490 Kali

Mengapa Yesus memerintahkan Petrus—dan kita—untuk mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali?

Apakah kita harus mengampuni seseorang meskipun ia melakukan 490 jenis dosa? Mungkin saja. Hanya saja, sejauh pengalaman saya, sangat jarang kita menjumpai orang yang dosanya begitu beraneka ragam.

Yang lebih sering tersua adalah seseorang yang melakukan dosa yang itu-itu juga. Berulang-ulang. Anton cukup kuat untuk menghadapi godaan berkorupsi, tetapi ia bertekuk lutut di hadapan pornografi. Ia tak bakal berminat menggelapkan uang, tetapi ia keranjingan bergelap-gelap menikmati bacaan, gambar, dan film tak senonoh. Tentunya sudah ratusan kali—atau malah ribuan kali—sejak ia menemukan stensilan Annie Arrow di antara tumpukan buku kakaknya.

Atau, seseorang berhadapan dengan satu dosa yang terus menghantui. Linayati nyaris digagahi pamannya sendiri. Untunglah ia terbangun dan menepiskan tangan si paman yang kurang ajar. Hanya, kebencian menukik jauh lebih dalam dari yang diduganya. Tak pernah ia menceritakannya pada siapa pun. Tak pernah pula ia melupakannya. Tak bosan-bosan muncul sebagai ingatan yang pahit. Berkali-kali menyeruak dalam mimpi buruknya.

Bagaimana aku dapat diampuni? Bagaimana aku dapat mengampuni?

Apakah 490 adalah sederetan 1, 2, 3... yang berakhir pada titik 490? Apakah begitu mencapai titik akhir, maka berakhirlah segalanya—bahwa kita sudah melewati batas toleransi, baik untuk diampuni maupun untuk mengampuni? Ataukah, angka itu mencoba memberikan isyarat yang lain?

Kemungkinan seperti itu.

Angka 490 tampaknya mengisyaratkan, pada si pelaku pelanggaran: Bahwa pelanggaran yang ia anggap remeh sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh remeh. Siapa mengira sepercik api sanggup menggosongkan seantero hutan? Siapa menduga virus yang renik mampu menggerogoti tubuh yang perkasa?

Angka 490 juga mencoba mengingatkan, pada si penderita pelanggaran: Bahwa mengampuni—dan melupakan—pelanggaran itu memang tidak segampang membalikkan tangan. Rumit. Pelik. Perih. Pada titik-titik tertentu kita diseret sampai ke tubir kemustahilan. Tidak mungkin. Palung hati kita yang paling dalam sekalipun hanya menggelegakkan kepahitan yang berbau belerang.

Tidak mungkin. Ya. Tidak mungkin—seandainya Yesus hanya menyodorkan angka dan perintah. Yesus—Manusia yang paling terluka oleh dosa kita—tidak berhenti di situ.



Dan karena Dia terus melangkah, kemustahilan itu lantas berbalik menjadi sebuah tantangan yang mengguncangkan. Ketika Dia mempersembahkan tubuh-Nya untuk dipecahkan, dan darah-Nya untuk dicurahkan, untuk mengampuni—dan menghapuskan—pelanggaran kita, Dia melampaui angka 490 itu.

Dia tidak mengampuni kita 490 kali. Dia mengampuni kita satu kali untuk selama-lamanya.

“Sebagaimana Aku mengampuni engkau, maukah engkau mengampuni orang yang bersalah kepadamu?”

Dia menawarkan untuk membuang belerang dendam itu, dan menggantinya dengan minyak narwastu pengampunan.

Maukah kita? ***