Kontrol Itu Sebuah Ilusi

Control is an illusion. Kontrol itu sebuah ilusi.

Saya tersentak ketika membaca kalimat itu dalam buku Skye Jethani, With: Reimagining the Way You Relate to God. Beberapa minggu belakangan, khotbah yang saya dengar menekankan pentingnya “mengontrol lingkungan rohani” untuk mendukung pertumbuhan rohani. Seperti pada rumah kaca, dengan lingkungan yang terkontrol, orang dapat menumbuhkan kebun tropis di daerah bermusim empat. Begitu juga dengan kehidupan rohani kita. Jika kita mengontrol kehidupan rohani dengan prinsip-prinsip alkitabiah, tak ayal kita akan bertumbuh secara sehat. Seperti pohon di Mazmur 1, kita akan berbuah pada musimnya, dan apa saja yang kita lakukan pasti akan berhasil.

Semula saya manggut-manggut, rasanya tak ada masalah dengan jalan pemikiran itu. Namun, kalimat itu memunculkan pertanyaan: Benarkah kita memegang control sebesar itu atas hidup kita? Jethani mencucukkan jarum pada balon pengharapan yang menggelembung itu.

Jethani memaparkan bahwa berbagai hasrat untuk mengontrol hanyalah variasi dari pemberontakan kita terhadap Allah. Allah menawarkan hubungan persekutuan yang penuh kasih dengan manusia, namun, dimulai sejak peristiwa di Taman Eden, manusia memilih untuk mengambil alih kontrol atas hidupnya. Parahnya, kudeta ini kerap terselubungi dalam bentuk ibadah. Alih-alih menjadikan hubungan dengan Allah sebagai tujuan utama, manusia mengembangkan sejumlah postur ibadah yang sejatinya bermaksud menggunakan Allah sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadinya. Jethani menyebutnya sebagai hidup di bawah Allah, hidup di atas Allah, hidup dari Allah, dan hidup untuk Allah.

Hidup di bawah Allah berusaha mengontrol dunia dengan memastikan berkat Allah melalui ritual dan/atau moralitas. Apa lagi cara yang lebih baik untuk mengontrol dunia selain mengontrol Allah yang menciptakannya? Hidup di atas Allah menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda. Postur ini mendayagunakan hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip ilahi yang disarikan dari Alkitab untuk menolong kita menghadapi tantangan hidup. Ingin terhindar dari musibah? Aturlah kehidupan Anda menurut prinsip-prinsip Allah. Hidup dari Allah terutama berkenaan dengan kelangkaan—tidak memiliki persediaan yang cukup. Timbunlah kekayaan, kesehatan, dan kemahsyuran secukupnya, dan Anda pun akan dapat mengisolasi diri dari malapetaka yang menimpa orang lain. Dan semua komoditas itu paling baik jika diperoleh dari Allah. Hidup bagi Allah, seperti tergambar pada diri anak sulung dalam perumpamaan Yesus, berusaha memeras kemurahan Allah melalui pelayanan yang setia. Asalkan kita mencetak pencapaian yang cukup mengesankan bagi Allah, Dia pasti akan memberkati dan melindungi Anda,” tulis Jethani. Semua postur ini memiliki satu kesamaan: Manusialah yang memegang kontrol, dan Allah hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan. Semuanya melumpuhkan dan mematikan.

Adakah visi hidup yang lain? Bagaimana kita dapat dimerdekakan dari hasrat untuk memegang kontrol ini? Skye Jethani menyebutnya sebagai hidup dengan Allah. Ini berarti kembali ke visi Allah mula-mula, mengundang manusia ke dalam hubungan pribadi dengan-Nya, ke dalam pengenalan dan pengalaman pribadi akan Dia. Hubungan pribadi dengan Allah inilah yang semestinya menjadi sauh rasa aman terkuat, sukacita tak tepermanai, kepuasan hati terdalam, dan sasaran pencapaian tertinggi. Segala sesuatu yang lain—dalam dinamika iman, pengharapan, dan kasih—hanyalah sarana untuk mempererat hubungan dan pengalaman pribadi dengan Allah tersebut, agar kita menjadi makin serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Tentang hubungan dengan Allah ini, saya sangat tertolong oleh analogi pemain sirkus yang dikutip Jethani dari pengalaman Henri Nouwen. Seumpama pemain akrobat di sirkus, iman adalah ketika kita memilih untuk melepaskan pegangan, melepaskan kontrol. Pengharapan adalah ketika kita berakrobat di udara menantikan sang penangkap menjemba kita. Dan kita mengalami kasih secara indrawi ketika kita telah tertangkap dan berayun-ayun bersama dengan sang penangkap.

Sang Penangkap dalam hidup kita tidak lain adalah Allah. Dialah Pemegang Kontrol Utama. Dan Sang Penangkap itu adalah Kasih. Kasih tidak berkesudahan. Kasih tidak pernah gagal.


Namun, jika kita membayangkan pengalaman “berayun-ayun dalam pegangan Allah” sebagai hidup yang serbabahagia, serbasehat, serbamakmur, serbasukses, kita kembali terpelintir. Kita masuk ke dalam siklus pemberontakan lagi: berusaha mengontrol hasil dari hubungan kita dengan Allah.

Kehidupan Martin Luther King Jr. menyodorkan sebuah contoh yang menggugah. Di luar rencananya, ia terpilih sebagai ketua pemboikotan warga kulit hitam. Segera saja berbagai surat dan telepon penuh kebencian menyerbu rumahnya. Sampai suatu malam, sebuah telepon ancaman pembunuhan membuatnya serasa lumpuh oleh ketakutan. Suara si pendakwa menggedor sengit ke dalam jiwanya, mengintimidasinya agar menyerah. Apa yang membebaskannya dari cekaman ketakutan? Suara Sang Gembala yang meneguhkan, “Berdirilah untuk kebenaran. Berdirilah untuk keadilan. Dan lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman.”

Dengan peneguhan itu, ia bangkit dalam iman, dan bergerak mematuhi khotbah Yesus di bukit: menolak untuk melawan kekerasan dengan kekerasan, melainkan memilih untuk merengkuh dan mengasihi musuh. Apa buah yang dipetiknya? Ia ditembak mati dalam usia yang masih sangat belia: 39 tahun.

Dunia menyebutnya sebagai kematian yang tragis. Mereka yang sinis dapat menuding: Tuhan mengingkari janji—mana penyertaan dan perlindungan-Nya? Akan tetapi, dunia tidak tahu: tubuh dapat binasa secara mengenaskan, namun jiwa orang benar senantiasa aman dalam pelukan kekal Allah. Maut tak berdaya memisahkan kita dari kasih-Nya. Dalam semuanya itu, kendatipun dunia memandangnya sebagai kekalahan, bersama dengan Allah kita menjadi lebih dari orang-orang yang menang.

Jadi, satu-satunya “kontrol” yang paling masuk akal untuk kita lakukan adalah: melepaskan hasrat untuk mengontrol dan berayun ke dalam pelukan Kekasih kita.

Kembali ke rumah kaca. Ketika Daud berbicara tentang pohon, ia tidak berbicara tentang pohon di rumah kaca. Ia berbicara tentang pohon di alam bebas, dengan cuaca yang tak terkendali. Ia berbicara tentang sungai yang mengalir secara leluasa. Kalaupun mau berbicara tentang kontrol, bukan alam lingkungan yang dikontrol; si pohonlah yang perlu “dikontrol.” Pohon itulah yang harus “percaya” dan “berserah”: mencengkeramkan akarnya kuat-kuat dan tak sudah-sudah menyerap sari-sari kehidupan yang ditawarkan tanah, dialirkan sungai, dihembuskan angin, dipancarkan matahari. Dengan percaya dan berserah, ia berubah: bertumbuh, makin kuat, tahan banting menghadapi cuaca yang tak terduga, dan berbuah pada musimnya—apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Skye Jethani menyebut perakaran yang kuat itu sebagai hidup dengan Allah. ***

Disclosure of Material Connection: I received this book free from the publisher through the BookSneeze®.com <http://BookSneeze®.com> book review bloggers program. I was not required to write a positive review. The opinions I have expressed are my own. I am disclosing this in accordance with the Federal Trade Commission’s 16 CFR, Part 255 <http://www.access.gpo.gov/nara/cfr/waisidx_03/16cfr255_03.html> : “Guides Concerning the Use of Endorsements and Testimonials in Advertising.”