Tidak Bisa Mengasihi Istri

“Hai suami, kasihilah isterimu.” Sebuah perintah yang jelas. Terang benderang. Gampang diingat. Tetapi ketika dibawa ke tataran praktis, nyatanya kebanyakan suami gagap. Bagaiman aku mengasihi istriku?

Ya, bagaimana? Apakah kita mencontoh para tokoh Alkitab? Seperti Adam, yang manut saja ketika diajak berbuat dosa oleh istrinya? Seperti Ayub, yang dimaki istrinya karena beriman? Seperti Abraham, yang tidak apa-apa seandainya istrinya diambil pria lain asalkan dirinya selamat? Seperti Ishak, yang bersitegang dengan istrinya dan masing-masing menyayangi anak yang berbeda? Seperti Daud, yang membunuh untuk mendapatkan istri kesekian? Seperti Salomo, yang begitu mencintai istri-istrinya sampai ikut-ikutan menyembah ilah mereka? Seperti Hosea, yang mendapatkan mandat untuk memperistri seorang pelacur? Seperti Yusuf, yang bisa menerima kondisi istrinya setelah mendapatkan mimpi? Membingungkan! Tampaknya tidak ada satu pun yang memenuhi kriteria.

Untunglah, perintah tadi tidak berhenti sampai di situ. Perintah itu juga memberikan petunjuk tentang kasih seperti apa yang diperlukan suami untuk mengasihi istrinya. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.”

Mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat. Waduh! Petunjuknya memang makin jelas, tetapi pelaksanaannya malah makin bikin gagap. Mengasihi seperti Kristus? Bagaimana aku sanggup? Tetapi, baiklah, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Seolah-olah sudah memahami maksud perintah itu, kita pun mulai membulatkan hati untuk mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat. Kita berusaha dengan kekuatan sendiri. Kita berusaha dengan keras. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Sampai suatu waktu kita membentur tembok kegagalan. Kecewa tentu saja. Tetapi kita bukan orang yang gampang menyerah, bukan? Kita pun mencoba lagi. Makin keras. Makin sungguh-sungguh. Maka, ketika kita membentur tembok lagi, akibatnya bisa diduga: makin parah. Mungkin kita masih punya cukup semangat untuk mencoba lagi, namun bisa jadi kita patah. Kita menyerah. Angkat tangan. Ah, bagaimanapun kita ini ‘kan manusia. Tidak ada yang sempurna, bukan?

Anda menyerah? Bagus. Lo, kok bagus? Coba cermati sekali lagi perintah itu. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.” Lalu, jawablah pertanyaan ini: Apakah kasih seperti Kristus itu sesuatu yang harus kita upayakan dengan kekuatan sendiri? Apakah Anda setuju bahwa jawabannya “tidak”?

Berbahagialah—karena jawabannya memang tidak. Max Lucado dalam A Love Worth Giving mengingatkan, “Kasih yang menyelamatkan pernikahan tidak ada di dalam diri kita…. Kita memerlukan pertolongan dari sumber di luar kita. Sebuah transfusi. Akankah kita mengasihi seperti Allah mengasihi? Kalau begitu, kita mulai dengan menerima kasih Allah.”

Kasih Kristus tidak dimaksudkan untuk dicontoh dan dicoba sendiri di rumah—seolah-olah Dia adalah sesosok pribadi di luar sana dan kita tinggal mengamat-amati dan mencoba meniru gerak-gerik-Nya. Bukan begitu. Sebaliknya, Kristus hendak berdiam di dalam diri kita dan bersekutu dengan kita. Dia mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati kita, memenuhinya secara berlimpah-limpah dengan kasih yang tidak berkesudahan. Dia mau kita menerima kasih-Nya, menyambutnya, menikmatinya, merayakannya, sehingga kemudian kasih itu mengalir kepada orang-orang di sekeliling kita—bagi para suami, pertama dan pertama kepada istri masing-masing. Begitulah cara kerja-Nya (lihat Roma 5:5; 1 Yohanes 4:9-10).

Bagaimana kita mengalami transfusi kasih ini? Salah satu cara praktisnya, cobalah membaca satu atau kisah Alkitab yang memaparkan kasih Allah. Hapalkanlah. Renungkanlah. Percayailah kebenarannya. Biarlah firman itu memenuhi pikiran dan hati kita. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk mengingatnya kembali di tengah kesibukan sehari-hari dan memunculkan ide untuk mengasihi istri kita. Ketika kita terpancing untuk marah pada istri, cobalah mengingat kesabaran Tuhan pada kita, dan alirkan kesabaran itu pada istri kita. Ketika istri kita memerlukan penghiburan, ingatlah bagaimana Tuhan menghibur kita, dan kuatkan istri kita dengan penghiburan yang kita terima dari-Nya. Begitulah kita belajar mengasihi seperti Kristus mengasihi. ***