Nyanyian Ajaib Burung Bulbul

Putri Jelita namanya, putri Kerajaan Mustika. Seperti namanya, demikianlah wajahnya. Cantik menawan, dengan rambut hitam lurus tergerai panjang. Senyumnya merah merekah, menghangatkan setiap hati yang memandangnya.

Selain cantik wajahnya, cantik pula hati Putri Jelita. Ia suka mengunjungi rakyatnya, bermain dengan anak-anak kecil, mendengarkan cerita nenek-nenek, memetik bunga-bunga liar di ladang, dan menolong orang yang kesusahan. Derai tawa dan alun nyanyiannya membangkitkan semangat orang-orang dalam bekerja.

Kecantikannya tersiar sampai ke kerajaan-kerajaan sekitar. Dua orang pangeran dari kerajaan sahabat mencintainya. Yang satu Pangeran Bergas dari Kerajaan Lokasari, seorang pangeran yang tampan, gagah berani, dan suka berburu. Yang lain Pangeran Sidik dari Kerajaan Adiguna, seorang pangeran yang tampan, gagah berani, dan suka bercerita. Mereka menunggu sang putri berumur delapan belas tahun, dan pada saat itu mereka akan meminangnya. Siapakah yang akan dipilih oleh Putri Jelita? Putri Jelita belum memutuskannya. Ia belum ingin memikirkan pernikahan.

Ketika sang putri hampir berumur delapan belas tahun, ia terserang penyakit ganjil. Ia tertidur lelap dan tidak kunjung bangun. Raja segera mengumpulkan para tabib istana untuk mengupayakan pengobatan bagi putri kesayangannya. Sungguh malang, sampai sejauh ini belum ada yang berhasil membangunkan sang putri.

Betapa sedih hati Raja dan Ratu. Rakyat seluruh negeri juga turut berduka. Mereka berdoa di rumah masing-masing, memohon kiranya sang putri segera sembuh.

”Jadi, Putri Jelita tidak akan menemaniku bermain lagi?” kata seorang anak di sebuah rumah.

”Aduh, aku akan merindukan nyanyiannya,” kata ibunya.

”Dan derai tawanya,” kata neneknya.

Bapaknya tidak berkata apa-apa, tetapi matanya berkaca-kaca. Ia membayangkan para bapak yang bekerja di ladang dengan lesu dan tanpa semangat.

Syukurlah, suatu pagi Tabib Kepala membawa setitik sinar cerah. Semalam ia mendapatkan mimpi tentang obat yang dapat menyembuhkan sang putri. Obat yang sungguh ganjil.

”Paduka yang mulia,” katanya di hadapan sang raja, ”semalam hamba bermimpi bahwa sang putri akan pulih kembali bila ia mendengarkan nyanyian Burung Bulbul.”

Burung Bulbul! Semua orang tahu betapa sulitnya menemukan Burung Bulbul. Ia hanya muncul di Puncak Mahameru tepat pada tengah malam ketika bulan purnama. Ia akan hinggap di puncak Pohon Hayat dan mengalunkan nada-nada yang amat indah selama satu jam. Sesudahnya ia akan terbang menghilang untuk datang kembali pada purnama yang akan datang.

Namun, siapakah orang yang sanggup mendengarkan nyanyian Burung Bulbul? Orang itu harus melewati dua masalah besar. Masalah pertama, perjalanan menuju Puncak Mahameru sangat sukar. Melewati Hutan Wingit yang lebat dan penuh binatang buas, lalu mendaki jalan sempit di pegunungan, dengan jurang yang sangat dalam di salah satu sisinya.

Andaikan orang itu berhasil sampai ke puncak dan bertemu si Burung Bulbul yang sedang bernyanyi, ia akan menghadapi persoalan yang lebih pelik. Nyanyian Burung Bulbul itu sangat indah, sangat elok sehingga setiap orang yang mendengarnya malah akan terpukau. Mereka akan terpaku, tidak dapat bergerak, dan lama-kelamaan akan tertidur sambil berdiri. Tidak berhenti sampai di situ, mereka akhirnya akan menjadi patung batu. Dan, ketika Burung Bulbul menyelesaikan nyanyiannya, lalu mengepakkan sayapnya terbang menghilang, patung batu itu akan terguling ke dalam jurang.

”Lalu, bagaimana orang dapat menangkap Burung Bulbul itu?” tanya sang raja.

”Tidak perlu menangkapnya, Paduka. Cukup dengan merekam nyanyiannya di dalam buluh Bambu Wulung,” jawab Tabib Kepala.

”Tetapi, bagaimana orang akan merekam suaranya kalau ia sudah menjadi patung?”

”Itulah yang masih harus dipikirkan, Paduka.”

Raja pun bermusyawarah bersama dengan para penasihatnya. Mereka lalu memutuskan untuk mengadakan sayembara. Barangsiapa berhasil merekam nyanyian Burung Bulbul dan menyembuhkan sang putri, bila ia laki-laki raja akan menikahkannya dengan sang putri, dan bila ia perempuan raja akan mengangkatnya menjadi saudara sang putri.

Begitu sayembara diwartakan, Pangeran Bergas dan Pangeran Sidik segera mendaftarkan diri sebagai peserta pertama dan kedua.

Pangeran Bergas dipersilakan untuk berangkat menjelang purnama pertama. Tabib Kepala sudah menyediakan buluh Bambu Wulung untuknya. Ia juga membekali sang pangeran dengan seekor Burung Prenjak.

”Temukan sendiri cara merekam dengan buluh ini,” kata Tabib Kepala. ”Burung Prenjak ini akan terbang kembali ke istana untuk mengabarkan nasib Pangeran, entah berhasil entah gagal.”

Pangeran Bergas segera berangkat menuju Puncak Mahameru. Ia memacu kudanya ke perbatasan kerajaan dan memasuki Hutan Wingit. Ia berhasil menewaskan ular berbisa dan macan kumbang yang menghadangnya. Ia berhasil menebas kerimbunan tanaman semak merambat yang menutupi jalannya.

Sesampai di ujung Hutan Wingit ia harus meninggalkan kudanya dan mendaki gunung seorang diri. Jalan setapak itu benar-benar terjal dan sempit. Ia harus berhati-hati menapak agar tidak terjerembab dan terguling ke dalam jurang. Semakin tinggi ia mendaki, udara pun semakin dingin menggigilkan.

Akhirnya sampailah ia di puncak Mahameru. Rembulan bundar putih pucat menyambutnya di langit timur. Pohon Hayat berdiri tegak, dengan daun-daunnya bergetar hebat diterpa angin. Setelah menyalakan api unggun, mengenakan jubah penghangat, dan menyantap makan malam, ia pun menunggu, sambil berusaha keras menahan rasa letih, rasa kantuk, dan rasa dingin yang masih menyusup. Kehadiran Burung Prenjak yang meloncat-loncat lincah sambil berceloteh cukup menghiburnya.

Menjelang tengah malam angin berhenti. Langit terlihat sangat bening. Rembulan kini bundar sempurna, berwarna kuning keemasan, megah mengambang di atas pucuk Pohon Hayat. Sekonyong-konyong dari arah utara melayang sebuah bayangan hitam, diiringi suara sepasang sayap yang mengepak. Melayang, lalu dengan anggun hinggap di puncak Pohon Hayat: sesosok burung yang menakjubkan.

Pangeran Bergas bangkit berdiri dan ternganga menyaksikannya. Bulu-bulu di kepala dan leher burung itu berwarna merah kirmizi, adapun bulu-bulu lain di sekujur tubuhnya berwarna keemasan, seolah memantulkan warna rembulan.

Namun, belum sempat ia menghela napas, ia sudah disergap oleh pesona lain yang jauh lebih menakjubkan. Burung Bulbul itu membuka paruhnya, dan mengalunlah nada teramat indah yang belum pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Nada yang seolah-olah berasal dari sudut-sudut yang paling jauh di bumi ini, yang menyusuri lorong waktu sambil memetik embun dan menyuling warna-warni bunga: mengalun memecah puncak Mahameru yang semula senyap. Nada itu bukan hanya merdu, tetapi juga terasa menyebarkan hawa harum yang meneduhkan. Dan, memabukkan. Hanya dalam hitungan detik Pangeran Bergas sudah tidak sanggup menggerakan tangan dan kakinya. Pelan-pelan matanya luruh mengatup. Ia pun tertidur dalam keadaan berdiri tegak. Dan, lama kelamaan tubuhnya mengeras. Akhirnya ia menjadi sesosok patung batu!

Tepat satu jam kemudian, Burung Bulbul menghentikan nyanyiannya. Puncak Mahameru kembali hening. Hanya sejenak. Burung Bulbul segera mengepakkan sayapnya, membangkitkan gelombang angin yang kencang, menjungkalkan patung batu Pangeran Bergas. Sang pangeran terguling jatuh masuk ke jurang yang amat dalam; Burung Bulbul seketika menghilang ke langit utara yang kelam.

Burung Prenjak yang mengikuti perjalanan Pangeran Bergas segera melesat meninggalkan Puncak Mahameru. Ia terbang berkelebat menuju istana Kerajaan Mustika. Sesampai di aula ia segera menjerit: ”Gagal! Gagal! Gagal! Patung! Patung! Patung!”

Raja, Ratu, dan segenap penghuni istana tertunduk sedih mendengar jeritan Burung Prenjak. Mereka kehilangan seorang pangeran yang gagah berani dari kerajaan sahabat, dan mereka belum mendapatkan obat penawar bagi Putri Jelita. Raja mengirim utusan khusus untuk menyampaikan kabar duka itu kepada raja Kerajaan Lokasari.

Kerajaan Mustika pun masih diliputi duka. Tidakkah kabar kegagalan itu akan mematahkan semangat peserta berikutnya?

Ternyata Pangeran Sidik sudah menyusun rencana tersendiri. Ketika Pangeran Bergas berderap ke Hutan Wingit, ia bergegas ke perpustakaan istana. Ia mengumpulkan sebanyak-banyaknya buku yang membahas tentang Burung Bulbul dan mempelajarinya dengan tekun. Ia menelusuri pelosok-pelosok negerinya untuk bertanya kepada para tabib dan kaum cerdik cendekia tentang rahasia Burung Bulbul yang tidak diketahui oleh umum.

”Pergilah menyusuri Kali Asri, Anakku,” kata Ratu Adiguna suatu hari. ”Kiranya engkau mendapatkan jawaban di sana.”

Pangeran Sidik pun memacu kudanya ke sebelah timur Hutan Wingit, tempat Kali Asri mengalir. Sesampai di sebuah pohon beringin besar, ia beristirahat. Kali Asri yang berair bening mengalir di dekatnya.

Saat itulah, seorang nenek bermuka keriput mendatanginya dengan langkah tertatih-tatih. Nenek itu berkata, ”Anakku, tolong, dapatkah engkau memberiku air minum?”

Pangeran Sidik segera mengambil air sungai dengan kantong airnya, dan memberikannya kepada nenek itu. Nenek itu segera meminumnya dan wajahnya yang semula pucat terlihat segar kembali.

”Terima kasih, Anakku. Aku ingin berterima kasih dengan memberimu buku kecil ini. Semoga bermanfaat,” kata nenek itu sambil mengeluarkan sebuah buku tua dari buntalan bawaannya.

”Terima kasih banyak, Nek, terima kasih,” jawab sang pangeran, lalu menunduk membuka-buka buku itu. Betapa terkejut, dan betapa senang, ia ketika mendapati bahwa buku itu berisi rahasia-rahasia untuk bertahan menghadapi nyanyian Burung Bulbul. Ketika ia mengangkat kepalanya, kembali ia terkejut, nenek itu sudah tidak tampak di hadapannya.

Pangeran Sidik pun bergegas kembali ke istana, mempelajari buku itu secara lebih cermat lagi, dan mempersiapkan perbekalan untuk mendaki ke Puncak Mahameru. Menjelang bulan purnama berikutnya, ia menghadap Raja Kerajaan Mustika, menyatakan kesiapannya untuk merekam nyanyian Burung Bulbul.

Ia menempuh jalur yang telah dilewati Pangeran Bergas. Ia menghadapi ancaman bahaya yang sama dan hambatan yang serupa. Ia juga berhasil mengatasinya. Setelah meninggalkan kudanya di ujung Hutan Wingit, ia bersusah payah mendaki jalur terjal menuju Puncak Mahameru. Pada rembang tengah hari, sampailah ia di puncak gunung.

Setelah makan siang, ia merebahkan diri, tidur nyenyak di bawah Pohon Hayat. Ia terbangun dalam keadaan segar bugar ketika rembulan pucat menyembul di ufuk timur. Ia segera mengeluarkan buluh Bambu Wulung dan menyematkannya di cabang terendah Pohon Hayat. Lalu ia menyalakan api unggun dan menyiapkan makan malam. Dengan perut kenyang dan sesudah mengenakan jubah penghangat, ia berceloteh dengan Burung Prenjak yang menyertainya, berbagi aneka cerita.

”Dan perjalananmu ini pun akan diceritakan orang,” kata Burung Prenjak.

”Kalau aku berhasil.”

”Kalau engkau berhasil.”

”Kalau aku gagal?”

”Baik kegagalan maupun keberhasilan, semua patut diceritakan,” kata Burung Prenjak. ”Supaya kita ingat.”

Menjelang tengah malam, seperti pada purnama-purnama sebelumnya, angin berhenti. Pangeran Sidik segera mengeluarkan dua bola kecil yang terbuat dari benang sutera dari sakunya, dan menggunakannya sebagai penutup telinga. ”Bola benang sutera dapat meredam nyanyian Burung Bulbul dan melemahkan daya pesonanya, membuatmu dapat terjaga lebih lama,” begitu uraian yang dibacanya dalam kitab pemberian si nenek tua.

Kala Burung Bulbul hinggap di puncak Pohon Hayat dan mulai membuka paruhnya, jantung Pangeran Sidik sudah berpacu kencang. Ia sangat takjub, sekaligus sangat bergairah. Nyanyian Burung Bulbul seperti paduan gelombang lautan dan deru angin hutan dan hembusan angin sabana, membuatnya serasa melayang-layang.

Ia berjaga-jaga agar tidak terlena oleh alun nyanyian yang memabukkan itu. Ia pun mengeluarkan sebilah belati perak dan sekantong kecil anggur asam dari kantong perbekalannya. Mengikuti petunjuk kitab tua, ia mengerat pergelangan tangannya sampai berdarah dan mengucuri lukanya dengan tetesan anggur asam. Rasa pedih yang menyengat menyentakkan kesadarannya. Ia seperti baru terjaga dari mimpi yang sangat indah, dan disambut oleh nyanyian yang merdu dan menghanyutkan perasaan.

Begitulah, setiap kali hampir terlena lagi, ia kembali mengerat pergelangan tangannya dan mengucuri lukanya dengan anggur asam. Tiga kali ia melakukannya.

Maka, ia pun masih terjaga ketika Burung Bulbul menghentikan nyanyiannya. Udara begitu hening dan bening. Ketika Burung Bulbul mengepakkan sayapnya dan terbang menghilang, Pangeran Sidik merasakan suatu gelombang hangat menerpanya dan menyegarkan tulang-tulangnya. Ajaib, luka-luka di pergelangan tangannya pun sembuh seketika!

Sementara itu Burung Prenjak sudah melesat turun mendahuluinya. Sesampai di aula istana, Burung Prenjak menjerit nyaring: ”Berhasil! Berhasil! Berhasil! Pulang! Pulang! Pulang!”

Raja, Ratu, dan segenap isi istana bersorak-sorai gegap-gempita. Seluruh kerajaan segera menyiapkan penyambutan bagi kepulangan Pangeran Sidik. Panji-panji dan aneka karangan bunga menghiasi jalan-jalan utama.

Tiga hari kemudian tibalah Pangeran Sidik di ibukota, berderap gagah di atas kudanya. Rakyat bersorak-sorai menyambutnya di sepanjang jalan. ”Hidup Pangeran Sidik! Hidup Pangeran Sidik!”

Raja dan Ratu sudah menantinya di balairung istana. Wajah mereka berseri-seri penuh sukacita ketika sang pangeran menghadap dan menyampaikan penghormatan.

Mereka segera mengantar Pangeran Sidik ke kamar tempat Putri Jelita terbaring. Di atas tempat tidur yang megah dan indah, sang putri tampak begitu jelita, namun begitu pucat, dan begitu lelap.

Pangeran Sidik mengeluarkan buluh Bambu Wulung yang telah merekam nyanyian Burung Bulbul. Ia mendekatkan ujungnya ke bibirnya dan mulai meniupnya. Mengalunlah nada yang amat elok: mekar seperti bunga-bunga pada musim semi, segar seperti buah-buahan pada musim petik, cemerlang seperti permata memancarkan sinar matahari. Semua orang yang mendengarnya tercekat oleh keharuan.

Dan, sang putri... wajahnya yang pucat itu pelan-pelan mulai merona merah, matanya pelan-pelan mulai terbuka, dan tidak lama kemudian ia bangkit dari tidurnya, dengan senyum ramah merekah menghangatkan setiap orang yang memandangnya. Raja dan Ratu menghambur memeluknya erat-erat.

Seminggu kemudian, Kerajaan Mustika merayakan pernikahan antara Putri Jelita dan Pangeran Sidik. Tamu-tamu dari kerajaan sahabat berdatangan, dan rakyat berpesta pora selama empat puluh hari empat puluh malam.

Raja dan Ratu juga memutuskan untuk undur dari tahta, dan menobatkan Pangeran Sidik dan Putri Jelita sebagai Raja dan Ratu yang baru. Selama masa pemerintahan mereka, Kerajaan Mustika mengalami kedamaian dan kententeraman, serta penuh dengan nyanyian yang indah. ***