Kegagapan Sang Raja, Kegigihan Sang Guru

Ini contoh film yang sempurna. Ia mengikuti pakem, dan mengikutinya secara rapi jali. Ia bukan bocah bengal yang melompat keluar dari kotak, mencoba meretas batas, menjajal eksperimen baru; ia lebih mirip bocah manis yang asyik bermain-main di dalam kotak. Dibesut secara telaten dan cermat, hasilnya seperti pesenam elegan yang diacungi nilai 10: memesona.

The King’s Speech sebuah drama sejarah, tetapi juga kisah persahabatan, dan lebih khusus lagi kisah guru dan murid mengatasi suatu kesulitan pribadi yang pelik. Berlatar sebuah periode yang genting dalam sejarah, film ini lebih banyak menyeret kita ke dalam lorong-lorong drama pribadi, mengungkapkan pergulatan si tokoh secara bertahap melalui paduan dialog yang bernas dan akting yang memikat.

Film dibuka saat tokoh utamanya masih seorang pangeran. Ia hidup di era radio, teknologi yang memungkinkan raja dan keluarga istana seakan menyapa rakyat di bilik rumah masing-masing. Bagi Pangeran Albert (Colin Firth), itu justru tantangan pelik karena ia gagap jika berbicara di muka umum, dan kerap terbata-bata dalam percakapan pribadi. Adegan awal pun menyoroti kegagapannya yang parah ketika harus berpidato di muka orang banyak, di depan corong radio, pada 1925.

Sebagai anak kedua raja Inggris, George V (Michael Gambon), ia tidak dipersiapkan untuk menjadi raja, tugas yang akan jatuh ke pundak kakaknya, Pangeran Edward (Guy Pearce). Ia dan istrinya, Elizabeth (Helena Bonham Carter), memang lebih suka menjauh dari hiruk pikuk Istana Buckingham. Bukannya ia tidak berusaha mengatasi kelemahannya, tetapi terapi yang dijalani malahan memperburuk keadaan. Sampai istrinya mengajaknya bertemu dengan Lionel Logue (Geoffrey Rush), guru terapi bicara dengan pendekatan yang tidak lazim.

Hubungan guru-murid ini berkembang seperti kisah cinta: ada masa penjajakan, ada saat ketidakcocokan, sebelum menjadi intensif, lalu terbentur konflik yang memisahkan mereka. Sampai—yah, sampai pangeran yang tidak bersiap menjadi raja itu mau tidak mau mesti naik tahta karena Edward memilih untuk menikahi perempuan Amerika yang telah bercerai dua kali. Albert yang kini bergelar Raja George VI meminta Lionel kembali mendampinginya mengatasi kegagapan. Terlebih lagi kemudian Perang Dunia II siap meletus, dan sang raja mesti menyampaikan maklumat untuk menenteramkan rakyatnya.

Kamera mengundang kita merasakan secara intim pergulatan Albert melalui rangkaian close up demi close up. Beberapa kali wajahnya, berpaling ke kanan, memenuhi sisi layar sebelah kanan, dan sisi kiri terpampang kosong. Kekosongan yang, pelan-pelan terkuak, ternyata tumpat-padat dengan hantu-hantu masa lalu. Elizabeth melihat kegagapan Albert sebagai persoalan mekanis semata, kegawalan fungsi organ bicara yang cukup diatasi dengan sejumlah terapi fisik. Lionel menembus lebih jauh. Dengan sabar dan telaten, ia seakan menjalankan eksorsisme bertahap terhadap Albert, pelan-pelan memperhadapkannya pada luka-luka dan kegusaran yang selama ini dipendamnya dalam kegagapan. Lionel terbukti sebagai sosok guru yang jempolan.

Aku senang adegan sesuai penobatan, saat Raja George VI tersedu seperti bocah di kamarnya, merasa tak sanggup memikul tanggung jawab yang mendadak disorongkan kepadanya. Ia tak bersiap sebagai raja, tetapi sekuat tenaga mempersiapkan diri menyambut segala kemungkinan, dan saat kepercayaan diulurkan kepadanya: ia gentar. Dan karenanya, ia memerlukan dukungan orang lain.

Maka, ketika menyampaikan maklumat dalam adegan puncak yang ditata amat memikat, ia tidak melangkah seorang diri. Segenap rakyat Inggris menantikannya dengan khidmat. Elizabeth, kedua putrinya, dan para bawahan menyimak di ruang terdekat. Lionel tetap mendampinginya. Saat sang raja berhadapan dengan musuh tak terlihat, yang terwakili oleh corong radio yang terkesan garang, untuk membacakan pidatonya, Lionel memandunya seperti dirigen—ah, seperti seseorang menyemangati sahabat karibnya. Dan, musik klasik syahdu pun mengalun melatarinya.

Film ini dipenuhi dipenuhi akting menawan para pemerannya. Aku menjagokan Colin Firth dan Geoffrey Rush meraih Oscar mereka. Helena Bonham Carter yang biasanya awut-awutan seperti nenek sihir tampil cantik sebagai istri yang cergas. Ada pula Timothy Spall sebagai Winston Churchill dan Derek Jacobi sebagai Uskup Agung Lang. Berlama-lama dengan mereka tak bakal membosankan.

Dialognya cerdas, bumbu humornya segar. Bayangkan Lionel, warga Inggris asal Australia, yang biasa dianggap sebagai warga kelas dua, tertegun saat tersadar bahwa kliennya tak lain ialah junjungannya. Belum lagi ketika istrinya, yang tak tahu kalau suaminya punya klien istimewa itu, memergoki Elizabeth duduk di meja makannya yang sederhana.

Film ini meraih 12 nominasi Oscar, termasuk untuk Film Terbaik. Di antara 9 unggulan lainnya, aku baru nonton Inception dan Toy Story 3. Inception mencoba melompat dari kotak, tetapi tidak sukses-sukses amat. Saat struktur mimpi diterangjelaskan, daya pikatnya pun memudar—sekalipun ia mencoba tetap melemparkan misteri dengan gasing yang masih berputar. Toy Story 3 termasuk animasi yang sempurna, bagian ketiga trilogi yang sempurna, dan aku mengunggulkan film ini. Tetapi, tampaknya Academy Award belum siap keluar dari kotak dengan menobatkannya sebagai Film Terbaik—cukuplah memilihnya sebagai Film Animasi Terbaik. Jadi, tak sulit membayangkan anggota AA lebih jatuh hati pada The King’s Speech. Ini film yang sempurna untuk Oscar. ***