PK: Pernyataan Besar, Jawaban Konyol

 
PK (Rajkumar Hirani, India, 2014)

Peristiwa pertama: Alien berwujud manusia (nantinya dinamai PK) turun ke Rajasthan dalam keadaan telanjang untuk riset. Namun, orang pertama yang ditemuinya menjambret bandul kalungnya, padahal bandul itulah alat penghubungnya dengan pesawat luar angkasa yang mengangkutnya. Ia berusaha mendapatkan kembali bandul itu, dan pencarian ini membawanya ke Delhi. Kelakuannya yang aneh membuat orang menganggapnya mabuk (dalam bahasa Hindi: pee-kay, PK), dan mereka mengatakan, hanya Tuhan yang dapat menolongnya. Ia berusaha mencari Tuhan itu, dan kebingungan menemukan keragaman agama dan aneka tradisi menyembah Tuhan di kota itu.

Peristiwa kedua: Di Belgia, Jaggu, reporter televisi, jatuh cinta pada Sarfaraz. Orangtuanya di Delhi menentang keras hubungan itu karena Sarfaraz orang Pakistan dan Muslim. Jaggu nekad mengajak Sarfaraz menikah, namun pria itu membatalkan rencana pada hari-H. Patah hati, Jaggu kembali ke Delhi, dan bekerja di televisi lokal. Suatu hari ia bertemu dengan PK, dan tertarik untuk mengangkat kisah pencariannya ke layar kaca.

Dalam pelatihan menulis novel yang pernah saya ikuti, salah satu teknik yang diajarkan adalah belajar membikin cerita berdasarkan dua peristiwa yang tampaknya tidak kait-mengait (misalnya, evakuasi pesawat jatuh dan polisi yang tinggal di kandang sapi). Tugas penulis adalah mereka-reka cerita yang menjalin kedua peristiwa itu sehingga menjadi narasi yang masuk akal. Dalam fiksi--dan film cerita tentulah termasuk fiksi--kemasukakalan adalah kunci. Kisah di dunia nyata sering sulit dinalar, namun kisah dalam fiksi harus memiliki pijakan logika yang kuat.

Nah, apakah film "PK" berhasil menjalin kedua peristiwa di atas--alien kehilangan bandul dan gadis patah hati--secara masuk akal?

Adegan pembuka, yang menggambarkan kedatangan si alien sampai bandulnya hilang, sudah langsung menimbulkan tanda tanya, namun kita dapat memberi ruang permakluman, semoga seiring berjalannya cerita, ada penjelasan yang logis. Adegan-adegan di Belgia terjalin mulus, dan menjanjikan film ini akan menjadi sebuah komedi-romantis yang manis. Saya menontonnya sambil nyengir tersenyum-senyum sampai... ya, sampai Jaggu bertemu dengan PK, dan PK menjelaskan bagaimana ia berusaha beradaptasi dengan kehidupan dan budaya di bumi. Alih-alih terus tersenyum, saya mulai mengerutkan kening. Dan, makin lama saya makin susah tersenyum, dan malah mulai mules. Bukannya memaparkan cerita yang bikin manggut-manggut, film ini malah bikin garuk-garuk kepala. Logika internalnya hancur lebur.

Oke. Kita mulai dengan ketelanjangan si alien. Nantinya PK menjelaskan bahwa orang-orang di planetnya hidup seperti burung, tanpa busana. Baiklah. Namun, sebuah peradaban yang belum sempat memikirkan penutup tubuh, nyatanya sudah mampu membikin pesawat canggih yang bisa mengangkut penumpang antargalaksi. Baiklah. Jelas pola pikir makhluk planet PK berbeda jauh dari manusia.

Lalu, bandul itu. Alat sepenting itu cuma dikalungkan begitu saja di leher, untuk kemudian dengan mudahnya dijambret? Baiklah. Kalau bandul tidak dijambret, bagaimana PK akan mulai bertualang mencari Tuhan?

Lalu, cara PK bertahan hidup. Pada mulanya, ia mencuri baju dan dompet dari orang yang sedang asyik-masyuk di "mobil goyang". Satu-dua kali bolehlah. Tapi, dari hari ke hari ia terus sukses menemukan "mobil goyang" di tempat yang kira-kira sama? Ahai!

Lalu, cara PK berkomunikasi. Mulanya ia hanya mengamati dan meniru-niru cara hidup orang bumi. Kemudian, ternyata ia mampu mengunduh kemampuan berbahasa dan memori seseorang dengan memegang tangan orang itu--dalam hal ini, seorang pelacur yang ia genggam tangannya selama enam jam. Begitu selesai, ia langsung bisa berbicara seperti orang dewasa.

Namun, tampaknya ia baru mampu berbahasa secara denotatif, belum memahami makna konotatif. Ia belum memahami konteks budaya yang melatari bahasa. Ketika mendapat penjelasan bahwa perempuan yang mengenakan sari adalah janda yang berduka karena baru kehilangan suami, ia menyimpulkan bahwa setiap perempuan yang mengenakan pakaian putih pasti tengah berduka kehilangan suami. Padahal, ada perempuan yang justru mengenakan gaun putih karena hendak menikah. Gegar budaya rusa-masuk-kampung semacam ini yang terus digulirkan, tentunya dengan maksud memancing tawa dan sekaligus mengundang kita memikirkan ulang cara pandang kita selama ini. Namun, alih-alih mencerahkan, modus itu lama-kelamaan jadi terasa memualkan.

"PK" mencoba mengangkat pernyataan besar: bahwa Tuhan itu ada dua, yaitu Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan yang kita ciptakan. Nah, Tuhan hasil ciptaan manusia inilah yang membikin kita terhubung pada "nomor yang salah": menghadapi berbagai masalah hidup dan tidak menemukan jawaban yang riil, hidup dalam ketakutan karena dimanipulasi oleh orang-orang yang mendaku dirinya utusan Tuhan, dan terjebak dalam konflik antarmanusia dan antaragama. Sebuah gagasan yang luhur, dan bahan satir yang sebenarnya amat menggigit. Namun, film bukan cuma soal gagasan, melainkan terutama soal bagaimana gagasan itu diterjemahkan sebagai cerita yang runtut dan--sekali lagi--masuk akal. Di sinilah, "PK" rontok.

Alien telanjang mungkin dimaksudkan sebagai wakil kepolosan seorang pengamat netral, yang kemudian mempertanyakan hal-hal yang selama ini sudah kita terima tanpa banyak cing-cong. Dan, betapa cerewetnya film ini! Sampai ia bukan lagi berupa rangkaian kisah, melainkan rangkaian pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin dimaksudkan untuk mewakili kepolosan anak-anak, namun jatuhnya malah jadi pertanyaan yang kekanak-kanakan. Pertanyaan bukan untuk menemukan pencerahan, melainkan pertanyaan demi pertanyaan itu sendiri. Bukan pertanyaan yang muncul dari pergumulan hidup dan penderitaan (ataukah kehilangan bandul itu mesti kita maknai sebagai simbol penderitaan?), melainkan pertanyaan yang terasa artifisial, dibuat-buat. Pertanyaan yang terasa lepas dari konteks budaya dan kehidupan manusia.

Kalau kita menyembah Tuhan yang sama, kenapa kita menyembahnya dengan cara yang berbeda-beda, bahkan amat bertentangan? Seandainya pertanyaan itu dilontarkan, lalu diuraikan dalam jelujuran kisah, ah betapa eloknya. Namun, di sini pertanyaan itu terus-menerus diulang dan dicecarkan dengan intensitas yang semakin meninggi--melalui pingpong debat dengan seorang pemuka agama, Tapasvi, yang meramalkan bubarnya hubungan Jaggu dan Sarfaraz serta memiliki bandul PK, yang diakuinya sebagai pemberian Tuhan ketika ia bermeditasi di Himalaya--tanpa ruang yang memadai untuk merenungkannya.

Atau, kita diminta merenungkannya melalui ilustrasi yang banal. Contohlah tentang bagaimana orang beribadah karena tergerak oleh ketakutan. Dan, PK cukup menunjukkannya dengan memasang batu sesembahan, yang orang segera antre berdoa di situ, bahkan sampai ada yang tersungkur ke tanah, lalu membandingkannya dengan upaya tukang teh mencari pelanggan? Konyol!

Kedatangan alien mungkin juga dimaksudkan sebagai gambaran campur tangan ilahi. Sebuah interupsi untuk mengajak kita berpikir ulang tentang kepercayaan kita selama ini. Tetapi juga, untuk menjawab sebuah pertanyaan yang tak kalah urgen: hubungan sepasang kekasih beda agama. Ya, film ini memilih cara supranatural untuk menyelesaikan konflik itu. Sebuah penyelesaian yang sangat tidak membumi, tidak riil, namun teramat melodramatis dan mengawang-awang. Sebuah jawaban yang melipir terlalu jauh dari topik, malah cenderung mengelakkan persoalan, tidak mengundang diskusi, dan menawarkan solusi yang artifisial dan gampangan. Kalau Tuhan sudah "berbicara" secara definitif seperti itu, apa lagi yang perlu dipersoalkan? Tuhan versi PK menjadi Tuhan yang esa dan yang benar.

Alhasil, film ini memberikan "nomor yang salah" untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Film ini benar-benar PK, mabuk. ***