hasilnya: sebuah potret sebuah subkultur yang dekat, hangat, dan akrab, mengharukan tanpa menjadi lebay, serta di sana-sini menggelikan mengundang tawa. Kita diajak menilik sisi lain Jakarta--dan Indonesia--dari kacamata pengamen yang lumayan unik sosoknya. (Ada film versi panjang, memadukan sosok tiga pengamen, dan rencananya diputar di bioskop awal 2014.)

Titi merantau ke Jakarta sejak usia 14 tahun karena putus sekolah. Sempat menggelandang, ia lalu jadi pengamen karena merasa suaranya lumayan. Ia sudah menikah dua kali. Saat pengambilan gambar, ia tinggal di rumah ibu mertua dengan suami kedua yang sedang menganggur itu--namanya Jagger, suka main ayam jago, konon penggemar berat Rolling Stone--dan anaknya yang paling kecil.

Pagi di rumah ia menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga: menyiapkan makan, memandikan si kecil, menyuapi dan mengantarnya ke sekolah, mencuci baju, mengepel. Urusan rumah beres, baru ia berangkat kerja: mengamen.

Mertuanya seorang pemuka agama sehingga di lingkungan rumah ia mengenakan jilbab. "Tapi enggak mungkin kan saya ngamen pakai jilbab?" katanya. Maka, di tengah jalan sebelum ngamen, ia melepas jilbab dulu. Menurut pengakuannya, penumpang berjilbab jarang memberinya uang. Namun, kala ia menyanyikan lagu Opick, "Bersyukur kepada Allah", ada yang memberinya seratus ribu. Ia pernah dibayar untuk menyanyikan jingle sebuah koran lokal selama tiga hari--mirip dengan kerja buzzer di Twitter. Selebihnya, ia banyak membawakan lagu bikinannya sendiri.

Kisah berkelok mengajak kita mengikuti Titi pulang kampung naik kereta ekonomi ke Ngawi, Jawa Timur. Adegan di desa memberi latar unik dan suasana kejiwaan di balik sosok pengamen seperti Titi. Sekaligus, sekali lagi, memperlihatkan ketimpangan pedih antara Jakarta dan daerah.

Jakarta konon punya slogan angkuh: hadir, atau tersingkir. Titi mewakili sosok yang tersaruk-saruk mencoba hadir. Sekuat dia. Setangguh dia. Dengan impian sederhana: kehidupan yang lebih baik. Maka, di tengah aktivitas mengamen, ia meluangkan waktu untuk ikut kelompok belajar. Adegan di kamar saat ia belajar sekilas tentang komunisme akan membuat kita geli, dan tercenung. Lalu, kita ikut lega saat Titi lulus ujian kesetaraan.

Adegan yang paling kusukai perjalanan naik kereta diiringi lagu "Jaranan". Suara Titi menggeletar serak miris. Tembang dolanan itu jadi terkesan magis. Sekaligus mewakili "gedhebug krincing" perjalanannya, seorang perempuan desa yang mencoba menaklukkan Jakarta.

18.09.2013

*Info lebih lanjut, silakan kunjungi https://www.facebook.com/StreetBallad