Alien yang Tidak Berdaya

Alien. Terbayang makhluk asing yang jauh lebih cerdas dari manusia. Mereka datang dari luar angkasa untuk meneliti kehidupan manusia. Atau, mereka datang untuk menyelamatkan manusia. Pokoknya, alien cenderung kita bayangkan lebih hebat dari manusia.

Tidak begitu dengan alien dalam District 9. Pesawat yang mengangkut mereka bermasalah, lalu mandeg menggantung di atas Johannesburg, Afrika Selatan. Para alien itu sendiri tengah diserang wabah sehingga harus dibantu oleh manusia untuk keluar dari pesawatnya. Lalu, mereka ditampung di semacam kamp pengungsian yang disebut District 9.



Dengan CGI yang menawan, sosok alien yang sedikit lebih tinggi dari rata-rata manusia ditampilkan seperti persilangan antara udang dan belalang. Sosok yang sekilas menakutkan. Perbedaan mencolok itu selanjutnya mengakibatkan mereka dibatasi geraknya. District 9 jadi mirip penjara besar bagi mereka.

Manusia berusaha meneliti ilmu dan teknologi yang dimiliki alien ini. Mereka mempunyai senjata yang tampak canggih, tetapi tidak berfungsi bila berada di tangan manusia. Apa pula rahasianya sampai pesawat mereka bisa mengambang di langit tak jatuh-jatuh? Selama 20 tahun, hasil penelitian nihil.

Sepanjang itu pula populasi mereka makin membengkak. Pemerintah memutuskan untuk memindahkan mereka ke lokasi lain. Dalam operasi pemindahan itu, seorang petugas, Wikus van der Merwe (Sharlto Copley), tercemar cairan tertentu milik alien. Akibatnya, DNA-nya tercampur dengan DNA alien. Tangannya tumbuh seperti cakar alien, dan ternyata dapat mengoperasikan senjata alien dengan baik. Pemerintah pun merasa mendapatkan kelinci percobaan.

Ini film fiksi ilmiah yang menawarkan kesegaran. Di tangan pendatang baru Neill Blomkamp, sosok alien tidak berdaya yang menjadi pengungsi di antara manusia menawarkan gambaran yang tidak biasa. Secara unik, film ini berhasil mengubah persepsi penonton terhadap para alien, khususnya alien yang ”dimanusiakan,” yaitu Christopher Johnson dan anaknya. Melihat pertama kali, tidak ayal kesan terhadap mereka ialah makhluk yang menjijikkan dan mengerikan. Namun, seiring berjalannya cerita, pelan-pelan alien itu mulai mencuri simpati kita, bahkan pada titik tertentu mereka tampil lebih manusiawi dari para manusia yang keji. Dalam sebuah adegan, misalnya, sesosok alien hidup dijadikan sasaran uji tembak. Juga ada alien-alien lain yang dikuliti seperti udang siap direbus.

Dengan mengambil latar suasana Johannesburg yang keras dan gersang, diperkuat dengan gaya dokumenter, Neill Blomkamp mengarahkan ingatan pada suasana Afrika Selatan pada era politik apartheid. Ternyata, dengan perbedaan pelaku, kondisi serupa masih berlangsung di negeri itu. Saat ini pengungsi dari Zimbabwe yang melarikan diri dari negerinya karena penindasan politik dan kebangkrutan ekonomi mengalami kekerasan dan kebencian dari penduduk Afrika Selatan yang menentang keberadaan mereka.

Lebih jauh, film ini memantik pengandaian yang mengusik: misalkan benar-benar ada mahkluk asing dari planet lain mengunjungi bumi ini, bagaimana manusia akan menerima mereka? Kalau melihat kecenderungan manusia dalam memperlakukan liyan di sekitarnya, District 9 membayangkan potret buram itu dalam bingkai perjumpaan dengan alien. Sebuah gambaran yang mencemaskan.

Bisa jadi, District 9 sedang menyindir cara kita memperlakukan orang lain. Kecenderungan kita mengambil jarak berdasarkan perbedaan---beda agama, beda warna kulit, beda status sosial, atau bahkan sekadar beda hobi. Dan, kegagapan kita menyambut orang lain yang berbeda itu sebagai sesama manusia. ***