Pesona Film Bisu dalam Iringan Orkestra Melenakan



SUNRISE (F.W. Murnau, AS, 1927)

Lagi-lagi, pengalaman sangat mengesankan dan sulit dilupakan: menonton film bisu dengan iringan musik secara langsung. Pada 2009, di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, atas prakarsa Goethe Institute, aku dapat menikmati film bisu "Battleship Potemkin" dengan iringan duo piano Adelaide Simbolon dan Pierre Oser yang berderap dinamis selaras dengan kisah film. Semalam, di tempat yang sama, dengan kursi penonton yang sudah diperbarui dan lebih keren, aku hanyut dalam "Sunrise: Song of Two Humans" dengan iringan orkestra Capella Amadeus, memainkan musik karya, ah, ternyata Pierre Oser lagi. Konon, seperti itulah dulu orang menikmati film bisu, saat belum ditemukan teknologi untuk memadukan gambar bergerak dan tata suara pengiringnya. Jadi, ini seperti perjalanan menembus lorong waktu. Dan, betapa memikat!



FILMNYA. "Sunrise" karya F. W. Murnau ini dirilis pertama kali pada 1927, pada masa peralihan dari era film bisu ke era film bersuara--era yang diolok-olok dengan ciamik dalam "Singin' in the Rain". Ditilik dari perspektif era itu, ini film yang sangat menakjubkan.

Kisahnya sebuah fabel bersahaja tentang cobaan hidup: seorang petani hidup sejahtera dengan istri dan bayi mereka di sebuah desa yang permai, digoda perempuan genit dari kota, dan hidup mereka pun terguncang nyaris jungkir-balik. Namun, bagaimana kisah sederhana itu dituturkan melalui rangkaian gambar yang memikat--itulah persoalannya.

Ingat, saat itu kamera belum dapat bergerak leluasa seperti saat ini, dan belum ada komputer untuk mengolah gambar usai syuting. Namun, tiliklah gambar-gambar yang memukau sepanjang film ini. Dia adegan awal, si perempuan genit menyulut rokok di kamar penginapan, mengenakan stoking, lalu--dengan gaun terusan dan selendang hitam melambai--melangkah di jalan pedesaan, dan kamera mengikutinya dari belakang. Cantik sekali.

Saat si suami berselingkuh, terjadi perpindahan gambar yang unik: sang istri memeluk bayinya dalam komposisi yang mengingatkan pada lukisan klasik, berganti-ganti dengan adegan si suami dan si perempuan genit bercinta di rawa-rawa di bawah terang purnama: puitis, mistis, nyaris surealis. Yang satu suasananya sangat membumi, yang lain layaknya mimpi. Mungkin seperti itulah watak perselingkuhan: mencerabut kita dari realitas keseharian, dan membuai kita dalam impian melenakan.

Dan, impian dua insan yang tengah dimabuk asmara itu, impian tentang kehidupan kota yang gemerlap, ditampilkan dalam kolase gambar bertumpuk di latar belakang sana, seolah memenuhi langit malam. Keren!

Pesona seperti itu terus berganti-ganti sepanjang 95 menit durasi film. Terasa ajaib jika mengingat keterbatasan teknologi saat itu, sekaligus menyiratkan penggarapan yang tekun dan penuh kecintaan dari awak pembuat film ini.

Hebatnya lagi, meskipun secara keseluruhan film ini adalah sebuah melodrama, namun ada bumbu thriller psikologis, komedi, dan... bencana alam!

Pantas film ini menjadi salah satu mutiara berharga dalam sejarah perfilman dunia. Akhir kisahnya seperti sebuah nubuatan: akhir dari sebuah era, dan permulaan sebuah era baru. Dalam film, si perempuan kota yang kalah. Ironisnya, di dunia nyata, perempuan kota (baca: perkembangan teknologi film) itu yang berjaya dan makin genit.


 PENGARUHNYA. Aku hanya ingin membahas pengaruh yang kurasakan selama menonton film ini: rasanya film-film lain bermunculan saat mengamati adegan, penokohan, atau gambar tertentu. Ini menunjukkan, "Sunrise" berpengaruh besar pada film-film berikutnya. Kalau bukan pengaruh langsung, ya paling tidak Murnau telah merintis apa yang kemudian dikembangkan pembuat film era selanjutnya.

Bagian thriller psikologis yang berisi rencana pembunuhan, bisa dibandingkan dengan "Strangers on a Train" dan "Dial M for Murder"-nya Alfred Hitchcock. Kontras antara perempuan petani bersahaja dan perempuan kota nan binal itu, nantinya muncul secara lebih kompleks dalam sosok Melanie dan Scarlett dalam "Gone with the Wind". Gerak langkah si petani yang terbata-bata mirip dengan langkah si Monster dari "Frankenstein", namun dalam adegan bercukur di kota, tiba-tiba ia, entah kenapa, mengingatkanku pada Nicolas Cage dalam "Moonstruck".

Salah satu pose ikonik Uma Thurman dalam "Pulp Fiction" ternyata sudah muncul di sini. "Berarti Tarantino memang tukang nonton kelas berat," komentar teman sebelahku, David Setiawan. Kalau Anda penggemar "Babe", si babi cerdik yang menjadi anjing gembala, di sini ada babi mabuk yang lucu banget. Adegan si petani memasang tumpukan rumput gajah di punggung istrinya saat badai mengamuk, dan adegan pencarian dengan perahu-perahu itu, ah... "Titanic" mengikutinya. Adegan berciuman di tengah jalan membikin lalu lintas macet, rasanya muncul di sejumlah film, salah satunya di segmen *Rhapsody in Blue* dalam "Fantasia 2000"--kalau tidak salah ada juga di "Kejarlah Daku Kau Kutangkap". Film ini--khususnya adegan berperahu di danau itu--juga mengingatkanku pada sebuah film fantastis dari Jepang, "Ugetsu" (Kenji Mizoguchi, 1953).

Ah, "Sunrise" seperti peti harta karun yang isinya pepak dan bersinar-sinar!




MUSIKNYA. Nah, ini yang istimewa dan langka. Aslinya, "Sunrise" sudah diedarkan dengan saundtrack dan efek suara (bisa dinikmati di sini). Dalam pemutaran semalam, film diiringi komposisi yang khusus digubah oleh Pierre Oser bagi penonton Indonesia, dimainkan oleh Capella Amadeus.

Aku, Lesra, dan Tirza mendapatkan tempat duduk di deretan terdepan. Eh, ketika Pierre Oser muncul sebagai konduktor, ternyata posisinya di depan Lesra sehingga mengalangi pandangannya. Lesra harus melongok-longok sedikit untuk menikmati filmnya. Jadi teringat "Fantasia", yang sesekali memperlihatkan konduktornya. Bedanya, di "Fantasia" animasi dibuat mengikuti musik, sedangkan semalam musiklah yang digarap mengikuti film.

Dan, komentarku tidak panjang-panjang: komposisi Pierre Oser berhasil menyatu secara organik, memberi denyut jiwa, menghidupkan gambar-gambar film yang sudah dahsyat itu, lembut melenakan, mengajak penonton menembus lorong waktu. Sempat lampu sang konduktor mati dua kali (dalam adegan suami-istri memasuki pasar malam dan adegan suami terhempas ke pantai lalu mulai mencari-cari istrinya), namun gangguan itu justru memperlihatkan bahwa gambar film itu memang sudah berbicara secara kuat.

Tak terasa, malam film yang terdahulu dengan yang sekarang ini berselisih 5 tahun. Memang tidak bisa buru-buru mempersiapkan iringan musiknya. Aku berharap program ini bisa lebih sering--dua atau setahun sekali. Dan, tidak sabar menunggu proyek berikutnya. Murnau lagi, "Nosferatu" (1922), mungkin? ***