Melayang Tanpa Bobot di Ruang Angkasa


GRAVITY (Alfonso Cuarón, AS/Inggris, 2013)

Kala menonton film-film berlatar ruang angkasa--2001: A Space Odissey, Apollo 13, Wall-E--ada pertanyaan yang berdengung di ulu perutku: Bagaimana seandainya si astronot ucul dari pesawat, terlempar ke ruang tanpa gravitasi, melayang-layang tanpa bobot, menunggu ajal atau penyelamatan? Jawabannya muncul dengan kehadiran Gravity.

Dan betapa spektakuler jawaban itu! Dalam adegan awal sepanjang 13 menit yang melayang anggun bagaikan balet ruang angkasa, doktor biomedis Ryan Stone (Sandra Bullock) melakukan riset di pesawat ulang-alik Explorer didampingi astronot kawakan Matt Kowalski (George Clooney) berlatar bulatan Bumi yang hijau-biru elok. Hanya bisa ternganga kagum melihatnya.

Lalu, datanglah kabar buruk itu: ada satelit rusak dan puing-puingnya yang beterbangan akan melintasi jalur mereka dalam kecepatan tinggi. Dan tercerai-berailah seluruh awak Explorer, dan Ryan terlempar jauh ke angkasa yang mendadak tampak kelam, melayang-layang tanpa bobot, menunggu ajal atau penyelamatan...

Kisahnya sederhana saja, tentang perjuangan bertahan hidup. Saat tubir kematian sudah begitu dekat, orang mendadak tergeragap mencoba memaknai kehidupan, percakapan lalu menyerempet pada religiusitas. Tapi, film ini tidak njelimet dengan filosofi, dan menyajikannya sebagai percakapan ringan antarsahabat yang menyemangati satu sama lain untuk merayakan kehidupan. Latarnyalah--ruang angkasa tanpa gravitasi--yang menimbulkan efek campur aduk: kagum, tertekun, tercekam, merinding.

Film ini utamanya memang tontonan visual yang menakjubkan. Ini salah satu pengalaman 3D terbaik di layar lebar, membawa kita ke dunia luas-megah yang sekaligus menggentarkan, sekelas dengan Avatar dan Life of Pi. Jika menontonnya di layar kaca atau monitor laptop atau gadget, kita bakal kehilangan efek terlingkupi yang membikin kita merasa kerdil.

Sandra Bullock, meski kebanyakan hanya ditampilkan wajahnya, sukses menampilkan emosi yang berlapis-lapis, mulai dari ketakjuban hingga kengerian. Kita kadang-kadang berada di dalam helmnya melihat ke luar, turut merasakan kecemasan dan kepanikannya.

Di ruang angkasa, kita bukan lagi warga suatu negara, kita menjadi warga dunia, warga umat manusia. Kita ikut tertegun saat Ryan menyimak suara-suara dari bumi--guk-guk anjing, musik, tawa, percakapan dalam bahasa asing--dan air matanya menitik--ah, di sini air mata tidak menitik, tetapi melayang sebagai bola air bening berpendar-pendar.

Aku paling suka adegan saat Ryan masuk ke pesawat, melepas pakaian astronotnya, melayang, meringkuk seperti janin--siap dilahirkan kembali. Sublim!

04.09.2013