Taurat vs Anugerah


TAURAT
ANUGERAH
·         Hukum Kerajaan
·         Peraturan Keluarga
·         Orang diselamatkan karena ketaatan (perbuatan baik)-nya sendiri
·         Orang diselamatkan karena kepercayaan (iman) kepada Kristus
·         Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yaitu bagi orang berdosa. Taurat adalah “suami” orang berdosa.
·         Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar (percaya); orang benar sudah mati terhadap Taurat. Kristus adalah Mempelai Laki-laki bagi orang benar.
·         Pengampunan tersedia melalui kurban yang dilakukan berulang-ulang dan tidak sempurna
·         Pengampunan tersedia oleh penebusan Kristus yang sempurna, satu kali untuk selama-lamanya
·         Sikap hidup: taat vs tidak taat (tidak perlu iman)
·         Sikap hidup: iman yang bekerja oleh kasih
·         Taurat bekerja melalui hukum tertulis yang mematikan
·         Anugerah bekerja melalui Roh yang menghidupkan
·         Taurat hanya menuntut orang untuk taat, tidak memberi bantuan sama sekali
·         Anugerah mendidik dan memampukan orang percaya untuk hidup dalam kasih, bertumbuh, dan berbuah
·         Ketaatan (perbuatan baik) adalah penentu keselamatan—taat karena takut dihukum
·         Ketaatan (perbuatan baik) adalah buah keselamatan—ketaatan ini lahir dari kasih; ketaatan adalah hidup dalam kasih
·         Ketaatan harus total: melanggar satu perintah diperhitungkan sama dengan melanggar seluruh perintah
·         Orang percaya bertumbuh dalam kasih dan selalu ada kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri
·         Ketaatan (kepatuhan pada hukum) mendatangkan berkat Tuhan
·         Ketaatan (hidup dalam kasih) membuat kita bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan
·         Ketidaktaatan (melanggar perintah Taurat) mendatangkan:
o   Murka dan laknat Tuhan; memisahkan kita dari Tuhan. Pertobatan tersedia selama Tuhan memberikan kesempatan melalui kurban dan restitusi yang harus diupayakan sendiri dengan perantaraan imam.
o   Kerusakan hubungan dengan sesama. Bisa diperbaiki berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
·         Ketidaktaatan (tidak hidup dalam kasih) mendatangkan:
o   Didikan Tuhan. Didikan-Nya tidak menghancurkan, tetapi memulihkan. Kasih-Nya tidak berubah-ubah menurut ketaatan kita, tetapi kekal untuk selama-lamanya. Pertobatan senantiasa tersedia di dalam Yesus Kristus—Imam, Kurban, dan Restitusi kita.
o   Kerusakan hubungan dengan sesama. Pertobatan dan pengampunan mendatangkan pemulihan.
·         Tidak ada seorang pun yang diselamatkan oleh hukum Taurat
·         Anugerah menyelamatkan setiap orang yang percaya

Taurat dan Anugerah adalah sama-sama suatu sistem keselamatan, tetapi keduanya berbeda secara radikal. Kita harus mati terhadap Taurat untuk dapat masuk ke dalam Anugerah. Tuntutan hukum Taurat dibatalkan bagi kita, agar kita dapat menerima Anugerah. Keduanya tidak dapat dicampuradukkan. Tidak ada Anugerah di dalam Taurat, dan Anugerah pun tidak mengandung Taurat.

Sejak semula Allah mengundang manusia untuk membangun hubungan dengan Dia di dalam Anugerah, manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah, makan (hidup) dari pohon kehidupan (makanan rohani) dan semua pohon dalam taman (makanan jasmani). Namun, manusia memilih makan (hidup) dari  pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (makanan rohani). Manusia hendak “menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” menurut cara dan jalan mereka sendiri. Ketika jatuh ke dalam dosa, manusia berusaha menutupinya dengan “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” (melambangkan usaha penyelamatan dengan perbuatan baik mereka sendiri, prabayang hidup dalam Taurat), tetapi Allah menutupi mereka dengan pakaian dari kulit binatang (melambangkan Kurban Penebusan sebagai jalan untuk kembali ke dalam Anugerah).

Bahwa di dalam kedua sistem itu ada hukum atau peraturan yang sama, hal itu bukan karena “di dalam Taurat ada anugerah” atau, sebaliknya, “di dalam Anugerah juga masih ada Taurat.” Tidak. Perintah yang sama itu bersumber dari Allah yang sama, tetapi diberikan dalam sistem yang berbeda dan, dengan demikian, berbeda pula motivasi dan konsekuensinya. Ketika, misalnya, dalam konteks Anugerah, kita memilih untuk tidak berdusta, kita bukan sedang menaati Taurat, tetapi kita sedang merespons peraturan Bapa yang mengasihi dan mendidik kita. Kita sedang mengerjakan keselamatan yang sudah diberikan, bukan mengupayakan keselamatan. Sebaliknya, ketika orang-orang di dalam Perjanjian Lama dibenarkan, mereka bukan dibenarkan karena menaati Taurat (tidak ada seorang pun yang menaati Taurat secara sempurna), melainkan karena mereka percaya kepada Allah—“orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Anugerah).

Seperti perbedaan antara cahaya kunang-kunang dan cahaya petir, demikianlah perbedaan antara Taurat dan Anugerah itu! ***

Comments