24 tahun lalu: Dekapan emak tak lagi menghangati...

"betul-betul usil sampean, mas purnomo!

24 th lalu aku menulis puisi kayak ini? jadi bengong bacanya... enggak tahu mau ngomong apa.

matur nuwun sanget, mas pur, sudah membongkar harta karun lama ini. dulu aku sempat koleksi hai-nya, tp sekian tahun yg lalu hilang menyedihkan entah ke mana."

Bingung ini komentar apaan? Silakan simak sendiri artikel yang bagiku sangat mengejutkan, plus sangat menyejukkan ini:

Dekapan emak tak lagi menghangati

Gudang telah sesak. Ini berarti saya harus memilih kembali barang mana yang harus dibuang dengan pilu. Setumpuk kertas saya pilah-pilah. Selembar kertas yang telah berumur 24 tahun yang dulu saya robek dari sebuah majalah remaja membuat saya merenung. Sebuah puisi yang panjang, tetapi terasa singkat ketika dinikmati.

Apa yang membuat saya menyimpan kertas puisi ini begitu lama? Cobalah Anda simak sendiri.

SENDIRI

1.
malam yang melayap sepi
menggulung sendiri jauh di hati
kangenku yayi
senyummu merekah api

tembang cengkerik lirih-lirih
di matamu terlihat jirih
rasa gelisah
di dadaku menghampar merah

mari sini
kukecupi rikmamu wangi

2.
membuka kinanti
lantunan angin abadi
mengusap rembulan wajahnya sendu
lubang jauh di langit biru
(di dadaku bersemayam rindu)

gelanggang yang senyap
kehilangan lagu gegap
bocah malam berlari-lari
tak peduli rembulan sunyi
zaman ini
tak untuk bernyanyi-nyanyi

3.
paman doblang sayang
dongengkan timun mas yang hilang
di antara jerit walang

bobok sendiri
dekapan emak tak lagi menghangati

aduh yayi
ke mana pergi
mau kucari

4.
kudengar dercik kali
bunyinya menyentuh hati
mengalir jauh bergulir-gulir
dibawa angin menuju desir

berenanglah mandi di sini
tapi bawa api
di bawah dadap
ada kabut merayap
dinginnya, duh, subuh lindap

5.
kembang-kembang liar
warnanya merah ronanya segar

yayi
selipkan di telinga kembangku ini
kupandang secerah pagi
pipimu merah merona
bibirmu merah kesumba
aku semakin gandrung
mengalahkan mendung

tapi yayi
hati yang sendiri
sepi di garang matahari
senandungku jauh
ditangkap gembala lusuh

kambing-kambing berlari
menerjang kembang kita, yayi

6.
lucunya kamu melengking-lengking
tenggorokan yang garing
musim ini benar-benar kering
lihat ranting-ranting

seekor burung terusik sarangnya
anaknya menciap ditinggal terbang
menggigil dan gemetar bulunya
mari yayi, kita bawa pulang

di rumah ada bulir-bulir padi
sisa makan tadi pagi
burung kecil berkulit tipis
rupanya ia menangis

rupanya ia menangis, yayi
seperti kita, ia pun sendiri

7.
senja cepat memenggal hari
memenggal seleret simponi
aku gigil
ini jiwa jadi kerdil
tak berani menghadap malam
yang datang melayang dan diam
kau pergi aku sendiri
mencoba berdiri

siapakah yayi
jawabnya teka-teki


Kesendirian, kesunyian atau keterkucilan adalah tema populer bagi penyair pemula. Saya tidak tahu pasti sebabnya. Mungkin, ketika seseorang berada dalam kesendirian ia memiliki waktu untuk merenung. Mungkin, ketika seorang merasa terkucil rasa sakitnya membuncah, menggelegak dan membanjiri otaknya dengan percik-percik inspirasi. Mungkin, seorang remaja belum mempunyai keberanian untuk meletakkan perasaannya di atas lidahnya sehingga ia memilih menatanya di atas kertas semua kegalauannya. Apakah kemungkinan-kemungkinan itu tersirat dalam puisi remaja ini?

Ketika kita mengikuti keindahan rangkaian kata ini, satu kesimpulan ada di benak kita. Yaitu, suasana kehidupan di desa dalam mata seorang remaja. Tiba pada bagian ke-7 kita tersentak. Kita salah menduga. Bagian ini merupakan klimaks. Puisi ini ternyata berkisah tentang cinta tersembunyi si penulis kepada “yayi”nya. “Aku gigil / ini jiwa jadi kerdil / tak berani menghadap malam / yang datang melayang dan diam” mengungkapkan bagaimanapun ia tak bisa mengungkapkan perasaannya dalam tutur lisan. Dengan berbekal bagian terakhir ini bila kita mau membaca ulang puisi ini kita akan menemukan keindahannya yang lain, sebuah cinta remaja alami yang tidak terkontaminasi dengan tetek dan bengek. Betulkah demikian? Mari kita baca kembali.

1.
malam yang melayap sepi
menggulung sendiri jauh di hati
kangenku yayi
senyummu merekah api

Penulis puisi ini menggunakan kata “melayap” yang tidak lazim dalam bahasa lisan. KBBI menjelaskan kata itu berarti “terbang rendah sekali” atau “melayang ke suatu arah”. Budaya Jawanya mulai muncul pada kata “yayi” yang lebih tepat diartikan “adinda” ketimbang sekedar seorang adik karena “senyummu merekah api”.

tembang cengkerik lirih-lirih
di matamu terlihat jirih
rasa gelisah
di dadaku menghampar merah

mari sini
kukecupi rikmamu wangi

Orang bukan Jawa bisa menganggap penyair Jawa sombong karena sering menyelipkan kata-kata dari bahasa ibunya yang mengganggu mereka menikmati puisinya. Ada 2 kata Jawa di sini. Jirih, artinya takut. Berikutnya, rikma yang berarti rambut. Dalam bahasa lisan orang Jawa kurang menyukai kata “rambut” karena dalam bahasa Jawa kata ini dikelompokkan dalam bahasa kasar sedangkan “rikma” ada di tingkat halus atau dipergunakan untuk menghormati lawan bicaranya. Dengan mempergunakan kata “rikma” agaknya penulis berharap pembacanya tahu ia mengagungkan rambut sang yayi.

2.
membuka kinanti
lantunan angin abadi
mengusap rembulan wajahnya sendu
lubang jauh di langit biru
(di dadaku bersemayam rindu)

gelanggang yang senyap
kehilangan lagu gegap
bocah malam berlari-lari
tak peduli rembulan sunyi
zaman ini
tak untuk bernyanyi-nyanyi

Kata “kinanti” itulah yang menunjukkan usia si aku dan yayinya. Kinanti merupakan bagian puisi Jawa yang berisi petuah kehidupan. Sebelum Kinanti ada Sinom yang berarti masa muda atau remaja dan berisi anjuran agar manusia menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Kinanti – berasal dari kata “kanthi” atau tuntun – berisi tuntunan bagaimana menjalani kehidupan di dunia. Setelah Kinanti, kita tiba pada bagian puisi yang disebut Asmaradana (cinta) yang menceritakan cinta laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya yang dipercayai merupakan takdir Tuhan.

“Membuka kinanti” menunjukkan si aku mulai belajar apa arti kehidupan ini. Masa muda (Sinom), masa bermain sudah saatnya ditinggalkan. Baginya, gelanggang (tempat bermain) kini terasa senyap karena ia tak lagi bisa menikmati lagunya. Ia tiba pada keyakinan “zaman (saat) ini tidak untuk bernyanyi-nyanyi”.

3.
paman doblang sayang
dongengkan timun mas yang hilang
di antara jerit walang

bobok sendiri
dekapan emak tak lagi menghangati

aduh yayi
ke mana pergi
mau kucari

Saya tidak tahu siapakah Paman Doblang itu. Frase ini pertama kali saya temukan dalam karya WS Rendra. Kata “doblangan” menurut KBBI berarti “bagian dari hasil panen jagung yang diberikan kepada kepala desa”. Mungkin, pegawai kepala desa yang bekerja untuk mengumpulkan “pajak” inilah yang disebut Paman Doblang.
Senandung Kinanti maju merayap. Ia tak lagi merasa hangat tidur dalam dekapan emak. Ia sudah remaja. Ia harus bobok sendiri. Malu dong kalau pagi-pagi emak ribut karena kasurnya basah.

Kembali bagian ini diakhiri dengan lukisan perasaannya kepada “yayi”-nya.

4.
kudengar dercik kali
bunyinya menyentuh hati
mengalir jauh bergulir-gulir
dibawa angin menuju desir

berenanglah mandi di sini
tapi bawa api
di bawah dadap
ada kabut merayap
dinginnya, duh, subuh lindap

Dercik? Kata ini tidak saya temukan di KBBI. Mungkin penulisnya menciptakan kata baru yang berasal dari penggabungan kata “derap” dan “gemericik”. Mudah-mudahan ia mau menjelaskan untuk kita.

Mandi di kali pegunungan nikmatnya tak bisa diganti dengan teknologi mandi yang paling mutahir. Tetapi di bagian kedua ini kita melihat kanakalan penulis. Ia mandi di kali ketika subuh dan kabut masih melayapi bumi. Ia mengundang yayinya mandi bersama. Tetapi, “bawalah api di bawah dadap (=perisai berbentuk bulat yang terbuat dari kulit atau rotan)”. Api asmarakah yang ia maksudkan, yang bisa menggantikan dekapan emak yang tak lagi hangat? Atau, api dalam arti yang sebenarnya karena subuh masih lindap (=samar, redup)?

5.
kembang-kembang liar
warnanya merah ronanya segar

yayi
selipkan di telinga kembangku ini
kupandang secerah pagi
pipimu merah merona
bibirmu merah kesumba
aku semakin gandrung
mengalahkan mendung

tapi yayi
hati yang sendiri
sepi di garang matahari
senandungku jauh
ditangkap gembala lusuh

kambing-kambing berlari
menerjang kembang kita, yayi

Sejenak ia melakukan kembara di alam Asmaradana lalu menarik dirinya kembali ke dunianya, “kambing-kambing berlari / menerjang kembang kita, yayi.” Sudah cukup dewasakah aku menikmati Asmaradana? Sanggupkah aku menghadapi kambing-kambing yang merusak kembang (cinta) kita, adinda?

Sayup saya mendengar gema teriakan purba, “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!” (Kidung Agung 2:15). Dari catatan purba inikah ia menemukan cara mengungkapkan cinta rahasianya kepada yayi? Dari frase “Paman Doblang” dan caranya menata puisi saya yakin ia telah membaca banyak buku-buku puisi, juga buku puisi dalam Alkitab.

6.
lucunya kamu melengking-lengking
tenggorokan yang garing
musim ini benar-benar kering
lihat ranting-ranting

seekor burung terusik sarangnya
anaknya menciap ditinggal terbang
menggigil dan gemetar bulunya
mari yayi, kita bawa pulang

di rumah ada bulir-bulir padi
sisa makan tadi pagi
burung kecil berkulit tipis
rupanya ia menangis

rupanya ia menangis, yayi
seperti kita, ia pun sendiri

Kegalauannya makin diperjelas dalam bagian ini. Ia menyadari satu kakinya masih berpijak di dunia anak-anak, “lucunya kamu melengking-lengking (dengan) tenggorokan yang garing (=kering).” Kegalauan seorang remaja; kegalauan karena mendadak ia tidak mengenal dirinya sendiri; kegalauan yang tidak pernah mendapat perhatian orangtuanya;kegalauan yang tak pernah terucap, seperti yang digambarkannya dalam kalimat “rupanya ia menangis, yayi; seperti kita, ia pun sendiri.”

7.
senja cepat memenggal hari
memenggal seleret simponi
aku gigil
ini jiwa jadi kerdil
tak berani menghadap malam
yang datang melayang dan diam
kau pergi aku sendiri
mencoba berdiri

siapakah yayi
jawabnya teka-teki

Bagian penutup merupakan klimaks. Kepergian yayi membuat ia tak lagi berani menghadapi ketidakpastian yang terus datang dan membenamkannya dalam kegelapan. Burung kecil ini agaknya masih berkulit tipis, menggigil dan gemetaran dalam sunyi yang kental. Rupanya ia menangis ketika menoreh kata-kata penutup ini. Namun ia mencoba berdiri untuk mencari jawab sebuah teka-teki. Teka-teki kehidupan.

– o –

Sekarang ia bersekolah di sebuah SMA di kota kabupaten. Seharusnya ia senang karena tidak setiap anak di desanya yang lulus SMP mampu bersekolah di kota kabupaten. Tetapi ia tak lagi bersekolah bersama yayinya yang dikirim orangtuanya ke kota lain entah di mana yang jauh dari dusun kelahirannya. Ia tak mendapat ganti diri yayi di sekolah yang baru. Teman-teman kelasnya enggan berakrab-akrab dengan anak dusun seperti dia.

Setiap pagi ia berangkat ke sekolah mempergunakan mobil angkutan desa. Pucuk-pucuk pinus di kiri kanan jalan yang meliuk-liuk menggumuli kabut tersisa tak lagi indah di matanya. Gemerlap titik-titik embun di ujung-ujung rantingnya yang memantulkan sinar pagi mentari tak lagi memercikkan kehangatan di hatinya. Waktu terasa lambat berjalan. Namun dalam udara yang menggigil ia masih berusaha menghirup wangi rikma yayinya.

Pulang sekolah ia melihat rajangan daun tembakau dijemur sepanjang tepi jalan menuju dusunnya. Dulu ketika yayi masih tinggal dekatnya, daun-daun yang terpanggang panas matahari itu menguapkan bau harum yang baginya bagai aroma opor ayam. Tetapi sekarang hamparan daun menghitam itu bagai tumpukan tahi kerbau di atas aspal jalan.

Seminggu sekali usai sekolah sebelum mencari mobil angkutan umum ia masuk ke sebuah kios yang menjual koran dan berbagai majalah. Selalu saja ia membuka-buka sebuah majalah remaja. Sepi yang menggumpal dalam jiwanya ia cairkan menjadi tinta dan ditorehkan dalam kata-kata di atas kertas. Berbait-bait puisi curahan hati diam-diam ia kirimkan ke kantor sebuah majalah remaja. Tetapi selalu, selalu, selalu saja ia kecewa. Ia tak menemukan puisinya dalam majalah itu. Sepi merayapi dadanya. Betapa perihnya.

Suatu siang mendadak saja tubuhnya gemetaran ketika membuka majalah remaja itu. Gelanggang tak lagi lengang. Jantungnya menderap lagu gegap. Semangatnya menari di laut ektasi. Bait-bait puisinya berbaris rapat dalam satu halaman.

Duh yayi, adakah kau juga sedang membaca puisi ini? Yayi, apakah kau melengking-lengking menyambut senandung jiwa ini? Ataukah kau senyap menggigil terpagar seleret simponi sepi ini? Betul yayi, ini aku, bukan orang lain. Ini aku, yayi. Lihatlah! Namaku terpajang lengkap di situ:

“Arie Saptaji Wahyu Widodo”

– o –

Lembar kertas yang menguning itu adalah halaman ke-10 Majalah Hai no.27/X periode 8-14 Juli 1986. Di bawahnya tertera di mana dan kapan puisi itu ditulis. “Temanggung, 04101985”, tepat 24 tahun yang silam. Saya menyatukan dengan lembar-lembar lain yang tidak saya buang. Siapa tahu penulisnya tak mempunyai arsipnya sehingga menginginkannya untuk dijadikan a memorial of a precious moment. Gratis kok. Hitung-hitung – seperti provokasi Bu Lurah SSSo (Sabda Space Solo) – kado ulang tahun tertunda.

(selesai)
Oleh Purnomo