Dua Pangeran, Banyak Perempuan


PRINCE OF EGYPT
Sutradara: Brenda Chapman, Simon Wells, dan Steve Hickner
Pengisi Suara: Val Kilmer, Ralph Fiennes, Michelle Pfeiffer, Sandra Bullock
98 menit, AS, 1998

Mengapa Ramses, Firaun Mesir, mengeraskan hatinya dan menolak untuk tunduk pada perintah Allah, agar membiarkan umat Israel pergi? The Prince of Egypt menawarkan sebuah "teori" menarik.

Saat masih pangeran, Ramses dibesarkan bersama-sama dengan Musa, bayi Ibrani yang diselamatkan dan diangkat anak oleh Ratu Mesir, ibu Ramses. Mereka berdua bertumbuh sebagai pemuda yang sembrono. Namun, karena Ramses adalah calon pewaris tahta, raja menegurnya secara lebih keras. Bila sikap semacam itu dibiarkan, ia akan menjadi mata rantai yang lemah dalam dinasti penguasa Mesir. Bukannya mengubah sikap, ia malah marah.

Ketika ia sudah menjadi firaun dan Musa mendatanginya, Ramses melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan mata rantai yang lemah. Ia justru akan membuktikan kalau ia bisa bersikap lebih kejam daripada ayahnya. Karena itulah ia secara mentah-mentah menolak perintah Tuhan.

Keleluasaan tafsir semacam itu menjadikan film animasi satu ini menarik untuk dicermati. Kisahnya bukan hanya mengulang-ulang apa yang sering dituturkan di Sekolah Minggu atau dalam khotbah, namun menawarkan kesegaran pembacaan.

Film ini juga menampilkan sederet perempuan berkarakter kuat. Mulai dari Yocheved, ibu Musa, yang mencari akal untuk menyelamatkan putranya dari pembunuhan massal oleh perintah Seti I, firaun saat itu. Lalu, Tuya, Ratu Mesir yang menyelamatkan Musa. Bahwa ia dapat membesarkan Musa di istana, hal ini menyiratkan bahwa ia memiliki pengaruh yang tidak kecil.

Miriam, kakak Musa, berperan besar. Selain mendampingi keranjang berisi bayi Musa yang mengalir di sepanjang sungai Nil, ia juga sudah mencoba mengingatkan Musa—ketika adiknya itu sudah menjadi pangeran—akan asal-usulnya. Saat Musa kembali ke Mesir menyampaikan pesan dari Tuhan, Miriam jadi orang pertama yang mendukungnya. Ia menyakinkan Harun dan orang Israel untuk memercayai Musa.

Tzipporah, perempuan Midian yang kemudian menjadi istri Musa, menyeruak jadi sosok yang menonjol. Semula ia diculik dan hendak dijadikan gundik Ramses, namun lalu diserahkan pada Musa, yang memilih membebaskannya. Nantinya ia menjadi istri Musa saat Musa melarikan diri ke Midian dan, ketika Musa diutus Tuhan, ia sigap sebagai pendamping utama.

Sungguh menarik bahwa kaum perempuan, dalam konteks era yang masih diskriminatif kala itu, diberi ruang yang lapang. Bukan sekadar sebagai kanca wingking (pengikut di belakang yang serba patuh), melainkan sebagai pengambil keputusan penting dan penasihat yang diperhitungkan pertimbangannya.

Di luar itu, film ini menyuguhkan animasi yang digarap serius. Amat elok dan megah. Penonton dapat terpukau menyaksikan adegan kolosal orang Israel mendirikan piramida. Atau, animasi bergaya gambar hiroglif untuk memperlihatkan penglihatan Musa akan kekejaman yang berlangsung di Israel. Atau, rangkaian tulah yang ditampilkan begitu mencekam dan menegakkan bulu roma. Dan, puncaknya, adegan terbelahnya Laut Teberau yang amat menawan: sempat-sempatnya animator menampilkan ikan paus layaknya di akuarium raksasa, lengkap dengan ekspresi kagum bangsa Israel saat menjalaninya. Saat air laut kembali menutup, berkecipak, lalu mereda tenang—ah, kita ikut menghela napas lega.

Lagu-lagunya juga menawan. “When You Believe” terasa lirih meneguhkan, ada pun “Deliver Us” menghentak-menggugat.

Alhasil, Prince of Egypt sukses sebagai film yang bukan hanya memanjakan mata dan telinga, melainkan juga menawarkan pembacaan yang segar atas kisah pembebasan bangsa Israel. ***