Seberapa Miskinkah Saya?


Saya merasa diri saya miskin. Saya tidak punya teve layar datar untuk menikmati film-film kesayangan. Kendaraan keluarga saya motor bebek keluaran 1996, yang mesinnya sudah dihuni mesin ketik. Saya belum tentu bisa liburan keluar kota sekeluarga setahun sekali. Honorarium dan royalti tulisan saya biasanya langsung terbagi habis untuk belanja harian, operasional bulanan, biaya sekolah anak-anak, cicilan kontrak rumah, serta sedikit ongkos hiburan.

Lebih jauh lagi, saya merasa lebih miskin dari mereka yang sudah punya mobil dan rumah pribadi. Yang pakaiannya modis. Yang bisa bertamasya ke Eropa, Israel, Bali, atau Danau Toba. Yang bisa ngobrol santai sambil menyeruput kopi 30 ribu secangkir.

Begitulah. Saya merasa diri saya miskin. Dan, saya sakit leher.

Penyebabnya tentu jelas kan? Saya sibuk memelototi apa saja yang belum saya punyai. Saya juga suka mendongak ke atas, memandang cemburu pada mereka yang kelas finansialnya melebihi tataran saya.

Saya tahu itu sikap yang keliru. Saya paham itu gaya hidup yang tidak sehat. Tetapi, bagaimana saya bisa disembuhkan dari penyakit itu? Bagaimana saya bisa punya cara pandang yang bening dan waras?

Tuhan nyatanya tidak pernah kekurangan cara untuk menolong anak-Nya. Kalau Dia dapat membentak seorang nabi bebal dengan membuka mulut seekor keledai, Dia juga dapat meluruskan pandangan mata saya yang juling melalui tempat yang suka saya kunjungi: situs internet. Tentu saja, mudah-mudahan saya tidak sebebal nabi pembelot itu.

Ketika membaca buku Paul Vieria, Jesus Has Left the Building, ada bagian yang membahas hambatan untuk bermurah hati. Seperti ada telunjuk yang menuding ke dada saya: karena sejatinya hambatan kedermawanan itu tidak lain penyakit yang saya biarkan menggerogoti diri saya tadi. Vieria lalu merujuk pada sebuah situs yang diharapkan dapat menolong orang-orang seperti saya untuk memiliki perspektif yang lebih jernih soal kekayaan. Nama situsnya Global Rich List. Di situs itu orang dapat memperkirakan posisinya dalam spektrum dari orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin di dunia. Hoho, tentu saja terpantik keingintahuan saya: seberapa miskin sih sebenarnya saya ini?

Di situs itu Anda dipersilakan mengisi penghasilan tahunan Anda. Saya mengetikkan total penghasilan tahun lalu. Lalu, klik, dan... ting tong!

Jarum penunjuk warna merah bergerak cepat ke kanan dan berhenti di... Hah? Masak sih? Yang bener nih? Enggak salah hitung tuh? Siapa coba yang bakal percaya kalau saya termasuk 14 persen orang terkaya di dunia?

I'm the 837,714,588 richest person on earth!


Discover how rich you are! >>


Situs itu mengaku melakukan kalkulasi berdasarkan data dari Bank Dunia. Kalaulah meleset mestinya tidak parah-parah amat. Maka, jadilah saya termangu-mangu: ternyata saya ini tidak semiskin yang saya bayangkan. Selama ini saya lebih suka mendongak ke atas, membandingkan diri dengan 13 persen orang yang lebih kaya, dan tidak menyadari bahwa masih jauh lebih banyak orang---86 persen penduduk dunia!---yang lebih ”menderita” dari saya! Pantaslah saya memiliki pandangan diri yang sungguh mengenaskan.

Jadi?

Setelah berdoa dan menyelidiki Kitab Suci (ya iyalah, mosok penatua gereja cari ilham dari kitab primbon), membaca-baca buku yang relevan (selain buku Vieria tadi, Kerajaan yang Sungsang-nya Donald B. Kraybill juga sangat membantu), menampi masukan sahabat, dan menimbang-nimbang lagi berbagai pengalaman yang telah saya alami dalam hal keuangan, ditemukanlah obat yang dapat diracik untuk menyembuhkan penyakit melumpuhkan berjudul merasa-diri-miskin tadi. Menurut dokter, dijamin mujarab kalau saya rajin meminumnya hari demi hari. Biar gampang mengingatnya, resep itu diberi label 3M.

Melihat ke atas. Bukan ke arah orang lain yang lebih kaya, melainkan kepada Tuhan yang Mahakaya. Saya kaya bukan karena berlimpah harta; saya kaya semata-mata karena diberi rahmat dan diangkat sebagai anak-Nya. Saya tidak akan miskin selama saya mengandalkan Dia dan hidup menurut kehendak-Nya. Saya kaya, sepanjang saya dapat bernyanyi dengan kesungguhan hati, “Tuhan adalah gembalaku, tak ‘kan kekurangan aku.”

Melihat ke telapak tangan. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki, bukan cengeng menginginkan hal-hal yang saya rasa saya perlukan, tetapi belum ada dalam genggaman saya. Memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang sudah dipercayakan kepada saya, bukan mencemburui dompet tetangga yang kelihatan lebih tebal. Membandingkan diri dan merasa diri tidak seberuntung orang lain dijamin akan menimbulkan gejala loyo, letih, dan lesu. Puas dan bersyukur, sebaliknya, bakal menyalakan pijar-pijar kreativitas.

Melihat ke bawah. Bukan untuk merasa beruntung mentang-mentang lebih kaya dari sebagian orang, melainkan untuk belajar mengembangkan kedermawanan. Kapan coba mau mulai berlatih bermurah hati kalau bukan dari sekarang? Apa mau menunggu sampai berpenghasilan sehari 10 juta seperti Nicholas Saputra?

Dalam buku cerita anak-anak Aiko di Tokyo, Audrey McKim bercerita tentang Aiko yang diejek teman-temannya karena miskin. Dengan sedih ia pulang ke rumah dan bertanya kepada ibunya, apa itu kemiskinan. Ibunya menjawab, ”Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain.” Kemiskinan saya hanya sebesar kepelitan dan keserakahan yang saya biarkan bercokol di dalam hati dan hidup saya. Sepanjang saya ikhlas berbagi secara murah hati dengan sesama yang memerlukan bantuan, bahkan saat kondisi keuangan pas-pasan pun saya tetap kaya. Dengan begitu saya juga menjauhkan diri dari belitan kemiskinan yang lebih parah: miskin hati dan miskin jiwa.

Resep yang gampang-gampang susah, ya? Gampang menghapalkannya, susah menjalankannya. Tapi, daripada leher kian tegang dan hidup makin merana, kenapa tidak mencobanya? ***

Foto: http://media.photobucket.com/image/wealth/tagblog/wealth.jpg