Kenapa Timnas Kalah? Politik Pencitraan!

1293419971785222096

Jawabannya: Pesta kepagian.

Pesta hadiah yang jor-joran. Pesta perjamuan makan politik pencitraan yang tidak karuan. Pesta sorotan media yang berlebihan. Pesta yang justru menguras energi mental, energi emosional, dan moril pemain.

Timnas melanggar pepatah leluhur dengan berenang-renang ke hulu, dan kena batunya dengan berakit-rakit ke tepian. Malah mereka seperti orang Jawa: ketika dipangku, mati terlena jadinya.*

Ini bukan kontes pencarian bakat, yang pemenangnya ditentukan oleh banyaknya SMS. Ini adu kinerja—siapa tampil paling gesit, ialah yang bakal jadi pemenang. Karenanya, jeda antara semifinal dan final bukanlah saat untuk tebar pesona, melainkan saat untuk mengintensifkan persiapan. Kerja belum selesai, belum apa-apa—nyatanya malah sudah terlalu banyak pesta pora.

Fenomena Timnas menandakan betapa bangsa ini desperately seeking hero. Desperately seeking national pride. Negeri ini kehilangan sesuatu yang layak dielu-elukan. Kita mencari-cari sesuatu yang pantas dijadikan kebanggaan bersama. Saat pemerintah dan politisi sibuk menggendutkan kantong sendiri. Saat kekayaan alam dan aset bangsa dicolong di depan mata. Saat warga yang mengais rezeki di negeri orang diinjak-injak dan malah digertak oleh para wakil rakyat yang gemar tamasya.

Maka, ketika Timnas melenggang dengan penampilan mencengangkan di babak awal AFF 2010, buru-buru kita melambungkan mereka sebagai pahlawan. Mengharapkan mereka menjadi penyulut kembali nasionalisme yang tengah meredup.

Dan, kita pun pagi-pagi sudah bikin pesta. Seperti biasa: secara berlebihan. Tampaknya karena sudah begitu laparnya kita akan kemenangan. Akan kebanggaan.

Terlalu dini. Padahal, jujur saja, ini baru tingkat Asia Tenggara, dan baru semifinal. Tidak bisakah kita menunggu barang sejenak—dan memberi ruang bagi Timnas untuk melakukan persiapan yang patut menjelang pertempuran akhir yang menentukan?

Ah, lagi-lagi kita terbentur pada politik pencitraan. Tim sepakbola nasional yang bagus tak ayal akan mudah menyenggol tombol emosional massa. Politisi yang rakus dan jeli serta-merta tak hendak melewatkan kesempatan emas ini. Mendadak, mereka melimpahkan dukungan, menimang-nimang, menggelar pesta—seolah-olah tidak ada urusan nasional lain yang lebih mendesak untuk mereka tangani.

Bisa dibaca: karena mereka ingin terimbas simpati rakyat yang tengah mengalir pada Timnas. Bandingkan dengan tim perahu naga peraih 3 medali emas Asian Games 2010. Medali emas! Tiga biji! Tingkat Asia! Tapi, pesta apa yang digelar bagi mereka? Politisi mana yang menjamu mereka makan malam? Danau berapa hektar yang dihibahkan kepada mereka? Sederhana saja udang di balik gimbalnya: Mengelus-elus Timnas tercitra lebih seksi dari mengalungkan penghargaan pada tim perahu naga. Keringat perjuangan Timnas diharapkan melunturkan dosa-dosa pengabaian mereka terhadap penderitaan rakyat.

Ah, betapa beratnya beban yang ditanggung Timnas.

Memang masih ada kesempatan bagi mereka untuk membalikkan keadaan. Masih ada pertandingan leg kedua. Mampukah mereka membalas kekalahan telak 3-0 dari Malaysia? Mungkinkah mereka mematuhi leluhur dengan berakit-rakit ke hulu, agar dapat berenang-renang ke tepian?

Alangkah sulitnya. Saya tidak mengatakan alangkah mustahilnya, tetapi alangkah sulitnya. ***

* Dalam abjad bahasa Jawa (hanacaraka), aksara yang dibubuhi tanda “pangku” menjadi huruf mati.