The Power of Thanksgiving


Sejumlah psikolog mengadakan penelitian tentang sikap tahu berterima kasih dan bersyukur. Mereka membagi responden menjadi tiga kelompok. Orang-orang di kelompok pertama setiap hari melakukan latihan mengucap syukur, misalnya dengan menulis di jurnal ucapan syukur. Hasilnya, mereka memiliki taraf kewaspadaan, kebulatan hati, optimisme, dan energi yang lebih tinggi daripada kelompok lainnya, sedangkan tingkat stres dan depresi mereka lebih rendah. Tidak mengherankan pula, mereka jauh lebih berbahagia daripada orang-orang yang disuruh mencatat semua perkara buruk yang terjadi setiap hari. Salah satu psikolog menyimpulkan, siapa saja dapat meningkatkan taraf kesejahteraan hidupnya hanya dengan membiasakan diri menghitung berkat yang dialami dalam hidupnya.
Dalam Perjanjian Baru, ucapan syukur ialah ungkapan secara mental atau lisan pengakuan dan penghargaan kita akan pribadi Allah, anugerah, berkat, dan karya pemeliharaan-Nya di dalam hidup kita. Mengapa kita perlu bersyukur?

Pertama, ucapan syukur itu memuliakan Allah. Ketika kita bersyukur, kita mengakui bahwa Allah itu ada, dan Dia adalah sumber kehidupan kita. Ucapan syukur yang sejati menunjukkan ketergantungan penuh pada Allah. Kita menyadari bahwa segala sesuatu yang berlangsung di dalam hidup kita dan semua yang kita miliki adalah produk dari campur tangan yang berdaulat, hikmat yang tidak terbatas, tujuan, anugerah, dan karya Allah.

Kedua, firman Tuhan memerintahkan kita untuk bersyukur. Bila kita membuka Mazmur, kita menemukan kitab itu penuh dengan pujian dan ucapan syukur. Paulus menyatakan, ”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18).

Ketiga, sikap yang tidak tahu berterima kasih itu berdampak buruk, baik bagi kehidupan kita sendiri maupun bagi kehidupan orang lain. Kita tidak menghormati Allah, dan merasa sanggup hidup dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Sikap itu juga menimbulkan akar pahit dan sungut-sungut serta mencuri sukacita (Ibrani 12:15). Orang yang tidak tahu berterima kasih menjadi cerewet dan sibuk mengurus diri sendiri, orang lain, dan masalah. Hal itu mendatangkan depresi dan rasa tidak berdaya karena kita lalu berfokus pada masalah, bukannya pada Tuhan.

Kita didorong untuk mengucap syukur setiap kali kita berdoa. Ucapan syukur mengalihkan mata kita dari masalah dan diri sendiri, agar kita dapat berfokus kepada Tuhan dan anugerah-Nya yang berdaulat. Hal ini menolong kita memandang hidup ini dari perspektif Allah, prinsip, janji, rencana, pemeliharaan, dan tujuan-Nya. Iman kita pun bangkit untuk menghadapi pencobaan dan tantangan yang menerpa kehidupan kita.

Kita juga mengucap syukur di dalam segala sesuatu. Hal itu juga mengarahkan fokus kita pada Allah dan pada fakta bahwa Dia memegang kendali dan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Ya, Allah dapat memanfaatkan hal-hal yang buruk untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan menjadikan kita semakin serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Bersyukurlah! ***