Aku, Buku, dan Tulis-Menulis

Hanya sebuah pujian.

Bukan petunjuk yang terperinci dan runut. Bukan pelatihan yang telaten dan berkesinambungan.

Hanya sebuah pujian pendek.

Namun betapa bermaknanya. Betapa menghangatkan hati. Sebuah jendela seperti terbuka. Sebuah dunia baru mengundang untuk dijelajahi. Seperti mencium harum rumput di padang terbuka. Di situlah aku seakan menemukan jalan hidup.

Waktu itu kelas 3 SD. Pada jam pelajaran Bahasa Indonesia kami diminta mengarang bebas. Aku menulis tentang sepeda. Di rumah kami punya sepeda lanang. Aku belum bisa mengendarainya. Sepeda itu disandarkan di dinding rumah. Aku dan kakakku suka menaikinya, berpura-pura keliling kampung. Kutulis keinginanku memiliki sepeda yang bisa kukendarai. Pendek saja. Seingatku hanya dua paragraf.

Beberapa hari kemudian lembar-lembar karangan dibagikan.

“Wah, Ar, karanganmu kok bagus!” kata Bu Siti Barokah sambil meletakkan kertas karanganku di meja.

Hatiku mekar.

Pujian itu mengantarku menekuni dunia tulis-menulis.

Sejak saat itu pelajaran mengarang seperti sebuah tamasya bagiku. Bukan tugas yang membebani, melainkan aktivitas yang menyenangkan. Kutunggu-tunggu malah. Di luar tugas mengarang dari sekolah, aku mulai menulis buku harian, juga mencoba-coba membuat puisi dan cerpen.

Dukungan berikutnya muncul dari bapakku. Ia seorang purnawirawan ABRI, dan saat itu aktif sebagai sekretaris Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri). Untuk mendukung aktivitasnya itu, ia memiliki sebuah mesin ketik. Nah, mungkin karena melihatku bersemangat menulis, ia mengizinkan aku memakai mesin ketik itu jika sedang menganggur. Aku pun mulai asyik berketak-ketik, sampai cukup lancar mengetik dengan sebelas jari (hehe, bukan sepuluh jari, tapi hanya mengandalkan kelincahan telunjuk kanan dan kiri).

Aku juga mulai mencoba mengirimkan tulisanku ke majalah dan koran, seperti Bobo, Ananda, dan Hai. Aku bahkan nekat mengirimkan cerpen ke Kompas. Bukan cerita anak, tetapi cerpen yang kumaksudkan agar mudah-mudahan dimuat di rubrik sastra koran terbesar itu. Tentu saja tidak ada satu pun yang berhasil dimuat.

Tulisan pertamaku, sebuah cerpen, dimuat di majalah anak-anak Ananda. Judulnya “Olah Raga Itu Penting.” Aku sudah tidak ingat detail ceritanya, tapi aku masih ingat komentar bapakku, “Katanya olah raga itu penting, tapi kau sendiri tak pernah olah raga.”

Iya. Aku memang kurang suka berolahraga. Padahal, di samping rumah ada lapangan bulutangkis. Kalau main aku lebih sering kalah, jadinya malas.

Aku lebih suka meringkuk membaca buku. Sejak TK bapak melanggankan Donal Bebek, kemudian ganti-berganti dengan Bobo. Pernah suatu kali aku ingin berlangganan susu segar.

“Ya, sudah,” kata bapak, “sekarang milih, mau langganan susu segar atau majalah. Tidak bisa kalau dua-duanya.”

Untuk beberapa lama aku minum susu segar setiap hari. Namun, lama-kelamaan bosan juga. Akhirnya aku kembali meminta dilanggankan Bobo. Apalagi saat itu sedang dimuat serial “Deni Manusia Ikan.”

Selain membaca Bobo, aku ikut membaca Kompas, koran langganan bapak, dan majalah Intisari. Ketika kakakku, Mbak Nunuk, berlangganan Femina, aku juga membacanya. Bukan hanya rubrik anak-anak, tetapi rubrik apa saja yang bisa kubaca dan kupahami.

Kebiasaan membaca itu tak ayal semakin menyalakan kesenanganku untuk menulis. Membaca tulisan orang lain memberikan gambaran kira-kira tulisan yang baik itu seperti apa. Namun, membaca itu sendiri sudah sangat mengasyikkan. Membawaku ke dunia-dunia yang mungkin tak bakal kukunjungi sendiri. Mengajakku berkenalan dengan berbagai tokoh—nyata dan fiktif—tanpa aku perlu beranjak dari kamarku.

Sungguh mengasyikkan, sampai lupa aktivitas lain kalau sudah tenggelam dalam bacaan. Bapak kadang menegur, “Kowe ki yen wis moco njur lali sakkabehane. Engko tak obong wae buku-bukumu.” Tentu saja bapak tidak pernah melaksanakan ancamannya itu.

Selain bahan bacaan di rumah, aku memperoleh bacaan dari perpustakaan sekolah dan meminjam kepada tetangga. Aku sering ke rumah Yu Nok, yang punya satu bufet penuh buku bacaan. Aku bisa seharian di situ sejak pulang sekolah sampai waktu mandi sore, membuka buku demi buku. Kalau ada buku yang belum selesai kubaca, kupinjam dan kubawa pulang.

Aku juga akrab dengan Mbak Sri. Ia punya kakak yang kerja di Jakarta, dan kerap mengirimkan buku dan komik. Darinya aku mengenal Album Cerita Ternama, Tin Tin, dan cerita-cerita klasik terjemahan terbitan Gramedia.

Begitulah, selain buku di rumah (hampir seluruh keluarga kami suka membaca), aku mendapat catu bacaan dai sekolah, teman, dan tetangga. Tiada hari tanpa bacaan. Kalaupun sedang tidak ada buku baru, tak bosan-bosan aku membaca ulang buku-buku kesukaanku.

Aku pun mencoba teratur menulis. Aku punya buku khusus yang berisi puisi-puisiku. Kubayangkan kelak dapat diterbitkan sebagai buku. Saat itu menerbitkan buku terasa sebagai impian yang sangat muluk, hanya mungkin bagi pengarang-pengarang kaliber hebat.

Setelah pemuatan di Ananda itu karya-karyaku yang lain mulai menyusul dimuat di media. Ada puisi, ada cerpen, ada artikel, dan ada pula wayang mbeling—cerita wayang yang dibumbui dengan situasi-kondisi kontemporer, diramu dalam gaya humor, dijadikan salah satu rubrik andalan mingguan Semarang, Minggu Ini.

Campuran dari itu semualah—pujian seorang guru, dukungan seorang bapak, komunitas yang memungkinkan aku mengeksplorasi berbagai jenis bacaan—sejak kecil menumbuhkan keinginanku untuk menjadi penulis. Kubayangkan aku akan menghasilkan puluhan—mungkin malah ratusan seperti Enid Blyton—dengan berbagai nama samaran. Kulamunkan diriku memiliki rumah dengan perpustakaan dengan koleksi lengkap. Kuangankan diriku bertemu dan bergaul dengan penulis-penulis yang kukagumi…

Begitulah. Aku terus menulis dan menulis. Di buku harian. Sesekali ada karyaku terbit di media. Kadang kuberikan puisi sebagai kado bagi teman.

Dan, lebih dari dua puluh tahun setelah pujian dari Bu Siti Barokah itu, tepatnya pada 2002, barulah buku pertamaku terbit. Kumpulan artikel yang pernah dimuat di koran dan majalah. Sampai sekarang aku telah menerbitkan 26 judul buku. Sebuah novel remajaku, Warrior: Sepatu untuk Sahabat, yang berlatar suasana Ngadirejo pada tahun 1980-an, diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan diterbitkan di Malaysia. Selain menulis, aku juga aktif menerjemahkan dan menyunting. Tak pernah jauh-jauh dari tulis-menulis pokoknya. Tinggal impianku punya perpustakaan lengkap yang masih dalam angan. Selebihnya, aku akan terus menulis.

Ah, pujian Bu Siti Barokah benar-benar merupakan berkah dalam perjalanan hidupku. ***