Mengisi Celah-Celah Kisah Bahtera Nuh



NOAH
Sutradara: Darren Aronofsky
Pemain: Russell Crowe, Jennifer Connelly, Emma Watson
138 menit, AS, 2014

Nabi Nuh dan istrinya/ Tiga orang anaknya/ Tiga orang mantunya/ Masuk dalam bahtera...

Barangsiapa lulus Sekolah Minggu, tak ayal ia hapal lagu itu. Lagu itu jadi sinopsis ringkas-padat kisah Nuh, yang tentu sering dituturkan di Sekolah Minggu dan mungkin dipentaskan sebagai drama.

Film Noah mirip dengan lagu itu, namun dengan pendekatan lain. Lagu itu meringkas kisah Alkitab sepanjang empat pasal (Kejadian 6-9) menjadi dua bait lirik yang sederhana dan mudah diingat. Noah, sebaliknya, menguraikan kisah empat pasal menjadi film sepanjang 138 menit. Uniknya, dalam keringkasannya, lagu itu berusaha setia mempertahankan detail tentang jumlah orang yang mengisi bahtera Nuh. Sedangkan Noah? Ini yang hendak kita bahas.

Jika kita menganggap kisah Nuh sebagai kebenaran sejarah sampai ke detail yang sekecil-kecilnya, film garapan Darren Aronofsky ini akan membikin tersedak. (Seorang teman mengaku malah galau sesudah menontonnya. Semoga imannya tidak terguncang.) Namun, jika kita menerima kisah Nuh sebagai bagian dari metafora ilahi tentang awal-mula peradaban manusia, kita dapat leluasa mengunyahnya dan menjadikannya pemantik diskusi dan percakapan iman yang asyik.

Kritikus film Steven D. Greydanus, menggarisbawahi pernyataan Paus Pius XII dalam Humani Generis, menulis bahwa “kisah Air Bah dalam Kejadian adalah mitologi yang diilhamkan secara ilahi... ini bukan bermaksud untuk menyatakan bahwa air bah itu tidak terjadi atau Nuh itu tokoh fiktif. Ini semata-mata suatu pengakuan bahwa penulis Kejadian (... tidak seperti para penulis Injil) memiliki akses yang dapat dibuktikan menurut metode penulisan sejarah terhadap peristiwa-peristiwa yang ditulisnya.” Secara sederhana, penulis Kejadian, berbeda dari penulis Injil, tidak menulis sebagai saksi langsung peristiwa tersebut.

Aronofsky, yang juga menulis skenario bareng Ari Handel, mengaku mengusung pendekatan semacam itu dengan mengikuti tradisi midrash. Sebuah tradisi para rabi Yahudi, midrash adalah upaya mengisi sebuah kisah dengan detail-detail dari imajinasi kita sendiri—tetap setia pada kisah sumber manakala ia menegaskan sesuatu, namun leluasa berimajinasi dalam bagian-bagian yang hanya tersirat.

Yang menarik disimak adalah cara Aronofsky dan Handel mengisi celah-celah kisah Nuh. Mereka tampaknya mengajak penonton—yang diandaikan telah akrab dengan narasi Kitab Suci—melakukan kilas balik ke belakang (zaman sebelum air bah) dan sekaligus meneropong ke depan (era sesudah Nuh). Bisa jadi mereka ingin menunjukkan betapa kisah manusia dari abad ke abad sebenarnya terus berulang, hanya konteks zamannya saja yang berbeda.

Kisah istri Nuh menemui Metusalah untuk mengatasi soal keberlanjutan keturunan mereka itu, misalnya. Bukankah detail isian ini mengingatkan kita pada kisah Hawa yang bergerak tanpa berkonsultasi dengan suaminya, dipadukan dengan kisah Sara yang berinisiatif untuk menolong Tuhan mewujudkan rencana-Nya, dan dijalin dengan kisah Hana yang memohon agar disembuhkan dari kemandulan?

Atau, kisah Tubal-Kain yang ikut nemplok dalam bahtera itu. Ini mengacu pada peristiwa kelak saat Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir, dan pasukan Mesir kemudian berpacu mengejar mereka. Selanjutnya, saat mereka sudah terlepas dari tentara Mesir, nyatanya “Mesir” masih juga bercokol dalam hati mereka, membuat mereka—meminjam istilah anak sekarang—susah move on.

Sosok Nuh sendiri bisa jadi bahan perbincangan tersendiri. Sejak zaman Sekolah Minggu, kita membayangkannya sebagai “nabi” yang saleh, kalis dari kesalahan, menjulang berbeda dari orang-orang sezamannya—karena itulah Tuhan memilihnya untuk memulai sebuah angkatan baru. Nuh di film ini, pada satu titik, menyadari bahwa dirinya sama bejatnya dengan orang-orang di sekitarnya. Dan gambaran sosoknya yang garang, lengkap dengan sebuah pilihan yang nyaris fatal, memang membuyarkan citra bersih yang bisa jadi sudah kadung melekat di benak kita selama ini.

Apakah Alkitab memang bertutur secara hitam-putih? Jika kita cermati Kejadian 6:1-7, Alkitab memerikan kejahatan seluruh manusia—tanpa kecuali. Secara tersirat, Nuh juga bagian dari angkatan yang jahat itu. Ia tidak sebersih yang kita kira. Titik balik berlangsung di ayat 8: “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Baru kemudian muncul catatan: “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya” (ay. 9). Artinya, Nuh menjadi orang benar bukan karena kesalehannya sendiri, melainkan karena mendapatkan kasih karunia Allah. Bukankah ini konsisten dengan Injil kasih karunia?

Detail pengisi celah yang ditawarkan Aronofsky dan Handel, dengan begitu, mestinya tak langsung kita tampik begitu saja. Kita justru diingatkan, kisah Nuh tak lain adalah kisah kita juga: kisah tentang rahmat Allah yang menawarkan kehidupan dan kesempatan baru. ***