Kartini Masih Mengelus Dada

Pertama kali membaca surat-surat Kartini, melalui terjemahan Sulastin Sutrisno Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya (1979), saya masih SMP. Takjub saya. Bukan saja untaian bahasanya amat elok, butir-butir gagasan yang diungkapkan putri Jepara ini begitu bernas dan cemerlang. Dan, ia baru belasan tahun saat menulisnya!

Apa rahasianya? Lingkungan dan pendidikan semacam apa yang mengasahnya? Mengingat ia lahir pada masa kolonial, mengapa justru ketika republik ini sudah merdeka, tidak muncul remaja-remaja yang semumpuni itu, menawarkan pemikiran yang matang dan berdaya gugah? Pertanyaan-pertanyaan itu membuntuti saya bila mengenang Kartini. Ah, mungkin setiap zaman melahirkan kaum geniusnya masing-masing.

Hampir tiga puluh tahun kemudian, saya bisa menilik sosok Kartini secara lebih dekat---dan menangkap kilasan jawaban atas pertanyaan tadi. Kali ini bukan melalui buku, melainkan film. ”Raden Ajeng Kartini” judulnya, garapan Sjuman Djaya tahun 1983, diedarkan dalam format VCD pada 2007.

Film berdurasi 3 jam ini dibuka dengan adegan malam kelahiran Kartini, Selasa Pahing, 21 April 1879, di Mayong, Jepara. Ibunya M.A. Ngasirah, selir Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Malam itu juga ayah Kartini memisahkannya dari ibu kandungnya, membawanya ke rumah utama, sambil memperkenalkannya kepada para kawula.

Ngasirah sebenarnya istri pertama Sosroningrat, namun karena berasal dari kalangan jelata, ia tidak dapat menjadi garwa padmi (istri utama). Mereka menikah ketika Sosroningrat masih menjadi wedana di Mayong. Untuk naik pangkat menjadi bupati, menurut peraturan pemerintah kolonial, Sosroningrat harus beristri perempuan bangsawan. Ia pun menikah dengan Raden Ajeng Wuryan, dan kemudian diangkat menjadi bupati Jepara. Adapun Ngasirah terpinggirkan, mesti pasrah tinggal di rumah belakang, terpisah dari suami dan anak-anak kandungnya.

Adegan-adegan awal ini menandaskan kondisi zaman pada masa hidup Kartini: masa ketika perempuan hanya dihargai sebagai bayang-bayang laki-laki, masa ketika penguasa dan rakyat berperan sebagai bangsawan dan kawula, tuan dan hamba. Nantinya Kartini kecil tertegun dan bertanya-tanya ketika terpapar pada kondisi ini: kenapa ibu kandungnya tinggal terpisah, kenapa ia mesti memanggil ibunya itu sebagai ”Yu”, dan ibunya menyebutnya ”Ndoro”. Ayah Kartini tampil sebagai bangsawan yang menjejak dua dunia: satu kaki menyambut ide-ide kemajuan dan modernitas, kaki yang lain masih berpijak pada nilai-nilai tradisi.

Sebagai putri bupati, Kartini berkesempatan mengenyam pendidikan Belanda. Ia bersekolah di ELS (Europese Lagere School), belajar berbahasa Belanda, dan sejak dini terpapar pada pemikiran bangsa Eropa, antara lain melalui Max Havelaar karya Multatuli.

Sebagai putri bupati pula, ia dapat menyimak kondisi rakyat dari dekat. Suatu hari ia mendengar keluhan ayahnya, yang hendak mengajukan protes kepada pemerintah: rakyat sebuah desa terpaksa makan umbi pisang, padahal panen getah ekspor naik 40 persen. Sebuah ketimpangan yang mengusik tidur nyenyak Kartini.

Kartini lazim ditampilkan sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia. Film yang bersumber dari buku Siti Soemandari Soeroto, Kartini: Sebuah Biografi, ini menawarkan perspektif yang lebih luas. ”Orang keliru kalau menafsirkan Kartini hanya sebagai pelopor emansipasi. Dia adalah embrio gerakan politik. Konsepnya, konsep untuk merdeka. Baik sebagai bangsa maupun sebagai individu. Kalau wanita, ya equal dengan laki-laki. Sedangkan konsepnya mengenai pendidikan, itulah yang akhirnya dirasionalisasikan Ki Hajar Dewantara,” kata Sjuman Djaya dalam wawancara dengan Kompas. Dalam adegan upacara tedak siti (turun tanah), Sosroningrat menyuntikkan ide kemerdekaan dalam doanya bagi putri kecilnya.

Bagi Sjuman Djaya, yang monumental dari diri Kartini adalah pemikiran dan ide-idenya. Sosok Kartini (diperankan Jenny Rachman) menjadi fokus utama; kehadiran tokoh-tokoh lain berfungsi sebagai pemancing atau bingkai gagasannya. Toh Kartini tidak dihadirkan sebagai dewi tanpa cacat yang melabrak tembok tradisi secara tegar. Saat mengalami menstruasi pertama, misalnya, ia hanya bisa tersedu dan pasrah menjalani pingitan. Dan, justru dalam kungkungan kamar pingitan inilah, ia menemukan senjatanya: kertas dan pena untuk menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan yang ia saksikan.

Membandingkan zaman Kartini dengan zaman sekarang, barangkali Kartini akan mengelus dada. Kalau dulu orang makan umbi pisang, saat ini ada rakyat yang terpaksa makan nasi aking, ada bapak yang terpaksa memasung anaknya karena tidak memiliki biaya untuk mengobatinya, dan poligami tambah menyeruak dan dirayakan oleh sebagian golongan. Jadi, benarkah kita sudah mengalami kemajuan? Atau, zaman hanya bergulir, berganti kemasan, namun tetap menggendong persoalan serupa---hanya bentuk, pelaku, dan panggungnya yang berbeda? ***

(Dimuat di Indoconnex, April 2010)