Dongeng yang Turun dari Langit



Mungkinkah kesempurnaan menumbuhkan kebosanan?

Lihatlah Kahyangan ini. Cuacanya senantiasa sejuk—tidak pernah terlalu panas, tidak pernah terlalu dingin. Langitnya senantiasa elok dan permai, dengan paduan nuansa warna yang meneduhkan mata. Kalaupun hujan turun, airnya begitu murni dan segar sehingga berhujan-hujan justru akan menambah kegembiraan kami.

Hidup bergerak serbaselaras. Gending Lokananta mengiringi langkah laku kami—kadang-kadang syahdu menenteramkan, kadang-kadang rancak membangkitkan keriangan. Tidur nyenyak. Terjaga segar. Kerja tak memboyakkan. Kisah asmara tiada pernah bertepuk tangan. Pesta-pesta penuh dengan santapan yang memanjakan lidah dan minuman yang menyegarkan tulang. Tidak ada kesakitan. Tidak ada pertikaian. Atau, setiap persoalan pasti diselesaikan dengan sempurna pula.

Akan tetapi, benarkah kesempurnaan adalah syarat yang tak tergantikan untuk mereguk kepuasan?

Kalau begitu, kenapa kami sesekali masih tergoda mencuri-curi kesempatan untuk mandi-mandi di Telaga Tirta Suci di Gunung Keramat, yang airnya bagaimanapun sucinya tidaklah semurni dan sesegar hujan di Kahyangan? Dan kami tidak lantas kapok—hanya memang jadi lebih berhati-hati—setelah kejadian yang menimpa Nawangwulan.


Kisah Nawangwulan menjadi hikmah tersendiri bagi kami para bidadari. Peristiwa itu bukan sepenuhnya kesalahannya, tetapi tampaknya nasib memang sedang menjatuhkan pilihan kepadanya. Kenapa coba, selendangnya yang terambil oleh si pemuda pemburu Jaka Tarub sehingga ia tidak bisa kembali ke Kahyangan bersama-sama kami? Para bidadari lalu saling menasihati agar kelak lebih berhati-hati, dan lebih waspada menjaga satu sama lain saat turun ke bumi.

Herannya, bagiku, kejadian itu justru membuat jantungku berdegup. Berdesir ingin tahu. Benakku mendadak kebak dengan tanda tanya. Penasaran. Apakah sesungguhnya yang terjadi saat kesempurnaan berpadu dengan ketidaksempurnaan? Bagaimanakah rasanya? Anak seperti apakah yang dilahirkannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu secara ganjil berpilin dan menggumpal menguatkan pertanyaanku semula: Benarkah Kahyangan ini sempurna? Kalau sempurna, kenapa masih terjadi pelanggaran? Ya, memang, seperti kukatakan tadi, setiap persoalan di sini diselesaikan secara sempurna. Setiap pelaku pelanggaran langsung terkena kutukan. Dibuang ke Bumi. Malih menjadi manusia, raksasa, atau hewan. Setelah melewati masa penyucian tertentu, barulah si pelanggar diperkenankan kembali ke Kahyangan. Dengan cara itulah, Kahyangan senantiasa tampak sempurna. Tampak. Jadi, sebenarnya tidak sempurna, bukan?

Apa yang dialami Nawangwulan sejatinya juga semacam kutukan. Ia terkutuk karena kehilangan selendangnya. Dan ia baru akan terbebas dari kutukan jika berhasil menemukan kembali selendangnya. Selama itu ia masih dapat menggunakan daya kebidadariannya—sampai batas tertentu. Sampai Jaka Tarub menemukan rahasianya. Dan selanjutnya ia terkutuk untuk menjalani hidup sebagai perempuan biasa.

Dan bagian inilah yang memikatku: bagaimana rasanya menjadi perempuan biasa?

Ketika Nawangwulan sudah kembali ke Kahyangan, akulah yang paling rajin membuntutinya, untuk mengorek cerita dari dirinya. Nawangwulan biasanya menceritakan bagian ini dengan nada muak dan kesal. Tadinya ia tinggal memetik sebulir padi untuk menanak nasi. Kini ia harus menjemur padi, menumbuk padi, menampi beras untuk membuang sekamnya, mencuci beras, dan baru bisa menanaknya.

Maka, betapa gembira ia ketika kehidupan biasa yang membuatnya merana itu akhirnya malah membuka jalan baginya untuk menemukan kembali kebidadariannya: ia menemukan kembali selendangnya. Di bawah tumpukan berkas-berkas padi di lumbung itu—yang akan terus menggunung seandainya ia bisa terus mendayagunakan kebidadariannya. Ah, nasib memang sering berpilin secara ganjil.

“Tidakkah pernah tebersit keinginan dalam hati Ayunda untuk kembali menjalani kehidupan di bumi?”

“Aku hanya kembali untuk menyusui Nawangsih. Sampai ia disapih. Bidadari senantiasa menepati janji.”

“Betulkah Ayunda tidak pernah rindu lagi untuk menjadi perempuan Bumi—menjadi istri dan ibu dari manusia Bumi?”

“Bukankah di sini segala-galanya lebih indah, Adinda?”

Aku tersenyum. Tetapi batinku menolak. Benarkah? Benarkah kesempurnaan senantiasa lebih memesona?

Di Kahyangan segalanya serbabersih dan serbatertib. Setiap sampah segera disapu lenyap. Setiap pelaku pelanggaran segera dikutuk, dibuang ke Bumi. Kahyangan adalah tempat bagi orang-orang sempurna, bagi segala sesuatu yang sempurna—dan serba terduga.

Di Bumi—ah, betapa amat menariknya kehidupan di Bumi. Ada orang yang malah menyembunyikan sampah di bawah kolong dipan. Ada pelaku kejahatan yang bisa melenggang dan hidup tenang-tenang. Ada dendam yang tak terbalas. Ada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ada pukulan yang direngkuh dengan pelukan. Ada doa yang tak terjawab. Ada pengkhinatan. “Kau akan mendapatkan balasan di Swargaloka nanti,” begitu kata mereka menghibur dan memperingatkan satu sama lain.

Sungguh menarik. Mereka bisa hidup dengan mengarahkan mata pada nanti. Bagaimanakah rasanya menjalani hidup seperti itu?

Maka, pada suatu pagi yang sunyi, aku memutuskan untuk menyelinap sendiri ke Bumi, turun ke hutan Gunung Keramat. Dengan menyamar sebagai burung kepodang berbulu elok, aku memikat seorang pemburu untuk masuk ke dalam hutan. Ah, kalau ia nekad memasuki hutan ini, berarti ia pemburu yang pemberani. Benar saja. Laki-laki itu tergoda mengejarku. Aku mengarahkannya menuju Telaga Tirta Suci. Lalu aku melesat cepat mendahuluinya, agar nantinya ia akan mendapatiku—sebagai perempuan cantik—tengah asyik mandi di telaga.

Kisah selanjutnya berlangsung seperti kurencanakan. Ia melihat tumpukan pakaianku, dan mengambil selendang ajaibku. Lalu ia bersembunyi menunggu. Lalu aku berpura-pura meneruskan mandi sampai puas—sambil secara sengaja memamerkan kemolekan tubuh telanjangku. Sampai kemudian aku mentas dari air, dan berpura-pura kaget mendapati selendangku hilang. Dan berpura-pura menangis. Tetapi, aku tidak berpura-pura ketika bersumpah dengan suara nyaring: “Jika perempuan yang menolongku, aku akan menjadikannya kakak atau adikku. Jika laki-laki yang menolongku, aku akan menjadikannya suamiku.”

Tak lama kemudian muncullah sang pemburu.

Jantungku berdenyut keras saat berhadapan dengan pemburu gagah ini. Tentulah ia tergolong tampan di antara pemuda-pemuda sekampungnya. Hidungnya besar membulat, tidak mancung. Kulitnya kecokelatan, melegam di bagian-bagian yang sering terpanggang matahari. Keringat membuat tubuhnya tampak mengilap. Adapun dadanya tertutup bulu-bulu yang menghampar rapi. Betapa berbeda dari dada pualam para bidadara. Dan, betapa—betapa sulit dilukiskan, dan sekaligus menyesakkan napas, keindahan insan-insan yang tidak sempurna ini.

Dadaku mekar oleh rasa ingin. Aku gemetar bahagia ketika ia mengiringku ke rumahnya. Kang Jaka Alas, demikian namanya. Tak sabar aku ingin merasakan hidup di rumahnya. Tak sabar aku ingin mencicipi masakan yang disodorkannya. Cerita-cerita yang dituturkan Nawangwulan kini menjadi ceritaku. Aku tengah mengulangi jalan-jalan yang serupa dengan yang pernah ditempuhnya. Hanya bedanya: Hatiku bungah. Hatiku penuh damba.

Lengkaplah bahagiaku saat Kang Jaka membawaku menghadap pada pandita untuk membuhulkan ikrar suci kami. Aku menjadi seorang istri dari laki-laki Bumi!

“Kakang, ada satu permintaanku sebelum kita menyempurnakan ikrar suci ini,” kataku pada malam pertama.

“Apakah itu, Diajeng?”

“Siapkanlah api unggun dahulu, Kakang.”

Kang Jaka Alas segera mengambil ikatan kayu-kayu kering dari tumpukan di halaman belakang. Menyusunnya dengan rapi membentuk gunungan kecil di halaman depan. Udara cerah malam ini. Rembulan nyaris purnama. Tak kesulitan Kang Jaka memantik api untuk menyulut unggunnya. Api mengobar. Udara pelan-pelan memanas.

“Kakang, sekarang permintaanku: Ambillah selendangku yang kausembunyikan.”

Kang Jaka tergeragap. “Selendang? Aku… aku… aku tidak….”

“Tidak perlu berbohong, Kakang.”

Apakah yang bisa dilakukannya selain mematuhi senyumku? Tidak perlu waktu lama baginya untuk mengambil selendang itu. Ah, ia juga menyembunyikannya di lumbung padi? Kenapa tidak terpikir olehnya untuk menyembunyikannya di tempat lain?

Dengan gemetar ia menyerahkan selendang pelangi itu kepadaku. Entah kenapa aku juga gemetar ketika menerimanya. Benarkah engkau yakin, Nawangsari? Angin malam menyentuh kulitku. Kucium selendang itu beberapa saat. Kuhirup harum Kahyangan yang ditebarkannya. Kuingin mengekalkannya dalam geraian rambutku.

“Kakang, ini.”

Kuserahkan kembali selendang itu kepada Kang Jaka Alas.

“Diajeng….”

“Lemparkanlah itu ke dalam api, Kakang.”

Kang Jaka tertegun.

Aku tersenyum.

Rembulan pun bening.

Malam itu aroma asap unggun tercium harum sekali.

Seharum desah napas kami saat bibir Kang Jaka Alas yang gemetar merapat ke bibirku. Saat tangannya mengurai gelung rambutku, menjelajah jenjang leherku, menelusuri gunung kembar di dadaku. Aku sumarah. Aku meraih. Bau keringatnya menjeratku. Bulu-bulu dadanya menggeletarkan kulitku. Aku mengecap citarasa yang asing dan manis. Aku menggelinjang. Melejit ke Swargaloka dalam ledakan rasa yang tak terlukiskan.

Rasa yang belum pernah kunikmati di Kahyangan.

Saat kami terbaring bersisian di puncak persetubuhan, dalam balutan ganjil keletihan dan kepuasan yang menenteramkan, aku yakin diriku tidak salah pilih. Sekarang bisa kuakhiri ceritaku dengan jujur: Dan kami pun hidup bahagia sampai selama-lamanya.

Di Bumi yang tidak sempurna. ***

(Dimuat di femina No. 6/XL, 11-17 Februari 2012, h. 122-125)