100 Hari Menjelang Kiamat



Anindita S. Thayf, Ular Tangga, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2018, Tebal 732 halaman, Harga Rp165.000,00.

Anindita S. Thayf turun gunung. Betul-betul. Pada akhir 2008 ia menjadi pemenang tunggal Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta dengan novel mungil berlatar Papua, Tanah Tabu. Awal 2018 ini, dari pondoknya di Turi, daerah perkebunan salak di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, ia menyajikan novel berikutnya, Ular Tangga, karya ambisius setebal bantal leher.

Selain mempertebal jumlah halaman, Anin juga memperluas cakupan kisahnya. Tanah Tabu berlatar sejarah selayang pandang pulau paling timur di negeri ini, dengan menekankan pada nasib dan pergulatan kaum perempuannya. Ular Tangga memaparkan sejarah sebuah bangsa—bangsa kita, Indonesia, tentu saja, tetapi disamarkan dengan julukan Republik Kepulauan. Novel berlatar waktu 15 tahun sesudah Presiden Kedua undur dari jabatan ini, menurut keterangan penulis, adalah buku pertama dari Trilogi Ijo.

Tiga Suara

Ular Tangga dibuka dengan beredarnya selebaran menggegerkan yang berbunyi: “KIAMAT TIDAK LAMA LAGI. UMUR HIDUP SISA SERATUS HARI. SUDAHKAH ANDA SIAP?” (h. 25). Kepanikan segera menjalar di Daerah Tambalsulam, perkampungan kumuh di tepi Sungai Purba dan di dekat lintasan Rel Kereta Tua, di ibukota Republik Kepulauan. Sebuah pertanyaan mulai mengendap-endap, “Apa yang akan kaulakukan sebelum mati?” (h. 67).

Rangkaian penantian 100 hari menjelang Kiamat—ibarat 100 kotak dalam permainan ular tangga—ini dipaparkan dalam tiga bagian. “Buku Satu” dinarasikan orang ketiga di luar cerita, mencakup 28 hari pertama sejak selebaran beredar. Bagian ini terutama memotret kehidupan kaum Kerak Nasi penghuni Daerah Tambalsulam. Narator memperkenalkan kita dengan kaum kesrakat itu orang per orang, peristiwa demi peristiwa, hari lepas hari.

Kita dipertemukan dengan berbagai tokoh yang memiliki keunikan masing-masing. Mulai dari nenek tua yang menjadi budak seks pada masa penjajahan sampai bocah yang lahir sebagai akibat pemerkosaan pada Hari Rusuh. Di luar perkampungan jorok itu, ada Bapak Presiden Kita, Asisten Khususnya yang sering kena semprot, dan seorang anggota dewan yang terhormat.

Tiga tokoh yang menonjol adalah Ijo, Nenek, dan Bung Anu.  Ijo adalah bintang kita—bocah penakut, cerdik, pintar menggambar, memiliki kemampuan istimewa, dan terpilih untuk menjadi saksi dari sebuah akhir. Nenek, perempuan yang dihinakan karena masa lalunya, tetapi ditakuti dan disegani karena ketegasan sikap dan sumbangsihnya bagi warga sekitar. Bung Anu penggerak Sanggar Merah yang ternyata juga pawang hujan, dan terlibat dalam suatu rencana misterius, yang bakal berdampak dahsyat.

“Buku Dua” dituturkan secara unik. Tanah Tabu menggunakan dua narator nonmanusia, yang baru terungkap di ujung novel. Dalam Ular Tangga, Anin juga menggunakan dua narator nonmanusia, yang sudah diperkenalkan di bagian sebelumnya, yaitu Sungai Purba dan Rel Kereta Tua. Mereka ini penghubung dua alam—Semesta Tengah dan Semesta Bawah—yang berperan sebagai pengawas kehidupan, seperti malaikat-malaikat yang menjadi saksi dan pencatat sejarah dalam Wings of Desire.

Selama 28 hari, Sungai Purba dan Rel Kereta Tua bergantian bercerita kepada Ijo tentang sejarah hidupnya dan sejarah bangsanya. Ijo memerlukan suntikan keberanian untuk menyongsong Perubahan yang bakal terjadi. Ia mendapatkan keistimewaan mampu berkomunikasi dengan Sungai Purba (dipanggilnya “Nenek Sungai”) dan Rel Kereta Tua (dipanggilnya “Opa”) gara-gara kecelakaan pada masa kecil.

Mereka memaparkan sejarah bukan sekadar soal apa dan siapa, tetapi terutama soal mengapa dan bagaimana. “Bayangkan saja begini, aku tidak akan membagikan kisah sebuah film, tapi menceritakan bagaimana film itu dibuat,” kata Opa (h. 473). Adapun penggerak utama sejarah, menurut Nenek Sungai, adalah virus Kehendak Berkuasa (h. 290). Paparan mereka membentang mulai dari masa kerajaan hingga era Bapak Presiden Kita. Di luar itu mereka terus memantau perkembangan keadaan.

Sungai Purba bersuara bagaikan sesosok nenek tua yang telaten, puitis, dan arif. Ia bertutur melalui mimpi, yang kemudian ditafsirkannya dalam percakapan keesokan harinya. Mimpinya kadang diungkapkan melalui stakato kalimat-kalimat pendek, kadang dalam bentuk kalimat-kalimat panjang meliuk-liuk tanpa ujung.

Rel Kereta Tua bagaikan kakek yang bawel dan semula sebal mendapatkan tugas bercerita pada Ijo. Kalimat-kalimatnya—yang sesekali disisipi kata “tempo”—ketus dan galak, tetapi akhirnya luluh juga hatinya dan tumbuh rasa sayangnya pada si cucu.

“Buku Tiga” kembali dinarasikan oleh orang ketiga. Tinggal 44 hari lagi menjelang Kiamat. Keadaan kian gawat. Suasana kian genting. Seperti bisul yang siap pecah. Selain terus melaporkan rangkaian kejadian di Semesta Tengah, narator membawa kita ke Semesta Bawah, dunia para roh yang turut memainkan peran dalam kehidupan di Semesta Tengah. Mencakup kurun waktu paling lama, tetapi jumlah halamannya paling sedikit. Alur cerita bergerak lebih gesit, “berguncang, beriak, berpusar, berayun, berderak, dan beterbangan” (h. 711), menuju klimaks yang menggelegak.

Nama Julukan

Seperti sudah disinggung tadi, novel ini sejatinya berbicara tentang sejarah Indonesia, tetapi penulis memilih menyamarkannya. Seno Gumira Ajidarma pernah memanfaatkan bahasa walikan untuk penyamaran sehingga Dili, misalnya, menjadi Ningi. Anin mengubah nama-nama spesifik menjadi julukan-julukan deskriptif. Tanah Tabu menyembunyikan kuning-merah-hijau-biru (lambang partai). Di sini, nyaris semuanya disembunyikan, dan pembaca mesti menebak-nebak.

Seragam Korpri, misalnya, digambarkan sebagai “Rumah Terbang Pohon Beringin”. Jika disebut seragam Korpri, orang yang tahu akan segera bisa membayangkannya. Orang yang tidak tahu, dan penasaran, akan mudah mencari informasi dan menemukan gambar yang dimaksudkan. Dengan menyebut “Rumah Terbang Pohon Beringin”, bayangan di benak pembaca bisa bermacam-macam. Namun, orang yang tahu seragam Korpri mungkin akan tersenyum terkulum: selama ini tahu seragam itu, tetapi sebenarnya tidak mengenali detailnya. Dan, mungkin pula, jadi tergelitik bertanya-tanya, dan terbuka berbagai kemungkinan makna dari seragam itu. Bahwa rumah negeri ini bakal diterbangkan oleh kekokohan pohon beringin, misalnya.

Penggunaan julukan ini, menurut dugaan saya, berfungsi sebagai semacam perumpamaan, sebentuk tamsil—menunjuk pada sesuatu atau seseorang tertentu, tetapi sekaligus memberlakukannya secara universal. Sejalan dengan paparan sejarah ala Sungai Purba dan Rel Kereta tua, bukan hanya mengacu pada apa dan siapa, tetapi terutama pada mengapa dan bagaimana sesuatu dan seseorang tadi.

Tokoh Merah yang Simpatik

Dalam Ular Tangga, Anin menawarkan kesegaran lain melalui tokoh Nenek, kader Partai Merah (baca: partai kiri, komunis) yang tangguh. Dalam novel-novel yang berlatar peristiwa 1965, tokohnya kebanyakan adalah orang-orang yang “tersangkut,” bernasib sial, tak bersalah, atau tak paham situasi, tetapi ikut terkena getah dan tergulung gelombang prahara. Perlakuan terhadap mereka adalah sebentuk ketidakadilan. Jika orang itu betul-betul komunis, lain ceritanya—ia memang layak dihabisi.

Nenek atau Terang Bulan sungguh-sungguh penganut, pemeluk teguh ideologi Partai Merah. Sejak masih remaja. “Nenekmu—anak petani miskin itu—merasa telah menemukan surga kecilnya lewat apa yang diajarkan partai tersebut: tentang bagaimana caranya mendapat hidup yang lebih baik meskipun engkau terlahir sebagai jelata di tengah dunia yang pilih kasih ini. Itulah ajaran suci yang tertulis dalam Kitab Merah karya Santo Jelata, tokoh panutan Partai Merah” (h. 436).

Maka, ketika sejarah hendak melindasnya dengan bengis, membikinnya jadi Nol Besar, ia memperlihatkan daya sintas yang amat liat. Di Daerah Tambalsulam, ia ditakuti sebagai Nenek Sihir Berwajah Rusak, tetapi juga dihormati sebagai Malaikat Penyembuh Berkuku Separuh.

Ajakan untuk Menyimak

Novel ini memperlihatkan ketekunan dan kecermatan penulis, kepiawaian bercerita, kelenturan imajinasi, dan kemahiran menggunakan perangkat kebahasaan. Secara gaya tutur, Ular Tangga tampil sebagai novel polifonik yang mengesankan. Ketiga narator memperdengarkan kekhasan suara masing-masing; belum lagi keragaman tokohnya, yang pelan-pelan jadi akrab seakan tetangga sebelah rumah. Kita serasa diajak menyusup ke tengah kerumunan yang gaduh, tetapi mengasyikkan.

Anin bercerita tanpa tergesa-gesa, meminta pembaca untuk menyimak secara cermat. Arus cerita, khususnya di “Buku Satu,” seperti aliran Sungai Purba yang tersendat, tertumbuk-tumbuk tumpukan sampah. Kita disuguhi deskripsi detail kondisi lingkungan, juga perilaku dan riwayat hidup warga: mulai dari seluk-beluk kampung, bocah-bocah yang sarapan bareng nasi campur-aduk aneka makanan sisa penumpang kereta, sampai gelandangan yang inses dengan anak perempuannya, yang sebelumnya diperkosa oleh tiga berandal.

Kita diajak untuk melihat apa yang tersembunyi di balik permukaan: bahwa timbunan “sampah” itu masing-masing mengandung riwayat—riwayat pribadi, riwayat kampung, riwayat kota, yang pada akhirnya jalin-menjalin membentuk riwayat sebuah bangsa. Timbunan itu mengandung luka, kenangan, pengkhianatan, pertarungan, kegigihan, kedegilan, hikmah, dan pelajaran.

Betul-betul novel yang menantang konsentrasi, kesabaran, dan stamina pembaca. Rel Kereta Tua mencela mereka yang “punya mata, tapi hanya digunakan untuk melihat apa yang disukai dan diingini” (h. 364). Ular Tangga mengundang kita mencermati sebuah dunia yang tersisihkan, orang-orang yang terpinggirkan dan tak masuk hitungan, serta sisi-sisi sejarah yang kita cenderung enggan menengoknya. ***

* Versi ringkas resensi ini dimuat di Kompas, Sabtu, 28 Juli 2018, halaman 21.