Menulis Itu Berjuta Manfaatnya!


Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia yang tidak mengenal tulisan? Tidak ada sistem alfabet, tidak ada alat tulis, tidak ada rekaman tulisan, tidak ada perpustakaan. Orang tidak mengenal prasasti, catatan di daun lontar, buku, apalagi buku elektronik. Di dunia seperti itu Anda tidak akan membaca blog ini. Jelas sebuah dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang kita kenal sekarang ini. Sekaligus, hal itu menegaskan betapa vital peran dan manfaat tulis-menulis bagi perkembangan sejarah dan dunia kita. Tidaklah berlebihan, karenanya, kalau dikatakan bahwa menulis itu berjuta manfaatnya. Berikut ini hanya sebagian kecil manfaat praktis menulis.

Komunikasi. Jika hanya mengandalkan komunikasi lisan, kita terkungkung ruang dan waktu. Komunikasi tertulis menembus kedua batasan itu. Tulisan memungkinkan kita berkomunikasi lintas generasi dan, dipadukan dengan teknologi muktahir, menghubungkan kita dengan orang di benua lain dalam hitungan detik. Verba volant, scripta manent, kata pepatah Latin: Ucapan terbang lenyap, tulisan tinggal tetap.

Dokumentasi. Karena sifatnya yang lebih awet, tulisan mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman manusia. Dengan begitu, kita tidak perlu setiap kali mengulang segala sesuatu dari awal lagi. Kita dapat membangun dan mengembangkan teknologi berdasarkan pencapaian generasi sebelumnya. Tulisan juga menjadi mesin waktu, membawa kita menyusuri lorong-lorong sejarah, mudah-mudahan kita dapat memetik pelajaran dari sana, tidak tersandung ke dalam kesalahan yang pernah dialami generasi terdahulu.

Terapi. Menulis terbukti menolong orang mengatasi stres dan trauma. Dalam suatu penelitian, sejumlah mahasiswa penderita trauma diminta menulis selama masing-masing 15 menit, 4 hari berturut-turut, tentang pengalaman yang paling traumatis sepanjang hidup mereka. Kelompok lainnya diminta menulis tentang topik remeh-temen seperti kamar atau sepatu mereka. Kelompok yang mencurahkan pemikiran dan gagasan mereka yang mendalam melaporkan hasil yang signifikan. Kesehatan fisik mereka membaik dalam empat bulan berikutnya, dan lebih jarang mengalami serangan stres akibat trauma. Daya terapi menulis semacam ini terungkap pula melalui film yang diangkat dari kisah nyata, Freedom Writers.

Penajaman daya pikir. Menulis menuntut kita menuangkan ide secara lebih runtut dibandingkan bila kita berbicara. Kebiasaan menulis dapat menjernihkan pikiran, mempertajam daya analisis, dan meningkatkan daya ingat.

Kemashyuran. Menulis, dan mempublikasikan tulisan kita, membuat kita dikenal banyak orang, dan syukur-syukur nama kita tercatat dalam sejarah. Orang yang sudah menerbitkan buku biasanya juga dianggap sebagai pakar. Jaringan pergaulan kita tak ayal juga akan meluas. Umberto Eco mengatakan, ”Saya menulis buku, bukan untuk memperoleh sukses sekarang, tetapi dengan harapan bahwa seribu tahun yang akan datang buku itu paling tidak masih masuk dalam daftar kepustakaan atau dalam catatan kaki.”

Penghasilan. Menulis dapat memberikan tambahan penghasilan yang lumayan. Honor dan royalti tulisan bisa mengepulkan asap dapur. Sebagian orang bahkan menjadikan menulis sebagai matapencaharian pokoknya: ia betul-betul hidup dari menulis. Sebagian kecil lagi bisa pensiun dini kala tulisannya sukses menjadi buku laris, seperti yang dialami penulis serial Harry Potter, J.K. Rowling.

Sekali lagi, itu semua baru sebagian kecil manfaat menulis. Karena itu, menulislah, dan petiklah manfaatnya! ***