2012: Misalkan Dunia Berakhir

Setelah menghancurkan dunia dengan serangan alien (Independence Day, 1996) dan gebyuran gelombang pasang akibat pemanasan global (The Day After Tomorrow, 2004), Roland Emmerich kembali menjungkirbalikkan dunia. Kali ini ia menggelontorkan air bah---semacam kisah Nuh dalam latar modern.

Judul dua film kiamatnya itu mengacu pada latar waktu terjadinya peristiwa. Begitu juga dengan judul film terbarunya ini: 2012. Nah, ini angka tahun yang menarik.

Kalau ada rajin menyambangi toko buku, sejumlah judul yang bertopik 2012 siap menunggu Anda. Bagi yang aktif berselancar di internet, fenomena 2012 telah lama menjadi bahan silang pendapat. Usai nonton film Knowing, yang klimaksnya menampilkan leburnya dunia, seorang wanita di sebelah teman saya langsung nyeletuk, “Mas sudah siap menghadapi 2012?”

Ada apa dengan tahun 2012?

Berakhirnya Siklus Agung
Tahun 2012 mengacu pada suatu ramalan suku Maya. Suku yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala pada abad keempat dan kelima ini dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan. Melalui pengamatan benda-benda langit dengan mata telanjang, mereka mampu mampu melakukan kalkulasi dengan taraf akurasi yang tinggi.

Menurut mereka, keberadaan dunia ini berlangsung dalam suatu Siklus Agung. Dunia yang tengah berjalan saat ini siklusnya dimulai pada 11 atau 13 Agustus 3114 Sebelum Masehi dan diperkirakan akan berakhir pada 21 atau 23 Desember 2012 Masehi. Itu dia!



Berakhirnya suatu siklus antara lain ditandai dengan memuncaknya aktivitas matahari. Menjelang tanggal gawat itu, konon, akan muncul gelombang galaksi dahsyat yang mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi. Itulah yang ditafsirkan sebagian pengamat, antara lain Michael D. Coe dalam buku The Maya (1966), sebagai “kiamat”. Berakhirnya siklus itu menandakan musnahnya dunia yang kita kenal sekarang ini.

Tidak semua kalangan sepakat. Kebanyakan penganut gerakan New Age memaknainya secara kontemplatif sebagai seruan untuk mencegah kerusakan bumi. Berakhirnya siklus tadi berkaitan dengan ”pergeseran kesadaran” secara global. Mereka menafsirkan ramalan suku Maya itu sebagai bagian dari suatu evolusi rohani, yang pada akhirnya akan membawa dunia ini memasuki suatu Zaman Baru. Daniel Pinchbeck, misalnya, menyatakan, "Ketika ‘langit terbuka’ dan energi kosmis dibiarkan mengalir ke segenap penjuru Planet kecil kita, kita akan diangkat ke taraf yang lebih tinggi melalui vibrasinya.”

Induk Segala Malapetaka
Film 2012 yang dirilis pada 13 November 2009 tampaknya sejalan dengan pendapat terakhir. Tagline yang tertera pada trailer-nya berbunyi: The end is just the beginning. Jadi, sudah bisa ditebak, bakal ada penyintas di akhir filmnya.

Namun, awalnya bukan ramalan suku Maya itu yang memikat Roland Emmerich. Ia bahkan tadinya sempat tidak berminat lagi menggarap film malapetaka. Sampai suatu saat ia dan Harald Kloser, penulis skenario, mendapatkan suatu ide yang dirasanya layak difilmkan. ”Itu sebenarnya cerita paling kuno yang suka kita perbincangkan. Itu kisah air bah, dan bagaimana menyelamatkan diri darinya---seperti penceritaan kembali kisah bahtera Nuh secara modern. Cerita itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Itu benar-benar induk dari segala malapetaka.”



Baru kemudian ia mengenal kalender suku Maya, yang akan berakhir pada 2012 itu, dan mendapatkan bahan untuk menceritakan kembali kisah air bah tadi. ”Itu membuat orang percaya bahwa cerita ini nyata,” katanya.

Film ini menampilkan malapetaka global yang membawa pada kehancuran dunia. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai latar belakang, dari berbagai agama, berjuang untuk menyelamatkan diri. Sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah AS, Institute for Human Continuity, berusaha menggunakan kapal dalam upaya penyelamatan.

Di tengah kekalutan itu, tampillah Jackson Curtis (John Cusack), seorang duda cerai penulis fiksi ilmiah yang kadang-kadang bekerja sebagai sopir limosin. Ia memiliki pengetahuan berdasarkan ramalan kuno untuk memastikan bahwa umat manusia tidak sepenuhnya musnah akibat malapetaka tersebut.

Film ini juga menampilkan Danny Glover sebagai Presiden AS berkulit hitam dan Thandie Newton sebagai putrinya. Chietel Ejiofor berperan sebagai Adrian Helmsley, penasihat keilmuan bagi presiden, dan Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, pria yang meramalkan kesudahan dunia dan karenanya dianggap gila.

Namun, bintang utama film ini tak lain ialah Planet Bumi. Dengan efek khusus yang mengesankan, ditopang biaya sebesar 200 juta dolar, 2012 menampilkan bumi yang berguncang hebat, seperti anjing yang mengibas-ngibaskan air dari tubuhnya. Maka, setelah bumi dihajar empasan badai matahari, diaduk-aduk gempa, dijatuhi hujan meteor, dilalap air bah, entah bagaimana masih ada sekelompok manusia yang sukses menyelamatkan diri, siap memulai kehidupan baru.

Tak ayal Sony Pictures Entertaiment gencar memasarkan film ini, salah satunya dengan memanfaatkan internet. Mereka membangun situs lembaga fiktif, blog berisi berita-berita seputar fenomena 2012, sampai laman buku Farewell Atlantis yang diklaim sebagai karya Jackson Curtis. Di situs Institute for Human Continuity, misalnya, ada lotere untuk menjadi bagian dari orang-orang yang terselamatkan dari kehancuran global dan polling untuk memilih pemimpin dunia pasca-2012.

Penghiburan yang Lebih Besar
Benarkah dunia akan berakhir pada 21 Desember 2012?

May be yes, may be no---dengan bandul lebih condong ke arah no.

Bila Tuhan memilih mengakhiri riwayat dunia pada tanggal yang diramalkan tersebut, itu sepenuhnya wewenang dan kedaulatan-Nya. Tetapi, kemungkinan besar hal itu tidak akan terjadi. Tentang kesudahan dunia, firman Tuhan memperhadapkan kita pada misteri: hari itu akan datang seperti pencuri. Tuhan Yesus pun menolak untuk menyingkapkan misteri itu kepada para murid.

Kalau misteri itu ternyata bisa diramalkan, ya sudah enggak seru lagi, kan? Lagi pula, catatan sejarah penuh dengan berbagai ramalan hari kiamat yang nyatanya meleset.

Tentang bagaimana dunia akan berakhir, Alkitab juga tidak memaparkan rangkaian kejadian spesifik. Wahyu, kitab yang secara khusus membahas “kiamat”, banyak memuat gambaran simbolis tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Simbol-simbol yang pelik dan melahirkan beragam tafsiran.

Alkitab tampaknya tidak meminta kita untuk mencemaskan kapan dan bagaimana persisnya dunia akan berakhir. Alkitab memilih untuk menyediakan penghiburan dan pengharapan yang jauh lebih besar. Caranya? Dengan membocorkan “skor final pertandingan”!

Sejumlah mahasiswa kristiani bermain basket di lapangan kampusnya. Pak Haryo, tukang kebun setempat, duduk di tepi lapangan, asyik membaca Alkitab. “Baca apa, Pak?” tanya seorang mahasiswa. “Kitab Wahyu,” jawab Pak Haryo. “Kitab Wahyu? Memangnya Bapak mengerti isinya?” tanya mahasiswa itu lagi. “Yah, menurut kitab ini, Tuhan Yesus pada akhirnya menang.”

Pak Haryo menyampaikan tafsiran yang ringkas, lugas, dan jitu. Berita kitab tulisan Yohanes ini menegaskan bahwa Yesus Kristus akan datang kembali, Iblis akan dihukum, dan semua orang akan diadili untuk menerima kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Singkatnya, kitab terakhir dalam Alkitab ini memaparkan kemenangan final Tuhan Yesus atas musuh-Nya.



Dengan membocorkan hasil akhir tersebut, pesan kitab Wahyu jadi sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Ya, saat ini dan di sini, bukan di sana dan nanti!

Kitab Wahyu seolah-olah menyatakan, “Begitulah kesudahan dunia ini. Apakah engkau memercayainya? Kalau percaya, lalu bagaimana engkau akan menjalani kehidupan saat ini---hari demi hari? Apakah engkau akan hidup sebagai orang-orang yang berada di pihak Sang Pemenang?”

Bagaimana kita bisa berada di pihak Sang Pemenang? Bersukacitalah! Dalam perkara ini, Wahyu tidak membiarkan kita berteka-teki. Wahyu menegaskan kembali berita Injil: bahwa orang-orang yang telah ditebus-Nya akan turut mengambil bagian dalam kemenangan tersebut. Wahyu 12:11, misalnya, secara khusus menunjukkan tiga hal yang memampukan orang-orang kudus menjadi pemenang.

Darah Anak Domba. Dasar kemenangan mereka ialah Kristus dan karya penebusan-Nya di kayu salib. Setiap orang yang berpaut kepada Yesus Kristus akan mampu melawan dan menundukkan Iblis. Mereka menerima kemenangan ini bukan oleh kekuatan sendiri, melainkan semata-mata oleh anugerah Allah.

Perkataan kesaksian. Aktivitas iman mereka ialah memberitakan firman Allah, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Dengan memahami, memercayai, dan menerapkan firman Allah secara konsisten, orang percaya akan mampu membungkam dakwaan dan godaan Iblis.

Tidak mengasihi nyawa sampai ke dalam maut. Inilah sikap iman yang menjungkalkan Iblis. Orang percaya menyadari hidup ini hanya sementara, sekaligus tempat pelatihan dan persiapan menuju kekekalan. Mereka siap untuk mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan bahkan jika perlu nyawa, demi menyebarluaskan firman Allah. Mereka berpendirian bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Kitab Wahyu, dengan demikian, menantang kita untuk hidup dalam kekudusan. Kita menolak untuk mengambil bagian dalam kesia-siaan dosa dengan merenungkan, “Akankah saya melakukannya seandainya Dia datang kembali hari ini?” Di sisi lain, kita terus bekerja dan melayani dengan tekun, sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan-Nya, seolah-olah Dia baru akan datang kembali seribu tahun lagi! ***

Versi yang lebih ringkas dari tulisan ini telah dimuat di Inspirasi, No. 4/Th. I, November 2009.