Bantu VOTE ya solusi usulanku untuk kompetisi Live Borderless Sepak Up Challenge 2009. Aku menawarkan ide untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Silakan simak dan klik tombol VOTE. Matur nuwun sanget, mauliate godang, thanks a lot, kamsia, hatur nuhun...
LIVE BORDERLESS :: Ragam :: BALADA TELEVISI RUSAK (Kiat Menumbuhkan Minat Baca pada Anak)
Friday, October 23, 2009
VOTE Ide Kreatif Ini: BALADA TELEVISI RUSAK (Kiat Menumbuhkan Minat Baca pada Anak)
Friday, October 16, 2009
terima kasih telah mengajariku untuk bersedih
terima kasih telah mengajariku untuk bersedih
menerakan makna pada kehilangan
seperti subuh melepas malam
seperti petang menelan siang
ada yang tak terkatakan oleh air mata
atau puisi yang paling pedih
seperti jejak parfum yang kian menipis
sebuah bangku, di depanku, mendadak kosong
malam menebal
terima kasih telah mengajariku untuk berpisah
dari warna-warni yang kucintai:
gelap rambutnya. jernih rata giginya. debar ritmis jantungnya.
malam mengental. tangan bergenggaman. mata
berpagutan.
ada yang tak
terkatakan
oleh cahaya yang paling gemilang:
terima kasih karena
telah merengkuhku
jogja, 2009
Sunday, October 11, 2009
Balada Televisi Rusak
Menurut saya, televisi itu sangat mendidik. Setiap kali seseorang menyalakannya, saya pindah ke ruang sebelah dan membaca buku.
“Susah banget nyuruh anak-anak belajar. Tapi, kalau nonton tivi, membantah terus kalau disuruh berhenti,” keluh seorang ibu.
”Bagaimana ya menumbuhkan minat baca pada anak? Mereka lebih suka nonton tivi,” kata ibu yang lain.
”Anak-anak, kalau enggak dolan, ya nonton tivi terus,” timpal ibu yang lain lagi.
Saya tersenyum menyimak obrolan itu. Baru-baru ini saya menemukan sebuah rahasia hebat untuk membangkitkan minat baca pada anak. Sebuah rahasia yang telah terkubur berabad-abad. Hanya, saya tidak tahu berapa banyak orang yang mau mendengarnya.
Anda mau?
Hm---yakin? Sini, deh, saya bisiki.
Lo, jangan memandang saya dengan kening berkerut begitu, dong. Resep itu sudah dicoba di dapur keluarga kami dan saya sudah melihat hasilnya dengan mata kepala sendiri. Dijamin manjur!
Ceritanya, ketika pindah ke rumah kontrakan baru, saya membeli televisi bekas milik teman. Antena integralnya sudah copot. Pesawat itu tidak bisa menangkap siaran televisi stasiuan mana pun. Semula saya memang berniat memakainya untuk memutar video saja. Tetapi, saya lalu tergoda membeli antena tambahan. Karena kurang ahli dalam seluk-beluk pertukangan, saya meminta bantuan kawan untuk memasangnya. Kami mengikat antena itu di ujung sebatang bambu pendek dan, dengan sedikit membongkar atap, menopangkan batang bambu itu pada kasau. Tali antena dihubungkan ke televisi dan... sukses! Kini pesawat kecil itu bisa memancarkan siaran sejumlah stasiun dengan gambar yang lumayan bening. Menonton televisi pun menjadi salah satu menu hiburan sehari-hari di rumah kami.
Sayangnya, mahakarya pertukangan itu hanya bertahan beberapa bulan. Entah tertiup angin sepoi-sepoi entah tersenggol burung emprit, tiang antena itu roboh. Untung tidak memecahkan genteng atap tetangga. Yang jelas, pesawat itu kembali ke posisi semula: bila dinyalakan, hanya dipenuhi semut hitam-putih-abu-abu yang berisik.
Saya tergoda untuk mencoba antena jenis lain. Saya beli antena duduk. Saya pasang. Saya putar ke berbagai arah, berusaha mencari posisi yang tepat, agar dapat menangkap siaran sebaik mungkin. Hasilnya? Gambar dan suara memang muncul, namun kualitasnya menyedihkan.
Begitulah. Tampaknya kami harus puas menggunakan pesawat itu hanya untuk menayangkan video film atau musik. Berkuranglah acara hiburan di rumah kami.
Tetapi, kami jadi punya lebih banyak waktu untuk aktivitas lain. Kami punya lebih banyak waktu untuk bermain bersama. Kami punya lebih banyak waktu membaca buku. Dan, anak-anak bisa lebih berkonsentrasi saat belajar.
Suatu hari saya meminjam Rahasia Logam Ajaib dari serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Niat awal ingin bernostalgia, selain mau mengiming-imingi Lesra, anak sulung kami, siapa tahu ia sudah tertarik membaca novel setebal itu. Apa yang terjadi? Ia menyalip saya, merampungkan novel itu dalam tiga etape. Menjelang usia kedelapan, ia telah membaca novel pertamanya.
”Selamat ya, Les!” kata saya.
Karena kami juga suka nonton film, muncullah sebuah ide. Saya berinisiatif membuat perjanjian kecil dengannya, “Mulai sekarang, kalau ada novel yang dijadikan film, kamu harus membaca dulu novelnya, baru boleh menonton filmnya. Ya?” Ia mengangguk.
Lebih senang lagi, Tirza, adiknya yang berusia enam setengah tahun, ikut-ikutan. Sebelumnya ia masih lebih senang dibacakan buku. Sekarang ia jadi bergairah membaca sendiri buku-buku cerita tipis koleksinya.
Nah, Anda mau mengikuti jejak kami merusakkan televisi di rumah?
Silakan. Tetapi, kalau hasilnya tidak segera muncul, lalu Anda menganggap saya hanya mengibul, jangan menuntut ganti rugi ke rumah kami, ya!
Soalnya...
Ini dia. Soalnya, ada resep lain yang terkubur lebih dalam lagi, nyaris mengeras bersama fosil-fosil.

Mematikan televisi dan menggantinya dengan aktivitas membaca jelas penting. Tetapi, tidak ada simsalabim. Jangan berharap upaya itu langsung mendatangkan hasil yang gilang-gemilang dalam sepekan.
Sejak kecil kami sudah mendekatkan Lesra dan Tirza dengan bacaan. Ketika masih merangkak Lesra sudah suka membuka-buka koran. Sampai-sampai suatu hari ia memamah koran. Kami baru tahu ketika mengamati beraknya!
Bacaan pertama mereka buku abjad bergambar, tahap demi tahap berkembang seiring dengan pertumbuhan mereka. Istri saya rajin membacakan buku atau majalah untuk mereka. Menjelang bobok siang, bacaan umum. Sebelum tidur malam, kisah-kisah Alkitab. Kami berusaha menyisihkan dana secara teratur untuk membeli bacaan, dan membiarkan mereka memilih bacaan kesukaan yang kami anggap sesuai. Singkatnya, ayah membeli buku; ibu membacakannya untuk anak-anak. Sinergi yang hebat, bukan?
Ketika Lesra sudah lancar membaca, kami melanggankan koran anak-anak untuknya. Bapak baca koran umum, anak baca koran anak. Setiap saya jemput naik motor pulang sekolah, ia duduk di depan sambil menyimak koran barunya.
Menonton televisi, sebaliknya, memang sejak awal kami batasi. Hanya acara tertentu, seperti film kartun anak-anak, dan sedapat mungkin kami mendampinginya. Selebihnya, pesawat televisi dipakai untuk memutar film atau musik yang kami pilihkan untuk mereka.
Adanya teladan yang konsisten juga menentukan keberhasilan upaya ini. Anak-anak kami tentu sangat terkesan mempunyai ayah dan ibu yang sama-sama berkacamata tebal, yang sama-sama suka asyik menekuri bacaan. Membaca, lama-kelamaan, jadi barang yang tidak asing bagi mereka. Membaca, pelan-pelan, mudah-mudahan, jadi aktivitas yang mengasyikkan bagi mereka. Like father like son; like mother like daughter. Begitulah.
Maka, ketika antena rusak dan keluarga kami terpaksa berpuasa menonton televisi, mereka tidak merasa terlalu kehilangan. Tidak sampai terkangen-kangen pada SpongeBob.
Disclaimer: Misalkan Anda mencoba resep pertama, tetapi belum menjalankan resep kedua, Anda harus rela rugi kehilangan televisi. Dan, belum tentu anak Anda jadi cinta membaca. Yang mudah diduga, malah akan meledak percekcokan. Sebaliknya, kalau Anda menjalankan resep kedua, resep pertama silakan dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing rumah tangga.
Saat ini ada gerakan ”Satu Hari Tanpa Televisi.” Di rumah kami, sejak antena itu rusak sampai entah kapan, setiap hari tiada siaran televisi.
Sebaliknya, buku-buku semakin memenuhi rak perpustakaan kami.
Jadi agak sunyi, memang, tetapi nikmat sekali. ***
Saturday, October 3, 2009
24 tahun lalu: Dekapan emak tak lagi menghangati...
"betul-betul usil sampean, mas purnomo!
24 th lalu aku menulis puisi kayak ini? jadi bengong bacanya... enggak tahu mau ngomong apa.
matur nuwun sanget, mas pur, sudah membongkar harta karun lama ini. dulu aku sempat koleksi hai-nya, tp sekian tahun yg lalu hilang menyedihkan entah ke mana."
Bingung ini komentar apaan? Silakan simak sendiri artikel yang bagiku sangat mengejutkan, plus sangat menyejukkan ini:
Dekapan emak tak lagi menghangatiSelanjutnya »»
Gudang telah sesak. Ini berarti saya harus memilih kembali barang mana yang harus dibuang dengan pilu. Setumpuk kertas saya pilah-pilah. Selembar kertas yang telah berumur 24 tahun yang dulu saya robek dari sebuah majalah remaja membuat saya merenung. Sebuah puisi yang panjang, tetapi terasa singkat ketika dinikmati.
Apa yang membuat saya menyimpan kertas puisi ini begitu lama? Cobalah Anda simak sendiri.
SENDIRI
1.
malam yang melayap sepi
menggulung sendiri jauh di hati
kangenku yayi
senyummu merekah api
tembang cengkerik lirih-lirih
di matamu terlihat jirih
rasa gelisah
di dadaku menghampar merah
mari sini
kukecupi rikmamu wangi
2.
membuka kinanti
lantunan angin abadi
mengusap rembulan wajahnya sendu
lubang jauh di langit biru
(di dadaku bersemayam rindu)
gelanggang yang senyap
kehilangan lagu gegap
bocah malam berlari-lari
tak peduli rembulan sunyi
zaman ini
tak untuk bernyanyi-nyanyi
3.
paman doblang sayang
dongengkan timun mas yang hilang
di antara jerit walang
bobok sendiri
dekapan emak tak lagi menghangati
aduh yayi
ke mana pergi
mau kucari
4.
kudengar dercik kali
bunyinya menyentuh hati
mengalir jauh bergulir-gulir
dibawa angin menuju desir
berenanglah mandi di sini
tapi bawa api
di bawah dadap
ada kabut merayap
dinginnya, duh, subuh lindap
5.
kembang-kembang liar
warnanya merah ronanya segar
yayi
selipkan di telinga kembangku ini
kupandang secerah pagi
pipimu merah merona
bibirmu merah kesumba
aku semakin gandrung
mengalahkan mendung
tapi yayi
hati yang sendiri
sepi di garang matahari
senandungku jauh
ditangkap gembala lusuh
kambing-kambing berlari
menerjang kembang kita, yayi
6.
lucunya kamu melengking-lengking
tenggorokan yang garing
musim ini benar-benar kering
lihat ranting-ranting
seekor burung terusik sarangnya
anaknya menciap ditinggal terbang
menggigil dan gemetar bulunya
mari yayi, kita bawa pulang
di rumah ada bulir-bulir padi
sisa makan tadi pagi
burung kecil berkulit tipis
rupanya ia menangis
rupanya ia menangis, yayi
seperti kita, ia pun sendiri
7.
senja cepat memenggal hari
memenggal seleret simponi
aku gigil
ini jiwa jadi kerdil
tak berani menghadap malam
yang datang melayang dan diam
kau pergi aku sendiri
mencoba berdiri
siapakah yayi
jawabnya teka-teki
Kesendirian, kesunyian atau keterkucilan adalah tema populer bagi penyair pemula. Saya tidak tahu pasti sebabnya. Mungkin, ketika seseorang berada dalam kesendirian ia memiliki waktu untuk merenung. Mungkin, ketika seorang merasa terkucil rasa sakitnya membuncah, menggelegak dan membanjiri otaknya dengan percik-percik inspirasi. Mungkin, seorang remaja belum mempunyai keberanian untuk meletakkan perasaannya di atas lidahnya sehingga ia memilih menatanya di atas kertas semua kegalauannya. Apakah kemungkinan-kemungkinan itu tersirat dalam puisi remaja ini?
Ketika kita mengikuti keindahan rangkaian kata ini, satu kesimpulan ada di benak kita. Yaitu, suasana kehidupan di desa dalam mata seorang remaja. Tiba pada bagian ke-7 kita tersentak. Kita salah menduga. Bagian ini merupakan klimaks. Puisi ini ternyata berkisah tentang cinta tersembunyi si penulis kepada “yayi”nya. “Aku gigil / ini jiwa jadi kerdil / tak berani menghadap malam / yang datang melayang dan diam” mengungkapkan bagaimanapun ia tak bisa mengungkapkan perasaannya dalam tutur lisan. Dengan berbekal bagian terakhir ini bila kita mau membaca ulang puisi ini kita akan menemukan keindahannya yang lain, sebuah cinta remaja alami yang tidak terkontaminasi dengan tetek dan bengek. Betulkah demikian? Mari kita baca kembali.
1.
malam yang melayap sepi
menggulung sendiri jauh di hati
kangenku yayi
senyummu merekah api
Penulis puisi ini menggunakan kata “melayap” yang tidak lazim dalam bahasa lisan. KBBI menjelaskan kata itu berarti “terbang rendah sekali” atau “melayang ke suatu arah”. Budaya Jawanya mulai muncul pada kata “yayi” yang lebih tepat diartikan “adinda” ketimbang sekedar seorang adik karena “senyummu merekah api”.
tembang cengkerik lirih-lirih
di matamu terlihat jirih
rasa gelisah
di dadaku menghampar merah
mari sini
kukecupi rikmamu wangi
Orang bukan Jawa bisa menganggap penyair Jawa sombong karena sering menyelipkan kata-kata dari bahasa ibunya yang mengganggu mereka menikmati puisinya. Ada 2 kata Jawa di sini. Jirih, artinya takut. Berikutnya, rikma yang berarti rambut. Dalam bahasa lisan orang Jawa kurang menyukai kata “rambut” karena dalam bahasa Jawa kata ini dikelompokkan dalam bahasa kasar sedangkan “rikma” ada di tingkat halus atau dipergunakan untuk menghormati lawan bicaranya. Dengan mempergunakan kata “rikma” agaknya penulis berharap pembacanya tahu ia mengagungkan rambut sang yayi.
2.
membuka kinanti
lantunan angin abadi
mengusap rembulan wajahnya sendu
lubang jauh di langit biru
(di dadaku bersemayam rindu)
gelanggang yang senyap
kehilangan lagu gegap
bocah malam berlari-lari
tak peduli rembulan sunyi
zaman ini
tak untuk bernyanyi-nyanyi
Kata “kinanti” itulah yang menunjukkan usia si aku dan yayinya. Kinanti merupakan bagian puisi Jawa yang berisi petuah kehidupan. Sebelum Kinanti ada Sinom yang berarti masa muda atau remaja dan berisi anjuran agar manusia menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Kinanti – berasal dari kata “kanthi” atau tuntun – berisi tuntunan bagaimana menjalani kehidupan di dunia. Setelah Kinanti, kita tiba pada bagian puisi yang disebut Asmaradana (cinta) yang menceritakan cinta laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya yang dipercayai merupakan takdir Tuhan.
“Membuka kinanti” menunjukkan si aku mulai belajar apa arti kehidupan ini. Masa muda (Sinom), masa bermain sudah saatnya ditinggalkan. Baginya, gelanggang (tempat bermain) kini terasa senyap karena ia tak lagi bisa menikmati lagunya. Ia tiba pada keyakinan “zaman (saat) ini tidak untuk bernyanyi-nyanyi”.
3.
paman doblang sayang
dongengkan timun mas yang hilang
di antara jerit walang
bobok sendiri
dekapan emak tak lagi menghangati
aduh yayi
ke mana pergi
mau kucari
Saya tidak tahu siapakah Paman Doblang itu. Frase ini pertama kali saya temukan dalam karya WS Rendra. Kata “doblangan” menurut KBBI berarti “bagian dari hasil panen jagung yang diberikan kepada kepala desa”. Mungkin, pegawai kepala desa yang bekerja untuk mengumpulkan “pajak” inilah yang disebut Paman Doblang.
Senandung Kinanti maju merayap. Ia tak lagi merasa hangat tidur dalam dekapan emak. Ia sudah remaja. Ia harus bobok sendiri. Malu dong kalau pagi-pagi emak ribut karena kasurnya basah.
Kembali bagian ini diakhiri dengan lukisan perasaannya kepada “yayi”-nya.
4.
kudengar dercik kali
bunyinya menyentuh hati
mengalir jauh bergulir-gulir
dibawa angin menuju desir
berenanglah mandi di sini
tapi bawa api
di bawah dadap
ada kabut merayap
dinginnya, duh, subuh lindap
Dercik? Kata ini tidak saya temukan di KBBI. Mungkin penulisnya menciptakan kata baru yang berasal dari penggabungan kata “derap” dan “gemericik”. Mudah-mudahan ia mau menjelaskan untuk kita.
Mandi di kali pegunungan nikmatnya tak bisa diganti dengan teknologi mandi yang paling mutahir. Tetapi di bagian kedua ini kita melihat kanakalan penulis. Ia mandi di kali ketika subuh dan kabut masih melayapi bumi. Ia mengundang yayinya mandi bersama. Tetapi, “bawalah api di bawah dadap (=perisai berbentuk bulat yang terbuat dari kulit atau rotan)”. Api asmarakah yang ia maksudkan, yang bisa menggantikan dekapan emak yang tak lagi hangat? Atau, api dalam arti yang sebenarnya karena subuh masih lindap (=samar, redup)?
5.
kembang-kembang liar
warnanya merah ronanya segar
yayi
selipkan di telinga kembangku ini
kupandang secerah pagi
pipimu merah merona
bibirmu merah kesumba
aku semakin gandrung
mengalahkan mendung
tapi yayi
hati yang sendiri
sepi di garang matahari
senandungku jauh
ditangkap gembala lusuh
kambing-kambing berlari
menerjang kembang kita, yayi
Sejenak ia melakukan kembara di alam Asmaradana lalu menarik dirinya kembali ke dunianya, “kambing-kambing berlari / menerjang kembang kita, yayi.” Sudah cukup dewasakah aku menikmati Asmaradana? Sanggupkah aku menghadapi kambing-kambing yang merusak kembang (cinta) kita, adinda?
Sayup saya mendengar gema teriakan purba, “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!” (Kidung Agung 2:15). Dari catatan purba inikah ia menemukan cara mengungkapkan cinta rahasianya kepada yayi? Dari frase “Paman Doblang” dan caranya menata puisi saya yakin ia telah membaca banyak buku-buku puisi, juga buku puisi dalam Alkitab.
6.
lucunya kamu melengking-lengking
tenggorokan yang garing
musim ini benar-benar kering
lihat ranting-ranting
seekor burung terusik sarangnya
anaknya menciap ditinggal terbang
menggigil dan gemetar bulunya
mari yayi, kita bawa pulang
di rumah ada bulir-bulir padi
sisa makan tadi pagi
burung kecil berkulit tipis
rupanya ia menangis
rupanya ia menangis, yayi
seperti kita, ia pun sendiri
Kegalauannya makin diperjelas dalam bagian ini. Ia menyadari satu kakinya masih berpijak di dunia anak-anak, “lucunya kamu melengking-lengking (dengan) tenggorokan yang garing (=kering).” Kegalauan seorang remaja; kegalauan karena mendadak ia tidak mengenal dirinya sendiri; kegalauan yang tidak pernah mendapat perhatian orangtuanya;kegalauan yang tak pernah terucap, seperti yang digambarkannya dalam kalimat “rupanya ia menangis, yayi; seperti kita, ia pun sendiri.”
7.
senja cepat memenggal hari
memenggal seleret simponi
aku gigil
ini jiwa jadi kerdil
tak berani menghadap malam
yang datang melayang dan diam
kau pergi aku sendiri
mencoba berdiri
siapakah yayi
jawabnya teka-teki
Bagian penutup merupakan klimaks. Kepergian yayi membuat ia tak lagi berani menghadapi ketidakpastian yang terus datang dan membenamkannya dalam kegelapan. Burung kecil ini agaknya masih berkulit tipis, menggigil dan gemetaran dalam sunyi yang kental. Rupanya ia menangis ketika menoreh kata-kata penutup ini. Namun ia mencoba berdiri untuk mencari jawab sebuah teka-teki. Teka-teki kehidupan.
– o –
Sekarang ia bersekolah di sebuah SMA di kota kabupaten. Seharusnya ia senang karena tidak setiap anak di desanya yang lulus SMP mampu bersekolah di kota kabupaten. Tetapi ia tak lagi bersekolah bersama yayinya yang dikirim orangtuanya ke kota lain entah di mana yang jauh dari dusun kelahirannya. Ia tak mendapat ganti diri yayi di sekolah yang baru. Teman-teman kelasnya enggan berakrab-akrab dengan anak dusun seperti dia.
Setiap pagi ia berangkat ke sekolah mempergunakan mobil angkutan desa. Pucuk-pucuk pinus di kiri kanan jalan yang meliuk-liuk menggumuli kabut tersisa tak lagi indah di matanya. Gemerlap titik-titik embun di ujung-ujung rantingnya yang memantulkan sinar pagi mentari tak lagi memercikkan kehangatan di hatinya. Waktu terasa lambat berjalan. Namun dalam udara yang menggigil ia masih berusaha menghirup wangi rikma yayinya.
Pulang sekolah ia melihat rajangan daun tembakau dijemur sepanjang tepi jalan menuju dusunnya. Dulu ketika yayi masih tinggal dekatnya, daun-daun yang terpanggang panas matahari itu menguapkan bau harum yang baginya bagai aroma opor ayam. Tetapi sekarang hamparan daun menghitam itu bagai tumpukan tahi kerbau di atas aspal jalan.
Seminggu sekali usai sekolah sebelum mencari mobil angkutan umum ia masuk ke sebuah kios yang menjual koran dan berbagai majalah. Selalu saja ia membuka-buka sebuah majalah remaja. Sepi yang menggumpal dalam jiwanya ia cairkan menjadi tinta dan ditorehkan dalam kata-kata di atas kertas. Berbait-bait puisi curahan hati diam-diam ia kirimkan ke kantor sebuah majalah remaja. Tetapi selalu, selalu, selalu saja ia kecewa. Ia tak menemukan puisinya dalam majalah itu. Sepi merayapi dadanya. Betapa perihnya.
Suatu siang mendadak saja tubuhnya gemetaran ketika membuka majalah remaja itu. Gelanggang tak lagi lengang. Jantungnya menderap lagu gegap. Semangatnya menari di laut ektasi. Bait-bait puisinya berbaris rapat dalam satu halaman.
Duh yayi, adakah kau juga sedang membaca puisi ini? Yayi, apakah kau melengking-lengking menyambut senandung jiwa ini? Ataukah kau senyap menggigil terpagar seleret simponi sepi ini? Betul yayi, ini aku, bukan orang lain. Ini aku, yayi. Lihatlah! Namaku terpajang lengkap di situ:
“Arie Saptaji Wahyu Widodo”
– o –
Lembar kertas yang menguning itu adalah halaman ke-10 Majalah Hai no.27/X periode 8-14 Juli 1986. Di bawahnya tertera di mana dan kapan puisi itu ditulis. “Temanggung, 04101985”, tepat 24 tahun yang silam. Saya menyatukan dengan lembar-lembar lain yang tidak saya buang. Siapa tahu penulisnya tak mempunyai arsipnya sehingga menginginkannya untuk dijadikan a memorial of a precious moment. Gratis kok. Hitung-hitung – seperti provokasi Bu Lurah SSSo (Sabda Space Solo) – kado ulang tahun tertunda.
(selesai)
Oleh Purnomo
Thursday, September 24, 2009
Klub Menulis
Kejutan lagi...
Blog baru ini diulas di Klub Menulis, e-Penulis edisi 58 (19-8-2009), dalam rubrik "Pena Maya."
Salah satu cara untuk menimba ilmu menulis adalah dengan belajar melalui para praktisi yang telah lebih dulu terjun dalam dunia pena. Perkembangan teknologi semakin memudahkan kita untuk melakukannya. Saat ini, banyak penulis yang telah memanfaatkan internet untuk membagikan ilmu dan pengalaman mereka dalam menulis.
Melalui Notes of 40+, seorang penulis yang telah menulis banyak buku, Arie Saptaji, ingin menularkan ilmu dan dan pengalamannya kepada setiap pecinta tulisan. Dalam situs ini, kita dapat berguru melalui setiap tulisannya. Melalui menu Kategori, Sahabat Penulis dipersilakan memilih rekaman ilmu dan pengalaman Arie Saptaji. Situs ini baru dibuat pada Maret 2009. Mengapa diberi nama Notes of 40+? Silakan tengok uraian indah mengenai arti nama situs ini dalam menu 40+.
Saturday, September 12, 2009
Alien yang Tidak Berdaya
Alien. Terbayang makhluk asing yang jauh lebih cerdas dari manusia. Mereka datang dari luar angkasa untuk meneliti kehidupan manusia. Atau, mereka datang untuk menyelamatkan manusia. Pokoknya, alien cenderung kita bayangkan lebih hebat dari manusia.
Tidak begitu dengan alien dalam District 9. Pesawat yang mengangkut mereka bermasalah, lalu mandeg menggantung di atas Johannesburg, Afrika Selatan. Para alien itu sendiri tengah diserang wabah sehingga harus dibantu oleh manusia untuk keluar dari pesawatnya. Lalu, mereka ditampung di semacam kamp pengungsian yang disebut District 9.

Dengan CGI yang menawan, sosok alien yang sedikit lebih tinggi dari rata-rata manusia ditampilkan seperti persilangan antara udang dan belalang. Sosok yang sekilas menakutkan. Perbedaan mencolok itu selanjutnya mengakibatkan mereka dibatasi geraknya. District 9 jadi mirip penjara besar bagi mereka.
Manusia berusaha meneliti ilmu dan teknologi yang dimiliki alien ini. Mereka mempunyai senjata yang tampak canggih, tetapi tidak berfungsi bila berada di tangan manusia. Apa pula rahasianya sampai pesawat mereka bisa mengambang di langit tak jatuh-jatuh? Selama 20 tahun, hasil penelitian nihil.
Sepanjang itu pula populasi mereka makin membengkak. Pemerintah memutuskan untuk memindahkan mereka ke lokasi lain. Dalam operasi pemindahan itu, seorang petugas, Wikus van der Merwe (Sharlto Copley), tercemar cairan tertentu milik alien. Akibatnya, DNA-nya tercampur dengan DNA alien. Tangannya tumbuh seperti cakar alien, dan ternyata dapat mengoperasikan senjata alien dengan baik. Pemerintah pun merasa mendapatkan kelinci percobaan.
Ini film fiksi ilmiah yang menawarkan kesegaran. Di tangan pendatang baru Neill Blomkamp, sosok alien tidak berdaya yang menjadi pengungsi di antara manusia menawarkan gambaran yang tidak biasa. Secara unik, film ini berhasil mengubah persepsi penonton terhadap para alien, khususnya alien yang ”dimanusiakan,” yaitu Christopher Johnson dan anaknya. Melihat pertama kali, tidak ayal kesan terhadap mereka ialah makhluk yang menjijikkan dan mengerikan. Namun, seiring berjalannya cerita, pelan-pelan alien itu mulai mencuri simpati kita, bahkan pada titik tertentu mereka tampil lebih manusiawi dari para manusia yang keji. Dalam sebuah adegan, misalnya, sesosok alien hidup dijadikan sasaran uji tembak. Juga ada alien-alien lain yang dikuliti seperti udang siap direbus.
Dengan mengambil latar suasana Johannesburg yang keras dan gersang, diperkuat dengan gaya dokumenter, Neill Blomkamp mengarahkan ingatan pada suasana Afrika Selatan pada era politik apartheid. Ternyata, dengan perbedaan pelaku, kondisi serupa masih berlangsung di negeri itu. Saat ini pengungsi dari Zimbabwe yang melarikan diri dari negerinya karena penindasan politik dan kebangkrutan ekonomi mengalami kekerasan dan kebencian dari penduduk Afrika Selatan yang menentang keberadaan mereka.
Lebih jauh, film ini memantik pengandaian yang mengusik: misalkan benar-benar ada mahkluk asing dari planet lain mengunjungi bumi ini, bagaimana manusia akan menerima mereka? Kalau melihat kecenderungan manusia dalam memperlakukan liyan di sekitarnya, District 9 membayangkan potret buram itu dalam bingkai perjumpaan dengan alien. Sebuah gambaran yang mencemaskan.
Bisa jadi, District 9 sedang menyindir cara kita memperlakukan orang lain. Kecenderungan kita mengambil jarak berdasarkan perbedaan---beda agama, beda warna kulit, beda status sosial, atau bahkan sekadar beda hobi. Dan, kegagapan kita menyambut orang lain yang berbeda itu sebagai sesama manusia. ***
Thursday, September 10, 2009
Kejutan Lintasan Cinta
Jalan-jalan menelusuri blog tak jarang memunculkan kejutan. Seperti sore ini. Aku menemukan kejutan manis: sebuah apresiasi hangat atas kumpulan cerpen Lintasan Cinta.
Mengurai Karakteristik dan Tradisi Jawa pada Kumpulan Cerpen Arie Saptaji
Matur nuwun sanget, Mas Prawaba Areta!
Monday, August 31, 2009
It's a Wonderful Life

“A pleasure is only full grown when it is remembered.”– C.S. Lewis
Ketika melihat-lihat di toko buku saya menemukan buku berbahasa Inggris yang lumayan unik. Isinya bukan paparan tentang suatu topik secara panjang lebar. Penulisnya hanya mendaftar secara acak hal-hal kecil yang, menurutnya, membuat hidup ini indah.
Membolak-balik halaman buku itu, saya tercenung. Betul juga ya. Saya kadang-kadang membayangkan keindahan hidup itu mesti ditemukan melalui perkara yang besar-besar dan hebat-hebat. Akibatnya, saya merasa jarang menemukan keindahan. Padahal, sebenarnya di sekitar kita, setiap hari, bertebaran hal-hal kecil yang indah dan dapat memperkaya kehidupan kita.
Terinspirasi buku tadi, saya mencoba mendaftar keindahan-keindahan kecil yang mungkin saya lewatkan dalam hidup ini. Mencatatnya, mengingat-ingat kembali, kejadian kecil demi kejadian kecil---itu saja sudah membuat hati ini bungah.
- Tertawa terbahak-bahak sampai wajah kaku rasanya.
- Bau tanah seusai hujan pertama pada awal musim.
- Mencium harum bunga.
- Bercengkerama bersama keluarga sore-sore sambil menikmati teh hangat dan nyamikan.
- Senyum seorang bayi.
- Tidak ada antrean di supermarket.
- Menyaksikan matahari terbit, matahari terbenam, bulan purnama, atau bintang-gemintang.
- Mereguk cokelat hangat pelan-pelan.
- Ngobrol sampai lewat tengah malam dengan kawan dekat---ditemani wedang ketan duren.
- Berbaring di ranjang saat hari hujan, menyimak bunyi curahan air di luar.
- Berjalan dengan kaki telanjang di halaman berpasir.
- Memenangkan pertandingan olah raga yang berlangsung seru dan sportif.
- Jatuh cinta.
- Mendengarkan lagu favorit (apalagi kalau itu lagu nostalgia) diputar di radio.
- Berkendaraan melintasi daerah berpemandangan menawan.
- Berayun-ayun di ayunan.
- Menjilati es krim (Tip Top) pelan-pelan.
- Melewatkan petang dengan menikmati novel yang tebal dan memikat.
- Suara tawa anak kecil.
- Barang yang sudah lama kita idam-idamkan dijual dengan diskon separuh harga.
- Bergulat dengan anak-anak di rumah.
- Mengamati ikan berlenggak-lenggok di akuarium.
- Bertemu kawan lama dan mengobrolkan nostalgia bersama.
- Mendapatkan kiriman kue enak dari tetangga.
- Menyanyi di kamar mandi---bisa juga sambil berjalan-jalan; nyanyinya, bukan mandinya.
- Tersenyum pada orang tak dikenal.
- Duduk di tepi sungai, mengamati air mengalir, menyimak kicauan burung.
- Berpelukan atau bergandengan dengan orang yang kita kasihi.
- Memaafkan.
- Menerima surat (ah, di era internet ini!).
- Bermain dengan anjing lucu.
- Bangun pagi diliputi perasaan segar dan bersukacita menyambut hari yang baru.
… dan senantiasa berlanjut. Karena hidup ini selalu penuh dengan kejutan-kejutan indah.
Saturday, August 15, 2009
Roti, Ikan, dan Anak Kecil Itu
Kisah ini kemungkinan sudah berulang-ulang kita dengar. Sejak Sekolah Minggu malah. Hanya dengan lima roti dan dua ikan, Tuhan Yesus mengatasi kesulitan penyediaan konsumsi di medan terpencil para orang-orang yang menyimak pengajaran-Nya. Tercatat ada lima ribu laki-laki, belum termasuk para perempuan dan anak-anak. Bukan hanya cukup, masih tersisa pula dua belas bakul roti. Mukjizat yang hebat!
Namun, ada detail menarik yang tampaknya kerap dilewati. Yohanes mencatat, lima roti dan dua ikan itu bawaan seorang anak kecil. Tidak dijelaskan, apakah anak itu memberikan bekalnya karena bujukan Andreas atau atas inisiatifnya sendiri. Yang jelas, ia memberikannya tanpa banyak keributan. Anak kecil yang hebat, bukan?
Betapa tidak. Kalau ia menyimpannya sendiri, ia---dan bisa jadi keluarganya---tak akan kelaparan. Bekal itu cukup untuk mengenyangkan mereka. Rupanya, anak ini punya gagasan lain. Mungkin ia terpikat pada tuturan Guru yang satu ini. Mungkin ia pernah mendengar---atau melihat sendiri---mukjizat yang dilakukan Sang Penyembuh ini. Maka, ketika terjadi krisis makanan, meletiklah ide cemerlang di benak polosnya. Kalau terhadap penyakit saja Dia sanggup menjamah secara ajaib, pastilah Dia juga mampu melakukan sesuatu untuk roti dan ikan di tanganku ini!
Anak itu memutuskan, roti dan ikan itu akan lebih berguna kalau berada di tangan Yesus daripada kalau terus digenggamnya sendiri. Dan, harapannya terpenuhi. Melampaui bayangannya yang paling liar. Barangkali matanya terbelalak melihat potongan roti dan ikan terus-menerus mengalir. Mungkin wajahnya melongo tapi berbinar ketika melihat orang-orang di sekelilingnya yang semula kelaparan kini asyik mengunyah makanan yang memuaskan perut mereka.

Tapi, detail itu tidak dimunculkan oleh penulis Injil. Yang jelas, sosoknya telah terekam dalam Injil untuk menjadi ilham bagi sekalian pendengar dan pembaca kabar baik ini. Paling tidak saya memetik tiga pelajaran menantang tentang pemberian.
Memberi di tengah krisis. Anak itu bisa saja diam-diam, ketika orang lain mulai merasa lapar dan kebingungan mencari makan, menikmati makanannya sendirian. Roti dan ikannya mungkin bahkan cukup untuk makan beberapa kali. Meskipun pas-pasan, setidaknya ia aman dari ancaman kelaparan hari itu. Tetapi, ia memilih menyerahkan apa yang ada di tangannya untuk menolong orang lain.
Ketika kondisi keuangan longgar, barangkali cukup menyenangkan menjadi Sinterklas dan berderma kepada sesama. Kita bisa melakukannya dengan penuh kebanggaan. Tetapi, ketika dompet kita menipis, naluri mengamankan dan menyelamatkan diri sendiri cenderung menguat. Kita ingin memastikan bahwa kebutuhan pribadi dan keluarga kita terpenuhi terlebih dahulu. Kita berusaha berhemat dan memangkas anggaran yang kita anggap tidak penting. Ketika pendapatan bulanan sulit disisakan untuk tabungan, masakan kita mesti tetap setia memberikan persembahan ke gereja? Masakan kita harus menyisihkan donasi untuk dana beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu? Haruskah kita membantu tetangga yang sedang sakit?
Seorang kawan saya, yang berbisnis persewaan PlayStation, tidak mau ditekuk oleh krisis. Ia memulai bisnisnya dari beberapa mesin. Pelan-pelan usahanya berkembang, jumlah mesinnya bertambah hingga mencapai belasan, dan hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sampai pukulan itu datang. Seorang pegawai kepercayaannya berkhianat, melarikan sebagian besar mesinnya. Tentu saja ia terguncang. Tetapi, ia memilih untuk tidak terpuruk. Dalam hal pemberian, ia bersaksi, “Saya dan istri saya memutuskan untuk tidak mengurangi persembahan. Kami justru merasa inilah waktunya bagi kami untuk menambah jumlah pemberian kami.”
Richard Wumbrand, penulis Tortured for Christ, menuturkan, selama di penjara Rumania pada masa komunis orang-orang percaya tetap memberikan persembahan. ”Ketika kami diberi jatah sepotong roti setiap minggu dan semangkuk sup kotor setiap hari, kami memutuskan untuk tetap setia memberikan ’persepuluhan’ dari jatah kami tersebut. Setiap minggu kesepuluh, kami mengambil roti kami dan memberikannya kepada saudara-saudara yang lebih lemah keadaannya. Itulah ’persepuluhan’ kami kepada Tuhan.”
Ketika kondisi pribadi kita hanya pas-pasan, bahkan mungkin kekurangan, masihkah kita menyediakan ruang untuk bermurah hati?
Memberi tanpa pamrih. Jujur saja, ketika memberikan persembahan, kadang-kadang saya berharap pemberian itu akan membuat saya menerima balasan tiga puluh, enam puluh, seratus kali lipat. Betapa sedapnya kalau sesudah memberi persembahan saya menerima berkat keuangan melimpah sehingga bisa melunai utang, memiliki kendaraan baru, lancar membayar kontrak rumah, atau malah sekalian mendapatkan cukup dana untuk membeli rumah pribadi!
Anak itu memberi---dan kita tidak pernah tahu pasti berkat finansial apa yang dituainya. Tidak diceritakan oleh para penulis Injil apa yang terjadi sesudah perjamuan raya itu usai dan sisa-sisa roti dikumpulkan. Tidak diceritakan apakah anak itu menerima tepukan di pundak dari Yesus. Tidak diceritakan apakah orang-orang itu, selain kepada Yesus, juga berterima kasih kepada-Nya. Tidak diceritakan juga apakah anak itu diperbolehkan membawa pulang bakul sisa roti. Juga, tidak diceritakan apakah sesudah itu keluarganya menerima berkat melimpah dan tidak pernah menanggung kelaparan. Tidak diceritakan.
Firman Tuhan mencatat beberapa persembahan lain yang serupa itu. Janda miskin itu memberikan seluruh nafkahnya, dan Tuhan Yesus menyoroti dan memuji persembahannya, tetapi tidak diceritakan apakah sesudah itu janda tersebut terbebas dari kemiskinan. Orang-orang percaya di Makedonia, yang sangat miskin serta mengalami banyak kesusahan dan kesulitan hidup, bermurah hati turut memberikan bantuan keuangan bagi umat Tuhan yang miskin di Yerusalem. Rasul Paulus memuji-muji kedermawanan mereka, tetapi tidak diceritakan pula apakah sesudah itu mereka terbebas dari berbagai masalah yang membelit mereka.
Maukah kita bermurah hati meskipun tidak ada jaminan bahwa uang kita akan kembali berlipat ganda?
Memberi dengan iman. Anak itu memperlihatkan sebuah pelajaran penting tentang iman: Dengan menyerahkan ikan dan roti miliknya, ia sekaligus melepaskan rasa takutnya. Takut akan rasa lapar. Bukankah itu soal yang besar untuk seorang anak kecil? Ia menyerahkannya, dan menyaksikan betapa roti dan ikannya itu menjadi jauh lebih berdaya guna ketika berada di tangan Yesus.
Ketakutan tak lain ialah musuh utama iman. Kita ingin memegang kendali penuh atas apa yang kita miliki. Kita merasa senang kalau bisa memegang kendali atas keadaan. Kita bangga dengan kemampuan kita untuk mengatur dan mengelola sumber daya yang ada pada kita. Tetapi, kemampuan kita terbatas. Atau, kita malah tergoda untuk menyalahgunakannya.
Akan tetapi, Yesus sanggup mendayagunakan sumber daya itu secara jauh lebih baik. ”Roti dan ikan” itu barangkali sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, namun ketika kita menyerahkannya kepada Yesus, Dia sanggup mengubahnya menjadi berkat bagi ribuan orang. Karena itu, ”roti dan ikan” yang kita miliki sebaiknya tidak kita genggam secara egois dan penuh kecemasan, melainkan dengan penuh iman dan secara sukarela kita serahkan kepada Yesus.
C.T. Studd (1860-1931), misionaris dari Inggris, mengalaminya. Pada usia 25 tahun Charlie---begitu ia biasa dipanggil---menerima dari ayahnya warisan puluhan ribu poundsterling. Suatu jumlah yang sangat besar pada saat itu. Setelah menekuni Firman Allah dan banyak berdoa, ia merasa terdorong untuk menyerahkan seluruh kekayaannya kepada Kristus!
Sepertinya itu suatu kebodohan. Tetapi, dengan tindakan itu Charlie bersaksi di hadapan Allah dan manusia bahwa ia mempercayai Firman Allah sebagai hal yang paling pasti di muka bumi ini. Buah seratus kali lipat yang Allah janjikan dalam kehidupan saat ini---belum lagi dalam kehidupan yang akan datang---merupakan kenyataan yang pasti bagi mereka yang mempercayainya dan bertindak berdasarkan firman tersebut.
Uang di sakunya tinggal 3.400 poundsterling, dan ia menjadikannya sebagai mas kawin untuk melamar sesama misionaris, Priscilla Livingstone Stewart. Priscilla ternyata tidak mau kalah dalam bermurah hati. Ia berkata, "Charlie, apa yang diperintahkan Tuhan kepada anak muda yang kaya itu?"
"Jual semuanya."
"Yah, kalau begitu, kita akan memulai pernikahan kita dengan taat kepada Tuhan."
Dan mereka pun terus memberikan sisa uang yang ada untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Dengan melewati berbagai bahaya dan kesukaran, mereka melayani bersama-sama di daratan Cina, India, dan Afrika, dan memenangkan banyak jiwa bagi Kristus. “Kalau Yesus Kristus adalah Tuhan, dan Dia telah mati bagi saya, maka tidak ada pengurbanan yang terlalu besar, yang dapat saya persembahkan kepada-Nya,” kata Charlie suatu ketika.
Maukah kita melepaskan ketakutan, dengan penuh iman menyerahkan ”roti dan ikan” kita kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia mampu mendayagunakannya secara lebih baik? ***
A Beast Touched by Belle
A beast touched by Belle. Itu penjelasan yang saya gunakan dalam profil pribadi saya. Saya juga menggunakannya sebagai tajuk kolom saya di Gloria Cyber Ministry, yang mulai ditayangkan Selasa, 11 Agustus lalu.
Apa sih artinya? Saya akan mengutip uraian dalam artikel pertama saya di kolom itu:

Frasa ini terilhami film favorit saya, Beauty and the Beast. Kisahnya tentang seorang pangeran berwatak jahat yang dikutuk menjadi makhluk buruk rupa, a beast. Ia akan terbebas dari kutukan itu bila mendapatkan cinta sejati. Cinta sejati itu akhirnya ia dapatkan ketika ia menyambut seorang gadis rupawan, Belle, masuk ke dalam hidupnya. Film itu menjadi cermin kondisi saya: bahwa saya ini, seorang pendosa, sejatinya menyerupai si buruk rupa yang terkutuk itu. Adapun Belle tidak lain ialah anugerah Tuhan yang menyusup ke dalam hidup saya, mengampuni, mengubahkan, dan memulihkan saya dari hari ke hari.
Belle itu sendiri bisa hadir dalam berbagai wujud di tengah manis-getirnya keseharian. Ia bisa menyapa melalui senyum lembut istri tercinta, tawa riang anak-anak, rangkulan sahabat. Ia bisa diulurkan melalui khotbah yang menggugah. Sesekali ia menyusup lewat film yang berkilau, lagu yang meluluhkan hati, atau novel yang mencekam. Tidak jarang pula ia merengkuh kita dalam kegagalan dan penderitaan.
Sebagai penulis, saya ingin mencatat, sedapat mungkin, berbagai jejak perjumpaan dengan anugerah Tuhan tersebut, khususnya selepas saya berusia 40 tahun. Dan, melalui kolom dan blog pribadi ini, saya ingin berbagi dengan pembaca sekalian. Semogalah Anda kerasan menyimak catatan ”a beast touched by Belle” ini.
Wednesday, July 29, 2009
Petualangan Itu Bernama Pernikahan, Hubungan, Keseharian
Balon Carl Fredricksen tak hanya lima. Tak terhingga. Dan balon-balon aneka warna itu mencerabut rumah kayu Carl dari tanah, mengangkatnya ke udara pada suatu pagi yang cerah. Penduduk kota yang sempat melihatnya tak ayal menganga. Tentu mereka tak menduga petualangan yang menanti rumah dan balon-balon itu.
Ini petualangan kesepuluh Pixar. Setelah petualangan segerombolan mainan dalam dua film yang sama-sama menggemaskan, adaptasi “Seven Samurai” dalam dunia serangga, para monster yang menakut-nakuti karena peduli, ayah ikan menyeberangi Lautan Teduh untuk mencari anaknya, keluarga superhero yang kembali unjuk kekuatan super mereka, mobil balap yang menyadari dirinya bukan sebuah pulau, si tikus imut juru masak piawai, dan robot masa depan yang menemukan cinta, kini balon-balon membubungkan Pixar kian tinggi di langit perfilman.
Untuk pertama kalinya Pixar menokohkan manusia-manusia riil. Dan, di tengah budaya pop yang memuja-muja kemudaan dan kemolekan, mereka menawarkan protagonis yang alih-alih: duda 78 tahun berwajah mbesengut dan bocah 8 tahun gigih pantang mundur. “Up” disutradarai Pete Docter, yang sebelumnya menggarap "Monsters, Inc.," ikut menulis skenario "Toy Story" dan “WALL-E”, juga sempat ikut menyutradarai "WALL-E" sebelum mencurahkan perhatian pada film ini. Kita ada di tangan seorang cempiang.

“Up” dibuka dengan kisah cinta yang meluluhkan hati. Carl kecil ternganga menyaksikan film tentang Charles Muntz, petualang yang bertekad tak akan balik dari Amerika Selatan sebelum mendapatkan bukti hidup hewan raksasa temuannya. Dengan balon bertulisan Spirit of Adventure, Carl membayangkan dirinyalah penjelajah gagah berani itu. Bertemulah ia dengan Ellie, gadis berimpian liar serupa. Persahabatan masa kanak ini berlanjut dengan pernikahan yang dilukiskan dalam rangkaian adegan elok tanpa dialog. Sekali lagi, elok---dan sangat membumi. Bersama-sama mereka membangun impian untuk mengikuti jejak Muntz ke Paradise Fall, dan badai kehidupan mengikisnya pelan-pelan. Dari Ellie yang tak bisa hamil sampai tabungan keluarga yang tak kunjung penuh karena terus dikuras untuk berbagai keperluan: ban bocor, perbaikan rumah yang tertimpa pohon, biaya pengobatan (duh, jadi ingat tabungan keluarga beta). Dua puluh menit pembukaan yang manis-getir.
Sampai, yah, sampai Ellie mendahului Carl. Dan, Carl (suara Edward Asner) mengerut, menyendiri di rumah kenangan mereka, emoh bergaul, memilih terus berbicara dengan Ellie yang sudah tiada. Keras kepala, ia bersikukuh abai terhadap perubahan dan perkembangan di sekitarnya. Sampai Russell (Jordan Nagai), seorang bocah yang juga keras kepala, menyusupkan kakinya menahan pintu rumah Carl. Sampai sebuah kecelakaan memaksanya mengangkat rumah seisinya dengan balon-balon, digelantungi seorang penumpang gelap: siapa lagi kalau bukan Russell.
Dan, selanjutnya adalah petualangan yang menggabungkan ketakjuban ”The Wizard of Oz”, kegilaan Indiana Jones, dan keharuan ”It’s a Wonderful Life”. Yang terjadi sewaktu rumah balon itu berada di tengah cumulonimbus jauh lebih mengerikan dari ketika rumah Dorothy terpusing di tengah angin puyuh. Ketika keduanya pertama kali melihat Paradise Fall dari kejauhan, ini momen “We’re not in Kansas anymore” yang membuat kita menahan napas, seperti ketika Indy menemukan posisi tabut perjanjian, seperti ketika Lucy ternganga menyaksikan Narnia, seperti ketika Wall-E terpesona menatap liukan elok Eve. Penjelajahan di negeri yang terhilang ditelan zaman tentu tak lengkap tanpa adanya mahkluk unik, dan kita dipertemukan dengan Snipe (khayalan Carl yang jadi kenyataan), burung purba persilangan antara burung unta dan kakaktua warna-warni yang lengket pada Russell gara-gara cokelat. Lalu, kejar-kejaran dengan gerombolan anjing yang tak kalah seru dari balap kereta tambang di Temple of Doom. Lalu, tampaknya terinspirasi “Laputa: Castle in the Sky”-nya Hayao Miyazaki, sebuah balon udara raksasa yang kelihatan biasa-biasa saja dari luar, namun interiornya amat luar biasa: menampung ruang makan mewah, museum megah, dan loteng yang cukup untuk hanggar pesawat tempur. Dan, akhirnya, Charles Muntz (Christopher Plummer), jagoan yang diidolakan Carl dan Ellie ini ternyata hasil persilangan antara The Wizard of Oz dan The Wicked Witch of the West.

Di tengah petualangan dua protagonis berbeda generasi yang hiruk-pikuk itu, dalam tata warna yang semeriah aneka balon namun juga seliar lembah hutan tropis, membubuhkan refleksi memikat tentang petualangan hidup. Pertarungan antara Carl dan Charles tak lain pertarungan soal bagaimana mengatasi kekecewaan. Charles dikecewakan dunia, penemuannya yang menggemparkan dianggap kebohongan belaka, memencilkan diri di pojok dunia, bergaul hanya dengan anjing-anjing, berusaha keras mengontrol segala sesuatu, bersiap-siap mendepak pantat dunia dengan pembuktian dirinya. Carl dikecewakan kehidupan. Impiannya bersama Ellie pupus sepenggal jalan. Ketika ia terhenyak di kursi kenangan mengasihani diri, sebuah ketukan di pintu menawarinya kesempatan baru. Maukah ia menyambut uluran hubungan baru itu? Maukah ia menjajal bertualang lagi, lengkap dengan potensi terluka dan kemungkinan dikecewakan?
Tersusup pula pertanyaan tentang kebahagiaan. Di manakah kita menempatkan kebahagiaan? Dalam puncak sukses, atau dalam keasyikan perjalanan jatuh-bangun setapak demi setapak menuju pencapaian impian?
Seperti Dorothy Gale mendapati bahwa “There is no place like home,” seperti George Bailey tersadar bahwa dirinya orang paling kaya di Bedford Falls, Carl Fredricksen akhirnya menemukan apa sejatinya “Stuff I’m going to do.” Bahwa petualangan sesungguhnya itu bukan up there, melainkan right here---dalam pernikahannya, dalam kesehariannya, dan kini ditemukannya dalam persahabatannya dengan si kecil Russell. Apa yang dilakukan Indiana Jones---memadukan keedanan petualangan dan kehangatan keluarga---dalam empat film, dikemas “Up” dalam satu film yang padat dan memikat.
Oh. Film yang indah. Film yang menghangatkan hati. ***
Friday, July 17, 2009
Indonesia, Unite!

Bergabunglah di:
Twitter (tambahkan hashtag #indonesiaunite di setiap posting Anda)
Facebook
