Kegigihan Menghapuskan Perbudakan


Sebuah cita-cita, dan perlu waktu 25 tahun untuk memperjuangkannya. Berlangsung di arena politik, yang cenderung diwarnai aneka intrik dan pergulatan kekuasaan, pencapaian tersebut kian mengesankan.

Itulah prestasi William Wilberforce, anggota Parlemen dan aktivis reformasi moral di Inggris pada abad ke-18. Sepanjang 1782 sampai 1807, ia mengikhtiarkan penghapusan perdagangan budak di negeri adidaya abad itu. Upayanya ini dilandasi nilai-nilai kristiani dan dijalani dengan kegigihan, ketabahan, dan visi yang terfokus. 

Pada mulanya, tampaknya tak ada yang mengira kalau Wilberforce akan menjungkirbalikkan dunia dengan kegigihannya. Ia suka menyeringai ramah. Badannya kecil dan agak timpang, sampai pernah ada yang menyebutnya shrimp. Kata ini secara harfiah berarti udang, namun juga bisa berarti cemoohan bagi orang cebol atau orang yang dianggap tak berarti.

Dengan kecerdasan dan kefasihan bawaan, Wilberforce menapaki jenjang pendidikan dengan mulus sampai menjadi anggota Parlemen Inggris pada akhir abad kedelapan belas. Masalah utamanya: ia tak memiliki visi yang jelas. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dalam berbagai perkumpulan dan dikenal sebagai biduan.

Kemudian ia mulai membaca buku Philip Doddridge, The Rise and Progress of Religion in the Soul. Segera ia tersadarkan akan kehampaan harta di satu sisi dan kebenaran ajaran Kristen di sisi lain. Secara lahiriah ia tampil penuh keyakinan, namun di dalam batin ia sengsara.

Kemuramannya terangkat pada Paskah 1786. Ia memulai kehidupan baru di dalam Kristus, dan suatu kesadaran baru akan panggilan hidup bangkit di dalam dirinya. “Kehidupan saya sebuah kehidupan publik,” teranya dalam buku harian. “Pekerjaan saya di dunia, dan saya harus bergaul dengan orang banyak.”

Pelan-pelan ia menyadari bahwa “pekerjaan”-nya berkaitan dengan perbudakan.

Perdagangan budak pada akhir 1700-an mencakup ribuan orang Afrika, ratusan kapal, dan jutaan poundsterling. Bisa dikatakan, perbudakan adalah tulang punggung perekonomian Inggris dan sebagian besar Eropa. Tidak banyak orang tahu tentang “Jalur Tengah” melintasi Atlantik, yang diperkirakan memakan korban satu dari setiap empat orang Afrika.

Wilberforce mengetahuinya, dan ia sangat tertekan. Ia menyadari perlu bangkit sejumlah reformator moral bangsa, yang bersedia berseru menentang ketidakadilan tersebut. Di situlah ia menemukan misi hidupnya. “Allah yang Mahakuasa telah menetapkan bagi saya,” tulisnya, “(upaya untuk) menghapuskan perdagangan budak.”

Nyatanya, itu bukan usaha yang gampang. Pada Mei 1788, dengan bantuan peneliti Thomas Clarkson, ia mengajukan mosi 12 poin ke parlemen untuk menentang perdagangan budak. Mosi itu gagal, dan muncul perlawanan sengit. Pemilik perkebunan, pengusaha, pemilik kapal, kaum tradisionalis, dan bahkan Raja Inggris pun menentangnya. Kaum Abolisionis, para penentang perbudakan, dianggap sebagai golongan radikal yang berbahaya.

Wilberforce menolak untuk patah arang. Ia memajukan rancangan undang-undang lagi pada 1791, yang juga ditampik. Kegagalan lain menyusul pada 1792. Lalu pada 1797, 1798, dan 1799. Juga pada 1804 dan 1805.

Saat itu perbudakan bukan dipandang sebagai perkara moral, melainkan sekadar urusan bisnis. Tak ayal pihak-pihak yang berkepentingan secara sengit menentang kampanye Wilberforce. Perjuangan Wilberforce dan kaum Abolisionis antara lain didukung oleh William Pitt, sahabatnya yang saat itu menjadi Perdana Menteri, dan John Newton, penulis lagu ”Amazing Grace.

Selama itu, secara bertahap publik mendukung upaya ini, dan pada 23 Februari 1807 Parlemen Inggris menghapuskan perdagangan budak di seluruh Kerajaan Inggris. Wilberforce menangis dengan sukacita.

Namun, perjuangan belum rampung. Ia masih ingin melihat semua budak dibebaskan. Hal ini menuntut kegigihan yang lain lagi. Akhirnya, pada musim panas 1833, Parlemen Inggris mengeluarkan Undang-undang Emansipasi. Tiga hari kemudian, ia meninggal dunia.

Kisah William Wilberforce dapat dijadikan pelajaran berharga bagi mereka yang terpanggil untuk melayani dalam ranah politik. Politik cenderung dicurigai sebagai gelanggang yang kotor dan hanya dijadikan ajang pertarungan kekuasaan dan ambisi pribadi atau partai.

Dalam diri William Wilberforce kita melihat sesosok politikus yang bergerak oleh visi dari Tuhan. Ia bukan sekadar tebar pesona, namun bersungguh-sungguh tebar kinerja–bila perlu dengan melawan arus pendapat umum yang tidak berpihak pada keadilan.

”Akankah kau menggunakan suaramu untuk memuji Tuhan atau mengubah dunia?” tanya William Pitt suatu ketika. Wilberforce pun memakai kemampuannya berorasi untuk mendesakkan pembebasan kaum yang tertindas, dalam hal ini para budak. Politik, nyatanya, bisa didayagunakan untuk memperjuangkan kesejahteraan umum.

Digerakkan oleh misi dari Allah, dibarengi penerapan iman, kegigihan, dan keterlibatan dalam politik, ia dan sekutunya membebaskan Inggris, adidaya pada masanya, dari kejahatan terbesar pada saat itu.***