Friday, December 12, 2014

Dua Pangeran, Banyak Perempuan


PRINCE OF EGYPT
Sutradara: Brenda Chapman, Simon Wells, dan Steve Hickner
Pengisi Suara: Val Kilmer, Ralph Fiennes, Michelle Pfeiffer, Sandra Bullock
98 menit, AS, 1998

Mengapa Ramses, Firaun Mesir, mengeraskan hatinya dan menolak untuk tunduk pada perintah Allah, agar membiarkan umat Israel pergi? The Prince of Egypt menawarkan sebuah "teori" menarik.

Saat masih pangeran, Ramses dibesarkan bersama-sama dengan Musa, bayi Ibrani yang diselamatkan dan diangkat anak oleh Ratu Mesir, ibu Ramses. Mereka berdua bertumbuh sebagai pemuda yang sembrono. Namun, karena Ramses adalah calon pewaris tahta, raja menegurnya secara lebih keras. Bila sikap semacam itu dibiarkan, ia akan menjadi mata rantai yang lemah dalam dinasti penguasa Mesir. Bukannya mengubah sikap, ia malah marah.

Ketika ia sudah menjadi firaun dan Musa mendatanginya, Ramses melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan mata rantai yang lemah. Ia justru akan membuktikan kalau ia bisa bersikap lebih kejam daripada ayahnya. Karena itulah ia secara mentah-mentah menolak perintah Tuhan.

Keleluasaan tafsir semacam itu menjadikan film animasi satu ini menarik untuk dicermati. Kisahnya bukan hanya mengulang-ulang apa yang sering dituturkan di Sekolah Minggu atau dalam khotbah, namun menawarkan kesegaran pembacaan.

Film ini juga menampilkan sederet perempuan berkarakter kuat. Mulai dari Yocheved, ibu Musa, yang mencari akal untuk menyelamatkan putranya dari pembunuhan massal oleh perintah Seti I, firaun saat itu. Lalu, Tuya, Ratu Mesir yang menyelamatkan Musa. Bahwa ia dapat membesarkan Musa di istana, hal ini menyiratkan bahwa ia memiliki pengaruh yang tidak kecil.

Miriam, kakak Musa, berperan besar. Selain mendampingi keranjang berisi bayi Musa yang mengalir di sepanjang sungai Nil, ia juga sudah mencoba mengingatkan Musa—ketika adiknya itu sudah menjadi pangeran—akan asal-usulnya. Saat Musa kembali ke Mesir menyampaikan pesan dari Tuhan, Miriam jadi orang pertama yang mendukungnya. Ia menyakinkan Harun dan orang Israel untuk memercayai Musa.

Tzipporah, perempuan Midian yang kemudian menjadi istri Musa, menyeruak jadi sosok yang menonjol. Semula ia diculik dan hendak dijadikan gundik Ramses, namun lalu diserahkan pada Musa, yang memilih membebaskannya. Nantinya ia menjadi istri Musa saat Musa melarikan diri ke Midian dan, ketika Musa diutus Tuhan, ia sigap sebagai pendamping utama.

Sungguh menarik bahwa kaum perempuan, dalam konteks era yang masih diskriminatif kala itu, diberi ruang yang lapang. Bukan sekadar sebagai kanca wingking (pengikut di belakang yang serba patuh), melainkan sebagai pengambil keputusan penting dan penasihat yang diperhitungkan pertimbangannya.

Di luar itu, film ini menyuguhkan animasi yang digarap serius. Amat elok dan megah. Penonton dapat terpukau menyaksikan adegan kolosal orang Israel mendirikan piramida. Atau, animasi bergaya gambar hiroglif untuk memperlihatkan penglihatan Musa akan kekejaman yang berlangsung di Israel. Atau, rangkaian tulah yang ditampilkan begitu mencekam dan menegakkan bulu roma. Dan, puncaknya, adegan terbelahnya Laut Teberau yang amat menawan: sempat-sempatnya animator menampilkan ikan paus layaknya di akuarium raksasa, lengkap dengan ekspresi kagum bangsa Israel saat menjalaninya. Saat air laut kembali menutup, berkecipak, lalu mereda tenang—ah, kita ikut menghela napas lega.

Lagu-lagunya juga menawan. “When You Believe” terasa lirih meneguhkan, ada pun “Deliver Us” menghentak-menggugat.

Alhasil, Prince of Egypt sukses sebagai film yang bukan hanya memanjakan mata dan telinga, melainkan juga menawarkan pembacaan yang segar atas kisah pembebasan bangsa Israel. ***

Wednesday, December 10, 2014

Mengisi Celah-Celah Kisah Bahtera Nuh



NOAH
Sutradara: Darren Aronofsky
Pemain: Russell Crowe, Jennifer Connelly, Emma Watson
138 menit, AS, 2014

Nabi Nuh dan istrinya/ Tiga orang anaknya/ Tiga orang mantunya/ Masuk dalam bahtera...

Barangsiapa lulus Sekolah Minggu, tak ayal ia hapal lagu itu. Lagu itu jadi sinopsis ringkas-padat kisah Nuh, yang tentu sering dituturkan di Sekolah Minggu dan mungkin dipentaskan sebagai drama.

Film Noah mirip dengan lagu itu, namun dengan pendekatan lain. Lagu itu meringkas kisah Alkitab sepanjang empat pasal (Kejadian 6-9) menjadi dua bait lirik yang sederhana dan mudah diingat. Noah, sebaliknya, menguraikan kisah empat pasal menjadi film sepanjang 138 menit. Uniknya, dalam keringkasannya, lagu itu berusaha setia mempertahankan detail tentang jumlah orang yang mengisi bahtera Nuh. Sedangkan Noah? Ini yang hendak kita bahas.

Jika kita menganggap kisah Nuh sebagai kebenaran sejarah sampai ke detail yang sekecil-kecilnya, film garapan Darren Aronofsky ini akan membikin tersedak. (Seorang teman mengaku malah galau sesudah menontonnya. Semoga imannya tidak terguncang.) Namun, jika kita menerima kisah Nuh sebagai bagian dari metafora ilahi tentang awal-mula peradaban manusia, kita dapat leluasa mengunyahnya dan menjadikannya pemantik diskusi dan percakapan iman yang asyik.

Kritikus film Steven D. Greydanus, menggarisbawahi pernyataan Paus Pius XII dalam Humani Generis, menulis bahwa “kisah Air Bah dalam Kejadian adalah mitologi yang diilhamkan secara ilahi... ini bukan bermaksud untuk menyatakan bahwa air bah itu tidak terjadi atau Nuh itu tokoh fiktif. Ini semata-mata suatu pengakuan bahwa penulis Kejadian (... tidak seperti para penulis Injil) memiliki akses yang dapat dibuktikan menurut metode penulisan sejarah terhadap peristiwa-peristiwa yang ditulisnya.” Secara sederhana, penulis Kejadian, berbeda dari penulis Injil, tidak menulis sebagai saksi langsung peristiwa tersebut.

Aronofsky, yang juga menulis skenario bareng Ari Handel, mengaku mengusung pendekatan semacam itu dengan mengikuti tradisi midrash. Sebuah tradisi para rabi Yahudi, midrash adalah upaya mengisi sebuah kisah dengan detail-detail dari imajinasi kita sendiri—tetap setia pada kisah sumber manakala ia menegaskan sesuatu, namun leluasa berimajinasi dalam bagian-bagian yang hanya tersirat.

Yang menarik disimak adalah cara Aronofsky dan Handel mengisi celah-celah kisah Nuh. Mereka tampaknya mengajak penonton—yang diandaikan telah akrab dengan narasi Kitab Suci—melakukan kilas balik ke belakang (zaman sebelum air bah) dan sekaligus meneropong ke depan (era sesudah Nuh). Bisa jadi mereka ingin menunjukkan betapa kisah manusia dari abad ke abad sebenarnya terus berulang, hanya konteks zamannya saja yang berbeda.

Kisah istri Nuh menemui Metusalah untuk mengatasi soal keberlanjutan keturunan mereka itu, misalnya. Bukankah detail isian ini mengingatkan kita pada kisah Hawa yang bergerak tanpa berkonsultasi dengan suaminya, dipadukan dengan kisah Sara yang berinisiatif untuk menolong Tuhan mewujudkan rencana-Nya, dan dijalin dengan kisah Hana yang memohon agar disembuhkan dari kemandulan?

Atau, kisah Tubal-Kain yang ikut nemplok dalam bahtera itu. Ini mengacu pada peristiwa kelak saat Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir, dan pasukan Mesir kemudian berpacu mengejar mereka. Selanjutnya, saat mereka sudah terlepas dari tentara Mesir, nyatanya “Mesir” masih juga bercokol dalam hati mereka, membuat mereka—meminjam istilah anak sekarang—susah move on.

Sosok Nuh sendiri bisa jadi bahan perbincangan tersendiri. Sejak zaman Sekolah Minggu, kita membayangkannya sebagai “nabi” yang saleh, kalis dari kesalahan, menjulang berbeda dari orang-orang sezamannya—karena itulah Tuhan memilihnya untuk memulai sebuah angkatan baru. Nuh di film ini, pada satu titik, menyadari bahwa dirinya sama bejatnya dengan orang-orang di sekitarnya. Dan gambaran sosoknya yang garang, lengkap dengan sebuah pilihan yang nyaris fatal, memang membuyarkan citra bersih yang bisa jadi sudah kadung melekat di benak kita selama ini.

Apakah Alkitab memang bertutur secara hitam-putih? Jika kita cermati Kejadian 6:1-7, Alkitab memerikan kejahatan seluruh manusia—tanpa kecuali. Secara tersirat, Nuh juga bagian dari angkatan yang jahat itu. Ia tidak sebersih yang kita kira. Titik balik berlangsung di ayat 8: “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Baru kemudian muncul catatan: “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya” (ay. 9). Artinya, Nuh menjadi orang benar bukan karena kesalehannya sendiri, melainkan karena mendapatkan kasih karunia Allah. Bukankah ini konsisten dengan Injil kasih karunia?

Detail pengisi celah yang ditawarkan Aronofsky dan Handel, dengan begitu, mestinya tak langsung kita tampik begitu saja. Kita justru diingatkan, kisah Nuh tak lain adalah kisah kita juga: kisah tentang rahmat Allah yang menawarkan kehidupan dan kesempatan baru. ***

Monday, December 1, 2014

Kegigihan Menghapuskan Perbudakan


Sebuah cita-cita, dan perlu waktu 25 tahun untuk memperjuangkannya. Berlangsung di arena politik, yang cenderung diwarnai aneka intrik dan pergulatan kekuasaan, pencapaian tersebut kian mengesankan.

Itulah prestasi William Wilberforce, anggota Parlemen dan aktivis reformasi moral di Inggris pada abad ke-18. Sepanjang 1782 sampai 1807, ia mengikhtiarkan penghapusan perdagangan budak di negeri adidaya abad itu. Upayanya ini dilandasi nilai-nilai kristiani dan dijalani dengan kegigihan, ketabahan, dan visi yang terfokus. 

Pada mulanya, tampaknya tak ada yang mengira kalau Wilberforce akan menjungkirbalikkan dunia dengan kegigihannya. Ia suka menyeringai ramah. Badannya kecil dan agak timpang, sampai pernah ada yang menyebutnya shrimp. Kata ini secara harfiah berarti udang, namun juga bisa berarti cemoohan bagi orang cebol atau orang yang dianggap tak berarti.

Dengan kecerdasan dan kefasihan bawaan, Wilberforce menapaki jenjang pendidikan dengan mulus sampai menjadi anggota Parlemen Inggris pada akhir abad kedelapan belas. Masalah utamanya: ia tak memiliki visi yang jelas. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dalam berbagai perkumpulan dan dikenal sebagai biduan.

Kemudian ia mulai membaca buku Philip Doddridge, The Rise and Progress of Religion in the Soul. Segera ia tersadarkan akan kehampaan harta di satu sisi dan kebenaran ajaran Kristen di sisi lain. Secara lahiriah ia tampil penuh keyakinan, namun di dalam batin ia sengsara.

Kemuramannya terangkat pada Paskah 1786. Ia memulai kehidupan baru di dalam Kristus, dan suatu kesadaran baru akan panggilan hidup bangkit di dalam dirinya. “Kehidupan saya sebuah kehidupan publik,” teranya dalam buku harian. “Pekerjaan saya di dunia, dan saya harus bergaul dengan orang banyak.”

Pelan-pelan ia menyadari bahwa “pekerjaan”-nya berkaitan dengan perbudakan.

Perdagangan budak pada akhir 1700-an mencakup ribuan orang Afrika, ratusan kapal, dan jutaan poundsterling. Bisa dikatakan, perbudakan adalah tulang punggung perekonomian Inggris dan sebagian besar Eropa. Tidak banyak orang tahu tentang “Jalur Tengah” melintasi Atlantik, yang diperkirakan memakan korban satu dari setiap empat orang Afrika.

Wilberforce mengetahuinya, dan ia sangat tertekan. Ia menyadari perlu bangkit sejumlah reformator moral bangsa, yang bersedia berseru menentang ketidakadilan tersebut. Di situlah ia menemukan misi hidupnya. “Allah yang Mahakuasa telah menetapkan bagi saya,” tulisnya, “(upaya untuk) menghapuskan perdagangan budak.”

Nyatanya, itu bukan usaha yang gampang. Pada Mei 1788, dengan bantuan peneliti Thomas Clarkson, ia mengajukan mosi 12 poin ke parlemen untuk menentang perdagangan budak. Mosi itu gagal, dan muncul perlawanan sengit. Pemilik perkebunan, pengusaha, pemilik kapal, kaum tradisionalis, dan bahkan Raja Inggris pun menentangnya. Kaum Abolisionis, para penentang perbudakan, dianggap sebagai golongan radikal yang berbahaya.

Wilberforce menolak untuk patah arang. Ia memajukan rancangan undang-undang lagi pada 1791, yang juga ditampik. Kegagalan lain menyusul pada 1792. Lalu pada 1797, 1798, dan 1799. Juga pada 1804 dan 1805.

Saat itu perbudakan bukan dipandang sebagai perkara moral, melainkan sekadar urusan bisnis. Tak ayal pihak-pihak yang berkepentingan secara sengit menentang kampanye Wilberforce. Perjuangan Wilberforce dan kaum Abolisionis antara lain didukung oleh William Pitt, sahabatnya yang saat itu menjadi Perdana Menteri, dan John Newton, penulis lagu ”Amazing Grace.

Selama itu, secara bertahap publik mendukung upaya ini, dan pada 23 Februari 1807 Parlemen Inggris menghapuskan perdagangan budak di seluruh Kerajaan Inggris. Wilberforce menangis dengan sukacita.

Namun, perjuangan belum rampung. Ia masih ingin melihat semua budak dibebaskan. Hal ini menuntut kegigihan yang lain lagi. Akhirnya, pada musim panas 1833, Parlemen Inggris mengeluarkan Undang-undang Emansipasi. Tiga hari kemudian, ia meninggal dunia.

Kisah William Wilberforce dapat dijadikan pelajaran berharga bagi mereka yang terpanggil untuk melayani dalam ranah politik. Politik cenderung dicurigai sebagai gelanggang yang kotor dan hanya dijadikan ajang pertarungan kekuasaan dan ambisi pribadi atau partai.

Dalam diri William Wilberforce kita melihat sesosok politikus yang bergerak oleh visi dari Tuhan. Ia bukan sekadar tebar pesona, namun bersungguh-sungguh tebar kinerja–bila perlu dengan melawan arus pendapat umum yang tidak berpihak pada keadilan.

”Akankah kau menggunakan suaramu untuk memuji Tuhan atau mengubah dunia?” tanya William Pitt suatu ketika. Wilberforce pun memakai kemampuannya berorasi untuk mendesakkan pembebasan kaum yang tertindas, dalam hal ini para budak. Politik, nyatanya, bisa didayagunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan umum.

Digerakkan oleh misi dari Allah, dibarengi penerapan iman, kegigihan, dan keterlibatan dalam politik, ia dan sekutunya membebaskan Inggris, adidaya pada masanya, dari kejahatan terbesar pada saat itu.***

Monday, November 10, 2014

Baur dan Sunyi

Sumber: http://www.penjualbuku.com/content/uploads/mtoc/product_images/anita0073.jpg

Benarkah aku menarik?

Tiba-tiba aku ragu, dan merasa perlu lebih menata penampilanku. Tak pernah aku segelisah saat-saat akhir ini. Biasanya aku sudah mantap tampil seadanya. Kalau bercermin  ya sekedar menarik rambut ke sana, menarik ke sini, bedakan dan cs-nya. Cukup. Aku bangga dengan diriku. Ada daya tarik yang aku punyai. Tak amat kusadari memang, tapi sekitarku memberikan pengakuan yang tulus.
Pertama, ibuku sendiri. Ah. Ibu selalu menyanjung buah rahimnya, ya? Ia sering memuji, aku adalah putrinya yang paling Ayu. Nama yang diberikannya kepadaku juga “Ayu”. Kadang aku berlagak sebel – soalnya, dua saudara perempuanku juga dipuji begitu! Mereka jadi mengejekku. Iri mungkin, ya? Hehe, ge-er!
Satelit-satelitku juga omong begitu. Mereka jujur dan ceplas-ceplos memuji, tanpa ragu tanpa cemburu. Mekar-kuncup juga hidungku yang sudah gemuk ini.
Dan yang ketiga, lebih menguatkan lagi. Biasanya yang membawa berita begini Ana, wartawan-gosip paling top di sekolahku. Apa beritanya? Ada cowok menaksirku! Dan sedikit hari lagi, menyusul penaksir yang lain; dan daftar pun memanjang. Wow! Itu ‘kan simpati cowok. Mereka kalau tertarik dengan sesuatu, umumnya, langsung keluar pujiannya. Dan kalau mereka bersimpati, artinya penampilanku sudah patut di mata mereka. Tak percuma aku senantiasa mengumbar senyum murah-murah; toh tidak perlu mengimpor.
Namun sekarang, tiang-tiang rasa percaya diri itu kusangsikan sendiri kekukuhannya. Aku goyah berdiri di atasnya. Dan merasa perlu bertanya: Benarkah aku menarik?
Kutatapi lama-lama bayangan dalam cermin. Kutelengkan wajah ke kanan dan ke kiri. Kuputar tubuh. Rasanya ada saja yang kurang lengkap. Padahal, sejak zaman kuno-majenun juga sudah begini tampangku. Apa yang kurang? Mengapa keraguan itu demikian kuat meliputiku? Mengapa aku tak mampu lagi tampil seadanya, merasa puas dengan kesederhanaan? Kuremas rambut dengan gemas. Entah mulai kapan aku setengah gila, selalu resah begini. Yang kurasa, alasannya teramat mendebarkan.
Ya, apa artinya bila seorang nona remaja mempertanyakan kemenarikannya?
***
Aku sedang jatuh cinta.
Payahnya, dia yang kucintai adalah orang yang tak acuh padaku. Tak pernah kudengar ia mengumbar simpati macam cowok lain. Kalau berpapasan, ia cuma menyentakkan senyum sekilas, sekadar menyatakan bahwa kami rekan satu sekolah. Tak lebih. Mulanya aku juga tak peduli.
Namun kemudian, entah sejak kapan, pesona itu terjulur halus tiba meraihku. Dan aku terjerat. Aku berusaha merebut sebanyak mungkin kesempatan untuk memperhatikannya. Langkahnya tampil tegap dan gagah, dibarengi senyum dan tatapan teduh matanya. Suara yang biasa ia lantunkan lewat pembacaan puisi, atau dalam upacara, terasa lebih empuk di telinga. Mabuk rasanya, perasaanku gemetar.
Dulu, kelas satu dulu, kami pernah sekelas. Dan segala tingkah-polahnya yang sempat kuingat mencuat menjelma kenangan indah memukau. Sayang, aku tak amat dekat dengannya. Dari dulu, ia seperti jauh buat diriku. Tapi, kulihat ia pria yang baik. Rasa kagum itu mengental sekarang.
Ia remaja yang gesit; aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, tapi juga tak kedodoran nilai rapotnya. Ia berhasil memadukan dua kemampuan yang bagai dua kutub berlawanan: jago basket sekaligus pengharum nama sekolah lewat keandalannya membaca puisi. Ia… apalagi? Bagaimana aku harus menderetkan setumpuk kelebihan-kelebihannya?
Dan, aku telah mencintainya, sangat mencintai: walau baru sampai taraf perasaan. Baru sampai pada taraf perhatian yang sepihak.
Tersisa satu pertanyaan: Sanggupkah aku balik menghantam perhatiannya? Mulailah keraguan itu. Aku takut tampil norak di matanya. Aku ingin senyumku terasa lebih mesra untuknya. Aku ingin ia tahu bahwa aku memperhatikannya. Namun kemudian, justru aku mulai dilanda rasa gemetar untuk bertatapan dengannya.
Kupandang ia dari kejauhan. Kuperhatikan. Aku merasa tak sanggup untuk menyatakan cintaku dengan “agresif”. Lama-lama, aku merasa tolol bila mencoba menarik perhatiannya dengan penampilan saja. Dalam bercinta, aku memang masih kurang “piknik”, kurang pengalaman. Ini cinta pertamaku.
Sungguh sulit berada dalam posisi begini. Sungguh sulit, justru karena aku, pihak wanita, yang mencintai. Lingkunganku bagai menggariskan, belum pantas seorang wanita mendului menyatakan cinta. Dan aku tak sanggup untuk berontak terhadap tatakrama itu.
Tapi, kuatkah aku?
***
“Ayu! Kau mau ke luar?!”
Hup! Aku menoleh gugup. Mata elang bapak biologi telah menusukku tajam-tajam. Wuih, serem!
“Ti… tid… dak, Pak!” jawabku gagap, lalu menunduk.
“Hm, sebaiknya matamu memandang ke papan tulis saja,” kata beliau ketus.
Sialan! Pasti mata anak sekelas memperhatikan aku sekarang. Pasti mereka bertanya-tanya. Soalnya, Ayu yang biasanya ceriwis sekonyong-konyong menjelma pelamun kagetan. Apalagi wajah di sampingku ini – Ana – pasti sudah berlipat-lipat keningnya. Dia kurang memperhatikan aku tadi, karena selalu serius kalau menghadapi pelajaran idola.
Huh, angker benar mata guru satu ini. Sialan!
***
“Hayo, kamu kena penyakit apa?” sergap Ana ketika istirahat.
“Biasa. Cuci mata. Bosan terus-terusan memandang benang kusut,” kilahku mengelak. Pak biologi memang gemar membuat garis dan lingkaran kalau menerangkan: kacau!
“Nggak percaya! Aku lihat ada sinar lain dalam tatapanmu tadi.”
Aku kaget. Sebentar saja. Segera kukembangkan senyum dan bertepuk tangan penuh semangat menggoda. “Hebat benar calon psikolog kita ini!”
Ouw! Aku menjerit kena cubitannya. Ana memakiku gemas. Senang nonton dia begitu. Ia paling gemas, tapi kelihatan kalau campur bangga, kalau cita-citanya diungkit jadi bahan ledekan. Cita-cita yang mungkin  berkaitan dengan hobi memburu gosip!
“Kau mau cerita padaku?”
“Cerita apa? Tentang tarian burung gereja? Atau bougenvil yang bergoyang diterpa angin? Makanya jangan sok genius, melototi Pak Guru terus. Dia ‘kan sudah nggak ganteng,” aku mengejek lagi.
Ana tambah gencar mencubiti dan memaki. Penasaran banget ia. Kalaupun sekarang ia kabur ke kantin, jelas ia belum menyerah.
Ah, An, aku masih bisa bersandiwara pura-pura, ya? Maafkan. Rasanya sulit untuk berbagi gelisah yang satu ini.
Aku tadi memandang dia. Ya, sedang senam di halaman bersama anak-anak sekelasnya. Kulihat gerakannya indah, sangat indah. Mungkin aku memang telah memandang secara “lain”.
Beginikah orang yang mencinta: segalanya menjadi hiperbola?
***
Waktu hari-hari masih normal, aku suka berjalan pulang dengan gadis-gadis cap murai. Kalian bisa membayangkan kalau gadis-gadis puber berkumpul? Banyak bahan omongan, lepas dan blak-blakan diliputi guyon segar. Topik bisa segunung, dari film, kaset, buku sampai model rambut plus gosip. Kemasihsendirianku juga kerap dilontarkan hangat-hangat. Atau, mereka mengomongkan cowok masing-masing.
Sekarang, ketika mereka membicarakan cowok masing-masing, sesuatu terasa menekanku. Betapa bahagia mereka berbincang-bincang. Sedang aku? Biasanya memang tak kalah cerewet dalam buka mulut. Kini, hanya sekadar menjaga kewajaran..
Aku juga selalu mengelak bila harus bertatapan dengan manik mata Ana. Kali ini, aku terpaksa mengecewakannya. Aku belum siap untuk membeberkan kegelisahanku kepada orang lain.
Untuk melanjutkannya, aku tak mau memaksa menyiksa diri. Biar aku sendiri; biar mereka curiga dan macam-macam kalau mau berprasangka. Tak semua persoalan harus dibebergelarkan kepada orang lain, sembarang orang.
Kadang Ana yang tetap menemaniku. Kalau ia mengungkit apa yang telah kupendam, segera aku mengelak, kualihkan topik. Syukurlah, ia mau mengerti. Aku ingin bercerita, sebenarnya. Namun seperti ada yang mencegah, mohon waktu yang enak.
Persoalan itu sendiri sebenarnya masih tak karuan, karena berlangsung sepihak dan takut-takut menemalikan diri dengan pihak yang diharapkan.
***
Kesepian malam minggu terasa menyengatku kali ini. Aku sendiri, merasa sendiri. Ayah dan ibu ke rumah kenalan, menghadiri pesta kawin perak. Sari, kakakku, asyik dengan Hendi, kekasih terkasih, di teras. Tumben tidak keliling kota. Mungkin kasihan, mau menemaniku.
Aku duduk dengan pikiran menerawang di depan televisi, memencet-mencet remote control sembarangan. Ada cemburu ketika haha-hihi Sari dan Hendi menelusup sampai ke ruang tengah. Betapa mereka rukun berbahagia.
Bayangan dia seketika menyentak. Dia yang jauh. Dia yang terasa tak tergapai.…
Entah bagaimana, tadi, aku bisa mengangguk ketika diseret Ana, nonton basket. Padahal, aku tak pernah merasa suka dengan permainan satu ini. Mungkin Ana mengajakku untuk mencari hiburan; wajahku tampak kuyu di matanya.
Ketika duduk  di pinggir lapangan, debaran itu menyentak. Ya, aku tahu sekarang, dia, lagi-lagi dia! Pandangku terus terpesona; tanpa takut kepergok. Penampilannya sungguh prima mendominasi. Ia berkelebat di antara lawan, melemparkan bola kepada kawan: gerak-gerak manis penuh kelincahan gesit terkontrol. Ah, aku tak amat paham permainan ini, tapi telah begitu saksama memperhatikannya. Bukan, bukan permainannya!
Sang bintang lapangan!
Dan segalanya buyar ketika sekali lagi sorak-sorai panjang menggema. Ana meloncat dari sisiku, menyerbu ke lapangan. Sang bintang, tentu saja, paling banyak mendapat salut. Dia mengumbar senyum begitu menawan.
Aku…. Sebenarnya tinggal loncat, dan ikut menyalaminya. Mengapa aku tetap terpaku di sini?
Tes! Oh, kristal air bergulir melintasi pipiku. Kuseka cepat-cepat.
Tiba-tiba ada rasa jenuh. Kumatikan televisi. Dengan gundah kubanting pintu dan kuempaskan tubuh ke kasur.
***
Sendiri.
Betapa menyakitkan kata itu menghunjam hatiku, malam ini.
Adakah dia juga tengah dicabik-cabik sepi? Memang, selama ini, belum pernah kudengar, lewat gosip, dia mempunyai kekasih. Tapi, siapa tahu? Cowok macam dia tak perlu antre, dijamin malah banyak yang mengincar. Siapa tahu sudah ada yang menarik cita cintanya? Siapa tahu?
Pertanyan itu pun kembali menusuk: benarkah aku menarik?
Dadaku sesak. Mengapa aku yang biasanya luwes kepada siapa pun, sekarang begitu gemetar untuk mendekati seorang Han? Mengapa?
Han….
Ya, namanya Han. Nama yang teramat liris bila didesahkan. Nama yang menggelisahkan.
***
Ketika segalanya masih baur, muncul tikaman lain; dan membuahkan dilema. Aku seperti masuk ke lembah bayang-bayang, dipermainkan keraguanku sendiri. Makin guncang saja kejernihan yang selama ini sebenarnya sudah susut sedikit demi sedikit.
Tak kusangka tatapannya menyimpan cinta. Kalau aku selalu tersenyum bila berpapasan, sebenarnya tidak ada yang istimewa. Toh aku juga melakukan hal yang sama kepada semua temanku. Tanpa kusadari, tatapan mata dengan sesuatu yang lain itu telah menjelma sosok gelisah berdiri di depanku.
Tangannya terulur gemetar menyerahkan sampul biru itu. Dan aku, tak ayal, ikut gemetar. Masih kucoba tersenyum sekilas. Bergegas kutinggalkan mata penuh penantian itu dengan dada kacau.
Arya… tak kusangka kau mencintaiku.
Benar saja. Kalimat-kalimat cinta yang jujur menyergapku. Kata-katanya mengalir lembut dan terpilih (Kuakui, ia calon pengarang yang hebat. Han, mereka bersahabat cukup akrab, pernah membacakan puisinya di atas pentas). Terasa amat tulus, dari perasaan yang lama disungkupi.
Paginya, ia seperti sengaja menantiku di pintu kelasnya yang berurutan dengan kelasku. Mata itu memandang dengan penantian penuh harap. Aku gundah. Aku menunduk untuk menghindari sinar yang meresahkan itu. Apa yang bisa kukatakan?
Dua bayangkan membuhulkan benang kusut di batok kepalaku.
***
Ada saat seseorang tak mampu menyesaikan sendiri persoalannya. Dan kali ini, aku memilih lari kepada Sari. Ia saudara paling dekat denganku. Untuk bercerita kepada ibu, aku merasa sungkan. Kuakui ia cukup bijaksana. Namun, untuk persoalan cinta, tentu cita-rasanya lain zaman; walau ibu tentu akan berusaha untuk mengerti. Tapi dengan Sari, rasanya akan lebih sreg.
“Mbak,” kutekan pundaknya. Ia mengerti; kapan boleh meledak tertawa, kapan harus serius.
“Mbak, mana yang akan kaupilih: orang yang mencintaimu atau yang kaucintai?”
“Aku atau kamu?” begitu intronya, sambil tersenyum lembut. Kubalas dengan senyum tipis: tahu sama tahulah!
“Semuanya berat. Semuanya mengharuskan adanya tanggung jawab. Kita biasanya suka memberi, ketimbang menerima cinta. Ketika kita mencintai, sebenarnya yang lebih penting adalah: apakah orang itu juga mencintai kita atau tidak. (Aku memejamkan mata). Waktu aku mencintai Mas Hendi, aku gelisah. Dan aku merasa lebih bahagia ketika tahu, bahwa ia juga mencintaiku.”
“Kalau kita dicintai orang yang tidak kita cintai? Apakah aku harus menipu perasaanku? Sedang aku mencintai orang lain, meski aku ragu apakah ia mencintaiku.”
“Perasaan cinta memang tidak bisa dipaksakan. Berusaha mencintai orang yang semula tidak kita cintai, sama sulitnya dengan mengharapkan seseorang mencintai kita. Tapi, kita melihat kenyataan. Dengan orang yang mencintai kita, kita akan mendapatkan kepastian. Sedang orang yang yang kita cintai, yang masih kita ragukan cintanya, yaah… segalanya juga seraba meragukan.
“Namun, sekali lagi, perasaan tidak bisa dipaksakan. Artinya, kau bisa menolak orang yang mencintaimu itu. Tapi kau juga tak bisa terlalu mengharapkan, orang yang kaucintai akan mencintaimu. Itu gampangnya.
“Percintaan sebenarnya baru berjalan bila keduanya saling menanggapi.”
Kuhamburkan tubuhku ke dada Sari. Aku menangis dengan air mata pedih. Sari mengelus lembut rambutku.
***
Tak semudah kata-kata.
Kabut ini semakin lindap, begitu kalau kutulis puisinya. Mendung dan angin membuatku guncang. Daun-daun berguguran.
Mengapa aku tidak bisa bersikap tegas kali ini? Hari-hariku seperti dicengkeram bayang-bayang Han. Sementara Arya kubiarkan menanti begitu lama tanpa kepastian; ah, sebenarnya ia sangat sabar.
Hatiku terasa sunyi. Amat sunyi.
***
“Kau tambah murung saja. Ada persoalan, bukan? Baru sekali ini kau tak mau mengatakannya. Apa persoalannya begitu berat, atau sangat pribadi? Berceritalah. Sebagai sahabat.”
Kuraih tangan Ana. Kugenggam erat. Matanya terlihat teduh, tulus. Ada keharuan. Betapa bahagia bila semua orang menjadi sahabat.
“Bukan aku tak ingin bercerita. Sangat sulit untuk mengungkapkannya. Kadang ada persoalan yang tidak harus dibagi kepada orang lain.”
“Yang ini?”
Aku menggeleng. “Kurasa aku hanya membutuhkan waktu yang tepat. Saat aku akan bisa bercerita panjang lebar.”
“Baiklah. Aku mau menunggu.”
Kuremas lagi tangannya. Ana, karibku. Kau selalu penuh perhatian. Juga kepadaku. Mengapa aku tak bisa berbagi denganmu kali ini?
“Eh, bagaimana kalau nanti nonton? Cari hiburan, biar nggak tegang,” ajaknya kemudian, santai dan dengan senyum manis. Pandai nian dikau mengalihkan pembicaraan, untuk menjaga perasaanku agar tak makin murung.
Dan segalanya berpuncak petang itu.
Klimaks yang entah harus kusesali, kusyukuri atau apa, aku tak tahu. Dunia berputar cepat mencuatkan kejutan-kejutanya. Batas antara rasa sakit dan kelegaan tak lagi jelas. Perasaan sudah tanpa warna, namun juga bukan bening. Sebuah konsentrasi yang pekat antara kepastian dan ketidaktentuan: garis antara yang tidak berarah.
Aku menggigil.
“Lihat, ada Han. Gila dia! Pacarnya benar-benar hebat. Betul juga omongan teman-teman.”
Sepasang remaja dengan kemudaannya bergayutan mesra. Begitu hangat. Begitu damai. Tak sadar ada hati yang remuk. Aku gagal menjadi pendamping ketegapan itu. Sebuah keanggunan telah merenggutnya lebih dulu. Aku telah kalah.
Baru seminggu yang lalu Ana mengetahuinya. Ia tidak bercerita sebelumnya; toh itu bukan masalah yang ia anggap perlu untuk kuketahui. Bagaimana ia akan mengenal hatiku yang tiba-tiba tertutup, hati yang lebih rahasia dari biru laut lazuardi?
Entah seminggu, sebulan atau setahun, aku telah kalah; tanpa pernah berlaga. Begitu parah.
Malamnya, ketika bantalku sudah basah, aku belum bisa mengambil keputusan untuk Arya. ***

(Cerpen ini pernah dimuat di Anita Cemerlang, Vol. 197, 22 Mei – 1 Juni 1986, dan kemudian dibukukan dalam Lintasan Cinta [Yogyakarta: PBMR ANDI, 2007]).


Tuesday, October 7, 2014

Pesona Film Bisu dalam Iringan Orkestra Melenakan



SUNRISE (F.W. Murnau, AS, 1927)

Lagi-lagi, pengalaman sangat mengesankan dan sulit dilupakan: menonton film bisu dengan iringan musik secara langsung. Pada 2009, di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, atas prakarsa Goethe Institute, aku dapat menikmati film bisu "Battleship Potemkin" dengan iringan duo piano Adelaide Simbolon dan Pierre Oser yang berderap dinamis selaras dengan kisah film. Semalam, di tempat yang sama, dengan kursi penonton yang sudah diperbarui dan lebih keren, aku hanyut dalam "Sunrise: Song of Two Humans" dengan iringan orkestra Capella Amadeus, memainkan musik karya, ah, ternyata Pierre Oser lagi. Konon, seperti itulah dulu orang menikmati film bisu, saat belum ditemukan teknologi untuk memadukan gambar bergerak dan tata suara pengiringnya. Jadi, ini seperti perjalanan menembus lorong waktu. Dan, betapa memikat!



FILMNYA. "Sunrise" karya F. W. Murnau ini dirilis pertama kali pada 1927, pada masa peralihan dari era film bisu ke era film bersuara--era yang diolok-olok dengan ciamik dalam "Singin' in the Rain". Ditilik dari perspektif era itu, ini film yang sangat menakjubkan.

Kisahnya sebuah fabel bersahaja tentang cobaan hidup: seorang petani hidup sejahtera dengan istri dan bayi mereka di sebuah desa yang permai, digoda perempuan genit dari kota, dan hidup mereka pun terguncang nyaris jungkir-balik. Namun, bagaimana kisah sederhana itu dituturkan melalui rangkaian gambar yang memikat--itulah persoalannya.

Ingat, saat itu kamera belum dapat bergerak leluasa seperti saat ini, dan belum ada komputer untuk mengolah gambar usai syuting. Namun, tiliklah gambar-gambar yang memukau sepanjang film ini. Dia adegan awal, si perempuan genit menyulut rokok di kamar penginapan, mengenakan stoking, lalu--dengan gaun terusan dan selendang hitam melambai--melangkah di jalan pedesaan, dan kamera mengikutinya dari belakang. Cantik sekali.

Saat si suami berselingkuh, terjadi perpindahan gambar yang unik: sang istri memeluk bayinya dalam komposisi yang mengingatkan pada lukisan klasik, berganti-ganti dengan adegan si suami dan si perempuan genit bercinta di rawa-rawa di bawah terang purnama: puitis, mistis, nyaris surealis. Yang satu suasananya sangat membumi, yang lain layaknya mimpi. Mungkin seperti itulah watak perselingkuhan: mencerabut kita dari realitas keseharian, dan membuai kita dalam impian melenakan.

Dan, impian dua insan yang tengah dimabuk asmara itu, impian tentang kehidupan kota yang gemerlap, ditampilkan dalam kolase gambar bertumpuk di latar belakang sana, seolah memenuhi langit malam. Keren!

Pesona seperti itu terus berganti-ganti sepanjang 95 menit durasi film. Terasa ajaib jika mengingat keterbatasan teknologi saat itu, sekaligus menyiratkan penggarapan yang tekun dan penuh kecintaan dari awak pembuat film ini.

Hebatnya lagi, meskipun secara keseluruhan film ini adalah sebuah melodrama, namun ada bumbu thriller psikologis, komedi, dan... bencana alam!

Pantas film ini menjadi salah satu mutiara berharga dalam sejarah perfilman dunia. Akhir kisahnya seperti sebuah nubuatan: akhir dari sebuah era, dan permulaan sebuah era baru. Dalam film, si perempuan kota yang kalah. Ironisnya, di dunia nyata, perempuan kota (baca: perkembangan teknologi film) itu yang berjaya dan makin genit.


 PENGARUHNYA. Aku hanya ingin membahas pengaruh yang kurasakan selama menonton film ini: rasanya film-film lain bermunculan saat mengamati adegan, penokohan, atau gambar tertentu. Ini menunjukkan, "Sunrise" berpengaruh besar pada film-film berikutnya. Kalau bukan pengaruh langsung, ya paling tidak Murnau telah merintis apa yang kemudian dikembangkan pembuat film era selanjutnya.

Bagian thriller psikologis yang berisi rencana pembunuhan, bisa dibandingkan dengan "Strangers on a Train" dan "Dial M for Murder"-nya Alfred Hitchcock. Kontras antara perempuan petani bersahaja dan perempuan kota nan binal itu, nantinya muncul secara lebih kompleks dalam sosok Melanie dan Scarlett dalam "Gone with the Wind". Gerak langkah si petani yang terbata-bata mirip dengan langkah si Monster dari "Frankenstein", namun dalam adegan bercukur di kota, tiba-tiba ia, entah kenapa, mengingatkanku pada Nicolas Cage dalam "Moonstruck".

Salah satu pose ikonik Uma Thurman dalam "Pulp Fiction" ternyata sudah muncul di sini. "Berarti Tarantino memang tukang nonton kelas berat," komentar teman sebelahku, David Setiawan. Kalau Anda penggemar "Babe", si babi cerdik yang menjadi anjing gembala, di sini ada babi mabuk yang lucu banget. Adegan si petani memasang tumpukan rumput gajah di punggung istrinya saat badai mengamuk, dan adegan pencarian dengan perahu-perahu itu, ah... "Titanic" mengikutinya. Adegan berciuman di tengah jalan membikin lalu lintas macet, rasanya muncul di sejumlah film, salah satunya di segmen *Rhapsody in Blue* dalam "Fantasia 2000"--kalau tidak salah ada juga di "Kejarlah Daku Kau Kutangkap". Film ini--khususnya adegan berperahu di danau itu--juga mengingatkanku pada sebuah film fantastis dari Jepang, "Ugetsu" (Kenji Mizoguchi, 1953).

Ah, "Sunrise" seperti peti harta karun yang isinya pepak dan bersinar-sinar!




MUSIKNYA. Nah, ini yang istimewa dan langka. Aslinya, "Sunrise" sudah diedarkan dengan saundtrack dan efek suara (bisa dinikmati di sini). Dalam pemutaran semalam, film diiringi komposisi yang khusus digubah oleh Pierre Oser bagi penonton Indonesia, dimainkan oleh Capella Amadeus.

Aku, Lesra, dan Tirza mendapatkan tempat duduk di deretan terdepan. Eh, ketika Pierre Oser muncul sebagai konduktor, ternyata posisinya di depan Lesra sehingga mengalangi pandangannya. Lesra harus melongok-longok sedikit untuk menikmati filmnya. Jadi teringat "Fantasia", yang sesekali memperlihatkan konduktornya. Bedanya, di "Fantasia" animasi dibuat mengikuti musik, sedangkan semalam musiklah yang digarap mengikuti film.

Dan, komentarku tidak panjang-panjang: komposisi Pierre Oser berhasil menyatu secara organik, memberi denyut jiwa, menghidupkan gambar-gambar film yang sudah dahsyat itu, lembut melenakan, mengajak penonton menembus lorong waktu. Sempat lampu sang konduktor mati dua kali (dalam adegan suami-istri memasuki pasar malam dan adegan suami terhempas ke pantai lalu mulai mencari-cari istrinya), namun gangguan itu justru memperlihatkan bahwa gambar film itu memang sudah berbicara secara kuat.

Tak terasa, malam film yang terdahulu dengan yang sekarang ini berselisih 5 tahun. Memang tidak bisa buru-buru mempersiapkan iringan musiknya. Aku berharap program ini bisa lebih sering--dua atau setahun sekali. Dan, tidak sabar menunggu proyek berikutnya. Murnau lagi, "Nosferatu" (1922), mungkin? ***

Wednesday, August 13, 2014

Kemerdekaan Membaca



Kenanganku tentang bahan bacaan masa kecilku: orangtuaku tidak pernah melarangku membaca buku atau bacaan tertentu. Ayahku, berdasarkan kemampuan dananya, menyediakan bacaan yang, dalam pandanganku, dianggapnya bagus bagi keluarga. Ia berlangganan Kompas, Intisari, dan Djoko Lodhang untuk bacaan kami semua. Aku dan kakakku yang masih SD pernah dilanggankan Donal Bebek dan Bobo. Ketika kakak-kakakku yang besar mulai bekerja, mereka juga membeli atau berlangganan majalah pilihan mereka sendiri. Ada Femina, Kartini, Manja (roman remaja, terbitan berkala majalah Hai, novel-novel keren karya penulis top masa itu), Anita Cemerlang, Nova. Di gudang juga ada koleksi beberapa buku dan majalah lama, antara lain Ria Film dan Aktuil. Di luar itu, aku bisa meminjam bacaan dari tetangga atau teman.

Sekali lagi, orangtuaku tidak pernah melarang atau menyensor bacaan tertentu. Tidak ada bacaan yang dilabeli “bacaan dewasa” dan tidak boleh kusentuh. Kalau aku bisa membaca dan memahaminya, baca saja. Larangan ayahku lebih ke arah bagaimana aku membaca: karena aku keranjingan membaca, beliau akan marah kalau sampai aku lalai mengerjakan tugas rumahku gara-gara asyik dengan bacaan.

Jadilah, sejak kecil, tidak jarang aku terpapar dengan bacaan yang bisa dibilang belum cocok untuk umurku. Misalnya, ketika aku masih SMP, Kompas memuat cerpen Emha Ainun Najib yang berjudul “Laki-laki ke-1.000 di Ranjangku”. Orangtuaku—atau kakak-kakakku—tidak serta-merta menyembunyikan koran itu. Aku tetap leluasa membacanya. Di Kompas juga dimuat komik strip bersambung, serial “Garth”, yang di bagian-bagian tertentu menyajikan adegan aduhai. Lalu, di Femina ada rubrik kisah nyata, dan di Kartini namanya amat legendaris: “Oh Mama, Oh Papa”, isinya kurang lebih seputar pergumulan manusia menghadapi berbagai persoalan hidup, khususnya dalam hubungan rumah tangga. Ada pula berbagai rubrik konsultasi, berisi tanya-jawab antara pembaca dan penjaga rubrik yang dianggap ahli, membahas mulai dari cara mengatur keuangan, mengatasi rasa malu, memilih karier, sampai pergumulan dengan homoseksualitas. Saat SMP pula aku sudah membaca novel seperti Harimau! Harimau!, Romo Rahadi (ada adegan kakak-beradik laki-laki perempuan mandi bareng), Dua Ibu, Burung-Burung Manyar, dan Bumi Manusia (bangga banget bisa diam-diam mendapat “bacaan terlarang” ini, dan terhenyak membaca kisah Minke dan Anneliesse). Kalau aku tidak membaca suatu bacaan, itu bukan karena dilarang, melainkan karena memang tidak atau belum berminat.

Orangtuaku jarang berdiskusi secara terbuka dengan anak-anak di meja makan atau di ruang keluarga. Namun, dari bacaan-bacaan yang leluasa kami baca itu, dunia jadi terbuka. Bahwa ada berbagai fakta kehidupan. Bahwa dunia ini tidak hitam-putih, tetapi warna-warni. Bahwa ada yang dianggap jahat atau menyimpang. Bahwa ada yang patut diteladani. Ada kisah cinta yang cengeng; ada pengalaman hidup yang pahit dan traumatis. Dan, banyak pula perkara yang misterius, tak terpahami, sulit dijelaskan, dan cukup dimaklumi saja. Bacaan-bacaan itu tidak selalu memberi jawaban yang memuaskan, malah lebih sering memantik pertanyaan yang pelik, dan membuatku terus haus mencari bacaan-bacaan lain. Paling tidak, bacaan-bacaan itu menolongku menyadari betapa hidup ini kompleks, pedih, dan sekaligus indah.

Untuk itu, aku berterima kasih atas kemerdekaan membaca yang disediakan orangtuaku. Sebuah warisan yang sungguh berharga. Aku berharap dapat menyediakan kemerdekaan serupa bagi anak-anakku.

Dan, aku sedih ketika ada pihak yang sok jumawa menyensor buku.

Jogja, 13.08.2014

Thursday, July 24, 2014

Kepemimpinan Kera



DAWN OF THE PLANET OF THE APES (Matt Reeves, AS, 2014)

Koba memerintahkan Ash untuk membunuh seorang manusia. Ash menolaknya. Kenapa? Koba ini baru saja merebut kepemimpinan Caesar, pemimpin para kera, dengan hasutan. Ia sembunyi-sembunyi menembak Caesar, dan melemparkan kesalahan pada manusia, lalu memimpin pasukan kera menyerbu manusia. Ash menolak perintah Koba karena teringat akan kepemimpinan Caesar. "Caesar tidak akan melakukannya," katanya.

Adegan kecil itu terasa membekas: bahwa kepemimpinan inspirasional itu bisa amat bertenaga. Sekalipun sosok sang pemimpin tidak hadir, inspirasinya dapat terus menjadi daya hidup dan menggerakkan orang dalam menentukan pilihan. Meskipun pilihan itu harus dibayar dengan nyawa. Dan, meskipun kera-kera lain memilih manut miturut dalam cengkeraman ketakutan.

Dawn of the Planet of the Apes (DPA) menampilkan pesan kepemimpinan semacam itu dalam jalinan cerita yang memikat. Tadinya aku kurang tertarik karena belum menonton prekuelnya, Rise of the Planet of the Apes (2011). Ternyata film ini dapat dinikmati secara mandiri, dan dengan lihai menyedot kita ke dalam pusaran konfliknya. Kira-kira seperti menonton Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest sebelum menonton film pertamanya. Tetap seru! Akhir ceritanya pun sama-sama menggantung, kelam seolah tanpa harapan, membuat kita menunggu-nunggu lanjutannya.

Sebagai film brondong jagung, DPA mengesankan. Teknik motion capture-nya sangat mulus, sukses menampilkan gerombolan kera secara hidup. Ketika kera-kera itu berderap memacu kuda, terasa begitu meyakinkan. Yang lebih piawai lagi, meski wajah kera-kera itu agak sulit dibedakan satu sama lain, toh gerak emosi masing-masing terpancar dengan kuat. Kera-kera itu layak dinominasikan untuk Oscar!

Selebihnya, film keren ini mengingatkanku pada perbedaan antara berita dan cerita. Pada era ketika breaking news lebih berlimpah daripada news, kita cenderung hanya mendapatkan apa-siapa-kapan-di mana. Kita banyak kehilangan bagaimana dan mengapanya. Sudah begitu, selarik cuitan di Twitter atau satu status pendek di Facebook, misalnya, sudah bisa mengundang reaksi berpanjang-panjang, melebar ke sana kemari. Lalu, tanpa sadar, kita sudah terjebak dalam perspektif yang hitam-putih. Kalaupun ada berita investigatif, ketika media sudah kehilangan netralitas dan independensinya, kita bertanya-tanya, pemberitaan ini bias ke mana.

Cerita, sebaliknya, menghadirkan dunia yang lebih masuk akal dari kenyataan. Ia menyajikan apa-siapa-kapan-di mana-bagaimana-mengapa secara relatif utuh. Kita diberi ruang untuk menimbang dan merenung. Kita diberi kesempatan untuk mengintip motivasi masing-masing pihak. Kita dapat mencatat nuansa karakter yang lebih berwarna. Bahwa manusia dan kera itu tidak dapat digebyah uyah begitu saja yang satu jahat dan yang lain baik, misalnya. Dan kita pun, mudah-mudahan, tertolong untuk mengambil keputusan secara lebih arif.

Aku ingin menggarisbawahi perkataan Dalai Lama, betapa dunia ini tidak memerlukan lebih banyak orang "sukses", melainkan lebih banyak, salah satunya, juru cerita yang piawai. Juru cerita yang menolong kita menjelajahi lekuk liku kehidupan, dan merayakannya. Bisa juga ditambahkan, kita memerlukan lebih banyak telinga yang mau mendengarkan, mau menyimak, bukan mulut yang terburu-buru bereaksi secara instan.

DPA, dalam kemasannya sebagai film hiburan, berhasil menawarkan cerita yang layak kita simak.

24.07.2014