Gereja Itu Bukan Rumah Ibadah, Melainkan Rumah Belajar

Tahukah Anda bahwa gereja itu mulanya rumah belajar? Gereja mula-mula merupakan kelanjutan tradisi sunagoge dalam agama Yahudi. Arti harfiah sunagoge adalah belajar bersama-sama. Terjemahan yang tepat untuk sunagoge di Matius 13:54, Markus 1:39 dan di banyak ayat lain bukanlah rumah ibadah melainkan rumah belajar. Umat Kristen, dengan demikian, semestinya adalah umat yang belajar.

Pembelajaran secara sederhana berarti penerusan pengalaman. Pengalaman ini dapat berupa fakta, kebenaran, ide, atau cita-cita; dapat pula berupa proses atau kecakapan membuat karya seni. Pembelajaran mencakup teori dan praktik, meliputi pelatihan fisik, mental, dan moral. Tujuannya membawa manusia ke dalam kedewasaannya yang penuh. Ya, pembelajaran berlangsung seumur hidup.

Apa yang dipelajari umat percaya? Hikmat Tuhan yang disingkapkan dalam firman-Nya. Seperti dikatakan Paulus, hikmat tersebut berguna “untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17).

Hikmat itu melampaui pengetahuan. Dalam era informasi ini, pengetahuan sangat berlimpah, namun hikmat sangat jarang. Padahal, tanpa hikmat, pengetahuan belaka itu sia-sia. Hikmat bukan sekadar memiliki segudang fakta dan informasi. Hikmat merupakan sikap dasar yang memengaruhi setiap aspek kehidupan, yaitu kemampuan untuk menerapkan pengetahun yang kita miliki tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmat sejati, seperti dikatakan Salomo, bersumber dari takut akan Tuhan (lihat Amsal 1:7), yaitu menghargai dan menghormati Allah, hidup dalam ketakjuban akan kuasa-Nya, dan taat pada firman-Nya. Iman kepada Allah merupakan prinsip yang melandasi pemahaman kita akan dunia kita, sikap kita, dan tindakan kita. Jika kita percaya kepada Allah, Dia akan menjadikan kita sungguh-sungguh berhikmat.

Dalam Amsal, kitab hikmat yang paling menonjol di Alkitab, kita melihat bagaimana hikmat merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan: hubungan, perkataan, pekerjaan, dan kesuksesan.

Orang yang berhikmat rindu mengenal dan mengasihi Allah. Jika kita memilih jalan Tuhan, Dia akan memberi kita hikmat. Firman-Nya menuntun kita untuk hidup dengan benar, memiliki hubungan yang benar, dan mengambil keputusan yang benar.

Dalam berhubungan dengan sesama, kita didorong untuk menunjukkan kasih, pengabdian, dan standar moral yang luhur. Untuk berhubungan dengan orang lain, kita memerlukan konsistensi, kearifan, dan disiplin dalam menggunakan hikmat Allah. Jika kita tidak memperlakukan orang lain menurut hikmat Allah, hubungan kita tak ayal bermasalah.

Perkataan kita mengungkapkan sikap kita yang sesungguhnya terhadap orang lain. Perkataan kita memperlihatkan hikmat yang kita miliki. Untuk itu, kita perlu mengembangkan penguasaan diri dalam berkata-kata. Perkataan kita perlu jujur dan tidak sembrono.

Hikmat mengingatkan bahwa Tuhanlah yang mengontrol hasil akhir dari segala sesuatu yang kita lakukan. Bagian kita adalah menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab dengan tekun dan disiplin, bukan bermalas-malasan dan egois. Kita bekerja dengan menyadari Tuhanlah majikan sejati kita, yang akan menilai dan memberi upah kepada kita.

Hikmat juga memberikan perspektif yang benar akan kesuksesan. Orang bekerja keras untuk mengejar kekayaan dan kemashyuran, tetapi Allah menakar kesuksesan dari hubungan yang baik, karakter moral, dan kerinduan untuk menaati Dia. Hubungan dengan Dia menentukan kekekalan kita; segala sesuatu yang lain akan binasa. Seluruh sumber daya, waktu, dan talenta kita berasal dari Allah; kita perlu mendayagunakannya secara arif.

Apakah kita umat yang belajar? Kiranya kita menemukan harta karun yang sesungguhnya: hikmat untuk menjalani kehidupan sehari-hari. ***