Menaati Sebuah Mimpi

Pernikahan kalian tinggal beberapa bulan lagi. Kalian saling mencintai. Kalian menganggap satu sama lain sebagai sahabat terbaik untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Kalian juga tahu menjaga diri, tidak bertingkah aneh-aneh sebelum ikatan pernikahan dibuhulkan secara sah.

Tetapi, pada suatu pagi yang cerah, tanpa isyarat, tanpa aba-aba, tunangan Anda mengaku bahwa dirinya hamil. Bagaimana perasaan Anda?

Begitulah kira-kira perasaan Yusuf ketika mendengar pengakuan Maria. Kita tak akan menyalahkan dia kalau bibirnya gemetar dan mulutnya melontarkan kata-kata geram. Mungkin tangannya bergetar dan nyaris terayun menampar Maria. Mungkin dia berdiri mematung, matanya berkilat-kilat, sangat terluka.

Setelah kebisuan yang mencekik pernapasan, Maria dengan suara pelan, dengan tegar, menjelaskan bahwa ia tidak mengkhianati cinta mereka. Ia tidak berhubungan seksual dengan laki-laki lain. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi yang ia tahu: Roh Kuduslah yang menanamkan benih ilahi di dalam rahimnya. Dan, anak yang dikandungnya itu kelak akan menjadi Mesias, penyelamat bangsanya.

Penjelasan yang aneh. Membuat Yusuf jadi tertegun. Jadi berpikir. Jadi bertanya-tanya. Bagaimana jika? Mungkinkah?

Toh, keputusannya sudah bulat. Ia berniat mengakhiri pertunangan mereka. Secara diam-diam. Ia tidak ingin mempermalukan gadis itu.

Malamnya ia gundah. Susah tidur. Bagaimanapun, ia mencintai Maria. Tetapi, ia juga sulit menerima kenyataan bahwa Maria mengandung bukan dari benihnya. Keputusan untuk mengakhiri pertunangan terlihat sebagai pilihan terbaik. Tetapi, benarkah? Ia ragu lagi.

Ketika akhirnya matanya terlelap, ia bermimpi. Malaikat menjumpainya, menyampaikan pesan kepadanya. Meneguhkan kata-kata Maria.

Seperti orang-orang sezamannya, Yusuf mengindahkan mimpi dan menyadarinya sebagai salah satu cara Tuhan untuk berbicara kepada umat-Nya. Terlebih lagi, Yusuf teringat, ia punya leluhur bernama seperti dirinya, yang juga menerima pesan Tuhan melalui mimpi. Ia merasa ada cahaya terang memudarkan kegundahannya.

Kata-kata para nabi yang pernah didengarnya di rumah ibadah juga terngiang. Pagi itu ia berniat melakukan beberapa penyelidikan. Ia bermaksud meneliti secara lebih cermat lembaran-lembaran Kitab Suci. Dan, ia menemukan nubuatan nabi Yesaya: ”Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu akan dinamakan Imanuel, yang berarti, ’Allah ada bersama kita’.”

Tekadnya pun berbalik. Alih-alih membatalkan pertunangan, ia memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka. Sulit menjelaskan kepada tetangga sekitar tentang kehamilan mendadak kekasihnya itu, bukan? Ia tidak ingin Maria menanggung aib terlalu lama, dan seorang diri. Ia ingin menjadi pundak tempat kekasihnya bisa berbagi.

Yusuf pun menikahi Maria. Dan, tidak bersetubuh dengannya sampai bayi dalam kandungannya lahir.

Meskipun kelihatan bodoh, ia memilih menaati sebuah mimpi. Menaati suara Tuhannya.***