Jodhaa Akbar: Ketika Cinta Mewarnai Kehidupan Berbangsa


Jodhaa Akbar (Ashutosh Gowariker, India, 2008)

Bagi yang tengah termehek-mehek pada Jalal namun tidak telaten mengikuti kisahnya hari demi hari di televisi, inilah penggantinya. Bagiku, film ini memupus kejengkelan pada PK.

Oke, kita ngomong PK (2014) sebentar. Film ini melontarkan dua isu, dan kemudian menjawabnya secara cerewet atau malah mengelakkannya sama sekali. Anehnya, pertanyaan itu justru terjawab oleh film lain. Pertanyaan pertama: kesenjangan antara Tuhan yang menciptakan kita dan Tuhan yang kita ciptakan sehingga menimbulkan fenomena satu Tuhan tapi banyak agama. Pertanyaan ini terjawab secara lumayan asyik dalam separuh bagian pertama Life of Pi. Pertanyaan kedua: isu pernikahan beda agama, yang diselesaikan PK melalui keajaiban. Nah, Jodhaa Akbar menjawabnya secara gamblang melalui kisah putri Hindu (Jodhaa) yang dipinang raja Muslim (Jalaluddin Mohammad).

Dan, betapa sebuah jawaban yang gemilang! Kisah abad ke-16 ini tergarap secara elok, menampilkan kecemerlangan film Bollywood papan atas, sekaligus jawaban yang tak gegagah atas pertanyaan genting tadi: pernikahan menjadi sebuah masa pertunangan--dan, ahem, foreplay--panjang menuju penyatuan dua tubuh (upacara pernikahan berlangsung pada menit-menit ke-50, dan kedua pasangan itu baru memadu kasih sebagai suami-istri pada menit-menit ke-170!). Betapa panjang masa-masa pengujian, pengenalan, penjajakan, penghormatan atas perbedaan keyakinan yang mesti mereka lewati sebelum menemukan kecocokan dan keintiman. Belum lagi munculnya kesalahpahaman nyaris fatal, namun kemudian melahirkan penyesalan dan penyelarasan karakter, dan hati yang dimenangkan.

Film ini bisa jadi pilihan untuk merayakan Hari Valentine. Untuk menepiskan gambaran bahwa perayaan hari kasih sayang itu berfokus pada permen cokelat berbonus kondom. Untuk memperlihatkan bahwa kasih sayang nyatanya bisa menyentuh ranah-ranah kehidupan yang luas.

Dalam Jodhaa Akbar, kasih sayang itu menyentuh dan mewarnai kebijakan berbangsa dan bernegara. Bagi pejabat yang suka blusukan, ada contoh yang relevan di sini. Bukan blusukan dengan dibuntuti media, melainkan dengan menyamar sehingga sanggup menangkap denyut jantung dan suara hati rakyat yang sesungguhnya, dan, yang terutama, pada akhirnya melahirkan keputusan politik yang menjunjung kesejahteraan rakyat.

Pada akhirnya, Jodhaa Akbar adalah kisah sepanjang tiga setengah jam yang amat memikat. Kisah percintaan berpadu dengan peperangan dan intrik keluarga kerajaan dan, seperti kebiasaan Bollywood, dibumbui dengan tarian dan nyanyian. Ah, desain produksinya bikin ternganga-nganga. Kalau film Indonesia berbiaya 25 miliar saja tersengal-sengal untuk menampilkan kesan kolosal, film ini secara leluasa memanjakan penonton dengan tata warna, komposisi gambar, dan koreografi yang memukau. Lihat saja tarian darwis saat pernikahan dan pesta rakyat setelah Jalal mengumumkan pembebasan pajak itu! Adegan-adegan perangnya dahsyat. Dan, ada satu adegan yang belum pernah kujumpai di film lain: penjinakan gajah liar. Ya, film ini sukses menjinakkan isu yang "liar" dengan elegan. ***