Nenek Brand yang Keras Kepala

Evelyn Brand masih belia ketika merasakan panggilan Tuhan untuk pergi ke India. Sebagai seorang perempuan lajang pada 1909, panggilan semacam itu benar-benar menuntut iman setinggi gunung dan kebulatan hati yang tak kalah besarnya. Ia menikah dengan pemuda bernama Jessie dan bersama-sama mereka merintis pelayanan bagi masyarakat di pedesaan India, menyediakan pendidikan dan sarana kesehatan, serta membangun jalan untuk mengurangi keterpencilan kaum miskin.
            Mereka melewati tujuh tahun awal pelayanan tanpa melihat satu orang pun bertobat. Namun suatu ketika seorang imam dari agama suku setempat terserang demam dan sakit sampai sekarat. Tidak ada seorang pun yang mau mendekatinya, tetapi Evelyn dan Jessie merawatnya. Imam itu berkata, “Allah ini, Yesus, pastilah Allah yang sejati karena hanya Jessie dan Evelyn yang mau merawatku saat aku sekarat.”
            Imam itu menyerahkan anak-anaknya kepada mereka setelah ia meninggal—dan hal itu menjadi titik balik rohani di desa itu. Orang mulai memeriksa kehidupan dan pengajaran Yesus, dan jumlah orang yang mengikuti-Nya makin meningkat. Evelyn dan Jessie melayani bersama-sama secara produktif selama tiga belas tahun, kemudian Jessie meninggal. Pada saat itu, Evelyn sudah berusia lima puluh tahun, dan setiap orang mengharapkannya pulang kembali ke Inggris. Tetapi ia tidak mau pulang. Ia masih gigih seperti Kaleb.
            Ia dikenal luas dan dicintai banyak orang di kawasan itu, dan orang menyebutnya “Nenek Brand.” Ia masih tinggal di sana selama dua puluh tahun lagi bersama dewan misi yang ia layani dengan setia. Anaknya, Paul, seorang dokter bedah dan penulis buku terkenal bersama Philip Yancey, datang mengunjunginya ketika ia berusia 70 tahun. Tentang ibunya itu, Paul berkata, “Begini caranya kita bertambah tua. Biarkan segala sesuatu yang lain berguguran sampai orang-orang di sekitarnya hanya melihat kasih (yang ada di dalam dirimu).”
            Saat itu, Nenek Brand menerima pesan dari kantor misi di Inggris bahwa mereka tidak dapat memperbarui izinnya untuk melayani lagi selama lima tahun. Mereka merasa ia sudah terlalu tua.
            Tetapi Nenek Brand keras kepala.
            Pesta diselenggarakan untuk merayakan pelayanannya di India, dan setiap orang mengucapkan selamat kepadanya. “Semoga perjalanan pulang berlangsung nyaman,” kata mereka semua.
            “Saya menyimpan sebuah rahasia kecil,” jawabnya. “Saya tidak akan pulang. Saya masih akan tinggal di India.”
            Evelyn memiliki gubuk kecil yang dibangun dengan beberapa bahan yang diselundupkannya. Lalu ia membeli kuda poni, dan perempuan berusia tujuh puluhan ini pun berkuda menyusuri daerah pegunungan, pergi dari desa ke desa untuk bercerita tentang Yesus kepada orang-orang di sana.
            Ia melakukan hal itu sendirian selama lima tahun. Suatu hari, dalam usia 75 tahun, ia terjatuh dan pinggulnya patah. Anaknya, Paul, berkata, “Mom, engkau sudah melayani dengan luar biasa. Tuhan memakaimu. Sekarang sudah waktunya untuk berhenti. Kembalilah ke Inggris.”
            “Aku tidak mau pulang.”
            Ia menghabiskan delapan belas tahun lagi untuk bepergian dari desa ke desa dengan berkuda. Terjatuh, gegar otak, penyakit, dan penuaan tidak mampu menghentikannya.
            Akhirnya, ketika ia mencapai usia 93 tahun, ia tidak dapat menunggang kuda lagi. Maka kaum pria di desa-desa itu—karena mereka sangat mencintai Nenek Brand—menaikkannya ke atas tandu dan memanggulnya dari desa ke desa. Ia masih hidup dua tahun lagi dan memberikan tahun-tahun itu sebagai kado, dengan dipanggul di atas tandu, untuk menolong kaum yang paling miskin di daerah itu. Ia meninggal dunia, namun ia tidak pernah pensiun. Ia hanya lulus ujian.
            Jika Nenek Brand memiliki logo, logonya tidak akan mengacu pada kesuksesan, kepintaran, kesenangan, atau kekuasaan. Logonya tentulah tandu yang dipakai untuk memanggulnya naik-turun gunung untuk mencurahkan akhir hidupnya sebagai persembahan kasih. *** (Sumber: John Ortberg, The Me I Want to Be)