Uaaaaang, Lagi-Lagi Uaaaaaang!

“Uang itu bukan segalanya,” kata si Anu, “namun posisinya berada jauh di depan apa pun yang berada di posisi kedua.” Dengan kata lain, uang itu amat sangat penting. Mungkin orang itu akan melanjutkannya dengan mengutip Pengkhotbah, “Uang memungkinkan segala-galanya!”

Betulkah uang sepenting itu? Kalau menyimak gaya hidup masyarakat saat ini, kita cenderung akan mengangguk-angguk. Budaya UUD (ujung-ujungnya duit) menongolkan hidungnya dalam berbagai aspek kehidupan. Kalau tidak ada uang, dunia ini rasanya tidak akan berputar. Tetapi, betulkah uang sepenting itu?

Pertanyaan itu berkaitan dengan sikap kita terhadap uang. Untuk mengajarkan sikap kepada anak-anak, tentu saja sikap kita pula yang berbicara paling keras. Sikap---yang kemudian tertuang dalam perkataan, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari kita dalam mengelola uang---itulah yang akan dibaca dan disimak oleh anak-anak kita. Nah, sehatkah sikap kita terhadap uang?

Perspektif Tuhan Yesus mungkin mencengangkan kita. Alih-alih menonjolkan peranan uang, Dia menyebutnya sebagai ”perkara kecil” (Lukas 16:10), persoalan yang relatif tidak penting. Uang mestinya tidak menduduki posisi yang menonjol dalam hidup kita. Kalau saat ini uang tampak begitu menyilaukan mata dan menyita perhatian, tampaknya karena kita memiliki prioritas yang keliru: kita membesar-besarkan perkara yang kecil, dan justru mengabaikan perkara yang betul-betul penting.

Lalu, bagaimana mengajarkan sikap yang sehat terhadap uang kepada anak-anak di tengah dunia yang amat mengedepankan uang ini? Sumber utama sikap yang sehat dan bijaksana terhadap uang tidak lain ialah firman Tuhan. Kita perlu memastikan bahwa ajaran kita tidak melenceng dari petunjuk-Nya. Ada dua pendekatan utama untuk melakukannya.

Pertama, pendekatan pengajaran. Bagi anak-anak yang masih kecil sesekali kita bisa menceritakan kisah-kisah Alkitab yang berkaitan dengan uang, dan menggarisbawahi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Bagi anak-anak yang lebih besar, kita bisa melakukan pendalaman Alkitab dan mendiskusikan bersama isu-isu keuangan.

Dari kitab Amsal saja, misalnya, kita dapat menggali sejumlah prinsip penting. Ada hal-hal yang lebih berharga dari uang, seperti kesetiaan dan kejujuran (19:22), nama baik (22:1), karakter ilahi (19:1), rumah tangga yang tenteram (15:17). Kalaupun Pengkhotbah menyatakan bahwa uang memungkinkan segala sesuatu, Amsal memperlihatkan berbagai hal yang tidak mungkin diperoleh dengan uang, seperti rasa aman (23:4-5), hikmat (17:16), dan tentu saja keselamatan (11:4). Sebaliknya, penulis Amsal juga memaparkan potensi bahaya di balik kekayaan, seperti menimbulkan rasa aman yang palsu (18:11), keangkuhan dan ketidakpedulian terhadap perkara rohani (28:11). Singkatnya, Amsal tidak mendorong kita untuk mengejar kekayaan, tetapi justru berjuang segigih mungkin untuk memperoleh hikmat.

Ajaran Yudaisme pada masa Yesus cenderung mengaitkan kemakmuran dengan kesalehan: orang yang saleh pasti makmur. Sebaliknya, penganut asketisme mendorong orang menjauhi kekayaan dan menganggap kemiskinan sebagai bukti kesalehan. Firman Tuhan tidak menjadikan uang sebagai tolok ukur kesalehan. Yang lebih ditekankan adalah bagaimana sikap kita terhadap uang, bagaimana cara kita memperoleh uang, dan bagaimana pula kita mengelola uang yang kita terima tersebut.

Nilai-nilai tersebut tidak akan berbunyi kalau kita tidak menopangnya dengan pendekatan kedua, yaitu pendekatan pengalaman. Kehidupan sehari-hari merupakan laboratorium efektif untuk menerapkan dan meneladankan nilai-nilai tadi.

Kejadian berikut ini, misalnya. Anak kita merengek-rengek meminta mainan yang cukup mahal. Kebetulan anggaran keuangan kita sedang mepet, tidak memungkinkan untuk mengeluarkan uang ekstra untuk keperluan sekunder semacam itu. Seorang bapak merasa masygul dengan kondisi semacam itu, dan bahkan sedikit merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi keinginan si anak. Sebaliknya, orangtua yang lain justru melihatnya sebagai kesempatan untuk mengajarkan pentingnya menabung pada anaknya.

Ya, setiap kesempatan dapat menjadi sarana pembelajaran bila orangtua pintar memanfaatkannya. Pilihan orangtua kedua tergolong bijaksana. Kita dapat memberi kaleng mainan atau wadah bekas untuk dijadikan celengan. Ia dapat mengisinya dengan menyisihkan uang saku atau uang lain yang diterimanya. Bila jumlahnya sudah mendekati harga mainan yang diinginkan, celengan bisa dibongkar. Kalau tabungan si anak masih belum mencukupi, orangtua dapat menambal kekurangannya. Dengan begitu, anak belajar untuk mengendalikan keinginannya dan menunggu sampai saat yang tepat. Pada saat itu mungkin keinginannya sudah berubah. Maka, uangnya bisa ditabung terus untuk membeli barang atau membiayai acara lain pada masa depan.

Baik pula bila anak diajarkan menabung langsung di bank. Seorang anak tercengang ketika melihat ayahnya menarik uang dari ATM. ”Wah, enak ya jadi Papa, bisa ambil uang semaunya,” komentarnya. Dengan mengenalkan kehidupan bank secara langsung, anak antara lain akan mengerti bahwa uang di ATM tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dari uang yang kita tabung.

Dengan menabung anak diajari untuk tidak serta merta mendapatkan apa yang ia inginkan. Anak belajar bahwa ada keinginan yang perlu ditunda, atau bahkan dibatalkan sama sekali. Tidak semua hal harus kita miliki. Selebihnya, mari kita menggali berbagai ide kreatif untuk mengajarkan kepada anak-anak sikap yang sehat terhadap uang. ***