Belajar Antikorupsi dari Keluarga Ingalls

Kalau anak-anak ayam itu bisa mereka pelihara dengan baik, kalau tidak diganggu oleh elang atau cerpelai atau rubah, beberapa ekor di antaranya akan menjadi induk ayam. Setahun kemudian induk-induk ayam itu akan bertelur, kemudian telur-telur itu bisa ditetaskan. Dua tahun kemudian mereka akan bisa menikmati ayam panggang.

--Laura Ingalls Wilder, Kota Kecil di Padang Rumput

Muncul rasa haru dan kagum ketika membaca kutipan kisah keluarga Ingalls ini. Menunggu selama dua tahun sebelum dapat menikmati ayam panggang buatan sendiri? Saya tertegun. Mungkin ini yang hilang di tengah masyarakat yang dikepung kecanggihan teknologi: waktu untuk memberi kesempatan sesuatu berkembang secara wajar dan alamiah.

Produk apa sekarang yang perlu kita tunggu sampai dua tahun ketika kita sudah bisa menikmati siaran langsung dari belahan dunia yang lain? Dan apakah masih ada gunanya ditunggu selama dua tahun?

Kita ambil contoh: iPad. Apa jadinya kalau kita menunggu dua tahun lagi? Apakah produk itu masih tetap sama atau sudah bertambah canggih sehingga produk keluaran saat ini tampak sebagai barang jadul (jaman dulu alias ketinggalan jaman).

Contoh lain: dalam dua tahun kita mungkin bisa menabung sejumlah sepuluh juta. Tetapi, apakah nilai sepuluh juta itu tetap sama dua tahun lagi? Jangan-jangan terjadi inflasi sehingga nilainya menurun. Jangan-jangan produk yang kita inginkan sudah tidak diproduksi. Jangan-jangan sudah disambar orang lain.

Lalu, kita ingin meraup produk yang kita inginkan selagi masih hangat. Secepat-cepatnya. Kalau bisa sekarang, kenapa mesti menunggu dua tahun lagi? Kalau tidak bisa tunai, apa salahnya mencicil? Kita menjadi konsumen yang bergegas.

Omong-omong, apa hubungannya semuanya ini dengan budaya korupsi? Mungkin tidak ada. Atau, bisa jadi sangat berkaitan.

Budaya instan, yang menggoda kita untuk melepaskan kesabaran, yang mengusik kita untuk tidak puas, membuka pintu pada tawaran untuk menempuh jalan pintas. Dengan menginjak hati nurani, sebagian orang segera menjemba kesempatan untuk memperoleh penghasilan secara cepat dengan prosedur yang tidak wajar. Yang tidak cepat, yang tidak melanggar aturan, tidak kebagian.

Keluarga Ingalls ingin mengirim Mary yang buta ke sekolah khusus bagi penyandang tunanetra. Namun, mereka harus menunggu biaya terkumpul. Pa bekerja di kota. Ma bahu-membahu menyelesaikan urusan di rumah. Laura ingin sekali membantu mengumpulkan biaya sekolah Mary. Sampai suatu hari ia mendapatkan tawaran untuk bekerja di kota. Tetapi, siapa yang akan mengerjakan tugasnya di rumah? Carrie menawarkan diri untuk menggantikan Laura.

Kisah mereka menawarkan nilai-nilai ketekunan, kesabaran, kerja sama, dan kesediaan untuk bekerja keras. Untuk bersyukur. Untuk menikmati dan merayakan hari demi hari tanpa dikejar-kejar oleh ketergesaan. Dengan penuh harapan. Laura menulis, “Masa-masa menggembirakan akan datang. Dengan begitu banyak kesibukan, dan begitu banyak harapan, hari-hari rasanya terbang dengan cepat.”

Memang sebuah tantangan tersendiri di tengah zaman yang bergerak serbacepat ini untuk belajar menahan diri dan bersabar. Untuk tidak tergoda bersikap asal cepat, asal kebagian. Banyak hal berharga yang hilang ketika anak tidak sempat melihat bagaiman sebuah kue disiapkan, namun bisa langsung memesan dari toko kue.

Dapatkah keluarga, alih-alih menyeret anak ke dalam arus budaya instan, menjadi ajang untuk menanamkan lagi nilai-nilai berharga itu bagi anak-anak sejak dini? Nilai-nilai yang mudah-mudahan memperkuat mereka untuk tangguh menolak godaan untuk berkorupsi. ***