Selama-lamanya?



Baca: Yohanes 14:12-18
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. (Yohanes 14:16)

Anda menyukai lagu “Janji-Mu Seperti Fajar”? Lagu itu dengan indah menggambarkan janji Allah seperti fajar yang tak berhenti bersinar, kasih-Nya seperti sungai yang terus mengalir. Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya kita percaya akan janji-Nya?

Simak, misalnya, janji dalam nas ini: bahwa Roh Kudus akan menyertai kita selama-lamanya (ay. 16). Selama-lamanya? Ya. Bapa menganugerahkan Roh Kudus sebagai Penolong kita untuk seterusnya. Tak akan pernah diambil lagi. Tak bakal dibatalkan. Tak berkesudahan. Tanpa jeda. Dalam keadaan apa pun. Tetap bertahan sekalipun fajar berhenti bersinar. Tetap abadi sekalipun sungai-sungai tidak lagi mengalir.

Masalahnya, kita sering membatasi janji Allah dengan syarat-syarat buatan sendiri. Kita menganggap Roh Kudus akan meninggalkan kita ketika kita tidak taat dan memberontak. Roh Kudus tidak menyertai kita lagi jika kita menuruti keinginan dosa dan hawa nafsu daging. Roh Kudus akan membiarkan kita seorang diri jika kita tidak setia sampai mati.

Pertanyaannya: Jika Roh Kudus menyingkir dari kita ketika kita tidak taat, siapa yang akan menuntun kita untuk bertobat dan berpaling dari pemberontakan? Jika Roh Kudus menjauhi kita saat kita berbuat dosa, siapa yang akan mendidik kita untuk meninggalkan dosa dan hidup dalam kebenaran? Jika Roh Kudus membiarkan kita seorang diri, berarti Dia tidak setia. Dengan begitu, bukankah kita malah merendahkan janji dan karakter Allah?

Jadi, sekali lagi, seberapa besar kita percaya akan janji-Nya?

Kita merendahkan atau memuliakan Allah
melalui keraguan atau keyakinan kita akan janji-Nya.