Kemerdekaan Membaca



Kenanganku tentang bahan bacaan masa kecilku: orangtuaku tidak pernah melarangku membaca buku atau bacaan tertentu. Ayahku, berdasarkan kemampuan dananya, menyediakan bacaan yang, dalam pandanganku, dianggapnya bagus bagi keluarga. Ia berlangganan Kompas, Intisari, dan Djoko Lodhang untuk bacaan kami semua. Aku dan kakakku yang masih SD pernah dilanggankan Donal Bebek dan Bobo. Ketika kakak-kakakku yang besar mulai bekerja, mereka juga membeli atau berlangganan majalah pilihan mereka sendiri. Ada Femina, Kartini, Manja (roman remaja, terbitan berkala majalah Hai, novel-novel keren karya penulis top masa itu), Anita Cemerlang, Nova. Di gudang juga ada koleksi beberapa buku dan majalah lama, antara lain Ria Film dan Aktuil. Di luar itu, aku bisa meminjam bacaan dari tetangga atau teman.

Sekali lagi, orangtuaku tidak pernah melarang atau menyensor bacaan tertentu. Tidak ada bacaan yang dilabeli “bacaan dewasa” dan tidak boleh kusentuh. Kalau aku bisa membaca dan memahaminya, baca saja. Larangan ayahku lebih ke arah bagaimana aku membaca: karena aku keranjingan membaca, beliau akan marah kalau sampai aku lalai mengerjakan tugas rumahku gara-gara asyik dengan bacaan.

Jadilah, sejak kecil, tidak jarang aku terpapar dengan bacaan yang bisa dibilang belum cocok untuk umurku. Misalnya, ketika aku masih SMP, Kompas memuat cerpen Emha Ainun Najib yang berjudul “Laki-laki ke-1.000 di Ranjangku”. Orangtuaku—atau kakak-kakakku—tidak serta-merta menyembunyikan koran itu. Aku tetap leluasa membacanya. Di Kompas juga dimuat komik strip bersambung, serial “Garth”, yang di bagian-bagian tertentu menyajikan adegan aduhai. Lalu, di Femina ada rubrik kisah nyata, dan di Kartini namanya amat legendaris: “Oh Mama, Oh Papa”, isinya kurang lebih seputar pergumulan manusia menghadapi berbagai persoalan hidup, khususnya dalam hubungan rumah tangga. Ada pula berbagai rubrik konsultasi, berisi tanya-jawab antara pembaca dan penjaga rubrik yang dianggap ahli, membahas mulai dari cara mengatur keuangan, mengatasi rasa malu, memilih karier, sampai pergumulan dengan homoseksualitas. Saat SMP pula aku sudah membaca novel seperti Harimau! Harimau!, Romo Rahadi (ada adegan kakak-beradik laki-laki perempuan mandi bareng), Dua Ibu, Burung-Burung Manyar, dan Bumi Manusia (bangga banget bisa diam-diam mendapat “bacaan terlarang” ini, dan terhenyak membaca kisah Minke dan Anneliesse). Kalau aku tidak membaca suatu bacaan, itu bukan karena dilarang, melainkan karena memang tidak atau belum berminat.

Orangtuaku jarang berdiskusi secara terbuka dengan anak-anak di meja makan atau di ruang keluarga. Namun, dari bacaan-bacaan yang leluasa kami baca itu, dunia jadi terbuka. Bahwa ada berbagai fakta kehidupan. Bahwa dunia ini tidak hitam-putih, tetapi warna-warni. Bahwa ada yang dianggap jahat atau menyimpang. Bahwa ada yang patut diteladani. Ada kisah cinta yang cengeng; ada pengalaman hidup yang pahit dan traumatis. Dan, banyak pula perkara yang misterius, tak terpahami, sulit dijelaskan, dan cukup dimaklumi saja. Bacaan-bacaan itu tidak selalu memberi jawaban yang memuaskan, malah lebih sering memantik pertanyaan yang pelik, dan membuatku terus haus mencari bacaan-bacaan lain. Paling tidak, bacaan-bacaan itu menolongku menyadari betapa hidup ini kompleks, pedih, dan sekaligus indah.

Untuk itu, aku berterima kasih atas kemerdekaan membaca yang disediakan orangtuaku. Sebuah warisan yang sungguh berharga. Aku berharap dapat menyediakan kemerdekaan serupa bagi anak-anakku.

Dan, aku sedih ketika ada pihak yang sok jumawa menyensor buku.

Jogja, 13.08.2014