Baca Dulu, Nonton Kemudian

Lesra, anak sulung kami, saat berusia usia 7 tahun 10 bulan, selesai membaca novel pertamanya, Rahasia Logam Ajaib dari serial Lima Sekawan karya Enid Blyton. Pengalaman pertama ini rupanya mengasyikkannya karena ia segera melahap novel anak-anak lain yang tersedia di perpustakaan keluarga kami. Melihat gelagat itu, saya berinisiatif membuat perjanjian kecil dengannya, “Mulai sekarang, kalau ada novel yang dijadikan film, kamu harus membaca dulu novelnya, baru boleh menonton filmnya. Ya?” Ia mengangguk.
Sejak mereka kecil kami mencoba membiasakan anak-anak dengan bacaan, diawali dengan buku abjad bergambar. Istri saya setia membacakan buku atau majalah untuk mereka. Menjelang bobok siang, bacaan umum. Sebelum tidur malam, kisah-kisah Alkitab. Kami berusaha menyisihkan dana secara teratur untuk membeli bacaan, dan membiarkan mereka memilih bacaan kesukaan yang kami anggap sesuai. Ketika Lesra sudah lancar, kami melanggankan koran anak-anak untuknya.
Menonton televisi, sebaliknya, kami batasi. Hanya acara tertentu, seperti film kartun anak-anak, dan sedapat mungkin kami mendampinginya. Selebihnya, pesawat televisi dipakai untuk menonton film-film yang kami pilihkan untuk mereka. Belakangan, televisi kami tidak bisa menangkap siaran dengan bagus karena kami tidak menemukan tempat yang tepat untuk memasang antenanya. Jadi, televisi itu hanya dipakai untuk memutar video.
Dalam kondisi ini, kami malah merasa bersyukur---porsi membaca anak-anak kami malah meningkat pesat. Lesra dalam waktu tiga minggu sudah menyelesaikan sepuluh novel, dan Tirza, adiknya, sudah ikut-ikutan mau membaca sendiri buku-buku yang lebih tipis.
Ya, di tengah gempuran budaya audio-visual yang kian gencar, kami sedapat mungkin menonjolkan budaya membaca di tengah keluarga. Ketika televisi muncul di Indonesia sekitar 1961, Pramoedya Ananta Toer sempat melontarkan kecemasannya: budaya membaca akan dilindas oleh budaya menonton. Kekhawatiran Pram terbukti. Bandingkan saja waktu yang dihabiskan kebanyakan anak saat ini untuk menonton televisi dengan waktu untuk menekuni bacaan. Atau, bandingkan uang yang dibelanjakan untuk membeli pulsa dengan yang untuk membeli buku atau majalah. Tanpa usaha khusus untuk mengembangkan budaya membaca di rumah kita sendiri, tak ayal kita akan terikut arus.

Dari sisi pembelajaran, menonton itu seperti disodori makanan jadi. Anak cenderung pasif, imajinasinya terbatasi oleh gambar dan suara yang tersaji, daya kreatifnya kurang tertantang. Membaca menuntut konsentrasi yang jauh lebih tinggi, menggugah imajinasi, membuka cakrawala wawasan. Bila anak kecanduan menonton, ia cenderung jadi malas membaca dan belajar. Tetapi bila ia tekun membaca dan belajar, kebiasaan itu dapat menolongnya untuk menjadi penonton yang kritis dan cerdas. ***