Di Depan Keindahan


Dalam sebuah lomba paduan suara tujuh belas Agustusan, pembaca acara mengingatkan para penonton agar bertepuk tangan hanya sebelum dan sesudah penampilan masing-masing peserta.

Tampillah salah satu peserta. Para penyanyi pria mengenakan baju daerah berwarna gelap seragam, sedangkan para penyanyi wanita mengenakan baju daerah seragam namun dalam tiga warna yang tampak elok saat mereka berjajar di panggung. Penonton bertepuk tangan. Kelompok paduan suara mengawali penampilannya dengan gumaman mengalun pelan, disusul dengan sebuah lagu lembut, pelan mendaki sampai klimaks, dan langsung disambung dengan lagu cepat berirama rancak. Naik, turun, syahdu, meliuk, dalam harmoni suara yang membuai. Saat rangkaian nada mereda, mendadak dari kedua sisi panggung muncul sepasang penabuh genderang, melangkah pelan dan bertemu di tengah, sembari memainkan ketukan-ketukan ritmis, dan salah satu penyanyi wanita melenggok mengentak mengikuti ketukan. Kejutan rupanya belum berakhir di situ. Seorang penyanyi pria menyeruak maju dan nge-rap....

Sepanjang penampilan itu tak henti-hentinya penonton bertepuk tangan dan bersorak. Mengabaikan anjuran pembawa acara. Toh memang ini bukan penampilan simfoni musik klasik yang baku dan ketat.

Menyaksikan keindahan, sering memang tak cukup kita hanya menganga takjub. Kita ingin bertepuk tangan. Kita terdorong untuk berteriak. Kalau perlu bersorak. Dan melonjak-lonjak.

Kalau tidak, kita bakal meledak.

“Kalau kamu bungkam, batu-batu itu akan berteriak,” kata Sang Keindahan.***