Berganti Peran Tanpa Berganti Kelamin


Pernah mendengar cerita tentang doa tuntutan emansipasi seorang suami, yang dikabulkan dan mengubah hidupnya secara ajaib, berikut ini?

Seorang pria mengeluh, “Ya Tuhan, berilah aku kemurahan. Aku harus bekerja keras, sementara istriku bisa tinggal di rumah. Aku bersedia memberikan segalanya asalkan Engkau mau mengabulkan satu permintaanku: Ubahlah aku menjadi istriku. Ia enak-enakan saja di rumah. Aku ingin memberinya pelajaran, ketapa kerasnya kehidupan kaum pria itu.

Tuhan mendengarkan, berbelas kasihan, dan mengabulkan permintaan pria itu.

Keesokan paginya, “perempuan baru” itu bangun pagi-pagi benar, menyiapkan kotak makan siang, menyediakan sarapan, membangunkan anak-anak, memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, mengeluarkan daging dari kulkas, mengantar anak-anak ke sekolah, dalam perjalanan pulang singgah di pompa bensin, menguangkan cek, membayar rekening listrik dan telepon, mengambil pakaian di tukang cuci, dan kemudian segera pergi ke pasar.

Sekarang sudah pukul 13.00. Ia merapikan tempat tidur, mengeluarkan pakaian dari mesin cuci dan memasukkan pakaian kotor lain. Ia menyedot debu di seluruh rumah, menanak nasi, pergi menjemput anak-anak di sekolah, dan bertengkar dengan anak-anak.

Sesampainya di rumah, ia menyiapkan makan siang anak-anak, mencuci piring kotor, menjemur kain lap di atas bangku karena hujan turun, membantu anak-anak mengerjakan PR, menonton teve sambil menyeterika baju, memandikan anak-anak, menyiapkan makan malam, menidurkan anak-anak.

Pada pukul 21.00 ia sudah begitu letih dan ingin segera pergi tidur. Namun, selesai urusan dengan anak-anak, masih ada lagi sang “suami” yang juga perlu diperhatikan. Hm, betul-betul hari yang menguras tenaga!

Keesokan paginya saat minum kopi, ia kembali berdoa kepada Tuhan, “Ya, Tuhan, bagaimana bisa aku sampai meminta Engkau mengabulkan keinginanku? Aku tak sanggup lagi menanggungnya. Kumohon Kauubah aku kembali. Tolonglah, ya Tuhan, tolong.”

Kemudian ia mendengar suara Tuhan menjawab, kata-Nya, “Anakku yang baik. Tentu saja Aku akan mengubahmu kembali. Namun, ada satu masalah kecil. Kamu harus menunggu selama sembilan bulan karena semalam kamu hamil.”

Ajaib sekali, bukan? Nasihat bagi para suami: hati-hati ya kalau berdoa...

Saya pernah mengalami persitiwa serupa yang, syukurlah, tidak seheboh humor di atas. Saat itu istri saya hendak memulai usaha konfeksi kecil-kecilan. Untuk kulakan bahan secara lebih murah, ia berbelanja ke Solo, sekitar satu jam perjalanan dengan kereta api dari Yogya. Nah, selama ia pergi, saya kebagian tugas mengurus dua anak kami seharian. Mulai dari menemani bermain, membacakan cerita menjelang tidur siang, menyuapi sampai memandikan pada sore hari. Beres. Tugas berjalan dengan baik: anak-anak tidak banyak rewel, dan sudah manis rapi saat istri tiba di rumah.

Hal serupa juga saya alami ketika istri saya dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Mau tak mau saya harus menyingsingkan lengan baju menjadi bapak rumah tangga. Saya, yang biasanya masih meringkuk di kasur ketika anak-anak berpamitan ke sekolah, terpaksa bangun mendahului mereka: menanak nasi, menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaian sekolah, menggoreng telur untuk sarapan---mengerjakan tugas-tugas yang biasanya sudah dibereskan istri saya pagi demi pagi.

Pengalaman semacam itu memberi saya kesempatan untuk mencicipi bagaimana repotnya istri saya selama ini mengasuh dua malaikat (kalau lagi tidur nyenyak!) cilik itu. Selanjutnya, saya jadi lebih memahami dan menghargai dukungan istri tercinta, penolong saya yang sepadan. Saya belajar untuk melihat bahwa ia melakukannya bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, melainkan berangkat dari kecintaannya kepada suami dan keluarganya.

Dan, saya bersyukur bisa mempelajari hal itu tanpa harus berganti kelamin terlebih dahulu. ***

---Dari buku It’s a Wonderful Life (Yogyakarta: Gloria Graffa, 2010)

http://bukugloria.blogspot.com/2010/05/its-really-really-wonderful-life.html