Tuesday, October 7, 2014

Pesona Film Bisu dalam Iringan Orkestra Melenakan



SUNRISE (F.W. Murnau, AS, 1927)

Lagi-lagi, pengalaman sangat mengesankan dan sulit dilupakan: menonton film bisu dengan iringan musik secara langsung. Pada 2009, di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, atas prakarsa Goethe Institute, aku dapat menikmati film bisu "Battleship Potemkin" dengan iringan duo piano Adelaide Simbolon dan Pierre Oser yang berderap dinamis selaras dengan kisah film. Semalam, di tempat yang sama, dengan kursi penonton yang sudah diperbarui dan lebih keren, aku hanyut dalam "Sunrise: Song of Two Humans" dengan iringan orkestra Capella Amadeus, memainkan musik karya, ah, ternyata Pierre Oser lagi. Konon, seperti itulah dulu orang menikmati film bisu, saat belum ditemukan teknologi untuk memadukan gambar bergerak dan tata suara pengiringnya. Jadi, ini seperti perjalanan menembus lorong waktu. Dan, betapa memikat!



FILMNYA. "Sunrise" karya F. W. Murnau ini dirilis pertama kali pada 1927, pada masa peralihan dari era film bisu ke era film bersuara--era yang diolok-olok dengan ciamik dalam "Singin' in the Rain". Ditilik dari perspektif era itu, ini film yang sangat menakjubkan.

Kisahnya sebuah fabel bersahaja tentang cobaan hidup: seorang petani hidup sejahtera dengan istri dan bayi mereka di sebuah desa yang permai, digoda perempuan genit dari kota, dan hidup mereka pun terguncang nyaris jungkir-balik. Namun, bagaimana kisah sederhana itu dituturkan melalui rangkaian gambar yang memikat--itulah persoalannya.

Ingat, saat itu kamera belum dapat bergerak leluasa seperti saat ini, dan belum ada komputer untuk mengolah gambar usai syuting. Namun, tiliklah gambar-gambar yang memukau sepanjang film ini. Dia adegan awal, si perempuan genit menyulut rokok di kamar penginapan, mengenakan stoking, lalu--dengan gaun terusan dan selendang hitam melambai--melangkah di jalan pedesaan, dan kamera mengikutinya dari belakang. Cantik sekali.

Saat si suami berselingkuh, terjadi perpindahan gambar yang unik: sang istri memeluk bayinya dalam komposisi yang mengingatkan pada lukisan klasik, berganti-ganti dengan adegan si suami dan si perempuan genit bercinta di rawa-rawa di bawah terang purnama: puitis, mistis, nyaris surealis. Yang satu suasananya sangat membumi, yang lain layaknya mimpi. Mungkin seperti itulah watak perselingkuhan: mencerabut kita dari realitas keseharian, dan membuai kita dalam impian melenakan.

Dan, impian dua insan yang tengah dimabuk asmara itu, impian tentang kehidupan kota yang gemerlap, ditampilkan dalam kolase gambar bertumpuk di latar belakang sana, seolah memenuhi langit malam. Keren!

Pesona seperti itu terus berganti-ganti sepanjang 95 menit durasi film. Terasa ajaib jika mengingat keterbatasan teknologi saat itu, sekaligus menyiratkan penggarapan yang tekun dan penuh kecintaan dari awak pembuat film ini.

Hebatnya lagi, meskipun secara keseluruhan film ini adalah sebuah melodrama, namun ada bumbu thriller psikologis, komedi, dan... bencana alam!

Pantas film ini menjadi salah satu mutiara berharga dalam sejarah perfilman dunia. Akhir kisahnya seperti sebuah nubuatan: akhir dari sebuah era, dan permulaan sebuah era baru. Dalam film, si perempuan kota yang kalah. Ironisnya, di dunia nyata, perempuan kota (baca: perkembangan teknologi film) itu yang berjaya dan makin genit.


 PENGARUHNYA. Aku hanya ingin membahas pengaruh yang kurasakan selama menonton film ini: rasanya film-film lain bermunculan saat mengamati adegan, penokohan, atau gambar tertentu. Ini menunjukkan, "Sunrise" berpengaruh besar pada film-film berikutnya. Kalau bukan pengaruh langsung, ya paling tidak Murnau telah merintis apa yang kemudian dikembangkan pembuat film era selanjutnya.

Bagian thriller psikologis yang berisi rencana pembunuhan, bisa dibandingkan dengan "Strangers on a Train" dan "Dial M for Murder"-nya Alfred Hitchcock. Kontras antara perempuan petani bersahaja dan perempuan kota nan binal itu, nantinya muncul secara lebih kompleks dalam sosok Melanie dan Scarlett dalam "Gone with the Wind". Gerak langkah si petani yang terbata-bata mirip dengan langkah si Monster dari "Frankenstein", namun dalam adegan bercukur di kota, tiba-tiba ia, entah kenapa, mengingatkanku pada Nicolas Cage dalam "Moonstruck".

Salah satu pose ikonik Uma Thurman dalam "Pulp Fiction" ternyata sudah muncul di sini. "Berarti Tarantino memang tukang nonton kelas berat," komentar teman sebelahku, David Setiawan. Kalau Anda penggemar "Babe", si babi cerdik yang menjadi anjing gembala, di sini ada babi mabuk yang lucu banget. Adegan si petani memasang tumpukan rumput gajah di punggung istrinya saat badai mengamuk, dan adegan pencarian dengan perahu-perahu itu, ah... "Titanic" mengikutinya. Adegan berciuman di tengah jalan membikin lalu lintas macet, rasanya muncul di sejumlah film, salah satunya di segmen *Rhapsody in Blue* dalam "Fantasia 2000"--kalau tidak salah ada juga di "Kejarlah Daku Kau Kutangkap". Film ini--khususnya adegan berperahu di danau itu--juga mengingatkanku pada sebuah film fantastis dari Jepang, "Ugetsu" (Kenji Mizoguchi, 1953).

Ah, "Sunrise" seperti peti harta karun yang isinya pepak dan bersinar-sinar!




MUSIKNYA. Nah, ini yang istimewa dan langka. Aslinya, "Sunrise" sudah diedarkan dengan saundtrack dan efek suara (bisa dinikmati di sini). Dalam pemutaran semalam, film diiringi komposisi yang khusus digubah oleh Pierre Oser bagi penonton Indonesia, dimainkan oleh Capella Amadeus.

Aku, Lesra, dan Tirza mendapatkan tempat duduk di deretan terdepan. Eh, ketika Pierre Oser muncul sebagai konduktor, ternyata posisinya di depan Lesra sehingga mengalangi pandangannya. Lesra harus melongok-longok sedikit untuk menikmati filmnya. Jadi teringat "Fantasia", yang sesekali memperlihatkan konduktornya. Bedanya, di "Fantasia" animasi dibuat mengikuti musik, sedangkan semalam musiklah yang digarap mengikuti film.

Dan, komentarku tidak panjang-panjang: komposisi Pierre Oser berhasil menyatu secara organik, memberi denyut jiwa, menghidupkan gambar-gambar film yang sudah dahsyat itu, lembut melenakan, mengajak penonton menembus lorong waktu. Sempat lampu sang konduktor mati dua kali (dalam adegan suami-istri memasuki pasar malam dan adegan suami terhempas ke pantai lalu mulai mencari-cari istrinya), namun gangguan itu justru memperlihatkan bahwa gambar film itu memang sudah berbicara secara kuat.

Tak terasa, malam film yang terdahulu dengan yang sekarang ini berselisih 5 tahun. Memang tidak bisa buru-buru mempersiapkan iringan musiknya. Aku berharap program ini bisa lebih sering--dua atau setahun sekali. Dan, tidak sabar menunggu proyek berikutnya. Murnau lagi, "Nosferatu" (1922), mungkin? ***

Wednesday, August 13, 2014

Kemerdekaan Membaca



Kenanganku tentang bahan bacaan masa kecilku: orangtuaku tidak pernah melarangku membaca buku atau bacaan tertentu. Ayahku, berdasarkan kemampuan dananya, menyediakan bacaan yang, dalam pandanganku, dianggapnya bagus bagi keluarga. Ia berlangganan Kompas, Intisari, dan Djoko Lodhang untuk bacaan kami semua. Aku dan kakakku yang masih SD pernah dilanggankan Donal Bebek dan Bobo. Ketika kakak-kakakku yang besar mulai bekerja, mereka juga membeli atau berlangganan majalah pilihan mereka sendiri. Ada Femina, Kartini, Manja (roman remaja, terbitan berkala majalah Hai, novel-novel keren karya penulis top masa itu), Anita Cemerlang, Nova. Di gudang juga ada koleksi beberapa buku dan majalah lama, antara lain Ria Film dan Aktuil. Di luar itu, aku bisa meminjam bacaan dari tetangga atau teman.

Sekali lagi, orangtuaku tidak pernah melarang atau menyensor bacaan tertentu. Tidak ada bacaan yang dilabeli “bacaan dewasa” dan tidak boleh kusentuh. Kalau aku bisa membaca dan memahaminya, baca saja. Larangan ayahku lebih ke arah bagaimana aku membaca: karena aku keranjingan membaca, beliau akan marah kalau sampai aku lalai mengerjakan tugas rumahku gara-gara asyik dengan bacaan.

Jadilah, sejak kecil, tidak jarang aku terpapar dengan bacaan yang bisa dibilang belum cocok untuk umurku. Misalnya, ketika aku masih SMP, Kompas memuat cerpen Emha Ainun Najib yang berjudul “Laki-laki ke-1.000 di Ranjangku”. Orangtuaku—atau kakak-kakakku—tidak serta-merta menyembunyikan koran itu. Aku tetap leluasa membacanya. Di Kompas juga dimuat komik strip bersambung, serial “Garth”, yang di bagian-bagian tertentu menyajikan adegan aduhai. Lalu, di Femina ada rubrik kisah nyata, dan di Kartini namanya amat legendaris: “Oh Mama, Oh Papa”, isinya kurang lebih seputar pergumulan manusia menghadapi berbagai persoalan hidup, khususnya dalam hubungan rumah tangga. Ada pula berbagai rubrik konsultasi, berisi tanya-jawab antara pembaca dan penjaga rubrik yang dianggap ahli, membahas mulai dari cara mengatur keuangan, mengatasi rasa malu, memilih karier, sampai pergumulan dengan homoseksualitas. Saat SMP pula aku sudah membaca novel seperti Harimau! Harimau!, Romo Rahadi (ada adegan kakak-beradik laki-laki perempuan mandi bareng), Dua Ibu, Burung-Burung Manyar, dan Bumi Manusia (bangga banget bisa diam-diam mendapat “bacaan terlarang” ini, dan terhenyak membaca kisah Minke dan Anneliesse). Kalau aku tidak membaca suatu bacaan, itu bukan karena dilarang, melainkan karena memang tidak atau belum berminat.

Orangtuaku jarang berdiskusi secara terbuka dengan anak-anak di meja makan atau di ruang keluarga. Namun, dari bacaan-bacaan yang leluasa kami baca itu, dunia jadi terbuka. Bahwa ada berbagai fakta kehidupan. Bahwa dunia ini tidak hitam-putih, tetapi warna-warni. Bahwa ada yang dianggap jahat atau menyimpang. Bahwa ada yang patut diteladani. Ada kisah cinta yang cengeng; ada pengalaman hidup yang pahit dan traumatis. Dan, banyak pula perkara yang misterius, tak terpahami, sulit dijelaskan, dan cukup dimaklumi saja. Bacaan-bacaan itu tidak selalu memberi jawaban yang memuaskan, malah lebih sering memantik pertanyaan yang pelik, dan membuatku terus haus mencari bacaan-bacaan lain. Paling tidak, bacaan-bacaan itu menolongku menyadari betapa hidup ini kompleks, pedih, dan sekaligus indah.

Untuk itu, aku berterima kasih atas kemerdekaan membaca yang disediakan orangtuaku. Sebuah warisan yang sungguh berharga. Aku berharap dapat menyediakan kemerdekaan serupa bagi anak-anakku.

Dan, aku sedih ketika ada pihak yang sok jumawa menyensor buku.

Jogja, 13.08.2014

Thursday, July 24, 2014

Kepemimpinan Kera



DAWN OF THE PLANET OF THE APES (Matt Reeves, AS, 2014)

Koba memerintahkan Ash untuk membunuh seorang manusia. Ash menolaknya. Kenapa? Koba ini baru saja merebut kepemimpinan Caesar, pemimpin para kera, dengan hasutan. Ia sembunyi-sembunyi menembak Caesar, dan melemparkan kesalahan pada manusia, lalu memimpin pasukan kera menyerbu manusia. Ash menolak perintah Koba karena teringat akan kepemimpinan Caesar. "Caesar tidak akan melakukannya," katanya.

Adegan kecil itu terasa membekas: bahwa kepemimpinan inspirasional itu bisa amat bertenaga. Sekalipun sosok sang pemimpin tidak hadir, inspirasinya dapat terus menjadi daya hidup dan menggerakkan orang dalam menentukan pilihan. Meskipun pilihan itu harus dibayar dengan nyawa. Dan, meskipun kera-kera lain memilih manut miturut dalam cengkeraman ketakutan.

Dawn of the Planet of the Apes (DPA) menampilkan pesan kepemimpinan semacam itu dalam jalinan cerita yang memikat. Tadinya aku kurang tertarik karena belum menonton prekuelnya, Rise of the Planet of the Apes (2011). Ternyata film ini dapat dinikmati secara mandiri, dan dengan lihai menyedot kita ke dalam pusaran konfliknya. Kira-kira seperti menonton Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest sebelum menonton film pertamanya. Tetap seru! Akhir ceritanya pun sama-sama menggantung, kelam seolah tanpa harapan, membuat kita menunggu-nunggu lanjutannya.

Sebagai film brondong jagung, DPA mengesankan. Teknik motion capture-nya sangat mulus, sukses menampilkan gerombolan kera secara hidup. Ketika kera-kera itu berderap memacu kuda, terasa begitu meyakinkan. Yang lebih piawai lagi, meski wajah kera-kera itu agak sulit dibedakan satu sama lain, toh gerak emosi masing-masing terpancar dengan kuat. Kera-kera itu layak dinominasikan untuk Oscar!

Selebihnya, film keren ini mengingatkanku pada perbedaan antara berita dan cerita. Pada era ketika breaking news lebih berlimpah daripada news, kita cenderung hanya mendapatkan apa-siapa-kapan-di mana. Kita banyak kehilangan bagaimana dan mengapanya. Sudah begitu, selarik cuitan di Twitter atau satu status pendek di Facebook, misalnya, sudah bisa mengundang reaksi berpanjang-panjang, melebar ke sana kemari. Lalu, tanpa sadar, kita sudah terjebak dalam perspektif yang hitam-putih. Kalaupun ada berita investigatif, ketika media sudah kehilangan netralitas dan independensinya, kita bertanya-tanya, pemberitaan ini bias ke mana.

Cerita, sebaliknya, menghadirkan dunia yang lebih masuk akal dari kenyataan. Ia menyajikan apa-siapa-kapan-di mana-bagaimana-mengapa secara relatif utuh. Kita diberi ruang untuk menimbang dan merenung. Kita diberi kesempatan untuk mengintip motivasi masing-masing pihak. Kita dapat mencatat nuansa karakter yang lebih berwarna. Bahwa manusia dan kera itu tidak dapat digebyah uyah begitu saja yang satu jahat dan yang lain baik, misalnya. Dan kita pun, mudah-mudahan, tertolong untuk mengambil keputusan secara lebih arif.

Aku ingin menggarisbawahi perkataan Dalai Lama, betapa dunia ini tidak memerlukan lebih banyak orang "sukses", melainkan lebih banyak, salah satunya, juru cerita yang piawai. Juru cerita yang menolong kita menjelajahi lekuk liku kehidupan, dan merayakannya. Bisa juga ditambahkan, kita memerlukan lebih banyak telinga yang mau mendengarkan, mau menyimak, bukan mulut yang terburu-buru bereaksi secara instan.

DPA, dalam kemasannya sebagai film hiburan, berhasil menawarkan cerita yang layak kita simak.

24.07.2014

Thursday, June 26, 2014

Lapangan Bola sebagai Laboratorium Kebhinnekaan



Cahaya dari Timur: Beta Maluku (Angga Dwimas Sasongko, Indonesia, 2014)

Sani Tawainela, tukang ojek dari Tulehu, terperangkap di tengah kerusuhan saat berbelanja terigu di Ambon. Seorang bocah sama-sama berlindung, namun ia lalu meloloskan diri, meninggalkan kalung rantai di tangan Sani. Di rumah, menyimak berita di televisi lokal, Sani melihat si bocah ternyata tewas tertembak. Kamera mendekati tangan Sani yang meremas kalung rantai peninggalan si bocah.

Ketika kerusuhan menjalar ke kampungnya, Sani terusik melihat bocah-bocah kecil berhamburan menontonnya, tak waspada kalau-kalau terkena celaka. Terpikir olehnya untuk melindungi mereka. Apa modalnya? Ah, rupanya tukang ojek ini dulunya pesepakbola andal, sempat ikut pelatnas PSSI U-15, namun gagal merintis karier sebagai pemain profesional. Ia pun menawari mereka berlatih bola. Anak-anak itu, yang mengenali kecakapan Sani menggocek bola, antusias menyambutnya.

Dengan pembukaan yang amat efektif tersebut, "Cahaya dari Timur: Beta Maluku" (CdT) segera menyedot kita ke dalam liukan cerita yang mengalir pelan namun gesit. Plot utama melibatkan Sani, yang hasratnya melatih bola berbenturan dengan kondisi keluarga yang terlilit masalah keuangan. Subplotnya melibatkan anak-anak pemain bola: Hari "Jago", Alvin, dan Salim atau Salembe. Hari menghadapi ayahnya, yang menentangnya menekuni bola. Alvin ingin membawa uang 1 miliar untuk Mamanya dari tendangan kakinya. Si bandel Salim merepotkan ibunya yang membesarkannya seorang diri.

Dengan menjadikan konflik antaragama sebagai latar, dan lebih memilih berkutat pada drama insani berlatar dunia sepakbola, CdT tampil kuat. Sebagai film olahraga, film ini amat memikat, mengikuti tradisi genre tersebut dengan konsisten, namun tetap menawarkan kesegarannya sendiri, hingga film berklimaks pada--tentu saja--pertandingan besar dan menentukan. Menurutku, CdT layak disandingkan dengan film Hollywood sejenis, seperti "Remember the Titans".

Namun, CdT menawarkan lebih dari sekadar kisah olahraga. Pada bagian awal, film ini menampilkan bagaimana sepakbola sebagai suaka perlindungan bagi anak terhadap kerusuhan. Pada paruh kedua, ketika Sani memutuskan untuk mencampur pemain beragama Islam dan Kristen menjadi satu tim, film bergeser menggunakan sepakbola sebagai laboratorium kebhinekaan. Konflik antaragama yang di awal film digambarkan dengan adu parang dan bom molotov, di lapangan meledak sebagai adu mulut dan perkelahian yang tajam dan menyesakkan dada.

Skenario garapan Swastika Nohara dan M. Irfan Ramli terasa kokoh dan beres. Plot utama dan plot pendukung jalin-menjalin dengan rapi, menggelindingkan persoalan demi persoalan yang membuat penonton terus penasaran mengikutinya. Satu masalah selesai, muncul benturan lain yang tak kalah pelik. Saat kita terharu menyaksikan gotong-royong warga mendukung tim kesayangan mereka (dalam adegan yang mengingatkan pada ending "It's A Wonderful Life"), misalnya, ternyata Sani masih harus mengambil langkah nekat, yang meretakkan hubungannya dengan sang istri, Haspa.

Para pemain layak diacungi jempol. Chicco Jerikho, dalam debut layar lebarnya, memukau sebagai Sani, menjadi magnet yang menyedot perhatian sepanjang film. Pendatang baru Shafira Umm sebagai Haspa Umarella menampilkan sosok istri yang mencintai dan mendukung suaminya, namun sekaligus cemas dan kesal dengan langkah-langkah Sani yang kadang tak dipahaminya. Jajang C. Noer tampil kalem dan lembut, membaur dengan deretan pemain baru yang tampil cemerlang dalam kewajaran mereka. Ensemble cast yang menawan!

Ada hal menarik soal pemeranan ini. Chicco yang beragama Kristen didapuk memerankan tokoh beragama Islam. Sebaliknya, Abdurrahman Arif memerankan seorang guru Katholik. Kurasa ini sebuah kesengajaan untuk memperkuat pesan film. 

Pesan film ini tersampaikan dengan kokoh tanpa kesan menggurui. Banyak bagian yang membuat mata berkaca-kaca, bukan karena paparan kesedihan, melainkan karena kebajikan dan perbuatan welas asih. Dengan durasi 2,5 jam, film ini mengambil cukup waktu untuk membenamkan kita ke dalam kehidupan tokoh-tokohnya sehingga kita berempati dengan pergumulan mereka. 

Ketika Sani mengamuk dan berceramah menjelang akhir film, kita tidak menangkapnya sebagai sosok yang sok menggurui. Justru sebaliknya, kita melihatnya sudah habis akal. Malahan kita jadi ikut tertampar. "Beta melatih kalian sejak kanak-kanak karena beta ingin memberi kalian kenangan yang baik (di tengah kecamuk kerusuhan)," katanya (ah, jadi ingat sosok ayah dalam "Life is Beautiful", yang melindungi anaknya dari kengerian holocaust itu).

Menggarisbawahi soal konflik yang terseret sampai ke lapangan, ia berkata, "Waktu tidak cukup untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kita harus berjuang untuk hidup lebih baik." Lagi-lagi, ini bukan seruan seorang motivator ulung, tetapi luapan rasa frustasi seorang pelatih atas kebebalan anak-anak asuhnya, seseorang yang turut bersama-sama merasakan dampak kerusuhan.

CdT menutup diri dengan rangkaian adegan yang disunting secara gemilang, membawa kita ulang-alik Jakarta-Maluku, dan di Maluku kita diajak meloncat-loncat dari masjid, gereja, sekolah, rumah penduduk, dan warung kopi. Adegan yang dinamis dan efektif secara sinematik, mengundang tawa segar, sekaligus mengguratkan pesan secara menggetarkan.

Keluar dari bioskop, aku tercenung-cenung. Selama kita masih dalam bingkai pemikiran mayoritas versus minoritas, bukan bersaudara sebagai satu keluarga besar, sulit kita meraih kemenangan bersama. Ini memang film tentang Maluku, namun mau tak mau kita akan menariknya ke wilayah yang lebih luas: tentang Indonesia Raya.

Di antara film Indonesia yang sempat kutonton sepanjang 15 tahun terakhir, menurutku, ini film terbaik selain "Opera Jawa" dan "Negeri di Bawah Kabut". "Cahaya dari Timur: Beta Maluku" adalah mutiara yang kemilau. ***

26.06.2014

Thursday, February 27, 2014

Kecemerlangan The Lego Movie



THE LEGO MOVIE (Christopher Miller & Phil Lord, AS, 2014)

Ketika pertama kali tahu akan munculnya film Lego, aku hanya mengangkat bahu. Lesra dan Tirza sudah sering mengunduh film-film pendek Lego dari Youtube, mereka senang menontonnya dan cekikikan. Tapi, ya sudah begitu saja, aku hanya sekilas ikut meliriknya dan tidak paham betul apa yang membuat mereka cekikikan. Memang kalau kemudian dibikin film panjang untuk diputar di bioskop, apa istimewanya? Paling jadi semacam iklan produk versi panjang. Begitu pikirku awalnya.

Namun, seminggu menjelang tanggal rilis, komentar dan celoteh orang yang sudah menontonnya dan berkicau di internet memperlihatkan antusiasme yang menular. Ulasan bagus demi ulasan bagus menyusul bermunculan (saat ini terkumpul skor 82 di Metacritic untuk film ini). Jadi penasaran aku. Seistimewa itukah "The Lego Movie"?

Akhirnya, minggu ini si film mendarat di Jogja dan kemarin sore, tentu saja bareng Lesra dan Tirza, aku meluangkan waktu menontonnya. Apakah "The Lego Movie" memuaskan rasa penasaranku?

Jawaban singkat: Ini film cemerlang!

Memadukan jelujuran kisah "Star Wars" original dan "The Truman Show", plus berbagai referensi lain yang akan tertangkap tergantung keluasan peta nonton kita masing-masing, film ini bergerak lincah dengan plot cerdas dan tak terduga. Komedi, aksi, kepahlawan, perlawanan terhadap tiran, sentuhan kisah cinta--teraduk melalui keping-keping Lego yang begitu ciamik, membuat kita melongo dan ternganga dan terbahak dan bahagia dan ikut mendendangkan lagu temanya.

Tentang apakah film ini? Pertarungan. Bukan pertarungan hitam-putih antara kebaikan dan kejahatan, tetapi pertarungan pelik antara sejumlah pilihan hidup. Hahahaha, filosofis banget ya. Mosok film anak-anak sesublim itu? Sok ndakik-ndakik. Tapi, begitulah. Aku ingin meringkas film ini sebagai zig-zag pertarungan antara:

Keseragaman vs keragaman;
Keboyakan rutinitas vs Ketakterdugaan perayaan hidup;
Kepatuhan beku pada Instruksi vs Kemerdekaan dan kegairahan berkreasi dan berinovasi;
Keamanan dan kenyamanan semu vs Petualangan hidup yang penuh risiko;
Keegoisan individualisme vs Kekuatan kerja sama dan kesalingtergantungan;
Keterkungkungan dalam tembok "Kita vs Mereka" vs Keterbukaan dan kegotongroyongan lintas batas;
Kepemimpinan yang membelenggu dan melumpuhkan vs Kepemimpinan yang memerdekakan dan menghidupkan potensi tiap orang;
dan seterusnya (ehem, lama-lama jadi kedengaran seperti "Hukum Taurat vs Kasih Karunia" ya? Hahahaha).

Di satu sisi, film ini semacam "petunjuk kreatif bermain Lego", namun, di sisi lain, kita yang berhikmat (ehem!), dapat membacanya sebagai "petunjuk kreatif menjalani hidup". Tentang bagaimana kita menjadi istimewa justru karena kita tidak istimewa.

Oya, kalau ada yang perlu dikeluhkan: film ini bergerak begitu gesit, padahal pernik-pernik detailnya begitu cantik dan legit; akibatnya, kita kekurangan waktu untuk mencermati dan mengaguminya.

Selebihnya, yeah... everything is awesome!

26.02.2014

Thursday, January 9, 2014

Cinta dan Kebebasan

Nasihat kepemimpinan dari Rama kepada Barata:

"Barata, hadapilah tugasmu. Peganglah tampuk pimpinan Ayodya sampai tiga belas tahun kemudian, ketika aku sudah selesai dengan masa pembuanganku. Tapi sebelumnya, camkanlah kata-kataku agar engkau dapat menjadi raja bijaksana," kata Rama dengan penuh wibawa. Dan Barata menurutinya. Maka meluncurlah dari mulut Rama, kata-kata bagaikan mutiara, wejangan dari seorang raja.

"Siapakah junjunganmu, hai Barata, selain dia yang menciptakan jagad raya seisinya ini? la sudah turun dari takhtanya di kerajaan langit, berdiam di hatimu dan mengenali sudut-sudut hatimu. Bagai fajar yang dingin ia menyapamu, dengarkanlah Barata, apa yang dikehendakinya bagi seorang raja."

"Barata, dunia ini bergerak menurut hukum ilahi. Dan ketahuilah bahwa hukum ilahi itu adalah cinta. Bahkan matahari, bulan, bintang, dan bumi pun takkan dapat menyembunyikan diri dari hukum ilahi itu. Maka matahari selalu bersinar, bulan senantiasa terang, bintang tak habis-habisnya gemilang, dan bumi sendiri selalu segar, meski mereka enggan dengan kejahatan mahkluk-mahkluknya. Mereka digerakkan oleh cinta, meski dunia ini ditindih dengan kepedihan karena permusuhan.”

"Lihatlah Barata, cinta itu bagaikan samudra kapas, keputih-putihan, yang takkan kabur bertebaran karena dosa-dosa manusia. Seperti purnama sidhi ia berkeliling mengitari jagad. Dunia haus akan dia, Barata. Maka curahkanlah dia ke hati hati para rakyatmu. Apa artinya memerintah kerajaan dengan cinta?”

"Artinya, kau harus memerintah dengan kebebasan. Tiada cinta, Barata, bila tiada kebebasan. Namun sadarlah, Adikku. Bahwa pada hakekatnya kebebasan itu tidak dapat diperintah atau dikuasai. Kebebasan itu bagaikan pohon yang bertumbuh dengan sendirinya, bila ada alam yang menyuburkannya. Maka janganlah kamu bermegah diri jika kau dihormati sebagai raja, sebab ini bukanlah tanda bahwa kamu telah berhasil menguasai mereka, melainkan bahwa rakyatmu sendirilah yang telah berhasil mengatur dirinya sesuai dengan kebebasannya sehingga mereka rela mendudukkanmu sebagai raja.”

"Barata, apakah satu-satunya milik rakyat yang paling berharga dan bernilai, kalau bukan kebebasannya. Kalau mereka mengangkatmu menjadi raja, berarti mereka rela menyerahkan sebagian dari milik mereka satu-satunya itu. Janganlah kau sia-siakan pemberian rakyatmu itu, hargailah dan hormatilah. Dengan demikian tugasmu sebagai raja bukan pertama-tama untuk memerintah, melainkan untuk menyuburkan hidup mereka sebagai manusia, yakni manusia yang berkembang kebebasannya."

"Jangan kau khawatir, Barata, bahwa kebebasan akan menimbulkan huru-hara. Sebab di dunia ini kebebasan pada hakekatnya adalah kerinduan akan kesempurnaan. Kesempurnaan itu mengandalkan manusia yang mampu memperkembangkan dirinya dan ini hanya bisa dijalankan bila manusia di dunia ini bebas. Maka Barata, janganlah kau berprasangka bahwa rakyatmu sedang melakukan kejahatan bila mereka mengadakan huru-hara, sebaliknya jernihkanlah pikiranmu terlebih dahulu akan kemungkinan bahwa huru-hara itu mungkin disebabkan oleh benih-benih kebaikan dan kebebasan yang seharusnya tumbuh tapi terhalang oleh kesempitan dunia.”

“Maka perhatikanlah pula Barata, bahwa pertama-tama bukan hukum yang mengatur negeri, melainkan cinta yang memungkinkan kebebasan itu berkembang. Hukum itu semata-mata mengatur perjalanan manusia seperti nasib yang sudah dipastikan, sedangkan cinta memberi manusia kebebasan untuk meraih kesempurnaannya. Hukum itu adalah suatu ketimpalan, mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Sedangkan cinta itu lebih daripada hukum. Cinta itu adalah kemurahan hati, yang selalu siap memaafkan.”

"Barata, bagaimana kamu dapat memerintah kerajaan secara demikian? Ingatlah bahwa pertama-tama kau sebenarnya harus memerintah dan menjadi raja bagi dirimu sendiri, sebelum kau memerintah dan menjadi raja bagi rakyatmu. Artinya, kau harus menguasai segala nafsumu, kamu harus menjadi bebas sendiri, tanpa keinginan untuk memaksakan apa pun.  Dengan kebebasanmu yang tak terikat pada kehendak dan kemauanmu yang kaku, kau akan terbuka untuk mendengarkan rakyatmu. Bila kau sendiri telah bebas, saat itulah kau sungguh dapat mencintai rakyatmu. Ingatlah pula Barata, sering terjadi seorang raja menyamakan keinginannya dengan keinginan rakyatnya. Tidakkah banyak raja yang suka perang, lalu memaklumkan perang itu sebagai keputusan rakyatnya. Hati-hatilah Barata terhadap keinginanmu sendiri."

"Barata, hari sudah hampir petang. Pulanglah ke Ayodya, dan jadikanlah Ayodya kerajaan cinta. Di mana tiada permusuhan dan percekcokan, dan kedamaian selalu menjadi awan-awannya. Tugasmu berat, Barata, seperti berlayar di samudra dengan perahu kecil. Namun itulah yang harus kau buat bagi rakyat Ayodya. Selamat jalan, Adikku," kata Rama menutup semua wejangannya. Ketika mengucapkan semuanya tadi, Rama bagaikan Wisnu yang menurunkan kebijaksanaannya. Barata mendengarkan semua itu dengan hati yang terbuka.

Sumber: Sindhunata, Anak Bajang Menggiring Angin, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007, h. 95-97.

Sunday, December 29, 2013

Awalnya Episodik, Klimaksnya Bedebah



THE GRAVEYARD BOOK/Cerita dari Pemakaman (Neil Gaiman, Gramedia Pustaka Utama, 2013, a.b. Lulu Wijaya)

Ketika membelinya beberapa bulan lalu, aku langsung membacanya, namun segera patah semangat di halaman-halaman awal karena terjemahannya terasa kurang sedap. Teronggoklah buku itu di rak.

Liburan kemarin, Lesra membawanya sebagai bekal. Aku membawa buku lain, tapi iseng membaca buku ini ketika Lesra sedang meletakkannya. Eh, otakku kali ini seperti gerbang yang membuka, mempersilakan Neil Gaiman berceloteh tentang Nobody Owens, bocah biasa yang tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Premis yang edan!

Bab-bab awalnya terkesan episodik dan tidak bertautan, memperkenalkan dunia ganjil yang dihuni Bod (nama panggilan bocah itu), mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun, dengan diselingi berbagai petualangan heboh, dengan latar sebuah pengalaman keji yang mengantarnya berada di pemakaman itu.

Meski plot seakan tidak bergerak, kisah Bod sungguh mengundangku untuk membalik halaman demi halaman. Dan ketika kisah mencapai klimaks, episode-episode yang tadinya tampak lepas-lepas itu kini jalin-menjalin mendukung penyelesaian konflik. Bedebah betul cara Gaiman menyihir pembaca.

Kisah anak bertahan hidup ini tak ayal mengingatkan pada Harry Potter--dan kisah ini agak mirip kisah bocah penyihir itu diringkus dalam satu buku. Namun, Neil mengaku berutang besar pada The Jungle Book karya Rudyard Kipling, yang berkisah tentang Mowgli, bocah yang dibesarkan di hutan oleh beruang.

Buku seperti ini membuatku berterima kasih atas keliaran imajinasi, dan keliatan si pengarang dalam menundukkan dan membekuknya menjadi dongeng yang elok.

29.12.2013