Kemerdekaan dari Dalam


Kalau kita membuka-buka lembaran sejarah, umat manusia seperti tak henti-hentinya bergulir dari belenggu yang satu ke belenggu yang lain. Revolusi Perancis menentang kaum borjuis justru melahirkan pemerintahan teror yang berujung pada kekuasaan otoriter Napoleon Bonaparte. Revolusi Bolshewik untuk melepaskan diri dari kekuasaan tsar malah membawa rakyat Rusia ke dalam cengkeraman komunisme di bawah Stalin.

Bagian lain sejarah juga memperlihatkan pertarungan tak kunjung berakhir antara pihak yang hendak menindas manusia dan pihak yang memperjuangkan kemerdekaan. Charles C. Coffin dalam The Story of Liberty mencatat, sewaktu penindas berupaya menjalankan rencananya, dan mendapatkan apa yang dimauinya, ada kekuatan lain yang diam-diam bekerja, dan pada waktunya menghancurkan rencana tersebut -- sebuah tangan Ilahi yang melancarkan rencana penangkis. Dari sinilah terpancar pengharapan akan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tantangan serupa kita hadapi pula. Dari rezim Orde Lama kita bergulir ke rezim Orde Baru, dan kini kita tengah mengambang dalam masa reformasi setengah hati. Krisis berkepanjangan yang melanda bangsa ini sedikit banyak telah membongkar keadaan kita yang sesungguhnya – borok-borok yang selama ini terpendam dalam kosmetik pembangunan. Seperti diungkapkan Umar Kayam beberapa tahun lalu, setelah lima puluh tahun terbebas dari kolonialisme, nyatanya masih banyak wilayah batiniah kita yang tetap terbelenggu. Apakah yang sanggup melepaskan kita?

Lebih dari sekadar masalah sosial, Alkitab selalu merujuk kembali kepada keadaan tiap-tiap individu secara pribadi. Demikian pula dengan persoalan yang tengah kita hadapi bersama sebagai bangsa. Penyelesaiannya tidak akan ditemukan dengan mencari-cari kambing hitam. Ilmu-ilmu sosial, manuver politik, dan bahkan teknologi pun tidak akan menyediakan jalan keluar. Akar seluruh persoalan yang membelit bangsa kita pada khususnya, dan umat manusia pada umumnya, adalah keberadaan manusia yang berdosa: menyingkir dan melarikan diri dari Allah, memberontak dan mengupayakan keselamatan diri secara independen (lihat Yakobus 4:1-2).

Berangkat dari keberdosaan ini, apa yang terjadi kemudian bukanlah kisah Allah yang bosan, lalu murka menjatuhkan hukuman seperti ditembangkan oleh Ebiet G. Ade sekian tahun lalu. Tidak. Allah telah melepaskan alam semesta ini dalam suatu tatanan hukum moral. Sebagai hukum, ia bersifat mutlak dan bekerja secara otomatis (bandingkan, misalnya, dengan hukum gravitasi -- percaya atau tidak, kalau orang meloncat dari gedung bertingkat, ia akan terlempar ke bawah). Di luar kasih karunia, manusia berada dalam cengkeraman apa yang oleh Alkitab disebut sebagai "hukum dosa" dan "hukum maut" (lihat Roma 8:1). Hukum dosa bercirikan kegagalan dalam memenuhi standar Allah (Alkitab menyebutnya "kehilangan kemuliaan Allah" -- Roma 3:23), adapun hukum maut diwarnai oleh pembusukan. Manusia digayuti oleh kegagalan untuk memenuhi hukum moral Allah ("hukum Taurat"), dan dari hari ke hari keadaannya bukan membaik, melainkan memburuk. Nah, dalam keberdosaan dan kegelapan inilah, segala bentuk belenggu, kekacauan, kebingungan, kehancuran, kemiskinan dan kejahatan merajalela.

Alkitab hanya menawarkan satu solusi bagi keadaan manusia yang berdosa ini: Pertobatan di dalam Kristus Yesus. Usaha manusia tidak akan membuahkan kemerdekaan; kemerdekaan adalah karya Allah yang diberikan-Nya melalui Kristus Yesus (Yohanes 8:32-34). Kemerdekaan yang sesungguhnya tidak dimulai dengan perjuangan bersenjata. Yesus memulainya dari dalam diri kita. Kemerdekaan dimulai dengan pembebasan dari belenggu Iblis dan dosa. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka" (Yohanes 8:34-36). Kemerdekaan sejati dimulai dari sini.

Di tempat lain, firman-Nya mengatakan, "Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka" (2 Tawarikh 7:13-14).

Jalan-jalan kita, usaha dan cara-cara manusia untuk memulihkan keadaannya, adalah jahat. Untuk dimerdekakan dan dipulihkan, kita perlu berbalik kepada Allah, mengikuti jalan-jalan-Nya. Dengan demikian, hukum-hukum-Nya akan menguasai kita, dan kita akan belajar memerintah dan menguasai diri kita. Dari sinilah munculnya pribadi-pribadi yang bertanggung jawab, yang selanjutnya melahirkan masyarakat yang beradab. Dari masyarakat yang beradab, lahirlah persatuan dan kesatuan. Dari persatuan dan kesatuan, lahirlah kepemimpinan dan pemerintahan yang kuat. Inilah yang akan membawa berkat Allah dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Seperti dikatakan dalam Alkitab, "Bila orang benar memerintah, bersukacitalah rakyat" (Amsal 29:2, terjemahan King James Version). ***

Alkitab ini dikutip dari buku Arie Saptaji, Gagal Menjadi Garam (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002). Pemesanan langsung http://tiny.cc/29LWy