Awalnya Episodik, Klimaksnya Bedebah



THE GRAVEYARD BOOK/Cerita dari Pemakaman (Neil Gaiman, Gramedia Pustaka Utama, 2013, a.b. Lulu Wijaya)

Ketika membelinya beberapa bulan lalu, aku langsung membacanya, namun segera patah semangat di halaman-halaman awal karena terjemahannya terasa kurang sedap. Teronggoklah buku itu di rak.

Liburan kemarin, Lesra membawanya sebagai bekal. Aku membawa buku lain, tapi iseng membaca buku ini ketika Lesra sedang meletakkannya. Eh, otakku kali ini seperti gerbang yang membuka, mempersilakan Neil Gaiman berceloteh tentang Nobody Owens, bocah biasa yang tinggal di kompleks pemakaman, dibesarkan oleh hantu-hantu, dengan wali yang tidak berasal dari dunia orang hidup maupun orang mati. Premis yang edan!

Bab-bab awalnya terkesan episodik dan tidak bertautan, memperkenalkan dunia ganjil yang dihuni Bod (nama panggilan bocah itu), mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun, dengan diselingi berbagai petualangan heboh, dengan latar sebuah pengalaman keji yang mengantarnya berada di pemakaman itu.

Meski plot seakan tidak bergerak, kisah Bod sungguh mengundangku untuk membalik halaman demi halaman. Dan ketika kisah mencapai klimaks, episode-episode yang tadinya tampak lepas-lepas itu kini jalin-menjalin mendukung penyelesaian konflik. Bedebah betul cara Gaiman menyihir pembaca.

Kisah anak bertahan hidup ini tak ayal mengingatkan pada Harry Potter--dan kisah ini agak mirip kisah bocah penyihir itu diringkus dalam satu buku. Namun, Neil mengaku berutang besar pada The Jungle Book karya Rudyard Kipling, yang berkisah tentang Mowgli, bocah yang dibesarkan di hutan oleh beruang.

Buku seperti ini membuatku berterima kasih atas keliaran imajinasi, dan keliatan si pengarang dalam menundukkan dan membekuknya menjadi dongeng yang elok.

29.12.2013