Si Bungkuk di Rumah Tuhan


Dunia pada masa Yesus adalah dunia kaum laki-laki; kaum perempuan hanya menumpang di ruang belakang. Di luar urusan domestik, peran dan kehadiran mereka tidak begitu diperhitungkan. Mereka tidak memiliki tempat di ruang publik atau keagamaan. Posisi mereka tidak lebih baik dari budak dan anak-anak.
Para pemuka agama saat itu mengembangkan teologi yang hitam putih.  Setiap orang menerima balasan setimpal dengan perbuatannya. Kekayaan, kesehatan, dan kekuasaan, dengan demikian, menandakan bahwa engkau orang yang diberkati. Sebaliknya, orang miskin dan orang sakit menanggung sengsara karena terkena laknat.
Di tengah masyarakat seperti itu, masalahnya jadi berlipat. Pertama, ia seorang perempuan. Kedua, ia kena penyakit. Radang sendi akut membuat punggungnya bungkuk. Orang menganggapnya kerasukan roh jahat.
Betapa dunianya terguncang saat sengatan rasa nyeri mulai menjalari tulang belakangnya. Entah cepat entah lambat, tulang-tulang punggungnya serasa melebur, lalu menyatu, lalu menggumpal, lalu mengeras. Kini tak mampu lagi ia berdiri tegak, tak bisa leluasa memandang ke sekeliling. Ia kesulitan untuk memandang ke depan, apalagi ke atas. Ia terpaksa berjalan dengan senantiasa tertunduk: memandangi debu. Memandangi keterpurukannya.

Penderitaan fisik itu mungkin tak seperih penderitaan batin yang mesti ditanggungnya. Orang kini lebih suka menyingkir menjauhinya, tetapi sekaligus melemparkan lirikan tajam penuh tuduhan.
“Dosa apa yang sudah dilakukannya sampai bernasib seburuk itu?”
Dan pertanyaan-pertanyaan itu memantul pada malam-malam gelap ketika ia sulit tidur: “Mengapa aku? Apa salahku? Apakah aku tidak cukup berbuat baik? Kejahatan apa yang sudah kulakukan? Apa yang membuat Tuhan marah seperti ini kepadaku? Mengapa?”
Tak ada jawaban.
Toh pada hari Sabat ia masih tertatih-tatih ke rumah ibadah. Mungkin sambil merintih tertahan. Ia tetap pergi. Ke rumah Tuhan.
Ironisnya, di tempat yang semestinya menawarkan pengharapan itu, ia makin merasakan keterkucilannya. Sebagai perempuan, ia harus duduk di ceruk yang jauh dan terpisah dari kaum laki-laki. Mungkin ia harus diam-diam menyusup ke dalam untuk menghindari tatapan orang. Atau, mungkin orang-orang di rumah ibadah itulah yang lama-kelamaan tak mengacuhkan kehadirannya. Dan, seakan-akan itu semua belum cukup buruk: Alih-alih menerima siraman warta penghiburan, arus pengajaran yang timpang makin menyudutkan keberadaannya.
Toh, ia tetap rajin datang pada hari Sabat. Sepanjang delapan belas tahun.
Apa yang membuatnya bertahan? Mengapa ia tetap gigih mencari Tuhan? Apakah karena ia pernah mendengarkan bacaan Kitab Suci tentang Tuhan yang akan menegakkan orang yang tertunduk? Apakah ia terkesan oleh kisah Ayub, dan berharap suatu saat Tuhan entah bagaimana akan menampakkan diri kepadanya dan membereskan masalahnya? Ataukah ia sekadar pasrah, tak tahu juga mesti berbuat atau berharap apa lagi, dan datang ke tempat ibadah hanya karena kebiasaan? Barangkali, baru belakangan ini ia mendengar ada seorang rabi yang melayani berkeliling dan mampu menyembuhkan penyakit dan mengusir roh jahat, dan pengharapannya pun kembali merekah. Barangkali.
Tabib Lukas tidak membeberkan detail lebih lanjut. Kita hanya dapat menerka-nerka. Namun, untuk seorang perempuan yang bungkuk selama delapan belas tahun dan masih menginjakkan kaki di rumah ibadah yang mengabaikannya, saya hanya dapat menyematkan satu sebutan padanya: Tabah.
Dan, kisahnya menjadi semacam tamparan pedas di pipi saya.
Bagaimana dengan diri saya? Tak perlu pengajaran yang tak seimbang, sedikit konflik saja tak jarang sudah membuat saya gerah. Pengabaian dan perselisihan sebesar apa yang sudah cukup untuk membuat saya siap angkat kaki dari gereja dan berhenti mencari Tuhan? Akankah saya tetap setia untuk menunggu campur tangan-Nya?
Seandainya perempuan itu muncul di hadapan saya saat ini, saya akan menjura dengan penuh hormat kepadanya. Dalam diri perempuan tabah ini, saya menemukan satu lagi sosok pahlawan iman. ***