Pengalamanku Bekerja di SOHO

1299106689237805849

Pekerjaan saya: penulis, penerjemah, penyunting. Kalau ditanya lebih lanjut di mana kantornya, saya akan menjawab: SOHO—small office home office. Ya, saya termasuk orang yang bekerja dan berkantor di rumah.

Saya menulis baik secara bebas menurut dorongan pribadi maupun berdasarkan pesanan. Saya juga menerima pesanan menerjemahkan atau menyunting tulisan. Pesanan tulisan biasa dikirim melalui email atau telepon, dan saya mengerjakannya di rumah menurut tenggat. Begitu juga dengan penerjemahan dan penyuntingan. Saya menerima kiriman bahan yang perlu diterjemahkan atau disunting, bisa berupa hard copy bisa juga soft copy, dan saya mengerjakannya di komputer pribadi saya.

Jadwal kerja saya tentu sangat fleksibel. Bisa begitu bangun tidur langsung ketak-ketik di depan komputer. Bisa juga mengantar anak ke sekolah atau istri ke pasar dulu, baru kemudian bekerja. Bisa tidur siang, lalu malamnya melembur.

Pekerjaan sebenarnya juga bisa saya jinjing ke mana-mana. Hanya, sejauh ini saya cenderung merasa nyaman bekerja di meja kerja sendiri, jadi jarang membawa pekerjaan ke tempat lain. Kegiatan di luar rumah saya anggap sebagai sebentuk liburan.

Kerja sebagai penulis-penerjemah-penyunting tak perlu banyak modal di luar kecakapan, wawasan, dan relasi. Saya hanya perlu komputer pribadi, meja kerja, dan buku-buku referensi. Urusan administrasi juga terbatas.

Kendala utama adalah kebosan dan writer’s block. Kebuntuan kreatif ini bisa terjadi karena kejenuhan, dan dapat pulih kembali melalui rekreasi dan penyegaran. Biasanya cukup dengan istirahat, membaca buku, nonton film, bermain dengan anak-anak, atau sekadar jalan-jalan—dan sesudah itu siap bekerja kembali.

Namun, tak jarang kemacetan terjadi karena malas. Kurang disiplin. Kurang ketat mengatur jadwal dan mengejar tenggat. Akibatnya, terjemahan 50 halaman yang mestinya bisa diselesaikan kurang dari satu minggu, jadi melantur baru selesai dalam satu bulan. Atau, tulisan yang mestinya dikumpulkan tanggal 10, baru kelar tanggal 14—atau malah mesti minta maaf pada pemesan karena terpaksa tidak dapat menepati janji.

Penghasilan sebagai penulis-penerjemah-penyunting juga tidak menentu. Tergantung pada ada-tidaknya pesanan, pada produktivitas pribadi, dan pada kelarisan buku yang telah terbit. Padahal, pengeluaran tetap selalu ada, belum lagi pengeluaran tak terduga. Berarti, pengaturan keuangan memerlukan keterampilan akrobatik tersendiri, agar ketika terjadi kelimpahan tetap bisa berjaga-jaga untuk menghadapi kekeringan.

”Mesin” utama pekerjaan saya tidak lain adalah diri saya sendiri. Jadi, kalau saya berhenti bekerja—entah karena sakit, entah karena sedang jalan-jalan, entah karena aktivitas lain—berarti produktivitas berhenti pula untuk sementara. Saya kadang-kadang iri pada rekan yang punya usaha dengan mempekerjakan karyawan. Mereka bisa berlibur, sementara bisnis tetap jalan. Atau, mereka yang bekerja di kantor—bisa mengambil cuti dan tetap menerima gaji. Sedangkan saya, kalau saya libur bekerja, libur pula penghasilan.

Di luar itu, kepenulisan saya anggap sebagai pekerjaan kreatif. Adapun penerjemahan dan penyuntingan sebagai pekerjaan ”mengejar setoran”—untuk menjaga asap dapur tetap mengepul. Impian saya: suatu ketika bisa berfokus pada kerja kreatif menulis, dan tidak perlu tersengal-sengal mengejar setoran dengan menerjemahkan atau menyunting. Asap dapur bisa mengepul cukup dari kerja menulis. Dengan kata lain, buku-buku saya laris dan terus dicetak ulang. Ah, kalau seperti itu, betapa asyiknya bekerja di rumah! ***