Lidah Membatalkan Warisan

Bacaan Alkitab: Amsal 18:14-24
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21)


Seorang pria lanjut usia mengalami gangguan pendengaran selama beberapa hari. Keluarganya berulang-ulang mendesaknya untuk mengenakan alat bantu dengar. Akhirnya, ia bersedia. Ia pergi ke dokter, dan telinganya dipasangi alat yang memulihkan dapat pendengarannya 100 persen.

Sebulan kemudian ia memeriksakan diri lagi ke dokter itu. Dokter itu menyambutnya dengan senyum lebar. “Pendengaran Bapak sudah pulih sepenuhnya. Keluarga Bapak pasti sangat senang karena Bapak dapat mendengar lagi.”

Pria itu menjawab, “Oh, saya belum memberi tahu keluarga saya. Saya hanya duduk-duduk dan menguping percakapan mereka. Saya sudah mengubah surat wasiat saya sebanyak tiga kali!”

Moral cerita di atas: Hati-hati dengan lidah Anda; keseleo lidah bisa membuat Anda kehilangan warisan! Cukup telak, namun firman Tuhan bahkan lebih tegas lagi: perkataan yang terlontar dari lidah kita bisa menentukan hidup-mati kita.

Lidah yang tak bertulang ini memang kerap lepas kendali. Di tengah budaya ngerumpi dan ngrasani, tak jarang kita meluncurkan kata-kata yang baru kita sesali kemudian. Kata-kata yang tak mungkin kita jilat kembali.

Tidaklah mengherankan kalau firman Tuhan berulang-ulang mengingatkan kita akan perkara mengekang lidah. Kemampuan untuk mengekang lidah bahkan dinyatakan sebagai tolok ukur integritas dan moralitas seseorang. Orang yang mampu menguasai lidahnya, berarti ia juga mampu menguasai dirinya. Jadi, jagalah lidah Anda, atau lidah itu akan mencelakakan Anda!


Relung Renung: 
Menguasai lidah berarti menetapkan terlebih dahulu standar bagi perkataan 
sebelum muncul peluang untuk melakukan kesalahan.