Di Balik yang Biasa-Biasa Saja



Kita menginginkan kehidupan yang luar biasa. Kita merindukan kehidupan yang signifikan. Kita ingin mengubah kota. Kita ingin terlibat dalam transformasi bangsa. Kita berhasrat menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik.

Dengan kata lain, kita jengah dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.

Dan, kejengahan itu tampaknya beralasan. Bukankah Yesus menjanjikan kehidupan yang berkelimpahan? Bukankah kita adalah ”bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,” yang dipanggil untuk ”memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia”?

Hanya masalahnya, dalam keseharian, kita lebih banyak dikepung oleh hal-hal yang tampaknya biasa-biasa saja.

Tidak banyak dari kita yang berkesempatan untuk berkhotbah di depan ribuan orang. Tidak banyak yang menjadi misionaris yang secara intensif melayani dan mengubah suatu suku bangsa. Tidak banyak yang duduk dalam pemerintahan, yang bisa mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang. Tidak banyak yang menjadi selebritas yang dielu-elukan penggemar.

Kehidupan kita begitu biasa. Tidak banyak ledakan dramatis. Tidak heroik. Dan, kalau mau lebih jujur, membosankan.

Penulis seperti saya ini, misalnya. Apa indahnya memelototi komputer, bergumul dengan kata, kalimat, dan paragraf di layarnya? Apa hebatnya bergulat dengan koneksi internet yang lambat, dengan laptop yang suka tiba-tiba mati sendiri? Pekerjaan sampingan saya—ternak teri “anter anak anter istri”—juga tidak mengundang rasa kagum. Apa coba signifikansi pekerjaan seperti itu? Di bagian mana “berlimpahnya”?

Bisa jadi itu memang biasa-biasa saja.

Atau, kemungkinan lain, saya mencari signifikansi dan kelimpahan di tempat yang salah.

Saya menanti-nanti kejadian-kejadian yang dramatis. Saya menunggu-nunggu kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan heroik. Dan, hal-hal hebat itu tidak kunjung datang.

Dan saya merasa terpaksa harus puas hidup biasa-biasa saja.

Bisa jadi saya keliru besar. Saya dibutakan. Situasi dan kondisi yang biasa-biasa itu seperti kabut tebal yang menutupi mata saya. Artikel Mark Galli, Insignificant is Beautiful, mengoreksi cara pandang saya. “Pencarian akan signifikansi, khususnya bila berkaitan dengan mengubah dunia ini, dapat membutakan kita terhadap aktivitas keseharian, tugas remeh, dan pekerjaan kotor yang merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup dalam pemuridan,” tulisnya.

Pencarian akan kehidupan yang signifikan dan berkelimpahan tampaknya justru harus dilakukan dengan menyibakkan belantara keseharian yang biasa-biasa itu. Tidak perlu menunggu peristiwa yang dramatis. Tidak perlu mengharapkan kesempatan yang heroik. ”Kesempatan besar untuk melayani Tuhan jarang datang, tetapi kesempatan-kesempatan kecil ada di sekitar kita setiap hari,” kata St. Francis de Sales.

Bagaimana kita melakukannya? Rasul Paulus memberikan saran yang mengejutkan, ”Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Makan? Minum? Kok bukan berkhotbah? Atau memberitakan Injil ke bangsa lain? Atau mendirikan gedung gereja yang megah?

Ah, justru di situlah kuncinya!

Justru dengan memberikan sampel yang tampak sepele—kegiatan yang begitu biasa, begitu sehari-hari—Paulus justru mencakup perkara yang seluas-luasnya. Dan, tidak bakal ada yang terluput.

Kalau makan dan minum saja dapat dilakukan untuk kemuliaan Tuhan—untuk menjadi sesuatu yang signifikan dan berkelimpahan—maka kita tidak perlu menunggu kesempatan besar datang. Kita bisa langsung memulainya dari hal-hal yang biasa-biasa saja. Ibu yang mengganti popok bayinya. Bapak yang mengantar anaknya menambal ban sepeda. Guru yang dengan sabar mengajar murid yang bandel. Merawat kebun. Menyampaikan usul dalam rapat. Membersihkan toilet. Apa saja. Segala sesuatu bisa kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan.

Melakukan sesuatu untuk kemuliaan Allah—itulah signifikansi, itulah denyut kehidupan yang berkelimpahan.

Untuk kemuliaan Allah—apa artinya?

Ketika kita ingin kehidupan kita signifikan, kita ingin ada yang menyaksikan kehidupan kita. Kita ingin ada yang menepuk pundak kita, meneguhkan kita, membesarkan hati kita. ”Kamu berharga. Kehidupanmu berarti.”

Kita memerlukan saksi. Kita memerlukan penonton.

Melakukan sesuatu untuk kemuliaan Allah berarti menyadari bahwa Saksi dan Penonton Utama kita tidak lain ialah Allah sendiri.

Dia yang akan bersorak bagi kita. Mata-Nya akan berbinar. Dia akan bertepuk tangan. Dia akan tertawa. Atau, menangis. Atau, menggeleng-gelengkan kepala. Mengepalkan tangan gemas. Atau, mengangkat kita untuk bangkit kembali.

Daud menyadari benar hal itu, dan ia bermazmur:

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN (Mazmur 139:1-4).

Dan, Dialah yang menerakan cap ”Signifikan” pada aktivitas kita. Dialah yang mengembuskan napas ”Kelimpahan” dalam hal-hal yang kita lakukan.

Ketika kita melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah, tidak ada lagi hal-hal yang biasa-biasa saja. ***