Memaparkan Realitas pada Anak-anak

Film-film yang direkomendasikan untuk “segala umur” biasanya ditandai oleh apa yang tidak terkandung di dalamnya: tidak ada kata-kata kasar, tidak ada kekerasan, dan tidak ada seks. Sampai di situ masih cukup dimaklumi. Yang cukup disayangkan, film-film semacam itu juga cenderung dibesut kurang serius. Kisahnya mudah ditebak, pesannya menggurui, dan secara teknis serba tanggung. Akibatnya, orang dewasa, yang semestinya mendampingi anak-anak, kurang berselera untuk menontonnya.

Lassie (2006) tergolong berhasil mengelakkan jebakan tersebut. Kritisi memujinya secara antusias. Sebagian menyandingkannya dengan film keluarga klasik lainnya, seperti The Secret Garden, A Little Princess, The Black Stallion, Duma dan Holes.

Lassie sendiri diangkat dari novel Eric Wright Lassie Come Home (1940), yang sudah diadaptasi menjadi film berjudul sama pada 1943. Sejak itu anjing jenis Rough Collie ini pun malang melintang di layar perak dan sejumlah serial televisi, sampai versi paling muktahir yang digarap Charles Sturridge ini.

Setia dengan novelnya, film ini mengisahkan keluarga pekerja tambang, Sam (John Lynch) dan Sarah (Samantha Morton), dengan anak mereka Joe (Jonathan Mason), dan anjing kesayangannya, Lassie. Masalah muncul saat tambang ditutup. Bagaimana mereka bisa tetap memelihara anjing itu, sedangkan untuk membayar tagihan bulanan saja mereka tidak mampu?

Dengan berat hati mereka terpaksa menjual Lassie pada seorang ningrat (Peter O’Toole). Lassie tidak kerasan dan beberapa kali berusaha melarikan diri. Pria ningrat itu lalu memindahkan Lassie ke rumah besarnya di Skolandia. Kisah pun berlanjut dengan upaya dan petualangan Lassie untuk lolos dan pulang ke Yorkshire, Inggris, untuk bertemu kembali dengan Joe.

Film ini dipuji antara lain karena tidak memandang remeh anak-anak. Sebaliknya, Sturridge berhasil menampilkan gambaran yang jujur tentang bagaimana anak-anak berada di tengah orang dewasa, bagaimana mereka juga terpapar pada realitas hidup yang keras seperti pengangguran atau perang. Anak-anak bukan hanya diajak memahami pergumulan anak seusia mereka, namun juga belajar menyikapi masalah orang dewasa dan masalah binatang.

Tidakkah kita justru perlu “melindungi” anak-anak kecil dari masalah-masalah orang dewasa, dari perkara-perkara hidup yang sukar dan tidak jarang membingungkan? Pandangan C.S. Lewis tentang cerita anak-anak yang baik tampaknya tepat pula diterapkan untuk film segala umur yang bagus.

Menurut Lewis, penulis cerita anak yang baik memperlakukan anak-anak pembacanya secara serius. Menampilkan adegan kekerasan hanyalah salah satu perwujudannya. Ia bekerja menurut landasan yang sama, landasan kemanusiaan yang universal, yang dapat dipahami baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Pendekatan komunikasi semacam ini memberi ruang untuk menampilkan adegan “kematian, kekerasan, kesakitan, petualangan, kepahlawanan dan kepengecutan, kebaikan dan kejahatan” secara proporsional dan wajar. Kalau tidak demikian, menurut Lewis, kita justru “memberikan gambaran yang palsu kepada anak-anak dan mencekoki mereka dengan escapisme (hiburan/khayalan untuk menghindari kenyataan hidup yang tidak menggembirakan).”

“Melindungi” anak-anak, dengan demikian, bukan berarti mengisolasi anak-anak dari dunia. Sebaliknya, sejak dini kita secara arif dan cerdas membekali dan mempersiapkan mereka dalam menghadapi realitas hidup. Film bagus seperti Lassie bisa menjadi alat bantu untuk itu. ***