Friday, December 9, 2011

Kosa Kata, Kalimat, dan Alinea



Aku membolak-balik kalimat. Itulah hidupku. Aku menulis sebuah kalimat dan kemudian kubolak-balik kalimat itu. Lalu aku memandanginya dan aku membolak-baliknya lagi. Kemudian aku makan siang. Lalu kembali masuk dan menulis satu kalimat lagi. Kemudian aku minum teh dan membolak-balik kalimat baru itu. Lalu aku membaca kedua kalimat itu dan membolak-balik keduanya. Lalu aku berbaring di sofa dan berpikir. Kemudian aku bangun dan membuang kedua kalimat itu dan mulai lagi dari awal.
---Philip Roth

Menulis itu seperti membangun gedung. Atau, seperti meracik makanan. Ada bahan-bahan yang akan digarap dan diolah menjadi bangunan atau makanan. Ada pula perkakas untuk menggarap dan mengolahnya. Menulis pun begitu. Ada bahan-bahan yang bila diolah secara tepat dengan perkakas tertentu akan menghasilkan tulisan. Kemampuan menggunakan perkakas inilah yang membedakan hasil karya yang hebat dan hasil karya yang biasa.
Tulisan ini akan menguraikan perkakas menulis. Apa saja yang diperlukan? Seorang penulis menggunakan kata, kalimat, dan alinea untuk menyusun sebuah artikel atau cerita.

Kekayaan Kosa Kata
Tugas seorang penulis ia mengomunikasikan ide-ide kepada pembaca dengan sedikit mungkin kesalahan arti. Ia menggunakan kata-kata untuk menyatakan pemikiran, memaparkan fakta, menggambarkan suatu keadaan, menggugah perasaan. Kata-kata menjadi alat penyalur gagasannya. Karena itu, semakin banyak kata yang dikuasai seorang penulis, semakin banyak pula ide atau gagasan yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya. Perkakas pertama seorang penulis, dengan demikian, adalah kekayaan kosa kata.
              Seseorang menguasai suatu kata bila ia bukan hanya mengetahui kata itu, tetapi juga memahami gagasan di baliknya. Orang bisa mengetahui sebuah kata, tetapi tidak memahami gagasan di baliknya. Misalnya, saya tahu kata kardigan, tetapi saya tidak tahu artinya. Maka, kemungkinan besar saya tidak akan menggunakan kata itu di dalam tulisan saya. Sebaliknya, ada orang yang tahu suatu gagasan, tetapi tidak tahu kata untuk menggambarkan gagasan itu. Misalnya, saya ingin menggambarkan seorang perempuan yang mengenakan pakaian dengan leher melingkar berlipat-lipat, tetapi saya tidak tahu istilah untuk menyebut pakaian semacam itu. Hasilnya, kemampuan saya untuk menggambarkan perempuan itu menjadi terbatas. Paling-paling saya hanya akan menulis, “Widya mengenakan pakaian berwarna hijau.”
              Untuk mengembangkan penguasaan kosa kata, kita dapat melakukan dua hal berikut ini.
              Memperkaya kosa kata. Setiap kali berbicara dengan orang lain, membaca, menonton televisi, atau mendengarkan radio, perhatikanlah setiap kata baru yang muncul. Kita dapat mencatatnya di buku atau berkas di komputer, lalu melihat artinya di kamus (kamus online bahasa Indonesia: http://bahtera.org/kateglo/). Setelah mengetahui artinya, cobalah membuat kalimat dengan menggunakan kata itu.
              Berlatih menggunakan kata secara tepat. Seiring dengan bertambahnya perbendaharaan kata Anda, perhatikan kata-kata yang mirip atau berpadanan. Kenali penggunaan masing-masing kata secara tepat. Misalnya, kapan memilih meneliti dan bukan mengamati? Kapan menulis wafat, dan kapan mengatakan meninggal? Kapan lebih baik mengatakan bunga, dan kapan sebaiknya menyebutnya mawar?
Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:
Mana istilah yang paling mengena?

Penjaga toko itu gadis-gadis cantik.
Penjaga toko itu dara-dara cantik.
Penjaga toko itu perawan-perawan cantik.

Mana pilihan kata(-kata) yang lebih “bertenaga”?

              Masa depan bangsa bergantung pada pemuda-pemudanya.
              atau: Masa depan bangsa terletak di tangan pemuda-pemudanya.
             
Dalam benaknya tiba-tiba muncul suatu gagasan baru.
              atau: Dalam benaknya tiba-tiba terasa suatu gagasan baru.

              Ketepatan penggunaan kata ini juga diarahkan sesuai dengan sasaran pembaca kita (kelompok umur, latar pendidikan, dsb). Ide-ide kita akan tersampaikan secara jelas bila diungkapkan dengan kata-kata yang dikenal dan dipahami pembaca. Seandainya kita menggunakan kata baru atau asing, berikan penjelasan artinya.

Tips
Seorang penulis berlatih menggunakan kata-kata secara tepat dengan menulis sesuatu setiap hari dan meneliti secara cermat tiap kata yang telah ditulisnya dan bertanya:
1.    Apakah kata ini menyatakan secara tepat apa yang ingin saya katakan?
2.    Adakah kata lain yang dapat menyatakan ide ini secara lebih jelas, mengungkapkan fakta secara lebih akurat?
3.    Apakah saya telah menggunakan kata ini sesuai dengan arti pada masa kini?

Seorang penulis dapat melangkah lebih jauh dan memperhatikan sebuah karangan secara keseluruhan, kemudian bertanya:
1.    Apakah saya terlampau banyak memakai kata yang sama?
2.    Kata mana yang harus diubah untuk lebih menyemarakkan tulisanku?
3.    Apakah kata-kataku hidup? Adakah kesan gerak ditimbulkannya?
4.    Kata-kata mana yang terlampau umum untuk menyampaikan sesuatu yang khusus kepada pembaca?

Kalimat Efektif
Konsep kalimat efektif dikenal dalam hubungan fungsi kalimat sebagai alat komunikasi. Dalam hubungan ini, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikannnya itu tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca), persis seperti apa yang disampaikan.

Struktur Kalimat
Unsur pertama keefektifan kalimat ialah keteraturan struktur atau polanya. Struktur dasar sebuah kalimat terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan sesuatu yang dibicarakan di dalam kalimat itu. Bagian kedua merupakan unsur yang fungsinya menjelaskan apa atau bagaimana unsur yang dibicarakan tadi. Dalam tata bahasa, kedua unsur itu dikenal sebagai subyek (S) dan predikat (P).
              Berdasarkan strukturnya, ada tiga jenis kalimat:

Kalimat Sederhana             S + P
Kalimat Luas                        S1 + P1 + S2 + P2 dst.
Kalimat Gabung                  S + P1 + P2 + P3 dst.
                                                atau: S1 + S2 + S3 dst. + P

              Bila salah satu unsur dalam struktur itu hilang, kalimat menjadi tidak jelas dan rancu. Perhatikanlah contoh di bawah ini. Lengkapkah kalimat-kalimat itu? Kalau ya, tunjukkan subyek dan predikatnya! Kalau tidak, ubahlah agar menjadi kalimat yang lengkap!

a.    Ingatannya melayang kepada kejadian siang tadi.
b.    Pemberitaan kebenaran ini oleh sekelompok minoritas yang ditindas telah mengubah jalannya sejarah.
c.    Berita tentang peristiwa penculikan itu cepat sekali tersebar ke mana-mana.
d.    Protes masyarakat terhadap para pengedar/yang memperjual belikan benda-benda haram agar dihukum seberat-beratnya.
e.    Yesus menangis.
f.      Dengan kolam berbentuk oval, di sekitarnya dikelilingi oleh tanaman serta kursi kayu yang didesain bergelombang (tidak datar).
g.    Rencana itu kabarnya akan diselesaikan dalam tempo sepuluh tahun.
h.    Objek wisata yang ada di daerah-daerah itu yang merupakan modal dasar atau barang dagangan yang harus kita kelola dan kita pasarkan dengan tujuan mendatangkan devisa.

              Sebaliknya, bila unsur-unsur kalimat sudah lengkap, sependek atau sepanjang apa pun rangkaiannya, kalimat itu akan jelas artinya.
Kalimat yang sudah lengkap juga mudah divariasikan urutannya. Pengubahan posisi subyek, predikat, kata sifat, dan sebagainya sering dapat lebih menghidupkan kalimat dan menunjukkan unsur mana yang hendak kita tekankan. Contoh:

§       Ketika angin berubah arah, semua perahu bergegas menuju laut lepas.
§       Semua perahu bergegas menuju laut lepas ketika angin berubah arah.
§       Semua perahu menuju laut lepas dengan bergegas ketika angin berubah arah.

Alinea yang Mengalir
Alinea adalah sekumpulan kalimat yang saling berhubungan, mengungkapkan suatu kesatuan pemikiran. Ia merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam alinea itu gagasan tadi menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampilkan pokok pikiran tadi secara lebih jelas.
              Sebuah alinea selalu dimulai dalam garis baru sehingga terpisah dari alinea sebelum atau sesudahnya. Sebuah alinea menandakan munculnya suatu ide baru, namun tetap mempunyai hubungan dengan ide dalam alinea lainnya. Sebuah alinea disebut baik apabila pembacanya semakin tertarik dari satu alinea ke alinea berikutnya. Alinea yang baik membaca pembacanya mengalir dari satu ide ke ide berikutnya yang runtut dan saling menguatkan.

Variasi Kalimat dalam Alinea
Alinea tersusun dari kalimat-kalimat. Untuk membentuk paragraf yang memikat, kita dapat memvariasikan kalimat-kalimat yang menyusunnya. Variasi itu dapat dilakukan dengan sejumlah cara. Secara khusus kita akan membahas variasi panjang-pendek kalimat.
Sebuah kalimat yang ideal hanya mengungkapkan satu pemikiran. Kalimat menjadi sulit dibaca dan dimengerti bila mengandung terlampau banyak kata atau bila mengungkapkan lebih dari satu ide. Akan tetapi, kalau alinea kita semua kalimatnya hampir sama panjangnya, tulisan itu akan monoton. Kita perlu memvariasikan alinea dengan mendayagunakan kalimat pendek dan kalimat panjang.
Kalimat pendek dan kalimat panjang memiliki nilainya masing-masing. Kerja sama kedua jenis kalimat ini dalam alinea dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan membuat tulisan kita lebih hidup dan bertenaga. Kalimat pendek bisa kita manfaatkan untuk, misalnya, menyatakan penegasan dan kepastian. Kalimat panjang kemudian digunakan untuk memaparkan uraian, ulasan, analisis, detail, alasan tertentu, atau data yang berkaitan dengan penegasan tadi.
Variasi pendek-panjang kalimat secara serasi menjadikan tulisan lebih mudah dipahami dan mengesankan. Keragaman panjang kalimat akan membantu usaha memikat perhatian pembaca. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa panjang rata-rata kalimat di lima majalah Amerika yang populer adalah 18 kata.
Bandingkan kedua rangkaian kalimat berikut ini, mana yang lebih memikat?

Membiasakan punya buku harian itu baik sekali. Kita dapat mengisikannya secara teratur. Butir-butir pengalaman kita masukkan ke dalamnya. Suatu ketika semuanya itu akan banyak faedahnya. Di sana kita akan dapat mencermini kembali jiwa kita. Dengan itu, kita akan lebih mengenal diri sendiri. Kita akan tahu siapa kita sesungguhnya. Dengan demikian pekerti kita akan lebih terkontrol. Sedikit demi sedikit tentu bisa diperbaiki. Mana-mana yang terasa kurang kita coba mengisinya. Yang telanjur dapat kita ubah pada masa mendatang. Semua itu dapat terbaca dalam sebuah buku harian. Tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu.
Membiasakan punya buku harian itu baik sekali. Kita dapat mengisinya secara teratur dengan memasukkan butir-butir pengalaman hidup kita. Suatu ketika semuanya itu akan banyak faedahnya. Di sana kita dapat kembali mencermini jiwa kita untuk lebih mengenal diri sendiri, sehingga kita tahu siapa kita sesungguhnya. Dengan demikian pekerti kita akan lebih terkontrol. Sedikit demi sedikit kita dapat memperbaikinya, mengisi mana-mana yang kurang, serta mengubah mana-mana yang sudah telanjur kita perbuat. Semua itu dapat terbaca di dalam sebuah buku harian yang selalu kita isi dengan setia. Tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu.

              Selain variasi panjang-pendek kalimat, kita dapat mencoba berbagai cara lain. Misalnya, memvariasikan struktur kalimat, yaitu memadukan bentuk aktif dan bentuk pasif. Kita juga bisa memvariasikan jenis kalimat, seperti menyisipkan kalimat tanya, kalimat seru, atau kalimat langsung.

Penutup
Kata, kalimat, dan alinea---itulah perkakas dasar seorang penulis untuk mewujudkan ide-idenya menjadi sebuah tulisan. Semakin sering kita berlatih, semakin terampil kita mendayagunakan perkakas tersebut, semakin efektif pula tulisan-tulisan kita.
Kunci untuk menguasi perkakas menulis itu hanya satu: latihan. Seperti dikatakan Kuntowijoyo, ”Bagi penulis cerpen langkah pertama ialah menulis, langkah kedua ialah menulis, langkah ketiga ialah menulis.” Ucapan itu bukan hanya berlaku bagi penulis cerpen, tetapi bagi setiap penulis yang bersungguh-sungguh. ***

DAFTAR PUSTAKA
Horne, Marion van. Menjadi Penulis: Membina Jemaat yang Menulis. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007 (edisi revisi).
Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Keraf, Gorys. Komposisi. Ende: Nusa Indah, 1997.
Razak, Abdul. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.