Bermain Kreatif, Bermain Imajinatif



Sebuah artikel di New York Times menyoroti berkurangnya kebersamaan dalam keluarga. Banyak keluarga menghabiskan waktu secara online—asyik dengan handphone masing-masing, membuka situs sendiri-sendiri, menonton acara yang berbeda-beda—bahkan saat mereka bersama-sama. Kecenderungan ini bukan hanya membuat Anda kehilangan waktu dan bimbingan yang berharga, namun juga memperburuk kesehatan mereka.

Salah satu akibatnya adalah obesitas. Menurut statistik 18% remaja di AS mengalami obesitas, bukan sekadar kelebihan berat badan. Untuk anak 6-12 tahun, angkanya lebih tinggi: 20%. Anak yang menderita obesitas lebih rentan untuk depresi, minder, suka mengucilkan diri, dan murung.

Tentu saja, masalah sesungguhnya bukanlah perkembangan teknologi yang kian canggih. Pokok persoalannya ada pada pola pengasuhan anak. Sebuah penelitian pada 2011, misalnya, mengaitkan obesitas pada anak dengan pekerjaan ibu—makin lama ibu bekerja di luar rumah, makin besar kemungkinan anaknya mengalami obesitas. Kurangnya waktu bersama menghilangkan kesempatan bagi si anak untuk mendapatkan bimbingan dan wawasan, bukan hanya dalam bidang moral atau akademis, namun juga dalam dasar-dasar kehidupan yang sehat.

Anak kita memerlukan contoh yang baik dalam mengembangkan kebiasaan makan, memilih makanan sehat, serta bermain dan berolahraga. Dan kita perlu melakukan semuanya ini bersama-sama, dengan anak-anak kita, jika kita menginginkan mereka berhasil.

Bagaimana mengembangkan kehidupan yang lebih sehat? Rebecca Hagelin menyarankan agar setiap keluarga pelu berkomitmen untuk makan bersama beberapa kali setiap minggu dan meluangkan waktu yang setara untuk melakukan kegiatan fisik (bermain dan berolahraga) bersama-sama. Kata kuncinya adalah keseimbangan—waktu yang diluangkan untuk beraktivitas fisik menyeimbangkan waktu yang digunakan untuk makan bersama.

Saat ini kita akan secara khusus menyoroti aspek bermain. Bermain kadang-kadang terasa sebagai suatu kemewahan. Mobil-mobilan yang bagus harganya bisa ratusan ribu rupiah. Begitu juga boneka Barbie. Atau, berapa biaya yang harus dikeluarkan kalau seminggu sekali satu keluarga pergi ke TimeZone?

Pertanyaannya: Mengapa harus yang mahal? Tidak sedikit permainan yang murah, bahkan bisa jadi gratis, namun tak kalah memikat dan menantang kreativitas. Untuk anak balita, misalnya, permainan yang sangat bagus bagi mereka justru permainan yang sederhana: balok-balok polos, kertas kosong, satu pak krayon. Peralatan yang sederhana itu justru membuka daya imajinasi mereka untuk bereksplorasi seluas-luasnya. Saat anak kami masih kecil, misalnya, saya suka mengajak mereka bermain dengan bantal dan guling. Bantal dan guling bisa menjadi apa saja—dinosaurus, kuda, mobil, atau gua tempat berlindung. Tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra, tetapi kami bisa tertawa bersama, dan daya kreatif dan imajinasi anak saya terpantik.

Berjalan-jalan di kompleks perumahan atau di perkampungan dan memperhatikan keadaan alam juga sebentuk permainan yang mengasyikkan. Tidak perlu memikirkan biaya ekstra. Cukup gali dan daya gunakan sumber daya yang sudah berlimpah di sekitar kita.

Masa kanak-kanak adalah masa terbaik untuk meletakkan landasan bagi pengembangan daya kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka. Anak-anak juga sangat memerlukan aktivitas yang menuntut mereka untuk banyak bergerak, yang sangat bagus bagi perkembangan dan kebugaran fisik mereka. Aktivitas yang beragam dan seimbang akan mengembangkan masing-masing ranah tersebut secara optimal. Ajaklah mereka bermain!

“Anak-anak membantu kalau diminta, tapi biasanya mereka bermain-main saja: itulah kewajiban anak-anak yang paling utama,” kata Paulo Coelho.***