Naskah Buruk Ini seperti Kasut Tuhan Yesus

Ketika pertama kali membuka berkas naskah itu, saya nyaris memaki.

Ini seperti kelakuan banyak penulis dalam taraf yang lebih parah, pikir saya. Naskah masih bopeng-bopeng sudah dikirim ke penerbit (dalam kasus ini: panitia ulang tahun sebuah gereja, yang meminta warga untuk menuliskan kesan mereka tentang gereja tersebut). Entah terlalu pe-de entah terlalu menyepelekan kerja penulisan ulang, sulit dibedakan. Pikir mereka, biar nanti editor saja yang memperbaikinya. Namun, bisa jadi nanti mereka mencak-mencak ketika, setelah naskah terbit, mereka pangling pada tulisan sendiri yang sudah dipermak habis oleh editor. Beuh!

Dan, secara penampilan saja, naskah ini sungguh mengerikan.

Bayangkan! Seluruh tulisan tercetak dalam huruf tebal. Tulisan sepanjang satu seperempat halaman itu hanya terdiri atas judul, satu paragraf panjang, dan nama penulis. Kalimat-kalimatnya banyak yang rancu dan melingkar-lingkar. Lalu, salah ketiknya... minta ampun! Coba, muncul kata-kata yartu, sukatela, penyampalan, seialu, mentap, tina2, memneri, dan sederet makhluk lain yang belum sempat dimasukkan ke dalam kamus. Sebagian, dengan memperhatikan konteksnya, cukup mudah ditebak kata yang dimaksudkan. Yang lain mesti diterka dengan mengerutkan kening. Tina2, misalnya, perlu beberapa waktu bagi saya untuk mengungkapkan misterinya. Ternyata oh ternyata: tiba-tiba!

Seandainya si penulis ada di depan hidung saya, bakal saya bentak dan saya suruh dia mengetik ulang naskah tersebut. Enak betul menyuruh orang memoles naskah acakadut begitu! Sayangnya, saya menerima naskah itu dari panitia penerbitan buku ulang tahun jemaat yang dikejar-kejar tenggat waktu. Mau tidak mau saya ketiban sampur untuk merias si itik buruk rupa itu sampai--semoga--menjadi angsa nan elok rupawan.

Saya menghela napas. Mengumpulkan kesabaran. Memikirkan siasat. Semoga tongkat sihir penyuntingan saya masih berfungsi dengan baik.

Langkah pertama yang paling mudah tampaknya adalah memecah dulu paragraf panjang itu menjadi paragraf-paragraf pendek. Saya baca naskah itu. Setiap kali saya memperkirakan si penulis beralih topik, saya mengetuk tombol enter, membentuk paragraf baru.

Paragraf satu...

Paragraf dua...

Paragraf tiga...

Paragraf delapan... hei, apa ini?

Penulis bercerita bahwa suatu saat ia mengalami gangguan penglihatan. Akibatnya, mata kanannya tidak berfungsi lagi. Mata kirinya, menurut perkiraan dokter, dengan ia mengenakan kacamata, paling-paling hanya sanggup melihat sejauh dua meter. Syukurlah, oleh kemurahan Tuhan, ia masih dapat melihat dengan cukup baik dari jarak lebih dari dua meter.

Oh.

Hati saya mencelos.

Ternyata.

Inilah penyebabnya.

Kenapa naskah ini penampilan awalnya begitu elok.

Bayangan itu tiba-tiba menyergap benak saya. Saya membayangkan si penulis berkonsentrasi penuh di depan komputernya. Saya membayangkan ia bersikeras menolak dibantu orang lain. Saya membayangkan ia telanjur menekan tombol bold, dan tidak tahu—atau tidak berhasil menemukan—tombol untuk mematikannya. Saya membayangkan ia nunak-nunuk mengetuk tuts demi tuts, dan kerap kepleset menutul tombol sebelahnya. Saya membayangkan....

Gumpalan kedongkolan di hati saya sudah kocar-kacir ke segala penjuru angin.

Yang terpampang di layar komputer saya ini curahan hati seseorang yang enggan ditelikung keadaan. Sesulit apa pun kondisinya, ia tak mau dihentikan. Ia hendak mengungkapkan rasa syukur atas rahmat Tuhan dan atas dukungan komunitas gerejanya. Ia mau berkarya. Ia rindu terus melayani. Ia...

Seandainya si penulis ada di depan mata saya, bakal saya peluk dia. Erat-erat.

Saya jadi merasa seperti Yohanes Pembaptis disuruh melepaskan kasut Tuhan Yesus. ***