Menunggu Adaptasi Setia Atas Bumi Manusia



Terus terang, saya termasuk kaum yang tersedak kaget saat berita itu menjalar di linimasa Twitter: Bahwa Hanung Bramantyo bersiap menyutradarai film berdasarkan novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, dengan mendapuk Iqbaal Ramadhan sebagai Minke. Kok Hanung? Dan, Iqbaal?

Iqbaal berkibar melalui perannya sebagai Dilan, yang sayangnya belum saya tonton. Melihat foto dan video klip yang menyertai pemberitaan tadi, tampangnya terkesan terlalu cengengesan untuk tokoh seserius Minke. Riwayat aktingnya juga masih kemarin sore. Yah, moga-moga saja ia bisa melampaui harapan banyak orang.

Hanung sendiri rekam jejaknya cukup mencemaskan. Ia dinilai sukses menekuk Kartini jadi bercitarasa mBantul. Ia dicerca nekat mendapuk Reza Rahadian sebagai Benyamin. Ia dikritik Gusti Kanjeng Ratu Bendara, putri bungsu Sultan Hamengkubuwono X, tentang kesalahan pada pakaian atau kain batik yang dipakai pemeran Sultan Agung dalam film yang belum rilis. Kini, dipercaya menggarap Bumi Manusia, kira-kira apa yang bakal dibikinnya?

Kini poster dan trailer Bumi Manusia telah dirilis. Sudah diduga, muncul kontroversi dan perbedaan sambutan. Ada yang menangkap kesan filmnya bakal berkualitas sinetron dan kumis tokoh-tokohnya amat menggemaskan; tak kurang pula yang puas karena memperkirakan banyak adegan di novel yang dituangkan ke film.

Bumi Manusia tidak lain adalah salah satu novel penting, kalau bukan yang paling penting, dalam sejarah sastra Indonesia—yang ironisnya malah tidak dijadikan bacaan wajib di sekolah-sekolah. Tak heran jika banyak pihak merasa berkepentingan untuk turut menjaga agar karya ini tidak diadaptasi secara serampangan. Mampukah Hanung setia pada visi Pramoedya?

Kesetiaan pada visi pengarang asli telah menjadi perbincangan panjang dalam sejarah ekranisasi atau alih wahana dari novel ke film. Sejauh mana sebuah film adaptasi perlu setia pada novel sumbernya?

Kita mulai dari contoh kasus Roald Dahl. Tak banyak pengarang yang beruntung karyanya diadaptasi jadi film sampai dua kali. Dahl salah satunya. Kisah fantasi anaknya, Charlie and the Chocolate Factory, dilirik oleh dua sutradara. Mel Stuart membesutnya menjadi Willy Wonka and the Chocolate Factory (1971), dan pada 2005 Tim Burton menggarapnya ulang menjadi film berjudul sama dengan novelnya.

Puaskah Dahl? Untuk film pertama, dia konon kesal atas tafsir Gene Wilder atas sosok Willy Wonka. Di buku, Wonka itu orang cebol hiperaktif yang "seperti bajing tua cerdik gesit dari taman". Wilder menafsirkannya terlalu lunak dan kebapakan. Kalau tafsiran Johnny Depp? Syukurlah, Dahl sudah wafat, dia tak harus terguncang melihat Wonka malih jadi hibrida antara Michael Jackson dan Carol Burnett.

Itu masalah penafsiran tokoh. Dari segi cerita, lain lagi soalnya. Di buku, Charlie meraih hadiah karena apa yang tidak dilakukannya. Stuart merasa perlu menyuntikkan motivasi yang lebih meyakinkan: Charlie menolak ajakan membocorkan resep rahasia pabrik cokelat. Charlie juga dibuat melakukan kesalahan. Anehnya, dia diberi kesempatan kedua, sedangkan keempat anak lain langsung ditimpa hukuman.

Burton membubuhkan tambahan di ceruk lain: latar masa kecil Wonka. Selain perkara ketamakan, kini ujung cerita meliuk ke topik baru: pentingnya keluarga. Selebihnya, versi Stuart terasa lamban dan bersahaja, dengan lagu yang diulang-ulang. Versi Burton menawan visualisasi dan tata musiknya, tetapi kehadiran Depp lumayan membikin tengkuk berjengit.

Kesimpulan: Sudah dua kali adaptasi, nyatanya belum juga memuaskan. Jadi?

Jadi, kita sedang meributkan perkara klasik: kesetiaan adaptasi. Novel dan film adalah medium yang berbeda. Novel menawarkan imaji linguistik pada halaman-halaman tercetak; film menyampaikan imaji visual melalui rangkaian gambar yang "bergerak secara kontinyu" (Marselli, 1996). Perbedaan inilah, antara lain, yang menghadirkan tantangan dalam adaptasi.

Seberapa jauh sebuah adaptasi novel dikatakan setia? Kalau kita mengekor Krevolin (2003), patokan pertamanya: "Anda tidak berutang apa pun pada teks asli!" Adaptasi membuka ruang seluas-luasnya baik untuk penambahan maupun untuk pengeratan terhadap bagian-bagian novel asli. Aturan mainnya, adaptasi justru dituntut lebih seksi daripada novel aslinya.

Hal ini sejalan dengan pandangan sejumlah kritikus film. Roger Ebert, misalnya, mengharapkan film adaptasi mampu berdiri sendiri, nyaman untuk dinikmati tanpa penonton mesti memahami novel sumbernya.

Karena sekadar memindahkan kata-kata menjadi gambar adalah mustahil, kesetiaan yang dituntut adalah kecerdasan menangkap esensi, ruh dan jiwa novel asli. Penambahan dan atau pengurangan dilakukan untuk menonjolkan dan menggarisbawahi karakter dan atmosfir novel bersangkutan. Dengan kata lain, adaptasi mestinya dilandasi penghormatan terhadap teks asal. Kalau novel aslinya sudah seksi, lantas film adaptasinya malah bopeng, pengadaptasi bisa jadi bermaksud membuat parodi. Paling tidak, lebih tepat sebutannya "terinspirasi oleh", bukan "diadaptasi dari".

Kecemasan terhadap adaptasi biasanya dilontarkan oleh novelis. Virginia Woolf menista film adaptasi sebagai parasit yang nemplok pada novel dengan nafsu besar untuk menggarong. C.S. Lewis mengeluh, "Tidak ada yang lebih merusak daripada pandangan bahwa sinema dapat dan patut menggantikan fiksi tertulis yang populer. Justru unsur-unsur yang tidak termuat dalam filmlah yang memberikan pada pikiran yang belum terlatih satu-satunya akses ke dunia imajinatif. Ada kematian (imajinasi) di dalam kamera." Bisa jadi Lewis akan geram menonton adaptasi tiga dari tujuh novel serial Narnianya.

Seserius itukah? Tampaknya novel dan film adaptasinya memang mesti dibiarkan berdiri sendiri-sendiri. Adaptasi yang bagus akan memperkaya pengalaman baca kita, dan siapa tahu memancing orang yang belum menyentuh novelnya untuk ikut membacanya.

Ada novel bagus yang menjadi film bagus, ada novel biasa-biasa saja yang menjadi film bagus, ada pula novel bagus yang menjadi film jelek. Il Postino, misalnya, sedap dinikmati baik novel maupun filmnya. Laskar Pelangi termasuk adaptasi yang melampaui kelemahan novel sumbernya, menjadi film yang lebih menyenangkan dan enak dinikmati. The Hobbit dieksploitasi menjadi film trilogi yang buruk dan berantakan. A Wrinkle In Time dinilai melenceng dari semangat dasar novelnya. Di sisi lain, mereka yang lebih dulu nonton Ready Player One, siapa yang masih mau repot-repot menjenguk novelnya?

Kembali ke adaptasi Bumi Manusia. Ya, sudah, mau bagaimana lagi. Kita hormati keputusan ahli waris Pramoedya yang menyerahkan hak produksi novel itu kepada Falcon Pictures. Toh penggemar menggonggong, produser berlalu. Kontroversi malah terhisab sebagai promosi. Jadi, berharap saja Hanung bertobat dari kegawalannya dan mengadaptasi Bumi Manusia dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Sayangnya, belum-belum Hanung sudah melontarkan pernyataan yang membikin kening berkerut dan meredupkan harapan itu. “Saya tidak perlu kasih buku tebal ke Iqbaal, tinggal pakaikan baju adat, yah jadilah Minke," katanya. Sebuah sikap yang terkesan menggampangkan.

Tampaknya kita tak perlu berharap muluk-muluk pada adaptasi ini. Yang jelas, saya tidak berencana menonton pada hari pertama penayangan. Saya akan memantau respons pengulas dan penonton dulu. Kalau filmnya dinilai berhasil, mungkin saya akan tergerak untuk ikut nonton. 

Kalau adaptasinya buruk? Ya—terus kenapa? Ditinggal tidur saja. Toh saya masih tetap bisa meringkuk menikmati keelokan novel aslinya. Atau, berharap suatu ketika dapat lotere untuk memfilmkan ulang Bumi Manusia sesuai dengan harapan saya. ***

Artikel ini pernah dimuat di rubrik "Kolom", Detik, Rabu, 30 Mei 2018; telah di-update sesuai dengan perkembangan terbaru.

Comments

Popular Posts