Ketika Bencana Menimpa

Banjir Wasior. Banjir Jakarta. Tsunami Mentawai. Letusan Merapi. Negeri ini kembali dirundung musibah—bencana alam dan bencana akibat kelalaian manusia. Bertubi-tubi.

Di tengah situasi semacam ini, pertanyaan besar yang kerap menggantung adalah MENGAPA. Mengapa bencana mahadahsyat ini terjadi? Kalau Tuhan itu baik, mengapa Ia membiarkan kemalangan sehebat ini menimpa manusia? Kalau benar-benar ada Allah, kenapa begitu banyak penderitaan di dunia?

Peristiwa duka selalu muncul secara tak terduga dan tidak kita harapkan, namun lebih banyak hikmah yang dapat kita pelajari darinya daripada peristiwa gembira. Menurut Pengkhotbah 7:2-4: "Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." Alkitab menggarisbawahi bahwa kekuatan untuk memikul penderitaan dan kemampuan untuk mencerna serta mengunyah penderitaan membuat kita menjadi lebih memanusia.
Kita akan melihat bagaimana Yesus menanggapi pertanyaan semacam itu. “Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: ‘Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian’" (Lukas 13:1-5).

Tampak bahwa Yesus bermaksud meluruskan perspektif mereka. Mereka tidak perlu mempeributkan yang mati – nasib orang-orang Galilea itu telah berada di tangan Allah yang adil dan berdaulat. Mereka justru perlu berintrospeksi diri. Hikmah apa yang mereka petik dari peristiwa tragis yang menimpa orang-orang Galilea itu? Apakah hal itu mengubah cara pandang mereka tentang hidup dan kehidupan ini? Apakah hal itu menggugah mereka untuk mengubah perilaku dan gaya hidup mereka? Apakah mereka menjadi lebih arif, menyadari kefanaan hidup ini? Apakah itu mendorong mereka untuk mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi ini?

Bandingkan dengan peristiwa berikut ini. “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ‘Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’ Jawab Yesus: ‘Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia’ (Yohanes 9:1-5).

Penderitaan Mengajar Kita untuk Rendah Hati

Ada penderitaan-penderitaan yang hebat, yang tak tertanggungkan. Penderitaan-penderitaan yang sulit dijelaskan melalui penalaran logika manusia. Dalam kasus-kasus seperti ini, pertanyaan MENGAPA tidak lagi relevan. Pertanyaan itu secara khusus menyebabkan kita melihat ke belakang, pada sesuatu yang tidak bisa kita ubah.

Pertanyaan yang lebih tepat untuk kita ajukan adalah, "Apa tujuan semua peristiwa ini? Apa maknanya bagi hidup dan kehidupan? Apa makna di balik peristiwa yang tampaknya tidak adil ini? Apa hikmah yang dapat kita petik, pelajari yang dapat kita cerna? Masa depan seperti apa yang Tuhan kehendaki di atas semua penderitaan ini?"

Pikiran manusia cenderung ingin tahu. Kita ingin menemukan jawaban atas semua pertanyaan dan mengisi titik-titik. Namun, kenyataannya, kita tidak mengetahui segala sesuatu.

Kehidupan dengan Tuhan itu sebagian melalui pengetahuan, dan sebagian melalui iman. Kitab Ayub memberikan contoh tentang apa yang tidak dapat kita ketahui: sebuah adegan di surga. Dalam uraian yang tidak lazim ini, Iblis menghadap Allah dan mengeluh tentang Ayub serta mendakwa bahwa Ayub hidup saleh hanya karena keegoisan, bahwa Ayub melayani Allah hanya karena apa yang dia dapatkan (kekayaan, keluarga, kesuksesan, perlindungan).

Allah membuktikan bahwa Iblis keliru. Namun untuk melakukannya, Allah mengangkat perlindungan atas Ayub dan mengizinkan Iblis membawa Ayub mengalami penderitaan yang hebat. Ayub tidak pernah menyaksikan adegan di surga itu. Bahkan sewaktu Allah berbicara kepadanya pada bagian akhir kitab, Allah tidak menjelaskan alasan di balik penderitaan Ayub. Namun Allah mengizinkan Ayub melihat sekilas kedahsyatan kuasa-Nya dan betapa sedikitnya yang Ayub ketahui tentang Allah. Iblis masih tetap bekerja di dunia. Banyak adegan yang tidak Anda ketahui, dan banyak hal tentang Allah yang tidak mampu Anda selami. Meskipun demikian, Anda dapat tetap percaya.

Ketegangan antara Penyebab dan Tujuan

Alkitab kadang-kadang menjelaskan suatu peristiwa dengan dua keterangan yang berbeda, yang tidak jarang tampak berlawanan. Namun, kita akan dapat memahaminya dengan lebih baik apabila kita mengerti perbedaannya. Penjelasan pertama biasanya berkaitan dengan penyebab langsung peristiwa tersebut; adapun penjelasan kedua bekaitan dengan makna tertinggi dan tujuan akhir peristiwa tersebut.

Penangkapan, penyiksaan dan penyaliban Yesus adalah penderitaan yang sangat brutal, seperti sekilas digambarkan dalam The Passion of the Christ. Pertanyaan yang kerap muncul: Apakah Alkitab – dan juga The Passion – menyatakan bahwa orang Yahudi membunuh Yesus? (Sempat merebak kontroversi, dengan Injil Yohanes dan The Passion dituduh "berbau" anti-Semitisme). Jawabannya adalah: Ya dan Tidak.

Ya, orang Yahudi -- atau lebih tepatnya beberapa orang Yahudi, bersama dengan beberapa orang Romawi -- orang-orang yang disesatkan oleh Iblis -- telah menyebabkan kematian Yesus. Namun, itu bukan penjelasan yang lengkap.

Ada alasan kedua. Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah mengutus Anak-Nya untuk mati menebus dosa dunia. Ini adalah tujuan, bukan penyebab, yang dapat kita pahami dari perspektif kedaulatan Allah. Penjelasan ini melengkapi penjelasan pertama tadi. Ketika kita merayakan Paskah, kita berfokus pada tujuan kematian Yesus, dan menjadikannya titik tolak untuk mengucap syukur. (Bayangkan seandainya fokus perayaan Paskah pada penyebab kematian Yesus!)

Contoh lainnya adalah kisah Yusuf. Alkitab menyatakan secara terang-terangan bahwa 1) Yusuf dibuang ke Mesir akibat kecemburuan saudara-saudaranya. Namun, kemudian Yusuf sendiri bersikeras menyatakan bahwa 2) "Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah" (Kej. 45:8). Pernyataan yang pertama mengacu pada penyebab, pernyataan kedua mengacu pada tujuan. Seandainya Yusuf memusatkan perhatian hanya pada fakta pertama – bahwa saudara-saudaranya membuangnya ke Mesir – ia akan kepahitan dan tidak mampu melihat gambaran besar pengalamannya, atau tujuan yang Allah tetapkan baginya.

Hal krusial yang perlu kita perhatikan, bukan berarti kita lalu mengabaikan berbagai penyebab penderitaan dan terjebak dalam fatalisme ("Yah, semua ini memang sudah kehendak Tuhan.") Kalau penyebab suatu penderitaan jelas dan mungkin diatasi, sudah pada tempatnya kita memperbaiki dan mengubahnya. Sesuai dengan anugerah yang Tuhan berikan, kita diberi amanat untuk melenyapkan penyebab penderitaan yang dapat kita tangani -- misalnya, riset untuk menemukan penangkal virus atau bakteri penyebab sakit-penyakit; melawan budaya korupsi dan imoralitas, dsb.

Waktu untuk Menunjukkan Kepedulian

Pertanyaan lain yang kerap bermunculan, "Apakah Allah peduli? Di mana Allah ketika kemalangan menimpa kita?"

Jawabannya sederhana: Dia ada di sana, Dia turut berduka, Dia turut menanggung penderitaan kita. Ketika murid-murid dilanda gelombang badai, Yesus ada di perahu. Ketika Lazarus meninggal, Yesus menangis. Kisah Para Rasul mencatat: "Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia" (10:38).

Namun, dalam konteks kekinian, pertanyaan itu seharusnya ditujukan kepada Gereja, yang adalah Tubuh Kristus – dan kepada kita, orang-orang Kristen, para pengikut Kristus. Apakah Gereja peduli? Di mana Gereja ketika penderitaan melanda dunia? Apakah kita menampakkan wajah Kristus bagi dunia?

Saat bom atom pertama dijatuhkan ke Hiroshima, dr. Fumio Shigeto sedang menunggu mobil sekitar satu mil dari pusat ledakan. Terguncang dan kalut, ia terlindung dari ledakan itu karena berada di sebuah gedung beton.

Di sekelilingnya orang-orang yang terluka menjerit-jerit. Seorang dokter dengan tas kecil di tangannya, ia pun segera menyadari ketidakmampuannya. Ia memerlukan sepasukan dokter, perawat dan teknisi. Ia memerlukan berton-ton obat-obatan. Ia memerlukan setiap ranjang di puluhan rumah sakit. Apa yang dapat dilakukan seorang pria dengan perlengkapan terbatas di tengah kebutuhan yang amat dahsyat itu? Dokter Shigeto membuka tas medisnya, dan mulai merawat orang yang tergeletak di dekat kakinya.

Saat ini kita menghadapi kondisi serupa. Di tengah bencana nasional yang menimpa bangsa ini, apa yang bisa kita sumbangkan untuk memperbaiki keadaan? Apa yang bisa dilakukan oleh satu orang biasa menghadapi tantangan yang begitu besar ini?

Tuhan Yesus juga tergerak menyaksikan orang banyak yang telantar seperti kawanan domba tanpa gembala. Namun, Ia menjamah dan menyembuhkan orang satu per satu. Sikap seperti itu pula tampaknya yang Tuhan kehendaki dari kita. Tuhan tidak menuntut kita menolong semua orang atau menjadi penyelamat bangsa. Dan kita memang tidak akan mampu untuk melakukannya. Namun, pelayanan sekecil apa pun yang dapat kita lakukan, yang kita lakukan sebaik-baiknya dan dengan setulus-tulusnya, toh akan mendatangkan perubahan juga.

Jadi, inilah waktu bagi kita untuk mengulurkan tangan kepedulian, untuk menolong dan turut menanggung beban saudara-saudara kita yang menderita. Bagaimanapun kondisi saat ini, Allah memiliki gambaran besar yang jauh lebih indah, melampaui apa yang mampu kita pikirkan atau kita bayangkan. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Roma 8:28). ***

Bacaan:
* MH, "Penderitaan", Kompas, 1 Januari 2005, h. 11.
* Ralph D. Winter, "Most mission enigmas hinge on our interpretation of the Bible", Mission Frontiers, May-June 2004, h. 4-5.
* "How can I handle my doubts about God?", Christianity Today, di-download 31 Desember 2004.