Kepemimpinan Kera



DAWN OF THE PLANET OF THE APES (Matt Reeves, AS, 2014)

Koba memerintahkan Ash untuk membunuh seorang manusia. Ash menolaknya. Kenapa? Koba ini baru saja merebut kepemimpinan Caesar, pemimpin para kera, dengan hasutan. Ia sembunyi-sembunyi menembak Caesar, dan melemparkan kesalahan pada manusia, lalu memimpin pasukan kera menyerbu manusia. Ash menolak perintah Koba karena teringat akan kepemimpinan Caesar. "Caesar tidak akan melakukannya," katanya.

Adegan kecil itu terasa membekas: bahwa kepemimpinan inspirasional itu bisa amat bertenaga. Sekalipun sosok sang pemimpin tidak hadir, inspirasinya dapat terus menjadi daya hidup dan menggerakkan orang dalam menentukan pilihan. Meskipun pilihan itu harus dibayar dengan nyawa. Dan, meskipun kera-kera lain memilih manut miturut dalam cengkeraman ketakutan.

Dawn of the Planet of the Apes (DPA) menampilkan pesan kepemimpinan semacam itu dalam jalinan cerita yang memikat. Tadinya aku kurang tertarik karena belum menonton prekuelnya, Rise of the Planet of the Apes (2011). Ternyata film ini dapat dinikmati secara mandiri, dan dengan lihai menyedot kita ke dalam pusaran konfliknya. Kira-kira seperti menonton Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest sebelum menonton film pertamanya. Tetap seru! Akhir ceritanya pun sama-sama menggantung, kelam seolah tanpa harapan, membuat kita menunggu-nunggu lanjutannya.

Sebagai film brondong jagung, DPA mengesankan. Teknik motion capture-nya sangat mulus, sukses menampilkan gerombolan kera secara hidup. Ketika kera-kera itu berderap memacu kuda, terasa begitu meyakinkan. Yang lebih piawai lagi, meski wajah kera-kera itu agak sulit dibedakan satu sama lain, toh gerak emosi masing-masing terpancar dengan kuat. Kera-kera itu layak dinominasikan untuk Oscar!

Selebihnya, film keren ini mengingatkanku pada perbedaan antara berita dan cerita. Pada era ketika breaking news lebih berlimpah daripada news, kita cenderung hanya mendapatkan apa-siapa-kapan-di mana. Kita banyak kehilangan bagaimana dan mengapanya. Sudah begitu, selarik cuitan di Twitter atau satu status pendek di Facebook, misalnya, sudah bisa mengundang reaksi berpanjang-panjang, melebar ke sana kemari. Lalu, tanpa sadar, kita sudah terjebak dalam perspektif yang hitam-putih. Kalaupun ada berita investigatif, ketika media sudah kehilangan netralitas dan independensinya, kita bertanya-tanya, pemberitaan ini bias ke mana.

Cerita, sebaliknya, menghadirkan dunia yang lebih masuk akal dari kenyataan. Ia menyajikan apa-siapa-kapan-di mana-bagaimana-mengapa secara relatif utuh. Kita diberi ruang untuk menimbang dan merenung. Kita diberi kesempatan untuk mengintip motivasi masing-masing pihak. Kita dapat mencatat nuansa karakter yang lebih berwarna. Bahwa manusia dan kera itu tidak dapat digebyah uyah begitu saja yang satu jahat dan yang lain baik, misalnya. Dan kita pun, mudah-mudahan, tertolong untuk mengambil keputusan secara lebih arif.

Aku ingin menggarisbawahi perkataan Dalai Lama, betapa dunia ini tidak memerlukan lebih banyak orang "sukses", melainkan lebih banyak, salah satunya, juru cerita yang piawai. Juru cerita yang menolong kita menjelajahi lekuk liku kehidupan, dan merayakannya. Bisa juga ditambahkan, kita memerlukan lebih banyak telinga yang mau mendengarkan, mau menyimak, bukan mulut yang terburu-buru bereaksi secara instan.

DPA, dalam kemasannya sebagai film hiburan, berhasil menawarkan cerita yang layak kita simak.

24.07.2014